Bagai Emas dan Loyang

Modifikasi dari Wolipop.detik.com

Hari Ibu sudah lewat. Sesungguhnya di hari itu ingin saya tulis sebuah tulisan buat ibu yang pasti tidak akan terbaca oleh beliau karena media online tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya. Nyatanya, di hari itu saya cuma menelepon ibu dan mendengarkan dia bercerita panjang lebar hal-hal remeh yang membahagiakan hidupnya. Saya, satu-satunya anak perempuan Ibu, tapi tidak menuruni banyak karakternya. Ibu hemat, saya boros. Ibu fokus pada sedikit pilihan, saya seperti salep gentamicin yang punya spektrum luas. Ibu sangat mandiri – saya kutip sendiri kata-katanya, “Selama aku masih bisa, aku akan kerjakan sendiri.”  Sedangkan saya percaya bahwa saya bukan superwoman yang bisa melakukan semua hal, pembagian pekerjaan penting buat saya. Ibu sangat terstruktur-sistematis-ada aturan, saya cenderung bebas-tidak punya pola. Terkait terstruktur-sistematis ini, kaum perempuan di keluarga besar saya punya joke: “Potong kue pun harus sesuai dengan caranya Mbah Uti.”

Pengalaman hidup telah membentuk Ibu seperti itu. Pengalaman hidup telah membentuk saya seperti ini. Walaupun tampaknya dunia ibu berbeda dengan saya, alhamdulillah, kami selalu bisa menemukan irisan dunia kami. Itu karena ibu selalu menghargai perbedaan pendapat. Bahkan, di usianya yang sudah di atas 70 beliau selalu memegang prinsip itu. Beliau tidak menjadi “manja karena usia” sehingga semua perkataannya harus dituruti. Bahkan, sebisa mungkin beliau tidak ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, walaupun tangannya gatal ingin mengatur kami.

Justru saya yang terkadang lepas kontrol untuk mengatur Ibu. Atas nama “pendidikan modern” saya suka mengkritik prinsip-prinsip Ibu. Misalnya, hematnya yang berlebihan. Ibu senang memakai barang sampai umur mereka yang penghabisan. Padahal, ada yang baru, yang tentunya lebih baik fungsi dan bentuknya. Pernah sekali waktu saya sengaja bawa pulang handuk kecil beliau yang selalu disediakan di kamar mandi. Seriously, handuk itu sudah layak masuk museum. Waktu Ibu sibuk mencari si handuk, saya bilang terbawa ke rumah saya. Akhirnya, kali waktu saya berkunjung lagi ke rumahnya, handuk baru sudah terpajang di tempatnya. Maafkan anakmu ini, Bu, karena memaksamu mengganti handuk.

Ibu selalu jauh dari panggung, padahal beliaulah aktornya. Saya pernah mengutarakan keinginan menulis biografinya. Dialog saya begini.

Saya: “Ayo Mbah Uti (begitu saya memanggil Ibu sekarang), kita bikin biografi Mbah Uti. Mbah Uti cerita aja, ntar aku yang tulis.”

Ibu: “Ah, buat apa?”

Saya: “Kan pengalaman Mbah Uti banyak, seru. Banyak pelajaran yang bisa diambil buat anak cucu.”

Ibu: “Masih banyak yang belum aku ceritain. Kamu gak tahu aku juga ada yang buruk-buruk.”

Saya: “Gak semua musti diceritain, Mbah Uti … bisa dipilah-pilah mana yang mau dikasih tahu mana yang enggak.”

Ibu: “Nanti apa kata orang? O, ternyata Ibu tuh kayak begini begitu… enggak ah!”

Saya (masih penasaran): “Enggaklah. Masa lalu Mbah Uti memang seperti itu, gak akan ngerubah pendapatku atau keluarga yang lain tentang Mbah Uti. Justru semakin memahami.”

Ibu (mikir-mikir): “Gitu ya? Entar deh aku pikir-pikir dulu.”

Seperti sudah saya kira, proyek biografi itu layu sebelum berkembang. Hahaha … Begitulah Ibu yang selalu memikirkan mana yang pantas mana yang tidak. Tidak silau dengan gemilangnya emas dan lebih memilih loyang. Sungguh saya bersyukur didekatkan Allah dengan ibu saya, walaupun kami bagai emas dan loyang. Kali ini, beliau yang emas, saya loyangnya.

Mendung dan Beliau

Mendung bergayut mengiringi kepergian Beliau ... 
sembari menahan tangisnya. Takut jika tetesannya
menghanyutkan wewangian surga yang merebak di udara

Walau angin berkali-kali mengajaknya pergi
mendung masih enggan beranjak. Ia masih berpikir untuk mengucapkan kata-kata penghormatan ... tapi takut ludahnya mengotori hamparan sajadah Beliau yang selembut sutra surga

Hujan berbisik pada angin, biarkan mendung memiliki hari ini.
Toh, sebentar lagi malam datang menutup hari lalu esok semua akan kembali. Kecuali Beliau yang tengah bercengkrama dengan Kekasihnya nun di langit

Seperti Wabah, Semangat juga Menular

Pertemuan terakhir kuliah Biosistematika ditutup dengan penampilan video-video mahasiswa yang sudah tayang di YouTube mereka. Pertama kali tugas diumumkan, ada sedikit keraguan apakah mahasiswa dapat membuat video setengah ilmiah. Kenapa setengah ilmiah? Karena kontennya memang ilmiah, yaitu materi kuliah. Tapi, penyajiannya lebih mengutamakan estetika dan kreativitas, tidak fokus pada materi. Hasilnya adalah video-video yang sangat menginspirasi, menyegarkan, dan membuat saya meyakini bahwa mahasiswa kami memang punya gen pemenang, gen yang tidak mau menyerah begitu saja terhadap tantangan.

Sejujurnya, Biosistematika termasuk ilmu yang kompleks. Menurut saya ini karena banyak materi di dalamnya yang memerlukan “pengertian dan pemahaman”. Bayangkan bila seseorang memberi tahu kita bahwa kelelawar itu bukan burung, padahal kita tahu mereka sama-sama bisa terbang. Belum lagi, orang yang sama menambahkan bahwa sayap kelelawar itu sejatinya lebih mirip dengan struktur tangan kita, manusia, ketimbang sayap burung. Lalu, seperti masih ingin membuat kita ternganga, dia akan membisikkan bahwa burung adalah sepupu sang buaya. Sementara kita mengira buaya adalah sepupu kadal, ular, dan segala sesuatu yang merayap. Sungguh absurd! Namun, kalau kita mau membuka-buka buku Biosistematika, informasi di atas dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Tentu saja saya tidak akan cerita di sini. Biarlah yang rumit-rumit itu milik mahasiswa, yang untuk kali ini saya wakilkan pada R18OSOME.

Kuliah daring gegara wabah Covid-19 menyebabkan saya tidak dapat bertemu dengan R18OSOME. Kuliah daring sebenarnya tidak mengasyikkan. Saya tidak dapat melihat kening yang berkerut, mata yang berair karena menahan kantuk, anggukan pura-pura mengerti, tundukan yang bukan malu-malu kucing kalau dosen bertanya, “Ada pertanyaan?”, juga wajah-wajah yang ditekuk karena mendapat banyak tugas. Sebagai mantan mahasiswa, tentu saja saya tahu semua ekspresi itu. Sepertinya, semuanya ekspresi yang tidak bagus, ya? Well, tentu saja tidak demikian. Yang paling membuat kehilangan justru yang bagus-bagus dari ekspresi mereka: tawa ceria, mata yang berbinar-binar ketika akhirnya bisa ke kantin, olok-olok yang baik dan ngangenin, jabat tangan dan rangkulan, atau sekedar senyum dan salam.

Maka, semangat R18OSOME yang terpancar dari karya mereka menjadi oase bagi kami yang sudah jenuh dengan keheningan kelas daring dan, ironisnya, hiruk pikuk jaringan internet. Mendengar lagu-lagu pilihan mereka untuk mengiringi lirik yang mereka ciptakan membuat hati gembira. Bahkan, beberapa kali hati melengos ketika mendengar lagu-lagu jadul mengalun. Memori saya kembali pada masa-masa indah sekolah …….. melankolis sekali! Yang membuat saya salut adalah ketika ada kelompok yang mampu membuat lagu sendiri dan menampilkan dengan sangat apik. It’s beyond my expectation. Bahkan, seorang rekan dosen sampai meneteskan air mata haru menerima semangat yang luar biasa ini.

Pos ini saya dedikasikan buat R18OSOME, mahasiswa Angkatan 2018 di Departemen kami. Saya berterima kasih atas kerjasama dan kerja keras kalian. Tentunya kalian yang paling tahu apakah kerja keras itu sudah mencapai standar kalian, termasuk apakah kalian telah mengerti dan paham dengan materi yang diberikan. Yang saya tahu, kalian telah memberi amunisi baru buat saya untuk menghadapi kuliah daring di semester berikut. Semoga kalian juga dapat memetik buah dari kerja keras kalian.

Yang mau coba-coba dengar silahkan klik beberapa link berikut ya 😀

Ruang Lingkup Biosistematika – Parasit (Gita Gutawa)
Nomenklatur – Cinta (Vina Panduwinata)
Konsep Spesies – Moves Like Jagger (Maroon 5)
Karakter – Kopi Dangdut (Fahmi Shahab)

Apa Harus Bikin Buku?

Ada yang berkesan di obrolan IK minggu ini. Tentang penulis, buku, dan penerbit. Apakah seorang penulis harus menerbitkan buku? Kalau saya ditanya maka saya akan menjawab “Iya. Tidak diharuskan pun seorang penulis setidaknya pernah bermimpi memiliki buku yang disebarluaskan, entah bentuknya cetak atau elektronik.” Penulis memang hanya peduli dengan menulis. Selama tangannya tidak dikekang untuk menari-nari di atas media tulis, selama itu pula tak ada yang dia khawatirkan. Namun, bisa menulis buku, setipis apapun, merupakan kebanggan tersendiri. Mohon dicatat kebanggaan di sini jangan diartikan kesombongan, tetapi anggaplah sebagai capaian diri naik satu tingkat lagi. Membuat blog sebenarnya juga usaha untuk naik setingkat dari sekedar menulis catatan harian yang hanya dibaca sendiri. Mengapa buku? Tidak bisa dipungkiri menulis buku membutuhkan energi lebih tinggi ketimbang menulis pos di blog. Pada waktu menulis buku, penulis harus fokus pada satu alur cerita (atau tema) dan mampu membangun antusiasme pembaca untuk membaca sampai halaman akhir yang pastinya berkali lipat lebih panjang daripada pos di blog. Hal ini tidak mudah. Karena itu sering kita dengar seorang penulis membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan untuk menyelesaikan penulisan sebuah buku.

Terus terang, cita-cita menulis buku tetap saya cantolkan dalam diri walaupun sudah beberapa kali menerbitkan tulisan ilmiah. Tentu saja senang bila artikel kita diterima oleh suatu jurnal ilmiah. Artinya, hasil-hasil penelitian kita diakui oleh orang lain dan hutang kita kepada pemberi dana hibah telah lunas dengan terbitnya artikel tersebut. Namun, rasa penasaran untuk menulis buku masih teronggok dalam pikiran dan perasaan. Rasanya ada satu tantangan yang belum saya selesaikan kalau belum membuat buku, ilmiah atau non-ilmiah mana saja boleh.

Dokumentasi pribadi

Sekali dua saya mengajak kolega untuk menulis buku. Membuat buku dengan cara kolaborasi pasti lebih mudah. Apalagi bila temanya ilmiah, pasti akan lebih baik hasilnya karena yang menulis kompeten dalam bidangnya. Sayangnya, sampai sekarang usaha ini belum membuahkan hasil. Kendalanya adalah kurangnya waktu untuk membaca dan menulis. Ini memang masalah klasik yang menurut saya dialami oleh mereka yang profesinya bukan penulis. Tentu kendala ini tidak berlaku bagi semua. Tetap ada orang-orang luar biasa yang bisa melakukan multi-tasking, saya bisa sebutkan nama-nama mereka bila perlu. Mereka melakukan banyak hal: mengajar, meneliti, membaca, aktif di media sosial, punya blog, bikin buku, menjadi YouTuber, menjadi narasumber di berbagai acara, menjadi reviewer artikel ilmiah, dan banyak lagi. Orang dibuat bingung dan tidak percaya dengan capaian itu. Tapi, bila kita tahu prosesnya kita akan melihat bahwa mereka tidak melakukan itu sendirian. Mereka punya team-work yang terdiri dari mahasiswa bimbingan (jumlahnya banyak!), beberapa asisten, sekretaris, para kolega lintas instansi baik dalam maupun luar negeri. Intinya … team-work.

Menulis buku adalah tantangan pertama, menerbitkan buku jadi tantangan kedua. Topik tentang penerbitan indie dan mayor jadi obrolan seru teman-teman IK. Sementara mereka seru berbagi cerita, saya sibuk sendiri mencari tahu apa sih yang sedang dibicarakan. Kata teman-teman IK, “Indie bisa modal sendiri, dibantu ISBN mayor modal penerbit utuh.” Yang lain lagi bilang, “mayor ituu sepertii Gramedia, Mizan, Media Kata, Bentang”. Berbekal informasi itu akhirnya saya digging on the internet. Rupanya indie dan mayor adalah istilah untuk penerbit swadaya (indie, self-publishing) dan penerbit besar. Kata Tucker Max, beda kedua model penerbitan itu cuma masalah hak cipta (copyright). Kalau hak cipta dan royalti buku dipegang oleh penulis, artinya buku itu diterbitkan secara swadaya (self-publishing). Kalau hak cipta dan royalti dipegang penerbit, artinya buku diterbitkan secara tradisional (ada pihak lain/penerbit) (Tucker menggunakan istilah traditional publishing).  Tapiiiiii penerbitdeepublish.com mengatakan bahwa hak cipta dengan hak penerbitan berbeda. Hak cipta selamanya dipegang oleh penulis. Hak penerbitan dipegang oleh penerbit selama batas waktu yang disepakati kedua belah pihak. Kapan hak cipta ini menjadi milik penerbit? Yaitu ketika penulis menjual karya ciptanya itu ke penerbit (kalau tidak salah ini namanya beli putus). Nama penulis tetap dicantumkan pada karyanya, tetapi dia tidak memiliki hak yang lain, seperti kapan buku dicetak, berapa eksemplar, distribusi buku, dan lain-lain termasuk royalti.

Urusan siapa yang memegang hak cipta ini juga ada di ranah ilmiah. Saat artikel ilmiah akan diterbitkan, beberapa jurnal mengajukan Copyright Transfer Agreement (CTA). Penulis diminta untuk menyerahkan hak ciptanya ke pihak penerbit/jurnal. Ketentuan ini melahirkan kisah tragis, antara lain tentang seorang peneliti yang harus membeli artikel yang ditulisnya sendiri. Ini bisa terjadi karena jurnal yang menerbitkan karyanya itu punya aturan: setiap orang yang mau membaca suatu artikel di jurnal itu harus membeli artikel tersebut. Penandatanganan CTA menyebabkan penulis tidak boleh melakukan duplikasi, menyebarluaskan, atau membuat turunan dari karya ciptanya (misal dari bentuk artikel dibuat poster dan lain-lain). Alhamdulillah, sekarang kesadaran tentang hak cipta telah semakin luas. Banyak jurnal (dan penerbit) yang mengakui hak intelektual penulis dan tidak semena-mena mengalihkan hak cipta penulis ke tangan mereka.

Jadi teman-teman, memang kita memiliki hak untuk memegang atau menyerahkan hak cipta atas karya kita. Apapun pilihannya, pelajari semua konsekuensi yang akan timbul. Dengan demikian tidak ada penyesalan di kemudian hari. Keep the good works and enjoy the writing!

Klasifikasi Alami dan Tidak Alami

Malam ini saya tengah menyegarkan pengetahuan tentang klasifikasi makhluk hidup ketika tiba-tiba teringat sebuah tanya jawab yang terjadi puluhan tahun yang lalu pada acara ujian sidang mahasiswa. “Apa beda klasifikasi yang alami dan buatan?” tanya saya. “Tidak ada klasifikasi yang alami, Bu. Semuanya kan buatan manusia.” Jawab mahasiswa yang sedang diuji itu.

Jawaban mahasiswa itu cukup mengagetkan mengingat salah satu tugas yang harus dikerjakan untuk proyek skripsinya adalah melakukan pengelompokan tanaman. Akhirnya, jadilah saya menjelaskan kembali duduk perkaranya lewat contoh yang menurut saya sederhana. Anggaplah kita mengelompokkan tumbuhan menjadi sayur-sayuran dan buah-buahan. Otomatis, kita akan memisahkan daun pepaya (sayur) dengan buah pepaya (buah). Padahal kita tahu bahwa daun pepaya dan buah pepaya seharusnya tidak dipisahkan karena keduanya berasal dari satu pohon (satu tanaman). Contoh lain, misalnya, kita membuat kelompok hewan ternak. Kita akan memasukkan ayam, kambing, ikan mas, ke dalam kelompok itu karena semuanya adalah hewan-hewan yang diternakkan manusia. Sejatinya, di alam, tidak pernah kita temukan ayam dan ikan mas berbagi tempat tinggal. Demikian juga kambing dengan ikan mas atau kambing dengan ayam. Penampilan mereka pun berbeda jauh. Belum lagi cara mereka kawin. Banyak sekali perbedaan-perbedaan di alam yang memisahkan ketiga hewan itu satu sama lain. Jadi, kelompok sayur-sayuran, buah-buahan, atau hewan ternak adalah pengelompokan tidak alami atau disebut juga pengelompokan buatan (artificial classification).

Bagaimana dengan pengelompokan yang alami? Makhluk hidup itu punya ciri khas yang membedakan satu dengan yang lain. Ciri khas itu disebut karakter. Kita dapat mencoba mengumpulkan banyak karakter dan memakai sekumpulan karakter itu sebagai pembeda. Misalnya kita punya kucing dan mencoba mencari makhluk mana yang mirip-mirip kucing. Maka kita akan mencari hewan yang punya raut muka seperti kucing (telinga runcing, hidung segitiga, wajah lancip), punya gigi dan cakar, punya ekor, berjalan seperti seekor kucing (merunduk, mengendap-endap), bertabiat dan kawin seperti kucing. HOLA! Kita akan menemukan harimau, macan, singa, lynx, dan cheetah. Itulah keluarga kucing atau nama susahnya Felicidae. Inilah pengelompokan yang alami (natural classification).

Medan Perang itu Semakin Dekat

Foto: dokpri

Kabar itu datang di pagi hari, di penghujung November 2020. “Mr. C kritis, mohon doa Bapak Ibu.” Rasanya hati mencelos mendengar itu. Mr. C adalah kawan lama, beberapa kali bekerja sama, kalau bertemu selalu berbagi cerita dan pikiran, tentang kehidupan. Saat mendengar kabar itu tak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa. Entah sudah berapa kali mendengar seseorang terinfeksi Covid-19, tak terhitung lagi dengan akal pikiran, tetapi betapa berbeda ketika orang itu adalah orang yang sangat kita kenal, atau bahkan orang yang sangat kita cintai. Cukup satu orang saja seperti itu untuk menandakan bahwa medan perang kini berada di depan matamu.

Sebelum kabar itu datang, di media sosial sedang ada kericuhan tentang kerumunan masyarakat yang antusias dengan kedatangan HRS. Pro kontra tentang kerumunan itu merebak dan semakin lama semakin memanas. Setelah sembilan bulan berlalu sejak munculnya covid-19 di bumi, ada kerumunan bukan sesuatu yang luar biasa. Sudah lama di sana-sini orang kumpul-kumpul tanpa urgensi. Kalaupun digerebek dan diberi sanksi, orang-orang yang dengan sukarela berkumpul tidak sanggup menahan diri untuk mengulangi lagi. Apalagi jika kumpul-kumpul itu dalam rangka kebaikan, misalnya silaturahmi. Orang-orang ini tidak lagi memikirkan Covid-19 sehingga tidak nyambung dengan kekhawatiran orang lain. Orang-orang ini juga tidak dapat diajak berpikir panjang: apa yang terjadi bila saya terinfeksi; apa yang terjadi bila saya terinfeksi dan menulari orang lain; apa yang terjadi bila saya terinfeksi lalu mati; andai orang yang saya tulari mati sedangkan saya hidup, apa yang terjadi? Evaluasi diri seperti ini terlalu rumit buat mereka. Ditambah lagi mereka meyakini bahwa mati hidup seseorang itu sudah ada waktu dan jalannya. Tidak masalah apakah itu kematiannya atau kematian orang lain.

Manusia tidak punya kesabaran seperti virus yang bersabar dalam jutaan tahun evolusinya menunggu keberhasilan bersatu dengan manusia. Dalam umurnya yang pendek, manusia punya banyak keinginan sehingga kesabaran seringkali dicampakkan. Manusia sudah dibekali mata hati dan akal untuk memandang dirinya sebagai orang lain dan orang lain sebagai dirinya. Bila ia menjaga dirinya artinya ia menjaga orang lain. Sebaliknya, bila ia menjaga orang lain sama dengan menjaga dirinya sendiri. Dalam perang melawan covid-19, kesabaran, mata hati, dan akal adalah senjata yang ampuh. Sayangnya, lagi-lagi, manusia tidak sanggup bersabar, tidak membuka mata hati, dan kehilangan akal. Bersabar itu bukan pasrah tidak melakukan apa-apa. Bersabar itu justru melakukan hal yang terbaik dengan membuka mata hati dan akal. Kita tidak maju ke medan perang cuma berbekal doa, tanpa mengasah keahlian dan pedang kita. Bila kita menemui ajal setelah menyiapkan semua itu, artinya kita telah bertemu dengan takdir kita.

Malam ini Mr. C telah memenuhi takdirnya. Beliau tidak berada dalam kerumunan manapun. Beliau bertemu takdirnya di jalan yang berbeda. Meninggalkan kami yang merenungi jalan beliau sembari membisikkan doa Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu, aamiin Yaa Robb.

4 Desember 2020

Pakhom dalam Diri Kita

Kasus rasuah yang terakhir mengingatkan saya pada salah satu cerita pendek Leo Tolstoy “Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?” Tolstoy menjawab pertanyaan itu dengan menghadirkan Pakhom, seseorang yang mendapat bisikan setan untuk memiliki banyak tanah sebagai pembalasan dendam pada hidupnya yang kekurangan. Maka, Pakhom bercita-cita untuk memiliki tanah yang banyak bila ia kaya. Lalu, ia kaya dan mulailah ia mewujudkan cita-citanya membeli tanah di mana-mana. Petualangannya membeli tanah membawa ia ke tempat orang-orang Bashkir yang diberi karunia Tuhan tanah subur berbukit-bukit. Orang-orang Bashkir menjual tanahnya kepada siapa pun dengan murah hati, termasuk kepada Pakhom. Pakhom menyerahkan sejumlah uang kepada orang-orang Bashkir. Perjanjiannya adalah sang pembeli meletakkan patok pertama untuk menandakan titik awal tanah sebelum berjalan sejauh yang mereka inginkan sambil meletakkan patok-patok berikut, membuat suatu garis keliling yang berakhir di patok awal. Seluas keliling yang dapat mereka buat, seluas itulah lahan orang-orang Bashkir yang menjadi milik pembeli. Perjanjian yang kedua adalah pembeli hanya mendapat waktu mengukur tanah mulai dari matahari terbit sampai dengan terbenam. Pakhom menyanggupi semua perjanjian itu. Suatu harga yang murah untuk tanah subur dan tidak terbatas seperti ini! Pakhom tidak habis pikir dengan keberuntungannya. Tentu saja, Pakhom berhasil berjalan jauh dan menancapkan patok-patok. Pertanyaannya adalah apakah ia dapat kembali ke patok pertamanya sebelum matahari terbenam?

Cerita Pakhom adalah cerita kita sehari-hari. Cerita tentang keinginan dan impian manusia untuk menjalani “hidup yang lebih baik”. Banyak yang berusaha mati-matian untuk “hidup lebih baik”. Kriteria “hidup lebih baik” ini spektrumnya sangat luas. Setiap orang punya pengalaman masing-masing yang akan membentuk apa yang “lebih baik” untuk mereka. Memiliki keingingan untuk menjadi lebih baik adalah bagian dari nafsu, sifat yang dilekatkan Allah pada makhlukNya (fitrah). Namun, karena nafsu selalu cenderung pada keburukan, maka kita harus selalu meminta rahmat Allah agar nafsu itu tidak melampaui batas.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 12:53).

Saya sendiri pasti punya karakter Pakhom. Mungkin ujian saya bukan tanah, tapi sesuatu yang lain yang masih bersifat materi, status sosial, atau jangan-jangan, meniru istilah Cak Nun, kesombongan intelektual. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat buat saya bila suatu hari saya tergoda untuk menjadi pengikut Pakhom.

Kenangan Manis Kopi Tidak Pakai Pahit

Ini bukan promosi Kedai Kopi Kenangan, ya. Tapi kerinduan untuk masuk kedai kopi memang ada. Rasanya sudah lama sekali dan entah akan berapa lama lagi. Saya lihat orang-orang sudah mulai datang lagi ke kafe kopi, kumpul-kumpul, melepas kebosanan setelah lama terkurung di rumah [Catatan: tulisan ini dibuat di akhir masa covid]. Saya sendiri masih segan meriung bila tak ada jarak. Apalagi makan minum sambil bercakap-cakap di luar rumah bukan dengan keluarga. Untungnya rasa rindu bisa diajak kompromi. Buat sementara, supaya si rindu dendam nggak ngambek, saya kumpulkan kenangan-kenangan ngopi yang tercecer dan jadikan kolase foto kopi yang pernah saya nikmati di berbagai tempat.

Kopi di cangkir ini saya nikmati di Kafe Ladoux di Paris. Pagi itu jam masih menunjukkan pukul enam waktu setempat. Udara bulan September sudah mulai dingin menandai masuknya musim gugur di belahan bumi Utara. Pagi itu saya belum mandi karena baru saja datang dari Belanda, naik bis malam. Hari itu saya dan teman-teman bertekat keliling Paris sebelum jadwal bis malam yang membawa kami kembali ke Belanda tiba. Aih, memang kunjungan yang singkat sekali, tetapi kenangannya tidak habis-habis.

Perjalanan ke Paris waktu itu adalah intermezzo. Sebenarnya kami sedang pelatihan di Belanda selama 3 minggu. Pelatihan itu sendiri sangat mencerahkan karena kami mendapat pengetahuan dan praktik tentang biodiversitas dan manajemen konservasi. Kuliah berlangsung dengan santai tapi aktif dan yang paling asik buat saya adalah bisa sambil menikmati kopi panas yang dijual di vending machine di luar kelas. Sepertinya momen itu mau saya jadikan contoh di kelas-kelas yang saya ajar. Bagaimana menjadikan peserta kuliah nyaman supaya materi kuliah bisa masuk ke otak [Catatan: sayangnya sampai saat tulisan ini diedit niat itu belum terlaksana]. Salah satu kegiatan pelatihan adalah berkunjung ke kantor World Wild Fund (WWF). Organisasi ini termasuk yang aktif menggerakkan kelompok-kelompok masyarakat agar peduli lingkungan. Lagi-lagi, di kantor yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca itu, saya menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan visi, misi, dan berbagai pengalaman WWF di penjuru dunia.

Minum kopi sambil bekerja sudah menjadi kebiasaan saya. Oleh karena itu mengunjungi kafe kampus jadi hal biasa. Minum kopi bareng teman memang menyenangkan tapi adakalanya yang kita butuhkan cuma secangkir kopi untuk menyelesaikan kerjaan.

Kafe Javaroma, Perpusatakaan UI

Saya membaca bahwa 3 cangkir kopi sehari masih batas normal untuk minum kopi, dengan catatan tambahan tentang gula, kekentalan, jenis kopi, waktu minum, dan lain-lain. Buat saya, 2 cangkir sehari sudah cukup. Namun, saya pikir masalahnya bukan dua atau tiga cangkir, karena berapa pun jumlah cangkirnya sepertinya saya sudah addicted pada kopi. Teman-teman peminum kopi pasti punya pengalaman yang sama dengan saya. Kalau belum minum kopi, badan terasa aneh, tidak fokus, dan kepala gleyengan. Badan akan menjadi segar, pikiran menjadi lebih jernih, dan semangat up sewaktu aroma kopi memasuki lubang hidung dan rasa pahitnya menyentuh lidah, diakhiri dengan after taste yang beragam sesuai jenis kopinya. Yah, itulah tanda-tanda kecanduan, teman!

Di rumah, ada saat-saat menjadikan waktu minum kopi menjadi sesuatu yang spesial. Menikmati bunga-bunga kemuning yang baru saja dipotong dari taman kecil di depan rumah atau mencoba membuat kopi dalgona yang lagi trend. Saya bersyukur masih bisa menikmati kopi dan menyimpan kenangan manisnya tanpa rasa pahit.

Puisi-Puisi Luar Biasa

Buku Syair Buah-Buahan (Doc. pribadi)

Membaca puisi saya suka. Membuat puisi? Please deh. Pernah dengar orang bilang Think Out of the Box? Atau pernah disindir, “Keluar dong dari zona nyaman”? Kalau sering nonton acara Master Chef atau Got Talents (mau America, British, atau Indonesia) pasti sering dengar komentar para juri, “Kamu main aman.”

Biasanya, saya dengar kata-kata itu dalam situasi yang relevan, misalnya acara-acara di atas itu. Kata-kata itu bisa juga muncul dalam kuliah, maksudnya supaya mahasiswa bisa menelurkan karya-karya yang orisinil, brilliant, bukan cuma copas apalagi nyolong. Sekali waktu Profesor saya menanyakan kami, mahasiswanya di kelas filsafat, “Buat apa sih masuk program doktor? Cuma buat cari gelar biar dapat jabatan?” Pertanyaan yang menohok. Memang Profesor yang satu itu terkenal nyeleneh, penuh pemikiran yang mengejutkan, seperti Gus Dur. Teman-teman yang tidak tahan melipir keluar kelas. “Mending makan soto daripada dengerin kuliahnya!”

Untuk membuat puisi saya harus putar otak tujuh keliling. Dalam rangka mencari ide membuat puisi saya terdampar pada satu buku yang judulnya aneh, menurut saya. Syair Buah-Buahan, begitu judul bukunya. Salah satu puisinya seperti ini.

Kisah dikarang buah-buahan
Dalam kebun berapa rupa warna
Ajaib sekali Kuasa Tuhan
Buah anggur menanggung kecinta(h)an

Mengarang syairlah bua(h)-bua(han)
Buat menghiburkan kau jua
 Menanggung rindu tiada kuasa
 Takut menurut nafsu dan hawa

 Jadi mengarang tiada keruan
 Mengarang syair bua(h)-bua(han)
 Dalam kebun berhati rawan
 Menanggung tiada tertahan 

Ada juga buku lain yang di dalamnya ada puisi yang luar biasa ini (mau bilang aneh takut gak sopan). Ini puisi karya E.E. Cummings.

l(a
le
af
fa

ll
s)
one
l
iness

Puisi ini bisa dibaca loneliness (di luar tanda kurung) atau dibaca aleaffalls (di dalam tanda kurung). Luar biasa!

Waktu kecil saya berpikir kata-kata dalam puisi adalah kata-kata yang indah, penuh kiasan, sehingga malah membuat pembacanya tidak paham maksud sang penyair. Tetapi sebenarnya kata-kata dalam puisi itu sesuatu yang biasa saja, bahasa sehari-hari, bahkan obyek yang dijadikan “tokoh” puisi bisa sangat biasa, seperti sebuah sikat gigi.

Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
Di dalam tidurnya ia bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka

Ketika ia bangun pagi hari
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali

Dan ia berpendapat kejadian itu terlalu berlebih-lebihan

Sajak Sikat Gigi - Yudhistira Adi Nugraha

Puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ”Q” ini bentuknya absurd, tetapi maknanya dalam sekali. Sedangkan Tragedi Winka Sihka menurut saya sindiran (atau doa?) untuk para jomblo, hehehe.

Akhirnya saya malah asik membaca puisi-puisi yang bentuknya “tidak biasa”. Lalu, bagaimana puisi saya? Jauh panggang dari api.

Catatan:

Syair Buah-Buahan adalah sebuah syair simbolik yang ditulis oleh Muhammad Bakir Syafian Usman Fadli di Pecenongan Langgar Tinggi pada 22 November 1896. Naskah ditulis di atas kertas Eropa , tebal 129 halaman, Transkripsi Syair Buah-Buahan telah dimuat dalam buku Antologi Syair Simbolik dalam Sastra Indonesia Lama (Jumsari Jusuf dkk. 1978). Syair Buah-Buahan telah dianalisis oleh H. Overbeck dalam artikel “Malay animal and flower shaer” dan oleh G.L. Koster dalam buku Roaming through Seductive Gardens: Reading in Malay Narrative, Leiden KITLV. Buku Syair Buah-Buahan merupakan koleksi iPusnas dan ditransliterasi oleh Dodi Suhirno.

Dunia yang Kacau (A Chaotic World)

Pagi ini saya siap memulai kerja lebih awal. Urusan domestik berupa setumpuk piring cucian dan sarapan untuk keluarga termasuk buat si kaki-empat Brownies yang sudah merengek, beres. Saluran Euronews saya biarkan mengudara agar bisa tetap mengikuti perkembangan pemilu di Amerika yang sejak semalam berjalan menegangkan. Segelas kopi panas menemani saya ketika membuka laporan-laporan ujian yang sejak kemarin masuk dan belum saya tindaklanjuti. Lima laporan dari satu berkas selesai. Para pelapor telah saya hubungi untuk updating news bahwa masalah mereka sudah clear yang segera saja dibalas dengan ucapan-ucapan terima kasih. Saya mulai melirik berkas berikut Ketika WhatsApp Call berbunyi. Tetangga saya menelpon.

“Ada apa, Bu?” tanya saya setelah memberi salam.

“Apa anak-anak kucing ada di situ, Bu?” Tetangga saya melanjutkan, “Tadi masih main-main sama saya, kok sekarang gak ada ya. Ini Emaknya ngeong-ngeong.”

Kalau saya seekor kelinci, telinga saya pasti langsung tegak. Emak kucing yang dibicarakan di sini namanya Totol karena ada spot-spot hitam di badan putihnya, seperti pola hitam di badan sapi. Si Totol adalah emak kucing yang pandai mengurus anak. Ia rajin membersihkan anak-anaknya, membangunkan mereka kalau sudah tiba waktu menyusu, tidak pernah lama meninggalkan anaknya – selalu segera kembali ke kardus tempat mereka berada, menjaga anak-anaknya dari para pejantan yang mendekat karena tertarik dengan kecantikan Totol. Memang benar bahwa si Totol ini dianugerahi Tuhan gen yang bagus. Ini terlihat dari tubuhnya yang besar, kuat, dan rambutnya yang cemerlang.

Kembali ke telpon tetangga saya yang cemas. “Diumpetin di mana ya, Bu?” Status kucing-kucing di kompleks kami memang unik. Mereka bukan punya saya atau tetangga saya itu, walaupun secara de facto kami yang mengurus mereka. Si Totol, yang sudah 3 kali melahirkan, punya riwayat memindahkan anaknya ke beberapa tempat dan anak-anaknya sering hilang secara misterius. Beberapa hari lalu dia masih di garasi saya lalu tiba-tiba memindahkan anak-anaknya ke garasi rumah tetangga, tanpa ba bi bu. Sejak saat itu urusan pemeliharaan mereka jadi tanggungjawab tetangga saya itu dan dia senang sekali menerima tugas ini.

Akhirnya rencana kerja pagi saya berantakan. Sambil menerobos rintik hujan saya pergi ke rumah sebelah dan merunduk-runduk mencari anak-anak kucing yang baru berumur dua bulan. Semua tempat kami intip, tidak lupa sambil memanggil pus pus pus berulang kali. Emak Totol memperhatikan kami, sama sekali tidak membantu. Malah kemudian dia asik membersihkan badan di teras rumah. Kami curiga dia memindahkan anak-anaknya ke ruang mesin mobil tetangga saya. Ketika ingin dicek, masalah lain muncul karena kap mobil tidak bisa dibuka, mungkin karena sudah lama sekali tidak dijalankan mobilnya. Kami setengah putus asa dan siap menerima kenyataan kehilangan anak-anak Totol lagi. Penasaran, saya mengecek lagi bagian belakang mobil yang mepet dengan dinding garasi, lalu tertarik dengan bayangan hitam di sudut garasi. Di sana bersandar beberapa lempeng kaca bekas, tampak berat, dan sepertinya tidak ada celah tempat empat anak kucing bersembunyi. Tapi bayangan bulu hitam itu samar-samar ada dalam sorotan senter saya. Akhirnya, sambil menyempitkan tubuh, saya beringsut ke pojok garasi dan menggeser lempengan kaca yang berat itu. Eureka! Empat anak kucing berimpit di sana mendongak melihat saya tanpa rasa bersalah!

Awal yang panjang untuk mengatakan bahwa dunia ini adalah alam yang penuh dengan kekacauan-kegaduhan-ketidakseimbangan-tempat di mana peristiwa berloncatan tidak beraturan tetapi entah bagaimana sebenarnya mengikuti hukum-hukum alam yang berlaku. Saat ini kita duduk di atas kursi, di atas tanah yang datar, tak ada goncangan apa pun, padahal jauh di dalam bumi sana bola api besar sedang mendidih, siap menerobos ke atas dan menjungkirkan kursi dan kita di atasnya. Ada masanya Newton mengatakan bahwa bila kita mampu mengetahui kondisi awal dari suatu sistem dan kita mengetahui semua faktor yang memengaruhi sistem tersebut, maka kita dapat memprediksi seluruh masa depan sistem tersebut. Dengan kata lain kita dapat mengetahui apa yang terjadi pada sistem tersebut di masa depan. Dengan kata lain lagi, kita dapat menentukan masa depan kita dengan pasti. Prinsip Newtonian itu dibantah oleh Werner Heisenberg (1927) dengan Prinsip Ketidakpastian (The Uncertainty Principle) yang mengatakan bahwa dalam dunia kuantum, tidak mungkin kita dapat mengetahui posisi dan kecepatan suatu partikel (misalnya elektron) dalam satu waktu. Sederhananya, bila kita tahu posisi suatu partikel, kita tidak tahu kecepatannya. Sebaliknya, bila kita tahu kecepatannya, kita tidak tahu di mana partikel tersebut: mungkin di ruangan bersama kita mungkin pula di Cina. Jika dihubungkan dengan Newton, Heisenberg mengatakan bahwa kita tidak mungkin tahu dengan pasti seperti apa masa depan kita.

Begitulah saya dan rencana indah untuk bekerja lebih awal di hari ini. Siapa yang bisa memprediksi bahwa Totol dan anak-anaknya membawa kekacauan di jadwal saya hari ini? Untunglah saya sudah dibekali pengetahuan Prinsip Heisenberg sehingga cuma bisa mengangguk-angguk melihat rencana yang indah itu berantakan.

Referensi: Trefil & Hazen. 2007. The Sciences. An Integrated Approach 5th ed. John Wiley & Sons, Inc.

Sekali lagi, ebook

Kali ini perjalanan membaca ebook membawa saya ke iPusnas. Beberapa kali menemukan rekomendasi tentang iPusnas di Twitter akhirnya saya melipir juga ke sana. Setelah sukses memasang aplikasinya di hp, saya mulai berselancar. Pertama-tama memang agak kagok, karena beberapa kali harus konfirmasi soal registrasi keanggotaan. Namun, akhirnya “pertarungan” itu saya menangkan. Buku pertama yang masuk ke bookshelf saya berjudul A Song For You.

Saya tertarik melihat cover bukunya yang ke-korea-korea-an, tetapi authornya kok orang Indonesia. Selain itu, menilik kategori bukunya saya menebak ini bacaan ringan (baca: novel roman). Saya pikir sebagai awalan baguslah, yang ringan-ringan saja dulu. Ini mengingat bahwa bagi saya membaca ebook kurang menyenangkan, technically speaking. Ternyata memang bukunya ringan, kisah tentang persahabatan dan percintaan muda-mudi Korea dengan pesan kegigihan mewujudkan impian. Yang menonjol dari buku ini adalah kisahnya dinarasikan dalam bentuk percakapan. Obrolan dalam bahasa Korea muncul di sana sini, jadi bisa sekalian belajar percakapan Korea sehari-hari.

A Song For You selesai dalam dua hari. Saya lanjut lagi pencarian buku yang lain. Teringat dengan tugas dari Ikatan Kata Ketik9 dg tema Ayah, saya langsung mencari bukunya Andrea Hirata. Semalam saya tidak berhasil mengunduh bukunya. Antriannya luar biasa, lebih dari 1000 orang. Sewaktu menulis pos ini saya coba masuk lagi, alhamdulillah, pas banget bukunya tersedia. Langsung saja saya unduh dan masuk ke dalam bookshelf. Makin penasaran saya dengan buku ini melihat ada 300 review dari pembacanya. Ditambah lagi saya punya pengalaman bertemu dengan Andrea waktu launching karya pertamanya, Laskar Pelangi, dan sekali lagi waktu dia diundang ke UI. Penasaran di atas penasaran.

Jadi, ijinkan saya mengakhiri pos ini karena sudah pingin membaca Ayah. Is it really good as everybody said?

Duo Alfred

Pernah dengar Alfred Wallace? Garis Wallace? Alfred Wagener? Continental Shift atau pergerakan benua? Kalau belum pernah dengar, mungkin sekarang waktunya mengulik siapa dan apa semua itu. Sebagai orang Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam begitu besar rasanya pantas bila kita bisa sedikit bercerita tentang Duo Alfred: Alfred Wallace dan Alfred Wagener.

Garis Wallace adalah garis khayal yang membentang dari kepulauan Filipina di Utara sampai ke Selat Lombok – yang memisahkan Pulau Bali dan Lombok – di sebelah Selatan. Garis ini membagi flora dan fauna Indonesia ke dalam dua wilayah: Barat dan Timur. Di wilayah Barat ada kera-kera besar, badak, kerbau, banteng, gajah, dan tapir yang sama sekali tidak ada di Timur. Sebaliknya, di wilayah Timur ada hewan-hewan berkantung, berang-berang, platypus, kalkun, dan kakaktua yang tidak ditemukan di Barat. Orang yang mengamati perbedaan ini adalah Alfred Wallace, seorang naturalis asal Inggris yang betah tinggal di dalam hutan di Maluku, Ternate, Sulawesi, Borneo, dan Sumatra. Kecintaan Wallace terhadap alam Indonesia terbukti dari suratnya kepada istrinya, yang mengatakan bahwa ia bahagia dan kerasan di kepulauan Hindia Belanda (waktu itu tahun 1860-an). Memang pantas bila nama Wallace itu diabadikan sesuai dengan apa yang diamatinya.

Wallace melontarkan gagasan bahwa perbedaan flora fauna antara Barat dan Timur Indonesia adalah akibat pemisahan daratan barat dan timur jutaan tahun yang lalu. Ide bahwa jutaan tahun yang lalu Sumatra, Jawa, Borneo, Bali, dan Lombok pernah bersatu lalu berpisah cukup “menakutkan” Wallace. Demikian juga ide pergerakan geologi: pemekaran daratan, pengangkatan bumi, atau naiknya sedimen bawah laut akibat letusan gunung berapi.  Semua ide itu membuat Wallace berkeringat dingin dan hampir-hampir tidak sanggup meneruskan angan-angannya. Apalagi, di tahun 1860-an itu tidak ada bukti yang cutup untuk memastikan teori-teori Wallace tentang pergerakan geologi.

Wallace survived 12 years in the tropics collecting specimens (Image: Evstafieff/Down House, Downe, Kent, UK/English Heritage Photo Library/Bridgeman).
Wallace Collection beetle specimens. Drawer containing beetles collected and mounted by the British naturalist Alfred Russel Wallace (1823-1913). Collection of Natural History Museum, London. (https://fineartamerica.com/profiles/science-photo-library).

Bukti-buktinya baru datang hampir seratus tahun kemudian, dilontarkan oleh Alfred Wagener, seorang penjelah Kutub Utara berkebangsaan Jerman, berwajah tampan dengan mata biru kelabu tajam. Sungguh suatu kebetulan bahwa kedua orang itu memiliki nama depan yang sama: Alfred. Pada tahun 1915, Wagener menulis buku The Origin of Continents and Oceans (Asal Usul Benua-Benua dan Samudra-Samudra) dan menyisipkan istilah “pergeseran benua” di dalamnya (pada tahun 1926 istilah ini diubah menjadi continental drift atau “benua yang terapung”).

Salah satu hal yang menyebabkan Wagener berpikir tentang penyatuan dan pemisahan benua adalah bentuk garis pantai Afrika dan America Selatan yang seperti kepingan puzzle, bila disambung akan klop! (Wagener menulis gagasan puzzle ini kepada tunangannya). Wagener berusaha melengkapi idenya dengan berbagai bukti (termasuk hasil temuan Wallace di Hindia Belanda). Lalu, terbentuklah gambar itu: gambar benua purba Pangea yang kemudian berpisah menjadi Laurasia dan Gondwanaland.

Sayangnya hipotesis ini ditentang oleh banyak ilmuwan hanya karena otoritas akademik. Wagener, seorang meteorologist, sok-sok an bicara tentang geologi! Begitu kira-kira penolakan yang ia terima. Pada masa itu, ilmuwan geologi percaya bahwa bumi adalah suatu “penampakan” yang solid, rigid, tidak berubah. Lagipula, bagaimana mungkin benua bergerak? Apa yang dapat menggerakkan daratan yang besar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan bukan untuk didiskusikan melainkan sebagai cemohan untuk Wagener.

Wagener sendiri tidak peduli. Ia tidak ngotot memaksa orang mempercayai teorinya. Seperti biasa, ia meneruskan penjelajahannya di kutub. Pada suatu hari di bulan November 1930, ia tidak kembali dari perjalananya ke salah satu ujung Greenland. Beberapa bulan kemudian, di bulan Mei 1931, tubuhnya ditemukan telentang di hamparan salju. Matanya terbuka menatap langit biru kutub yang dicintainya dan mulutnya hampir menyunggingkan senyum seakan puas dengan akhir hidupnya. Teorinya tentang benua yang bergerak akhirnya diterima dengan ditemukannya bukti-bukti baru oleh para peneliti-peneliti muda yang berpikiran terbuka. Salah satu bukti yang tidak terbantahkan ada di Indonesia, tepatnya di Pontianak. Posisi lintang nol yang membagi bumi menjadi Utara Selatan ditandai oleh Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Apakah kalian tahu bahwa posisi Tugu Khatulistiwa di Pontianak sekarang tidak lagi di titik nol derajat lintang khatulistiwa?

Si Cantik Yang Tersisih

Manusia selalu punya ikon untuk segala sesuatu yang indah. Ada Miss Universe, Putri Indonesia atau Putri Kampus. Dunia hewan punya harimau, si Raja Hutan, sebagai ikonnya, walaupun kini nama Raja Hutan patut dipertanyakan karena hutannya sudah habis dibabat manusia. Dunia tumbuhan diwakili oleh tumbuhan berbunga, sebagai bentuk yang paling maju, “mengalahkan” bentuk-bentuk lumut, paku, dan tumbuhan gimnosperma (pinus, sikas). Tumbuhan berbunga telah mengembangkan struktur tubuhnya dengan kehadiran batang berpembuluh, kambium, dan biji. Dalam perkembangan struktur tubuh tumbuhan berbunga itu sendiri, evolusi daun menjadi bunga adalah puncak keunggulan tumbuhan berbunga. Evolusi bunga ini menjadi jawaban mengapa bumi yang kita tinggali sekarang dipenuhi oleh tumbuhan berbunga.

Lalu, siapa ikon tumbuhan yang mewakili kecantikan dan keindahan bunga? Tidak lain adalah bunga anggrek. Selain warna yang menarik dan bentuk yang bervariasi, struktur bunga anggrek sangat berbeda dari bunga apapun di bumi ini.

Namun, ada kecantikan lain yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Dalam dunia ini ada sekelompok organisme berklorofil yang hidup melayang-layang di perairan, yang dikenal dengan nama fitoplankton. Kebanyakan anggotanya merupakan makhluk satu sel dengan cara hidup soliter atau berkelompok. Ukuran sel bervariasi mulai dari satuan sampai ratusan mikrometer. Bentuk selnya bermacam-macam: bulat seperti bola, oval seperti telur, panjang seperti rantai, sampai bentuk-bentuk yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Salah satu kelompok fitoplankton yang sangat cantik adalah desmid, yang kecantikannya sangat khas. Sebut saja Closterium si bulan sabit, Micrasterium si bunga mawar, Cosmarium si hamburger, atau si rantai panjang Desmidium yang menjadi simbol penamaan Desmid. Bentuk tubuhnya yang seperti cermin dibelah dua sangat mengesankan. Belum lagi silsilahnya yang dipercaya sebagai sepupu dari leluhur tumbuhan yang hidup di darat.

Sumber: 1). Desmidium (http://protist.i.hosei.ac.jp/); 2). Closterium (https://www.pinterest.com/pin/77335318571467283/); 3). Micrasterias division: https://www.pinterest.com/pin/589971619930397525/);

Kelompok fitoplankton lain yang tidak kalah cantik adalah diatom. Struktur dinding selnya mengandung senyawa kapur, membuat makhluk ini mampu “mendekorasi” tubuhnya dengan pola yang unik. Bentuk tubuh diatom ini dapat dibayangkan seperti kotak dengan tutupnya. Bagian kotak akan selalu lebih kecil dibandingkan dengan bagian tutup dan memang demikianlah sel diatom.

Berbagai bentuk sel diatom (Sumber: 1). Cymbella-like: https://www.pinterest.com/pin/589971619930398124/); 2), round-diatom (https://www.pinterest.com/pin/589971619930397963/); 3). Fragilariforma (https://www.pinterest.com/pin/506655026815066134/)

Mahkluk satu sel seperti desmid dan diatom berkembang biak dengan cara membelah diri. Satu sel menjadi dua sel. Dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya. Bayangkan ketika sel desmid membelah, maka setengah bagian selnya harus terbentuk sama persis dengan setengah selnya yang lain. Betapa rumitnya! Bila salah lekukan, maka retaklah cermin itu. Pembelahan sel diatom tidak kalah membingungkan. Bagian tutup akan membentuk bagian kotak, sedangkan bagian kotak akan membentuk bagian tutup.

Karena kotak selalu lebih kecil dibandingkan dengan tutup, maka setelah 100 generasi boleh jadi ukuran sel ke-100 itu akan jadi 1/100 ukuran induknya. Jangan-jangan akan ada satu generasi dimana sel anak itu hilang, karena kecil sekali! Well, ternyata tidak seperti itu Allah Yang MahaPencipta merancang sel diatom. Ada mekanisme yang berfungsi ketika ukuran sel diatom mencapai titik kritis, mereka akan mencari pasangan kawin dan menghasilkan sel anak dengan ukuran tubuh normal.

Perairan Indonesia sangat kaya dengan fitoplankton. Lautan, sungai, dan danau adalah habitat mereka. Diatom yang tinggal di laut umumnya berukuran lebih besar daripada yang tinggal di perairan tawar. Hal ini dapat dimaklumi karena perairan laut mengandung lebih banyak unsur kalsium (kapur) yang merupakan bahan baku dari dinding sel diatom. Desmid hanya mampu hidup di perairan tawar, terutama perairan yang bersih, sedikit asam (pH 5,5-6), dan tenang (bukan air mengalir). Danau dan rawa adalah habitat desmid. Keberadan habitat desmid kini rawan karena adanya konflik kepentingan dengan kebutuhan perumahan manusia. Sangat disayangkan bila pengelolaan wilayah perumahan terus mengorbankan danau dan rawa. Sangat disayangkan bila suatu hari nanti kita tidak dapat lagi bertemu dengan makhluk-makhluk cantik ini.

My Dear Mrs. Atria

flowerglossary.com/white-flowers/

Though we separate, I always remember your being here to comfort me in difficult situation. Since our training in Utrecht, I knew that I became more and more open to you. But, I think it was when you went to Leiden I comprehended that you were special. Not the kind of “special person” written in a birthday card I bought for you, but special in a way that you are being more neutral than I am now.  By that way, you helped me balancing my emotions (though maybe you were not realized).

It is good to have someone to believe in. For such a person like me who are difficult to express the feeling, having one person like you is enough. I don’t want to have hundred friends, indeed. Because I know I cannot give myself to all of them. I don’t interest in knowing all people, because I know I don’t have time to talk to all of them.

Everyday, at the end of my hectic day, along the way back to home, the feeling that my journey last at end, I find that all people I love and care is my family. And one or two dearest friends willing to share with me. And that’s all enough for me to say Alhamdulillah for Allah The Mighty and The Beneficent.

This afternoon, the rain was falling in my window. How were you there?

KETIK#3 – Ajakan Gabung Komunitas

Belum pernah pernah bergabung dengan komunitas blogger tiba-tiba promosi komunitas bloger. Yang benar aja kira-kira begitu komentar yang akan saya dapat. Tapi coba pikir sisi positifnya. Bila saya yang baru saja bikin blog, lalu bergabung dengan komunitas bloger, tentu ada alasan kuat kenapa memutuskan untuk bergabung. Pasti ada sesuatu yang menarik pada komunitas blogger yang saya ikuti. Bukan tidak mungkin apa yang membuat saya tertarik akan jadi sesuatu yang menarik juga buat orang lain.

Sebelum bicara soal tarik menarik di atas, saya mau mengaku bahwa sebenarnya saya sudah punya blog yang sudah saya tinggalkan hampir satu tahun. Baru beberapa hari ini saya putuskan untuk mengaktifkan lagi blog saya yang kadaluarsa itu. Semua gara-gara Covid 19. Apa hubungannya membuat blog dengan covid? Pertama, di era pandemi ini kita bisa menyalahkan Covid 19 untuk semua perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kedua, bekerja di rumah ternyata memberi waktu banyak buat saya untuk membaca dan menulis. Ketiga, karena tidak bebas bepergian, takut naik kendaraan umum, saya tidak bisa bertemu dengan teman-teman. Mau tidak mau, akhirnya media sosial jadi kendaraan untuk menyapa teman-teman.

KOMUNITAS BLOGER IKATAN KATA

Pertama kali menemukan Ikatan Kata saya tidak tahu bahwa ini adalah suatu komunitas. Maklumlah, newbie (baca: gaptek) yang masih merangkak dari satu tulisan ke tulisan lain. Saya pikir Ikatan Kata adalah nama alias seseorang. Lalu saya melihat kode Ketik#3, Ketik#4, Ketik#5 dan seterusnya. Baru saya sadar bahwa tulisan-tulisan itu punya orang yang berlainan dan Ikatan Kata adalah suatu komunitas.

Jujur, saya minder kalau bergabung dengan komunitas penulis. Membayangkan ada di kerumunan para penulis, sementara saya tidak menulis apapun, bukan bayangan yang menyenangkan. Saya pernah dengar (bukan sekali, tapi beberapa kali!) pengarang yang bukunya laris bilang, “teruslah menulis…menulis apapun…biasakan menulis…” yang membuat saya malah tidak menulis. Tentu bukan salahnya pengarang itu, tapi bagi saya menulis bukan pekerjaan yang bisa saya jadwalkan rutin. Kadang ide tidak muncul (mau nulis apa yaaaa?) atau tulisan garing, kehabisan waktu untuk duduk menulis, yang jelas buat saya menulis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Lalu, kenapa saya nekat menghidupkan blog yang koma dan sekarang malah bergabung dengan Ikatan Kata (IK)? Well, saya rasa inilah kelebihan IK, bisa meyakinkan saya bahwa menulis itu bisa jadi semudah membalikkan telapak tangan. Saya tertarik dengan metode IK untuk memotivasi saya dan “memaksa” saya untuk menulis dengan menyajikan topik-topik menarik untuk ditulis di blog. Buat saya menulis itu sesuatu yang “organik”, tidak dibuat-buat, tidak bisa dipaksa, ada dorongan dalam diri yang harus dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Tapi, ada benarnya bahwa saya harus menyediakan waktu, pikiran, dan energi untuk menulis, dengan kata lain suatu komitmen. Nah, ini yang saya dapatkan dari Ik. Believe me, this post was one example of how IK pushing me to do my writing. And I was glad that I accomplished the challenge 😀