
Kalau kamu dipanggil Anak Tebet di masa kini, kamu boleh sedikit bangga. Anak Tebet menunjukkan status sosial pemiliknya yang tinggal di kawasan mentereng, tidak kalah dengan Menteng atau Kuningan. Tapi dulu, tahun 1976, ketika saya pindah ke Tebet, daerah ini cuma pinggiran, rawa-rawa, bahkan banyak lahan pemakaman. Letaknya jauh dari pusat kota, yaitu kawasan Monas, Sudirman-Thamrin, dan Glodok/Kota (Jalan Hayam Wuruk ke arah Kota Tua). Boleh dibilang, Tebet itu kampung dan anak-anaknya kampungan.
Sekarang, kalau orang tahu kamu lulusan Smabel dan Smandel, boleh jadi orang langsung berdecak kagum. Itu dua sekolah top di kawasan Tebet. Yang satu SMP 115 dan yang satunya SMA 8. Tapi, jaman saya masuk 115 (1983) dan 8 (1986), dua sekolah itu cuma sekolah rahayat. Masuk Smabel dan Smandel adalah default karena dua sekolah itu yang paling dekat dengan rumah dan termasuk dalam pilihan rayon. Di masa itu, yang keren dan katanya sekolah artis adalah SMP 3 dan SMA 3. Ada juga yang lebih jauh lagi di kawasan Blok M, yang top markotop, yaitu SMA 70.
Di tahun 1980, Tebet hanya salah satu di antara banyak kawasan Jakarta yang belum berkembang. Kawasan elit tertua di Jakarta kemungkinan adalah Menteng. Dicanangkan pada 1910 sebagai taman kota pertama di Batavia, Menteng dirancang khusus sebagai tempat tinggal golongan atas, pejabat Belanda, dan tokoh-tokoh penting Indonesia. Kawasan lainnya adalah Kemang. Kemang, yang semula merupakan perkampungan Betawi, perlahan berganti rupa pada tahun 1970-an dan menjadi hunian para ekspatriat. Kawasan Blok M menjadi terkenal ketika dibangun Aldiron Plaza (sekarang Blok M Square), sekitar tahun 1978. Secara pribadi, tempat ini bersejarah karena di sanalah saya membeli cincin kawin.
Sebenarnya, Blok M telah saya kenal sejak duduk di sekolah dasar karena setiap minggu kami ada pelajaran berenang di Kolam Renang Bulungan, dekat kantor Kejaksaan Agung. Banyak kantor strategis di kawasan Blok M, seperti Mabes Kepolisian, Sekretariat ASEAN, Universitas Al-Azhar dan RS Pertamina. Tapi, anak SD seperti saya cuma senang ke sana karena bisa naik bus tingkat warna biru punya PPD (Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta). Sampai saya duduk di bangku sekolah menengah, Kolam Renang Bulungan masih menjadi tempat latihan berenang.

Mengikuti aturan penamaan baru dari Pemerintah DKI Jakarta, perlahan-lahan nama-nama jalan di Tebet berubah. Akibat pergantian itu, nama-nama jalan menjadi mirip satu sama lain dan malah sering bikin pengantar barang tersasar. Tebet Timur III sering disangka Tebet Timur Dalam III. Tebet Barat Dalam keliru dianggap Tebet Barat Raya. Dan seterusnya. Ingat, zaman itu belum ada Google Maps sehingga orang hanya mengandalkan ingatan saja. Nama-nama jalan di masa saya kecil sangat khas dan berbeda, sehingga tidak ada kekeliruan dalam mengingat. Saat itu, kata “Jalan” disebut “Gang”. Jadi, ada Gang Ikhlas, Gang Budi, Gang Pasti, dan lainnya. Karena sering keluyuran dari gang satu ke gang lainnya bareng teman, hampir setiap sudut Tebet (kawasan antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet) saya kenal.
Sekarang, banyak tempat baru. Rumah-rumah lama tak berbekas. Banyak yang dijual dan dibangun kembali dengan gaya kekinian. Rumah hunian dibongkar dan dibangun kembali menjadi rumah makan atau kafe berkelas. Terakhir saya mengunjungi rumah ibu, saya tidak menemukan ojek-ojek yang biasa mangkal di Stasiun Cawang. Akibatnya, saya jalan kaki ke rumah. Dan ternyata, jalan kaki menelusuri jalanan itu memunculkan memori masa lalu. Beberapa rumah (di antaranya rumah kakak kelas) masih bertahan. Demikian juga dengan Supermarket Gelael, Toko Kue Larisia dan Salon Johnny Andrean (walaupun salon ini termasuk muda umurnya). Yang lain adalah musholla kami, anak-anak Gang Ikhlas I-VI. Musholla Al-Ikhlas namanya. Kini bangunan musholla sudah dua lantai dan tampilannya lebih modern.


Tulisan ini sekaligus menyadarkan saya bahwa saya sudah tua, hahaha. Katanya, kalau sudah tua, memori masa lalu menguat dan mengalahkan memori jangka pendek. Yang luar biasa adalah ketika mengingat masa lalu, kamu juga merasakan kehangatan di hati. Ilmu pengetahuan mungkin bisa berargumen dengan penjelasan tentang bagaimana senyawa kimia dopamin dan oksitosin terangsang oleh otak dan mengalir di dalam tubuh, sehingga menimbulkan perasaan atau sensasi hangat itu. Tetapi, saya ingin melihatnya secara sederhana saja. Kebahagiaan itu adalah berkah dan karunia Allah.
