Ini catatan yang tertinggal dari perjalanan pertama saya ke Papua Barat pada bulan Agustus.

Delapan puluh satu. Tahun ini Negara Indonesia menginjak usianya yang ke-81. Usia yang masih sangat muda bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika. Tentu itu perbandingan yang tidak imbang karena Indonesia, dan banyak negara-negara di Asia dan Afrika, adalah negara bekas kolonialisasi Eropa. Jadi, memang masih baru berdiri. Kata “baru” di sini juga rasanya kurang pas. Seakan-akan belum lama Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya sebagai negara dan bangsa yang berdaulat. Delapan puluh satu tahun. Apakah belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu mencapai cita-citanya yang tertulis dalam Preambul Undang-Undang Dasar Negara 1945? Negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, memiliki rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, bersatu, berhikmat dalam memimpin rakyatnya, serta menegakkan keadilan dan kesejahteraan bangsa dari Sabang sampai Merauke.
Pertanyaan di atas malah terasa tidak pas ketika merayakan kemerdekaan Indonesia di pulau paling Timur Indonesia: Papua. Tepatnya di Kampung Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Di sini, kemerdekaan seperti baru kemarin dikumandangkan. Pembangunan berjalan lambat, sementara kehidupan masyarakat berlari cepat. Jalanan tanah berdebu, jembatan rusak, listrik hanya menyala pada malam hari, fasilitas untuk warga jauh dari kata “memadai”. Di hari kemerdekaan ke-81 ini, kekeringan melanda kampung, sumber-sumber air menipis, manusia sama seperti pohon-pohon yang kering merana. Jangan salahkan warga bila mereka enggan merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain. Bagi mereka, kehidupan berjalan seperti biasa, tidak ada perubahan.
Rasa dan pikiran itulah yang ingin kami goyang. Kali ini, 17 Agustus tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran kami, Tim Ekspedisi Patriot, harus membawa perubahan Kampung Werianggi ke arah yang lebih maju. Lupakan para pembesar negeri. Untuk sejenak, tidak perlu berharap bantuan dari orang-orang kaya di negeri ini. Bergerak bersama, melangkah satu jengkal dengan kemampuan kita sendiri, itu saja yang kita perlukan. Tidak besar langkah yang dilakukan oleh 20 tim EP di Werianggi. Hanya ingin menjadikan hari kemerdekaan ke-81 Indonesia di Kampung Werianggi sebagai hari yang membawa suka dan keceriaan bagi warga.
Melihat pemuda-pemudi tim anggota Ekspedisi Patriot bergerak, saya jadi membayangkan suasana di tahun 1928 ketika para pemuda menggagas Sumpah Pemuda. Pasti saat itu juga sama seperti hari-hari sebelum tanggal 17 Agustus di Werianggi. Anak-anak muda itu berkumpul, berdiskusi, berbagi peran, dan bergerak dalam satu komando. Ide-ide disuarakan, ego diri ditundukkan. Tak ada yang berpikir dirinya lebih pintar daripada yang lain. Tak ada yang merasa dirinya lebih hebat daripada yang lain. Semua sama rendah, sama tinggi. Kami lebur, menjadi satu pikiran, satu rasa, satu langkah.



Perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia berlangsung meriah. Acara dimulai dengan agenda protokoler: sambutan dari ketua panitia, kepala kampung, dan ketua adat. Kemudian makan bersama. Pendaftaran peserta lomba dimulai. Untuk anak-anak disediakan lomba mengambil sedotan. Yang tidak ikut lomba bisa ikut mewarnai gambar. Untuk remaja disediakan lomba pecah balon, sedangkan untuk dewasa ada lomba “menyuapi bayi”, voli sarung, dan panjat pinang. Warga tumpah ruah di halaman depan rumah PAUD. Penjual makanan dan minuman turut memeriahkan suasana. Belum pernah ada perayaan 17an seramai ini, begitu salah satu komentar warga.


Tidak ada perasaan lain selain rasa syukur, lega, dan gembira karena pesta rakyat ini benar-benar dinikmati oleh warga Werianggi. Senja hari ini saya tutup dengan berdiri tegak di lapangan Kampung Werabur, menyaksikan bendera Merah Putih diturunkan. Sementara itu, di Kampung Werianggi masih terjadi keriuhan warga memperebutkan hadiah-hadiah yang menggantung di pucuk pohon pinang!