
Pada semangkuk bakso yang saya makan malam ini nun jauh di tanah Papua, saya menemukan betapa Allah tahu apa yang terbaik untuk kita. Ceritanya sederhana. Saya bersama beberapa anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UI-Kementrans ingin makan malam yang bukan nasi. Setelah 3 hari dijejali nasi pagi, siang, dan malam, malam ini kami berkunjung ke warung bakso Mama Reni untuk mencicipi baksonya. Default saya bila makan bakso adalah bakso spesial sayur: bakso tanpa mie dengan sayur sawi dan taoge yang banyak. Terkadang, bila ingin pakai mi, saya memilih mi putih. Tapi, malam ini, untuk memudahkan saya memesan menu yang sama dengan yang lain, yaitu bakso dengan mi kuning putih. Setelah menunggu cukup lama, mangkuk-mangkuk bakso pesanan masuk secara bertahap. Empat mangkuk bakso dengan mi plus telur sampai ke tangan pemesannya. Giliran berikutnya adalah bakso dengan mi tanpa telur. Di tahap inilah keributan muncul. Seorang anggota menerima mangkuk bakso hanya dengan mi putih. Bagaimana ini? Akhirnya, mangkuk bakso dia ditukar dengan mangkuk saya, yang saya terima dengan gembira. Begitu saya aduk, tidak ada mi apa pun dalam mangkuk bakso itu! Rupanya anggota kami tadi salah lihat. Dari sudut pandang pemesanan, ini sudah melenceng. Tapi, buat saya ini benar-benar sesuai dengan bakso yang biasa saya makan. Masyaa Allah.
Mungkin ini terlalu berlebihan, terlalu ge-er dan sombong untuk berpikir bahwa Allah memberikan banyak kebaikan dalam semangkuk bakso untuk saya. Tapi, bila dipikir kembali, waktu dan ruang mana dalam kehidupan manusia yang tidak diatur oleh Allah? Kalau kata ulama, “Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diketahui oleh Allah Yang Maha Kuasa.”
“… dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) …” (QS. Al An’am:59).
Bila Allah dapat mengatur jagat raya, apalagi semangkuk bakso yang hanya sebutir debu di tengah debu kosmos semesta. Sangat remeh. Malam ini saya kembali belajar bahwa sering kali saya meributkan hal-hal remeh karena tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Saya menerima dan menolak sesuatu tanpa pre-knowledge, hanya berdasarkan suka atau tidak suka. Semangkuk bakso itu mengingatkan saya bahwa hanya dengan berpasrah kepada Allah kita bisa menerima banyak hal dengan rasa syukur.
Seperti halnya semangkuk bakso tadi, kunjungan ke Tanah Papua pun sesuatu yang tidak disangka. Indonesia Timur selalu memesona. Siang hari langit biru, malam hari pekat bertabur bintang, sedangkan senja ungu mendayu. Warna-warna yang menggetarkan hati siapa pun yang memandangnya. Bagi saya yang terbiasa dengan langit berawan di Kota Depok, ini pemandangan yang luar biasa! Perasaan ragu di awal saat menerima tugas dari UI untuk mendampingi masyarakat transmigrasi di Werianggi-Werabur perlahan meredup.



Tentu saja, kepergian Tim Ekspedisi Patriot ke Papua Barat punya misi penting. Selama empat bulan tim akan ditempatkan di Satuan Permukiman Transmigrasi Werianggi, Kab. Teluk Wondama. Kawasan Weringgi dihuni oleh keluarga keturunan marga-marga asli Papua (Marga Werianggi, Tatiorim, dan Kurube), serta keluarga transmigran dari Sulawesi dan Jawa. Penduduk mengusahakan tanaman perkebunan, seperti pala, kakao, dan pisang, peternakan sapi, serta kegiatan perekonomian lain (warung makanan, bengkel, perkayuan, dan lain-lain). Saat ini pala sedang digalakkan sebagai salah satu komoditas unggulan. Selain memperluas penanaman, masyarakat juga membuat produk turunan pala. Manisan, selai, dan sirup pala sudah dikemas dalam botol dan siap dijual. Saya menyukai minuman es pala yang rasanya mirip dengan minuman asam jawa. Kesegaran asli buah pala tanpa campuran apa pun mampu menyejukkan badan dari hawa panas dan kering yang sedang melanda kawasan ini.

Hujan di Werianggi telah berhenti sejak tiga bulan lalu. Sumur-sumur banyak yang kering. Penduduk mengandalkan mata air yang berada di pekarangan belakang rumah sakit. Mata air di sana mengalir deras hingga menggenangi sekitarnya. Sangat disayangkan, sumber air belum dikelola dengan baik. Di satu sisi perkampungan kekurangan air. Di sisi lain, ada air yang dibuang percuma. Tahun lalu, TEP yang bertugas di Werianggi tidak mengalami masalah air. Saat itu hujan turun hampir setiap hari. Ini menunjukkan bahwa sumber daya air memang penting untuk diatur agar selalu tersedia sepanjang tahun, tidak peduli musim hujan atau kering. Bertambah lagi pe-er untuk TEP.


Pada keindahan alam Papua, ada tantangan kehidupan. Bagaimana kami menjawabnya akan menjadi legacy bagi tim yang bertugas pada periode ini. Insyaa Allah.