Setelah cerpen Bubur Ala Pemilu, kali ini saya mencoba menulis cerpen lagi yang berbau politik. Sepertinya politik adalah sesuatu yang tabu, padahal tidak. Sebagai topik suatu tulisan, dia tidak berbeda dari sejarah, sains, dan topik-topik keilmuan lainnya. Bicara politik sama seperti bicara ekosistem, yaitu bicara mengenai organisasi, struktur, sistem, atau hal-hal yang berkaitan dengan pengaturan. Mungkin yang membuat keduanya berbeda ada pada pertanyaan “Siapa yang mengatur apa?” Dalam konteks itu, politik sering dihubungkan dengan kekuasaan manusia untuk mengatur manusia lain. Dan karena kelemahan sifat manusia, kekuasaan sering diselewengkan, sehingga pada akhirnya berimbas pada makna dan rasa kata “politik”.
Saya mungkin paham ekosistem, tapi sudah pasti bahwa saya bukan ahli politik. Oleh karena itu, saya tidak menulis esai politik. Hanya sebuah cerpen tentang pemilihan kepala desa oleh masyarakat desa. Sesuatu yang pernah kita alami lebih dari satu kali, tapi sering kali tidak membuat kita belajar dari pengalaman. Selamat menikmati.

Ruang tamu kosong.
“Lho, kok tidak ada orang di rumah.” Mbak Yuni melongok ke kamar tidur. Tidak ada siapa-siapa. Ke mana anak itu? Tadi sudah dipesan jangan keluar rumah sendirian. Dia bukan orang sini dan belum kenal siapa-siapa.
Suara langkah kaki terdengar memasuki halaman. Sedetik kemudian seorang gadis berambut pendek muncul di hadapan Mbak Yuni.
“Biyan, dari mana kamu?” Mbak Yuni siap mengomel. Tapi omelan di ujung lidahnya tertelan kembali ketika ia melihat kantung kresek merah di tangan Biyan. Kresek merah lagi! Sepanjang jalan pulang tadi, setiap warga yang berpapasan dengan Mbak Yuni membawa kantung kresek merah seperti yang sekarang dipegang Biyan. Tim sukses Nasirun benar-benar keterlaluan!
“Kenapa kamu terima sogokan Nasirun?!” sembur Mbak Yuni. Dia merebut kantung kresek di tangan Biyan. Biyan melongo melihat bawaannya berpindah tangan.
“Lho, Mbak …” Protes Biyan. “Itu makan siangku, Mbak.”
Mbak Yuni melotot. Walaupun Biyan titipan Pak Hari yang terhormat, ia tidak peduli. Pak Hari adalah Ketua Tim Penggalian Situs Majapahit di Trowulan dan Biyan adalah salah satu anggotanya.
“Aku kasih tahu kamu.” Mbak Yuni mulai berceramah. “Nasirun bukan orang baik. Jangan terima pemberiannya. Ini suap agar dia terpilih menjadi Kepala Desa!”
Mata Mbak Yuni menangkap Tole, anak tetangga sebelah, lewat di depan rumah.
“Tole! Toleee!!”
Mbak Yuni mengoper kantung kresek merah itu kepada Tole yang menerimanya dengan gembira.
“Ehhh, itu nasiku!” Biyan bergerak mengambil makan siangnya. Tapi Mbak Yuni menarik tangannya.
“Hussh, kamu kok nggak bisa dibilangin.” Mbak Yuni melanjutkan pembicaraannya tentang kampanye pemilihan kepala desa baru yang sedang berlangsung. Salah satu kandidatnya, Nasirun, juragan ayam yang punya bisnis di mana-mana, sok seperti orang kota, dan suka pamer harta. “Kamu tidak lihat kotaknya ada tulisan “Ayam Gubrak”? Itu nama dagangan dia.”
Biyan berdehem-dehem seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya.
“Tapi isi kantung kresekku nasi pecel, Mbak. Bukan Ayam Gubrak. Aku beli di warung Mbok Lasmi. Kemarin Mbak cerita kalau pecel Mbok Lasmi enak. Jadi aku ingin coba.”
Mbak Yuni kaget. Tapi bukannya minta maaf, ia malah bersungut. “Kenapa kamu tidak kasih tahu. Sudah terlanjur aku berikan ke Tole.”
Mbak Yuni buru-buru masuk dapur, meninggalkan Biyan speechless.
***
Jam delapan malam. Mbak Yuni sudah siap di depan televisi menunggu sinetron kesayangannya disiarkan. Biyan sedang mencuci piring di dapur. Mbak Yuni sempat ragu ketika Pak Hari memintanya untuk menerima Biyan tinggal di rumah selama sebulan. Sudah lama ia tinggal sendirian di rumah sehingga aneh rasanya bila ada orang lain tinggal bersama. Apalagi, Mbak Yuni tidak paham mengapa ada orang-orang yang suka menggali-gali tanah untuk menemukan bebatuan zaman kuno. Bagi Mbak Yuni, urusan menggali tanah hanya milik tukang gali sumur atau tukang gali kubur. Ditambah dengan penampilan Biyan yang tomboy, Mbak Yuni semakin merasa aneh. Tapi Pak Hari berhasil membujuknya. Biarpun penampilannya tidak biasa, Biyan tahu tatakrama dan suka membantu, kata Pak Hari, meyakinkan Mbak Yuni.
Tok tok tok. Suara pintu diketuk.
Mbak Yuni mengomel karena terganggu. Soundtrack sinetron kesayangannya baru saja berkumandang dari televisi.
“Biar aku saja yang terima, Mbak.” Biyan menawarkan diri menerima tamu.
“Yo wis, sana.” Mbak Yuni merasa senang. Memang benar kata Pak Hari bahwa Biyan tangkas membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
Walaupun matanya menatap televisi, telinga Mbak Yuni berusaha menangkap pembicaraan Biyan dan tamunya di pintu.
“Apa ini?” suara Biyan.
“Sembako, Mbak.” Suara tamu. “Ini salah satu program kerja Pak Solikhin. Jangan lupa dukung, ya.”
“Anu, Mas. Sebelumnya, terima kasih.” Suara Biyan. “Tapi Mbak Yuni tidak menerima bingkisan dari calon Kades.”
“Ehhh … tunggu, tunggu.”
Percakapan Biyan dan tamunya terputus oleh teriakan Mbak Yuni. Wanita itu segera mengamankan bingkisan dari kurir Pak Solikhin. Wajahnya semringah waktu berkata, “Sampaikan salam buat Pak Solikhin, ya. Semoga sukses.”
Sementara kurir Pak Solikhin pergi, Biyan kebingungan menatap Mbak Yuni, “Lho, Mbak …”
“Sstt.” Mbak Yuni menghentikan protes Biyan. “Kamu kok nggak paham, Biyan. Pak Solikhin itu tetua desa. Orangnya alim, pas kalau jadi Kades. Program sembako itu bagus, kan, membantu memenuhi kebutuhan pokok warga.”
Biyan menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. Sementara itu Mbak Yuni dengan santai dan gembira kembali ke tempat duduknya di depan televisi.
***
Mbak Yuni, Biyan, dan para pendukung Pak Solikhin hadir pada malam syukuran atas terpilihnya Pak Solikhin sebagai Kades. Mbak Yuni merasa lega. Tidak terbayang seandainya Nasirun yang menang. Selama kampanye, mulutnya besar sekali, penuh janji-janji muluk. Kalau bicara sok pakai bahasa Inggris, padahal yang diajak bicara wong Jowo kabeh. Lupa kacang dari kulitnya dia. Ditambah dengan gayanya keliling kampung naik mobil mewah, Mbak Yuni dan ibu-ibu kampung jadi muak melihatnya. Mbak Yuni berdoa agar orang seperti itu tidak akan menjadi pemimpin mereka dan akhirnya doanya terkabul. Malam ini mereka merayakan kemenangan Pak Solikhin.
Makanan kecil dan minuman sudah diedarkan ketika Pak Solikhin akhirnya muncul dari dalam rumah. Senyumnya terkembang lebar. “Terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu semua, khususnya tim sukses kami.” Pak Solikhin menyebut nama-nama timsesnya. “Berkat doa dan restu Bapak Ibu, saya dipercaya untuk mengemban tugas ini.”
Hadirin bertepuk tangan ketika Pak Solikhin akhirnya mengakhiri pidato kemenangan. Doa-doa kemudian dilantunkan dan diamini oleh para hadirin. Lalu pembawa acara mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah makan malam. Tidak lupa, para undangan juga diberikan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Pak Solikhin muncul kembali di panggung dan berkata, “Bapak dan Ibu, kali ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih khusus kepada pendukung saya yang satu ini.”
Mbak Yuni dan Biyan melihat kantung-kantung kresek merah dikeluarkan dari dalam rumah dan dibagikan kepada mereka yang hadir. Lho, lho, lho! Bukankah itu kantung kresek Nasirun? Bola mata Mbak Yuni seperti mau loncat dari rongganya saat melihat Nasirun naik ke atas panggung. Pak Solikhin menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan bangga. Katanya, “Strategi yang jitu sekali. Karena kampanye Mas Nasirun yang antimainstream, akhirnya popularitas saya naik.”
Mbak Yuni tidak habis pikir bagaimana Pak Solikhin bisa berteman dengan Nasirun, padahal sudah jelas mereka saling bertarung sengit selama kampanye. Mbak Yuni teringat sikapnya yang membela mati-matian Pak Solikhin, bahkan sampai menjelek-jelekkan Nasirun. Jadi, dia telah tertipu oleh mereka berdua! Semprul!! ***