Belum Bisa Pulang

Lembayung menyapa ufuk
Membalur merah kuning kemusuk
Menggayut bulir di pelupuk
Aku belum bisa pulang, Bu
Mencicip asam manis buncis tumisanmu
Menuntas rindu di ujung kalbu

Telah lama
Kutulis cerita di atas kartu merah muda
Tentang dirimu yang istimewa
Ingin kubacakan kala berjumpa
Insan berniat Allah Pemilik Rencana
Aku belum bisa pulang, Bu

Lamat-lamat terdengar adzan
Mengantar senja masuk peraduan 
Kubasuh tangan, wajah, dan kaki
Mengucap takbir bersihkan diri 
Yaa, Ilahi Robbi, pintaku
Biarkan badai ini pergi berlalu

Depok, 20 Juli 2021

Pelangi Dalam Aksara

Menulis sudah saya lakoni sejak jaman masih pakai seragam merah putih. Semula corat coret di buku tulis, lalu pindah pakai mesin tik yang dibelikan Bapak. Masa itu yang ditulis selalu kisah roman, Cinderala story, berkhayal ada yang bilang “I love you” (padahal ketika jadi kenyataan saya malah kabur, it’s true hehehe). Ceritanya lebih banyak yang tidak selesai karena saya selalu banyak ide di awal lalu macet di tengah, kehabisan khayalan. Setelah Cinderela hilang dari diri, tulisan saya lebih banyak seriusnya ketimbang bunga-bunga cinta. Begitulah, semakin lama saya semakin mengenal tipe tulisan saya dan nyaris putus asa tidak bisa keluar dari sana.

Bertemu dengan teman-teman di Komunitas IK sungguh suatu berkah buat saya, seakan saya ditantang untuk membuktikan apakah menulis hanya romantisme masa kecil saya atau memang suatu kebutuhan. Ada banyak tantangan yang sama sekali baru buat saya, terutama menulis sesuatu yang “bukan saya”. Salah satunya diminta nulis puisi. Ternyata dengan semangat dan kritik yang diberikan sedikit demi sedikit saya mulai percaya diri untuk menulis puisi. Tentu saja masih jauh dari sempurna, sampai sekarang. Puisi saya masih menunggu mood. Kalau sedang sedih, kecewa, atau galau biasanya lebih mudah keluar. Tapi tidak mengapa. Katanya menulis puisi itu seperti nulis cerita, bisa disambung di lain waktu. Tidak sekali jadi seperti para maestro puisi.

Kebersamaan dengan teman-teman IK berbuah manis dengan lahirnya buku antologi puisi Pelangi Dalam Aksara. Suatu karya yang malu-malu lahir tapi tidak saya sangka mendapat apresiasi dari teman-teman dekat. Bahkan gara-gara buku ini seorang teman mencemplungkan saya ke dalam kumpulan yang namanya Poetry Writing Society. Pelangi Dalam Aksara semoga bukan satu-satunya buah IK. Semoga!

Nelayan tua membuang sauh
Tangan gemetar menyapu peluh
Sebelum bermimpi terlalu jauh
Setor dulu Ketik 20

WADOWWW!!!

Puisi buat Bu Guru

Tidak terasa setahun sudah anak bontot sekolah dari rumah. Dia tidak pernah mengeluh soal itu, walaupun di tiap kesempatan bertemu luring dengan teman-temannya tampak semangat dan keriangan di wajahnya. Setahun sudah anak bontot dibimbing oleh gurunya yang punya dedikasi luar biasa. Tiap guru pasti punya dedikasi dengan siswanya, tapi orang tua biasanya tahu guru mana yang pas dengan karakter anaknya. Yang membuat saya heran, bagi si bontot yang punya watak slonong boy, guru-guru “galak” justru pas buat dia. Guru yang disiplin, selalu ngingetin, punya sistem reward and punishment untuk siswa perwaliannya, keras di satu sisi lembek di sisi lain, malah membuat si bontot fokus dengan tujuan. Tanpa stres, tanpa tekanan. Karena itu sedih saya ketika menerima rapot kenaikan kelas dan harus berpisah dengan gurunya. Lalu terciptalah puisi di bawah ini.

Sapamu 'kan Membiru

Sudah terbiasa aku
mendengar denting pos wa-mu
di tiap hari
bersahut-sahut dengan cicit burung dan gemericik air cucian piring sehabis menyiapkan sarapan pagi
Semoga kau dalam keadaan sehat, Bu Guru

Sudah terbiasa aku
menerima salam dan beritamu
di tiap hari
mengilik-kilik kesadaran untuk sebentar berpaling dari kesibukan diri dan menengok permata hati
Terima kasih, Bu, telah mengawal permata kami

Setiap hari setiap waktu
Tak lelah engkau menyapa merdu
Lewat pos-pos wa mu
Sapa yang ‘kan selalu membiru
Setiap kulihat permata hatiku
Bersinar cemerlang diasah cinta dan ketulusanmu
Tak ada yang dapat kuberi padamu, Bu
Selain doa pada Ilahi
Robbi, limpahkan kasih sayangMu bagi guru kami terkasih, Ibu Badriah

Depok, 24 Juni 2021

Chrisye – Konser 7 Ruang

Konser Chrisye yang digagas Konser 7 Ruang-DSS-Baznas-ILUNI UI sudah berakhir. Sesuai nama konsernya, semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu Chrisye. Penyanyi favorit saya, selain Vina Panduwinata. Setiap ada momen mendengarkan lagu bareng pasti akan ada yang komentar, “Penyanyi jaman kita emang TOP, lagunya bagus-bagus.” Terkadang ada yang menambahkan dengan komentar miring bahwa lagu jaman sekarang tidak “jelas”. Sebenarnya wajar saja komentar itu karena di balik sebuah lagu ada berbagai kenangan yang menyertai. Jaman SD, lagu saya mengikuti alunan irama Bapak yang suka menyetel lagu-lagu kenangan dan Perjuangan. Masa SMP saya lekat dengan lagu-lagu Vina dan Beatles, sedangkan Chrisye baru muncul waktu saya SMA, bersama dengan KLA-Project. Setelah kerja, pilihan saya lebih beragam termasuk lagu-lagu asing dari barat maupun Jepang yang memang baru terasa akrab di telinga. Lagu-lagu sekarang bagi saya biasa saja. Bukan dengan maksud merendahkan, tapi karena memang tidak terhubung dengan suasana batin saya. Saya yakin ini dirasakan juga oleh banyak orang. Karena itu generasi 70-80 akan akrab dengan lagu-lagu masa itu, beda dengan generasi 90-2000. Tentu saja lagu-lagu Evergreen yang abadi dan lintas generasi pasti ada dan saya yakin Chrisye salah satunya.

Konser ini punya maksud mulia, yaitu penggalangan dana untuk membantu rakyat Indonesia yang memerlukan. Alhamdulillah, banyak yang mendukung niat mulia ini. Yang menyumbang ternyata disebut nama dan jumlah sumbangan, jadi ketahuanlah angka-angka yang fantastis: 5, 8, 10, 25, bahkan 50 juta! Angka-angka unik juga muncul, misal yang mencerminkan Angkatan, atau yang hanya diketahui si penyumpang (Rp. 8.888.888). Pasti dia sangat senang angka 8. Buat mereka yang ada di luar negeri dan ingin menyumbang, panitia menggunakan aplikasi Pay Pal. Tercatat angka-angka 50 Euro, $100 dan $500. Berapa pun angkanya, saya merasa gembira sekaligus terharu dengan para partisipan dari dalam dan luar negeri. Memang sih, ada komentar penonton yang mengganggu saya, seperti “Kok dapatnya cuma ratusan juta? Bandingkan dengan alumni PTN anu dan anu yang dapatnya sekian milyar.” Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang masuk kategori evaluasi kerja panitia. Huaduhh. Bila panitia kecewa dengan jumlah sumbangan wajar saja, kan mereka punya target. Bila para penyanyi dan pendukung acara kecewa saya pun masih merasa wajar karena (mungkin) mereka ingin menginspirasi banyak orang untuk menyumbang. Tapi, kalau penonton kecewa dengan hasil sumbangan …. saya kok berpikir tidak sepantasnya memiliki rasa itu. Terlebih bila sepeser pun uang tidak kamu cemplungkan dalam kotak sumbangan.

Konser seperti ini sekaligus menjadi ajang reuni dadakan. Banyak hati yang senang karena bisa bertukar sapa dengan teman-teman lama. Kenangan manis menjelma menjadi semangat yang positif dalam diri, menular dari satu individu ke individu lain, berharap bisa berhimpun ke aksi-aksi lain yang bermanfaat bagi sesama. Sesederhana itu saya ingin berpikir dan merasa terhadap kegiatan-kegiatan positif yang terjadi di sekitar.

Akhirnya, mari kita berdoa, “Semoga, berapa pun dana yang terkumpul, bisa dimanfaatkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang dilanda musibah di seantero negeri.” Aamiin Ya Robb.

Puasa Tahun Ini

Tahun ini waktu yang berlalu dalam bulan puasa
menyisakan satu rasa tentang kehilangan yang aneh
karena sebenarnya apakah kita pernah memiliki

Baru kemarin teman mengisi pos hikmah
dengan tanda besar HARI KE-1
dan kemarin juga pos itu sudah berubah jadi HARI KE-23

Sahur demi sahur, satu menyusul yang lain
berkejaran dalam terik hari yang terkadang basah oleh hujan
menghilang dalam kumandang adzan Maghrib
yang sebentar saja berlalu dalam hiruk pikuk persiapan sahur berikut

Kutanya seorang teman
Apa yang dapat dilakukan di sisa bulan puasa
yang tidak biasa tahun ini
ketika banyak tradisi ditanggalkan
dan kita kembali pada kemurnian dan kesederhanaan makna Ramadhan
Kerjakan urusan duniamu di sela-sela urusan akhiratmu, katanya,
terburu-buru menutup chat seperti hendak mengamalkan kata-katanya sendiri

Mungkin ia sedang menelisik malam-malam ganjil bulan puasa
mencari Rahmat dan Ampunan Robb Penguasa Langit dan Bumi
dalam harap seorang hamba
akan janjiNYA
yang tak lekang oleh waktu yang berlari di tahun yang ganjil ini


Depok, 5 Mei 2021

Bernard Shaw – Pencarian

Saya berusaha mencari buku asli dari nukilan tulisan ini, yang pernah saya catat sekitar tahun 2004-2005. Saya ingin memastikan apakah memang Bernard Shaw pernah menulis seperti ini. Tulisan ini sungguh berkesan, mengingatkan saya tentang kecintaan terhadap buku.

Bernard Shaw mengatakan:

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku pernah merasakan kemiskinan yang sesungguhnya. Sebelum aku bisa mencari nafkah dengan menulis, aku memiliki sebuah perpustakaan besar yang terletak di museum Inggris. Aku memiliki ruang pameran seni lukis. Apa yang bisa aku lakukan dengan harta? Menghisap rokok? Aku tidak merokok. Minum champagne? Aku tidak suka minum. Membeli tigapuluh setelan model terakhir? Maka mereka cepat mengajak aku menghadiri undangan makan malam di istana-istana mereka. Mereka orang-orang yang aku merasa sesak dada ketika memandang mereka sekejab saja. Atau aku membeli seekor kuda? Atau mobil? Semua itu membuat aku resah. Sekarang aku telah mempunyai sejumlah harta yang dengannya aku mampu membeli barang-barang tersebut. Namun aku tidak membeli apa-apa kecuali membeli apa yang bisa kubeli ketika aku miskin.

Sesungguhnya kebahagiaanku terletak pada apa-apa yang telah membahagiakan aku ketika aku miskin: buku yang aku baca, lukisan yang aku menikmatinya, dan ide-ide yang aku tulis. Di sisi lain, aku memiliki imajinasi yang luar biasa. Aku tidak ingat bahwa aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar memejamkan mata untuk membayangkan apa yang aku inginkan. Jadi, apa gunanya kemewahan yang mencelakakan yang menghiasi jalan Bond?

Sumber: Menjadi Wanita Paling Berbahagia (As’ad al-Mar’ah fi al-’Alam).

(Dr. Aidh al-Qarni 2004)

Di Bawah Sini

Di bawah sini
Semua menunduk takzim
Tak ada bunyi tak ada suara
Hanya hening menyatu dengan bentangan pasir, tegakan karang,
dan jurang yang dasarnya tiada

Di bawah sini
Kegelapan adalah selimut abadi
Semua masuk dan meringkuk di dalamnya
Menghisap sari kehidupan yang di atas sana adalah milik cahaya
dan tak ada yang bertanya mengapa

Hari itu di bawah sini
Keheningan berteriak dan kegelapan terkoyak 
Oleh gemuruh cahaya yang datang dan tak ada yang sanggup menjawab mengapa ia datang 
Tak ada tanya tak ada jawab
Di bawah sini
Hanya menunduk takzim
Menyatukan cahaya dalam keheningan dan kegelapan semesta

Depok, 26 April 2021
#praynanggala402

Pisahkan Gundah dari Gulana

Sudah lama tidak mengisi kolom blog, begitu mengisi alasannya adalah untuk membuang gundah gulana akibat kejadian semalam. Ada apa dengan semalam? Tidak penting juga dengan “ada apa nya” yang jelas membuat saya mengutak-atik kolom ini. Gundah gulana pasti pernah dialami semua orang … yang normal. Ada efek baiknya mengalami ini, misalnya sekarang saya mendadak nulis setelah hampir sebulan vakum. Misal yang lain adalah jadi ingat pacar, sohib, mentor spiritual, atau yang paling baik ingat Tuhan. Soalnya, di waktu gundah gulana kita jadi butuh curhat, butuh teman yang bisa diajak bicara untuk menetralisir perasaan-perasaan negatif di hati. Yang penting jangan terlalu lama gundah gulana karena jadinya hanya mengasihani diri sendiri, mellow, ujung-ujungnya malah merugikan diri sendiri. Salah satu tips supaya gundah gulana cepat hilang adalah mengerjakan sesuatu yang bisa memisahkan gundah dari gulana dan saya yakin kita punya banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, walaupun cuma menyikat kamar mandi. Nah, tunggu apa lagi. Ayo sikat kamar mandi!

Bertemu Myco

Hari itu tanggal 24 Maret 1882. Ahli mikrobiologi Jerman, Dr. Robert Koch, untuk pertama kali bertemu dengan Myco. Dr. Koch sudah lama mengamati berbagai macam bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia. Ia menyadari bahwa untuk mengenal bakteri artinya harus memelihara mereka di laboratorium. Itulah sebabnya Dr. Koch mengembangkan berbagai medium yang mampu menumbuhkan bakteri di luar sel manusia. Sampai sekarang, metode yang dikembangkan oleh Dr. Koch (dikenal dengan Postulat Koch) untuk membuktikan suatu bakteri menyebabkan penyakit tertentu tetap menjadi pegangan bagi para ahli di dunia kesehatan. Pada Jumat 24 Maret itu, Dr. Koch menyadari ia harus berhadapan dengan kuman baru, Mycobacterium tuberculosis. Sekarang dikenal dengan kuman penyebab penyakit tuberkulosis (TBC).

Rabu, 7 Februari 2021. Saya melarikan seorang kerabat ke IGD. Kondisinya batuk, sesak nafas, nyeri di dada.  Saturasi oksigen menunjukkan angka 89, jauh dari ambang batas aman 95. Pada masa pandemi covid 19 sekarang, semua tanda-tanda serangan virus itu dimiliki oleh kerabat saya. Hasil observasi rontgen toraks kemudian menunjukkan paru-paru berwarna putih, tanda bahwa ada cairan di sana. Semakin kuat dugaan infeksi virus SARS COV-2 ini. Namun, pemeriksaan lanjut membuktikan bahwa yang bersarang di paru-paru dia bukan si virus, melainkan bakteri yang ditemukan Dr. Koch di tahun 1882 itu. Halo, Myco!

Target serangan Myco mirip dengan SARS COV-2. Keduanya menyerang sistem pernafasan, tepatnya paru-paru. Oleh karena itu gejala yang disebabkan oleh kedua kuman itu sama: batuk, sesak nafas, dan nyeri di dada. Bahkan, bila sudah parah, batuk orang yang terinfeksi Myco diiringi dengan keluarnya darah. Menandakan ada luka di bagian paru. Para penderita maupun penyintas TBC memiliki kemungkinan kerusakan paru. Jauh sebelum munculnya covid 19, penyakit TBC sudah lama menghantui dunia kesehatan. Mengapa? Karena bakteri M. tuberculosis termasuk bakteri yang pintar bersembunyi. Selain itu, seperti umumnya bakteri dan virus, mereka mampu bermutasi menjadi lebih kuat dan resisten terhadap obat. Kondisi pandemi sekarang membuat pasien TBC dikesampingkan, padahal resiko kehilangan nyawa akibat penyakit ini tinggi. Laju kematian penderita TBC global adalah 1 orang per 18 detik. Sebanyak 1,4 juta orang meninggal di tahun 2019. Indonesia diketahui sebagai negara ketiga di dunia yang memiliki kasus TBC tinggi, setelah India dan Cina.

Saya sendiri pernah bertemu dengan Myco. Namun, dia tidak tinggal di paru-paru. Dia lebih memilih bersarang di kelenjar bagian leher dan menyebabkan benjolan. Gejala yang ditimbulkan bukan batuk dan sesak nafas. Saya merasakan ada yang salah dengan pencernaan saya, mual dan tidak nafsu makan. Badan tidak nyaman dan cepat merasa lelah. Rasa mual juga menyebabkan keinginan untuk muntah. Ketika keadaan semakin parah, yang keluar dari muntahan adalah dahak/lendir kental berwarna hijau. Dokter yang menangani langsung tahu bahwa saya terserang Myco. Lebih dari setahun saya harus mengkonsumsi obat. Untunglah obatnya cuma satu macam. Menurut dokter, pasien kambuhan menghadapi strain Myco yang lebih kuat dan harus menelan bermacam-macam obat yang efeknya bisa menggerus fisik dan mental pasien.

Taktik “Disiplin” Melawan Myco

Penyakit tuberkulosis bisa disembuhkan asalkan disiplin minum obat. Untuk menghindari resistensi bakteri, kesinambungan obat sangat penting bahkan sampai ke jam minum obat. Jangan sampai hari ini minum obat pagi, besok siang, dua hari kemudian malam hari. Apalagi minum obatnya bolong-bolong, sehari minum besok tidak, minggu ini minum minggu besok tidak. Apalagiiii bosan minum obat. Bila seperti ini dipastikan penyakit tidak akan sembuh bahkan membuat Myco bertambah kuat. Jadi, bakteri harus terus menerus dibombardir sehingga tidak ada kesempatan untuk tumbuh.

Saya lihat obat tuberkulosis masih sama dengan yang saya konsumsi dulu. Warna tabletnya pun masih sama, merah marun. Istilah yang digunakan adalah Obat Anti Tuberkulosis (OAT)-Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Tablet OAT-KDT terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan dan status kasus pasien. Paduan OAT disediakan dalam bentuk paket OAT-KDT. misal 2HRZE artinya obat tersebut mengandung Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol. Paket 2HRZES berarti ada tambahan Streptomisin, biasanya resep ini untuk pasien lama yang pengobatannya terputus. Alhamdulillah, tablet OAT sekarang digratiskan karena masuk dalam program kesehatan pemerintah. Waktu saya dulu tidak. Harganya termasuk mahal dan karena pengobatan lama lumayan harus keluar uang.

Semoga target Indonesia bebas TBC 2030 tercapai!

Merenungi Vaksinasi 1

Akhirnya saya memenuhi akad vaksinasi. Ini bukan peristiwa istimewa, pasti begitu yang dipikirkan kebayakan orang. Peristiwa ini hanya satu dari banyak keniscayaan. Dari banyak orang yang sudah tidak sabar untuk disuntik, mungkin saya termasuk yang maju mundur. Karena itu, proses yang saya tempuh sampai akhirnya jarum itu menghujam di lengan atas adalah “sesuatu”. Waktu sudah jauh terpisah antara saya sekarang dan saya sebagai siswa sekolah dasar, kali pertama saya menerima vaksin. Tidak ada pengetahuan yang sampai ke saya (dan teman-teman waktu itu) mengenai apakah vaksin dan mengapa harus disuntik vaksin. Pada era itu, sebagai siswa sekolah dasar, saya dan teman-teman just come and go: masuk kelas, dokter menyuntik, keluar kelas. Bahkan jarum suntik pun tidak sekali pakai. Dipakai berkali-kali dengan terlebih dulu dibakar di api sebelum dipakai. Betapa sederhana. Tak ada bumbu-bumbu berlebihan dalam praktik pengetahuan kala itu. Kalaupun bumbu-bumbu itu dikorupsi, tidak ada yang tahu. Kalau pun ada yang tahu, tidak ada yang membuka mulut. Pada masa itu program vaksinasi tidak perlu kampanye. Sekarang, semua orang harus diberi tahu dulu mengapa harus divaksin. Bahkan, anak-anak pun disediakan buku yang bercerita seputar vaksin.

Teman yang memilih untuk tidak divaksin juga ada. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menanyakan mengapa. Ada yang punya alasan ilmiah. Ada juga yang tidak. misalnya ikut vaksin membuat kekuasaan Bill Gates makin merajalela. Ada juga yang sangat tinggi nasionalismenya. Uji klinis Sinovac tidak jelas, saya tunggu yang made in Indonesia. Terdengar absurd, tapi ini benar terjadi. Padahal uji klinis semua vaksin yang sekarang dipakai lewat jalan tol, Semua orang punya alasan, maka pandai-pandailah untuk tidak kepo dengan alasan orang lain.

Ketika mau divaksin pikiran harus tenang, hati harus gembira, agar tidak stres. Ternyata hari itu memang menggembirakan karena bertemu dengan teman-teman. Hari vaksinasi malah jadi reuni dadakan. Banyak cerita yang tumpah bersama tawa dan canda. Semua berharap bisa kumpul seperti ini lagi, tanpa perantara yang bernama zoom, meet, teams, atau apapun namanya. Semoga.

Tugas Melukis

Beberapa hari lalu anak bontot minta dibelikan kanvas. Rupanya ada tugas melukis dari sekolah. Beberapa lamanya kanvas itu tergeletak begitu saja di kamarnya, bungkusnya pun masih menyelubungi. Lalu secara tidak sengaja saya melihat dia sedang melukis di kamarnya. Kanvas yang semula putih sekarang mendapat warna baru: hitam. Cuma satu warna itu saja, hitam yang menampakkan gambaran tanah dan beberapa pohon gundul. Ok, batin saya, mencoba menelan pertanyaan dan komen yang ada di ujung lidah.

Satu dua hari kanvas putih dengan coretan hitam itu bergeming.  Akhirnya saya tidak tahan untuk mengusulkan warna lain. “Bagian putihnya dikasih warna lagi, misalnya biru langit.” Anak bontot cuma bergumam, entah setuju entah tidak, yang jelas tidak ada tambahan apa-apa lagi di hari berikutnya. Saya menyalak lagi, “Kok belum diselesaikan lukisannya?” Barulah dia mengeluarkan apa yang mau dilukisnya. “Aku mau bikin kebakaran, Bu.” What??!! Dari berbagai tema cerah yang ada di kepala saya, tema yang dipilih dia begitu gelap.  Lalu, jadilah lukisan itu. Langit berwarna merah oranye di atas tanah dan pohon-pohon hitam kerontang.

Waktu saya ceritakan drama ini ke kakaknya, sang kakak setali tiga uang dengan adiknya. “Bikin yang gampang aja Bu, gak usah susah.” Sebagai penutup – yang sepertinya jadi penegasan – dia menunjukkan gambar lama adiknya di laptop yang dibuat dengan Stylus Paint Tab. Saya melihat lukisan bukit dan pohon-pohon kering dengan langit merah membara.

Siap Divaksin?

Tahu vaksin? Tahu. Berani divaksin? Tidak tahu. Dialog monolog dalam diri saya kira-kira seperti itu di tengah pemberitaan program vaksinasi. Apa yang membuat keberanian saya ragu untuk divaksin? Saya pikir sebagian dari keraguan itu adalah akibat adanya pro-kontra justru dari pihak-pihak yang kompeten di bidang kedokteran. Sebagian ahli bilang vaksin covid 19 aman, sebagian lain tidak, Yang bilang vaksin aman berkampanye agar masyarakat mau divaksin. Kampanye itu lalu di-counter oleh mereka yang tidak mau divaksin. Ditambah dengan drama covid 19, keberanian saya maju mundur. Tapi, saya pikir, semakin mendekati jadwal vaksinasi setidaknya saya harus mempersiapkan diri. Yang pertama, mencari pengetahuan sendiri tentang vaksin. Yang kedua, meyakinkan keberanian saya.

Inti dari vaksinasi adalah merangsang pembentukan antibodi sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit. Usut punya usut, ternyata kita punya banyak pertahanan tubuh, baik yang sudah disediakan Sang Pencipta (innate immune) maupun yang dibangun kemudian (adaptive immune). Pertahanan berupa barrier fisik dan kimia, seperti bulu-bulu hidung, kulit, dan asam lambung, juga pemberian Tuhan dan jadi gerbang paling depan untuk menghalau kuman-kuman penyakit sebelum pasukan kekebalan tubuh bekerja. Bagaimana dengan antibodi yang sering disebut-sebut ketika bicara tentang vaksin? Nah, antibodi adalah garda dalam dari pertahanan tubuh. Diproduksi oleh salah satu sel imun, antibodi bersifat spesifik. Artinya, satu antibodi untuk satu antigen (= benda asing, biasanya kuman). Jadi, yang diharapkan dari vaksinasi covid 19 adalah terbentuknya antibodi yang mampu mengenali dan membangkitkan perlawanan semua sel imun tubuh terhadap virus SARS-Cov2.

Lalu, vaksin itu benda seperti apa? Saya mencoba merangkum beberapa model vaksin berdasarkan bahan pembuatnya. Semoga pos ini bisa menambah sedikit pemahaman dan keberanian untuk divaksin.

 

1. Vaksin dikembangkan dari virus yang dilemahkan (inactivated virus)

Bayangkan seorang gladiator dikurung tanpa makan dan minum berhari-hari lalu disuruh tanding melawan singa. Tentunya si gladiator menjadi lemah, tidak dapat tampil perkasa, dan kemungkinan besar akan dimakan oleh singa. Begitulah analoginya ketika virus dilemahkan sebelum disuntikkan ke tubuh kita sebagai vaksin. Sewaktu masuk ke dalam tubuh, sel imun yang dikenal dengan nama T-cell segera mengenalinya sebagai benda asing dan mulai mengurungnya. T-cell juga mengaktifkan sel imun lain bernama B-cell yang bertugas memproduksi antibodi untuk menghancurkan virus, sekaligus belajar mengenali “pendatang beru” ini. Sayangnya, walaupun berhasil menumpas virus, sistem pertahanan yang terbentuk dengan cara ini tergolong lemah. Ini karena virus yang lemah dan tidak berdaya berbeda dengan virus aslinya, yang lebih powerfull. Jadi, bisa saja tubuh kita akan kaget bila kelak bertemu dengan the real virus. Namun, setidaknya perkenalan pertama tadi dapat membantu tubuh mengatur strategi ketika kelak bertemu dengan musuh yang sebenarnya.

 

2. Vaksin dikembangkan dari salah satu fragmen virus

Virus memiliki 3 macam protein pelindung: membran, kapsul, dan spike.

Protein spike merupakan bagian/fragmen virus yang sering dipakai sebagai vaksin. Protein spike dibuat di laboratorium, meniru bentuk aslinya. Metode pembuatan vaksin menggunakan fragmen virus paling diandalkan karena lebih mudah diproduksi. Tapi bukan tidak ada tantangannya. Protein spike menjadi jembatan bagi virus untuk masuk ke dalam sel tubuh dan menginjeksi materi genetiknya. Jadi, ini protein yang sangat diandalkan virus. Tingkat mutasi protein spike tinggi supaya virus dapat gonta ganti bentuk “jembatan”, menyesuaikan dengan struktur sel yang akan ditembusnya. Tambahan lagi, protein spike yang dibuat di laboratorium harus diperbesar mengikuti ukuran the whole virus. Kelemahan vaksin ini serupa dengan vaksin inactivated-virus: menghasilkan sistem antibodi yang lemah. Untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh yang terbentuk, seringkali vaksin berbahan protein spike ini ditambahkan dengan komponen-komponen lain untuk memperkuat antibodi yang terbentuk.

 

3. Vaksin dikembangkan dari materi genetik virus

Gen yang bertanggung jawab terhadap ekspresi vektor virulensi virus disisipkan ke dalam virus yang tidak patogen (tidak menyebabkan penyakit). Kemudian virus tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh sebagai vaksin [atas]. Sama seperti proses infeksi virus aslinya, materi genetik virus akan masuk ke dalam sel dan mulai memproduksi bagian-bagian virus [bawah kiri]. Namun, mekanisme produksinya sudah disabotase karena materi genetik virus aslinya tidak lengkap. Dengan demikian B-cell bereaksi membentuk antibodi sedangkan virus itu sendiri tidak bersifat virulen/ganas [bawah kanan]. Metode pengembangan vaksin model ini lebih sulit tapi sistem imunitas yang dihasilkan lebih tinggi dari dua metode yang telah disebut di atas.

 

4. Vaksin dikembangkan dari asam nukleat virus

Teknologi pembuatan vaksin model ini jauh lebih sulit dan masih dalam tahap penelitian. Secara teori, materi genetik dilekatkan pada suatu molekul atau langsung ditembakkan ke dalam sel tubuh. Materi genetik akan membentuk bagian-bagian virus dan akan merangsang pembentukan antibodi.

Happy 1st Birthday, Brownie

Sebenarnya enggak tahu persis kapan Brownie keluar dari perut emaknya, si Totol. Yang jelas waktu kami persilahkan Totol memboyong anak-anaknya ke dalam rumah, bulan sudah ada di posisi Maret. Sampai hari ini, hanya Brownie yang bertahan. Ketiga saudaranya terkena seleksi alam.

Awalnya tidak ada rencana Brownie akan jadi kucing rumahan. Tapi, setelah saudaranya tidak selamat dari serangan virus, akhirnya kami mengeluarkan green card. Brownie disediakan tempat di dalam rumah dan, tentu saja, dalam hati kami. Sebagai balasan, dia cuma memberikan kami satu saja: kebahagiaan.

Selamat menempuh setahun kebersamaan bersama kami, Bro. Semoga Allah memberi kamu kesehatan dan kegembiraan. Biarpun sekarang gigitanmu setajam harimau dan suaramu seperti auman macan, tingkahmu masih seperti kucing kecil yang menggemaskan.

Kenapa Kau Simpan Kemarahanmu, Kawan?

Photo by Agustanhakri

Buku yang baru selesai saya baca ternyata tentang kemarahan. Padahal judulnya Pencuri dan Anjing-Anjing. Sama sekali tidak mencerminkan isinya. Buku ini karangan Naguib Mahfouz. Saya jarang membaca buku-buku karya penulis Timur Tengah, kalau boleh dikatakan belum pernah. Seingat saya, cuma dua buku yaitu Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Balthasar’s Odyssey karya Amin Maalouf. Dua-duanya buku yang bagus: yang pertama bicara tentang kemanusiaan, yang kedua tentang ketuhanan. Buku ketiga, yang baru selesai saya baca, bicara tentang kemarahan seorang manusia yang menuntut Tuhannya atas hidupnya yang hancur akibat pengkhianatan orang-orang di dekatnya. Padahal Tuhan telah menuntunnya pada seorang saleh, yang tidak lain tidak bukan adalah guru ayahnya. Ketika seluruh dunia berpaling darinya, guru yang saleh itu tidak. Namun, kemarahan telah memenuhi hati dan pikirannya sehingga ia terus membawa dendamnya, terperosok dalam sumur kegelapan yang tidak berdasar.

Setiap orang boleh marah karena marah sesungguhnya adalah fitrah, sesuatu yang dititipkan pada diri manusia oleh Tuhan. Saya pernah dengar teori tentang Anger Management, mengendalikan amarah. Katanya (siapa pun nya yang di sana), salah dua kiat mengendalikan amarah adalah “pikir-pikir dulu sebelum berbicara” atau “menjauh dari hal-hal yang membuatmu marah”. Ada juga nasihat lain, seperti take a deep breath dan look at the good side. Sebagai muslim, saya diajarkan untuk mengambil wudhu bila kemarahan mulai memenuhi hati dan pikiran. Setiap orang boleh pilih strategi mana yang tepat untuk mengontrol kemarahannya.

Boleh dibilang, saya baru saja berhasil mengatasi “kemarahan” yang lama tersimpan dalam hati. Itu bukan kemarahan yang kita lihat di sinetron saat tokoh antagonis berteriak-teriak dengan mata melotot, menanggalkan semua keindahan di wajah cantik atau ganteng pemerannya. Itu adalah jenis kemarahan yang membuat saya bertanya-tanya mengapa ada orang yang dapat membuat saya merasa jadi penjahat padahal saya tidak melakukan kejahatan apapun.

Saya cuma gak suka kamu, itu saja. Dan saya punya alasan yang benar mengapa tidak suka kamu.

Tapi konsekuensi dari rasa tidak suka itu ternyata di luar dugaan saya. Bahkan saya sampai “diterawang” oleh seorang teman indigo cuma untuk meyakinkan bahwa saya masih waras berniat jadi penjahat. Akhir cerita, ternyata kita memang harus ikhlas, harus bisa legowo, supaya hati tenang. Bagaimana caranya? Ada yang berbisik begini di telinga saya: “Hati manusia ada penjaganya. Maka, minta kepada Sang Penjaga Hati agar hatimu dilembutkan. Supaya bisa mendoakan orang yang membuat hati kita susah.” Want to try? It worked for me. Thank Allah.