Bagai Emas dan Loyang

Modifikasi dari Wolipop.detik.com

Hari Ibu sudah lewat. Sesungguhnya di hari itu ingin saya tulis sebuah tulisan buat ibu yang pasti tidak akan terbaca oleh beliau karena media online tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya. Nyatanya, di hari itu saya cuma menelepon ibu dan mendengarkan dia bercerita panjang lebar hal-hal remeh yang membahagiakan hidupnya. Saya, satu-satunya anak perempuan Ibu, tapi tidak menuruni banyak karakternya. Ibu hemat, saya boros. Ibu fokus pada sedikit pilihan, saya seperti salep gentamicin yang punya spektrum luas. Ibu sangat mandiri – saya kutip sendiri kata-katanya, “Selama aku masih bisa, aku akan kerjakan sendiri.”  Sedangkan saya percaya bahwa saya bukan superwoman yang bisa melakukan semua hal, pembagian pekerjaan penting buat saya. Ibu sangat terstruktur-sistematis-ada aturan, saya cenderung bebas-tidak punya pola. Terkait terstruktur-sistematis ini, kaum perempuan di keluarga besar saya punya joke: “Potong kue pun harus sesuai dengan caranya Mbah Uti.”

Pengalaman hidup telah membentuk Ibu seperti itu. Pengalaman hidup telah membentuk saya seperti ini. Walaupun tampaknya dunia ibu berbeda dengan saya, alhamdulillah, kami selalu bisa menemukan irisan dunia kami. Itu karena ibu selalu menghargai perbedaan pendapat. Bahkan, di usianya yang sudah di atas 70 beliau selalu memegang prinsip itu. Beliau tidak menjadi “manja karena usia” sehingga semua perkataannya harus dituruti. Bahkan, sebisa mungkin beliau tidak ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, walaupun tangannya gatal ingin mengatur kami.

Justru saya yang terkadang lepas kontrol untuk mengatur Ibu. Atas nama “pendidikan modern” saya suka mengkritik prinsip-prinsip Ibu. Misalnya, hematnya yang berlebihan. Ibu senang memakai barang sampai umur mereka yang penghabisan. Padahal, ada yang baru, yang tentunya lebih baik fungsi dan bentuknya. Pernah sekali waktu saya sengaja bawa pulang handuk kecil beliau yang selalu disediakan di kamar mandi. Seriously, handuk itu sudah layak masuk museum. Waktu Ibu sibuk mencari si handuk, saya bilang terbawa ke rumah saya. Akhirnya, kali waktu saya berkunjung lagi ke rumahnya, handuk baru sudah terpajang di tempatnya. Maafkan anakmu ini, Bu, karena memaksamu mengganti handuk.

Ibu selalu jauh dari panggung, padahal beliaulah aktornya. Saya pernah mengutarakan keinginan menulis biografinya. Dialog saya begini.

Saya: “Ayo Mbah Uti (begitu saya memanggil Ibu sekarang), kita bikin biografi Mbah Uti. Mbah Uti cerita aja, ntar aku yang tulis.”

Ibu: “Ah, buat apa?”

Saya: “Kan pengalaman Mbah Uti banyak, seru. Banyak pelajaran yang bisa diambil buat anak cucu.”

Ibu: “Masih banyak yang belum aku ceritain. Kamu gak tahu aku juga ada yang buruk-buruk.”

Saya: “Gak semua musti diceritain, Mbah Uti … bisa dipilah-pilah mana yang mau dikasih tahu mana yang enggak.”

Ibu: “Nanti apa kata orang? O, ternyata Ibu tuh kayak begini begitu… enggak ah!”

Saya (masih penasaran): “Enggaklah. Masa lalu Mbah Uti memang seperti itu, gak akan ngerubah pendapatku atau keluarga yang lain tentang Mbah Uti. Justru semakin memahami.”

Ibu (mikir-mikir): “Gitu ya? Entar deh aku pikir-pikir dulu.”

Seperti sudah saya kira, proyek biografi itu layu sebelum berkembang. Hahaha … Begitulah Ibu yang selalu memikirkan mana yang pantas mana yang tidak. Tidak silau dengan gemilangnya emas dan lebih memilih loyang. Sungguh saya bersyukur didekatkan Allah dengan ibu saya, walaupun kami bagai emas dan loyang. Kali ini, beliau yang emas, saya loyangnya.

6 Comments

  1. masHP says:

    Mbah Uti, simple tapi ingin selalu perfect ya Bu. Memang satu keluarga belum tentu sifatnya mirip.

    Sehat selalu, mbah Uti.

    Liked by 1 person

    1. atthecorner says:

      aamiin … semoga mas HP dan keluarga juga sehat selalu

      Like

      1. masHP says:

        Aamiin..😁🙏

        Like

  2. Beda karakter ibu dan anak, itulah keluarga.
    Sehat terus ya Mbah Uti.

    Liked by 1 person

  3. Navia Yu says:

    Aha, kurang lebih sama aja sifat Mbah Uti dan ibunda Via. Sadar juga, sifatku sendiri bertolak belakang sama Ibu. Pebedaan itu bikin kami sering cekcok, beradu mulut, dan ini bikin Ibu sedih. Salah satu sifat yang ketara itu, Ibu cengeng parah jadi ketika mesti adu argumen mesti nahan nada suara Via tetap datar, kalo nggak gitu nanti Ibu bisa sesunggukan di kamar. Via mendingan ngacir, melarikan diri deh dari pada ngeladenin pikiran emak sendiri yang kolot.
    Ah, iya sehat sehat ya Mbah Uti. Cerita remeh temeh ibu gimana pun tetap ngangenin.

    Like

    1. atthecorner says:

      sehat selalu ya ibundanya Via. Biar kolot tetap emakku sayang 😀

      Liked by 1 person

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s