Belum Bisa Pulang

Lembayung menyapa ufuk
Membalur merah kuning kemusuk
Menggayut bulir di pelupuk
Aku belum bisa pulang, Bu
Mencicip asam manis buncis tumisanmu
Menuntas rindu di ujung kalbu

Telah lama
Kutulis cerita di atas kartu merah muda
Tentang dirimu yang istimewa
Ingin kubacakan kala berjumpa
Insan berniat Allah Pemilik Rencana
Aku belum bisa pulang, Bu

Lamat-lamat terdengar adzan
Mengantar senja masuk peraduan 
Kubasuh tangan, wajah, dan kaki
Mengucap takbir bersihkan diri 
Yaa, Ilahi Robbi, pintaku
Biarkan badai ini pergi berlalu

Depok, 20 Juli 2021

Merenungi Vaksinasi 1

Akhirnya saya memenuhi akad vaksinasi. Ini bukan peristiwa istimewa, pasti begitu yang dipikirkan kebayakan orang. Peristiwa ini hanya satu dari banyak keniscayaan. Dari banyak orang yang sudah tidak sabar untuk disuntik, mungkin saya termasuk yang maju mundur. Karena itu, proses yang saya tempuh sampai akhirnya jarum itu menghujam di lengan atas adalah “sesuatu”. Waktu sudah jauh terpisah antara saya sekarang dan saya sebagai siswa sekolah dasar, kali pertama saya menerima vaksin. Tidak ada pengetahuan yang sampai ke saya (dan teman-teman waktu itu) mengenai apakah vaksin dan mengapa harus disuntik vaksin. Pada era itu, sebagai siswa sekolah dasar, saya dan teman-teman just come and go: masuk kelas, dokter menyuntik, keluar kelas. Bahkan jarum suntik pun tidak sekali pakai. Dipakai berkali-kali dengan terlebih dulu dibakar di api sebelum dipakai. Betapa sederhana. Tak ada bumbu-bumbu berlebihan dalam praktik pengetahuan kala itu. Kalaupun bumbu-bumbu itu dikorupsi, tidak ada yang tahu. Kalau pun ada yang tahu, tidak ada yang membuka mulut. Pada masa itu program vaksinasi tidak perlu kampanye. Sekarang, semua orang harus diberi tahu dulu mengapa harus divaksin. Bahkan, anak-anak pun disediakan buku yang bercerita seputar vaksin.

Teman yang memilih untuk tidak divaksin juga ada. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menanyakan mengapa. Ada yang punya alasan ilmiah. Ada juga yang tidak. misalnya ikut vaksin membuat kekuasaan Bill Gates makin merajalela. Ada juga yang sangat tinggi nasionalismenya. Uji klinis Sinovac tidak jelas, saya tunggu yang made in Indonesia. Terdengar absurd, tapi ini benar terjadi. Padahal uji klinis semua vaksin yang sekarang dipakai lewat jalan tol, Semua orang punya alasan, maka pandai-pandailah untuk tidak kepo dengan alasan orang lain.

Ketika mau divaksin pikiran harus tenang, hati harus gembira, agar tidak stres. Ternyata hari itu memang menggembirakan karena bertemu dengan teman-teman. Hari vaksinasi malah jadi reuni dadakan. Banyak cerita yang tumpah bersama tawa dan canda. Semua berharap bisa kumpul seperti ini lagi, tanpa perantara yang bernama zoom, meet, teams, atau apapun namanya. Semoga.

Siap Divaksin?

Tahu vaksin? Tahu. Berani divaksin? Tidak tahu. Dialog monolog dalam diri saya kira-kira seperti itu di tengah pemberitaan program vaksinasi. Apa yang membuat keberanian saya ragu untuk divaksin? Saya pikir sebagian dari keraguan itu adalah akibat adanya pro-kontra justru dari pihak-pihak yang kompeten di bidang kedokteran. Sebagian ahli bilang vaksin covid 19 aman, sebagian lain tidak, Yang bilang vaksin aman berkampanye agar masyarakat mau divaksin. Kampanye itu lalu di-counter oleh mereka yang tidak mau divaksin. Ditambah dengan drama covid 19, keberanian saya maju mundur. Tapi, saya pikir, semakin mendekati jadwal vaksinasi setidaknya saya harus mempersiapkan diri. Yang pertama, mencari pengetahuan sendiri tentang vaksin. Yang kedua, meyakinkan keberanian saya.

Inti dari vaksinasi adalah merangsang pembentukan antibodi sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit. Usut punya usut, ternyata kita punya banyak pertahanan tubuh, baik yang sudah disediakan Sang Pencipta (innate immune) maupun yang dibangun kemudian (adaptive immune). Pertahanan berupa barrier fisik dan kimia, seperti bulu-bulu hidung, kulit, dan asam lambung, juga pemberian Tuhan dan jadi gerbang paling depan untuk menghalau kuman-kuman penyakit sebelum pasukan kekebalan tubuh bekerja. Bagaimana dengan antibodi yang sering disebut-sebut ketika bicara tentang vaksin? Nah, antibodi adalah garda dalam dari pertahanan tubuh. Diproduksi oleh salah satu sel imun, antibodi bersifat spesifik. Artinya, satu antibodi untuk satu antigen (= benda asing, biasanya kuman). Jadi, yang diharapkan dari vaksinasi covid 19 adalah terbentuknya antibodi yang mampu mengenali dan membangkitkan perlawanan semua sel imun tubuh terhadap virus SARS-Cov2.

Lalu, vaksin itu benda seperti apa? Saya mencoba merangkum beberapa model vaksin berdasarkan bahan pembuatnya. Semoga pos ini bisa menambah sedikit pemahaman dan keberanian untuk divaksin.

 

1. Vaksin dikembangkan dari virus yang dilemahkan (inactivated virus)

Bayangkan seorang gladiator dikurung tanpa makan dan minum berhari-hari lalu disuruh tanding melawan singa. Tentunya si gladiator menjadi lemah, tidak dapat tampil perkasa, dan kemungkinan besar akan dimakan oleh singa. Begitulah analoginya ketika virus dilemahkan sebelum disuntikkan ke tubuh kita sebagai vaksin. Sewaktu masuk ke dalam tubuh, sel imun yang dikenal dengan nama T-cell segera mengenalinya sebagai benda asing dan mulai mengurungnya. T-cell juga mengaktifkan sel imun lain bernama B-cell yang bertugas memproduksi antibodi untuk menghancurkan virus, sekaligus belajar mengenali “pendatang beru” ini. Sayangnya, walaupun berhasil menumpas virus, sistem pertahanan yang terbentuk dengan cara ini tergolong lemah. Ini karena virus yang lemah dan tidak berdaya berbeda dengan virus aslinya, yang lebih powerfull. Jadi, bisa saja tubuh kita akan kaget bila kelak bertemu dengan the real virus. Namun, setidaknya perkenalan pertama tadi dapat membantu tubuh mengatur strategi ketika kelak bertemu dengan musuh yang sebenarnya.

 

2. Vaksin dikembangkan dari salah satu fragmen virus

Virus memiliki 3 macam protein pelindung: membran, kapsul, dan spike.

Protein spike merupakan bagian/fragmen virus yang sering dipakai sebagai vaksin. Protein spike dibuat di laboratorium, meniru bentuk aslinya. Metode pembuatan vaksin menggunakan fragmen virus paling diandalkan karena lebih mudah diproduksi. Tapi bukan tidak ada tantangannya. Protein spike menjadi jembatan bagi virus untuk masuk ke dalam sel tubuh dan menginjeksi materi genetiknya. Jadi, ini protein yang sangat diandalkan virus. Tingkat mutasi protein spike tinggi supaya virus dapat gonta ganti bentuk “jembatan”, menyesuaikan dengan struktur sel yang akan ditembusnya. Tambahan lagi, protein spike yang dibuat di laboratorium harus diperbesar mengikuti ukuran the whole virus. Kelemahan vaksin ini serupa dengan vaksin inactivated-virus: menghasilkan sistem antibodi yang lemah. Untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh yang terbentuk, seringkali vaksin berbahan protein spike ini ditambahkan dengan komponen-komponen lain untuk memperkuat antibodi yang terbentuk.

 

3. Vaksin dikembangkan dari materi genetik virus

Gen yang bertanggung jawab terhadap ekspresi vektor virulensi virus disisipkan ke dalam virus yang tidak patogen (tidak menyebabkan penyakit). Kemudian virus tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh sebagai vaksin [atas]. Sama seperti proses infeksi virus aslinya, materi genetik virus akan masuk ke dalam sel dan mulai memproduksi bagian-bagian virus [bawah kiri]. Namun, mekanisme produksinya sudah disabotase karena materi genetik virus aslinya tidak lengkap. Dengan demikian B-cell bereaksi membentuk antibodi sedangkan virus itu sendiri tidak bersifat virulen/ganas [bawah kanan]. Metode pengembangan vaksin model ini lebih sulit tapi sistem imunitas yang dihasilkan lebih tinggi dari dua metode yang telah disebut di atas.

 

4. Vaksin dikembangkan dari asam nukleat virus

Teknologi pembuatan vaksin model ini jauh lebih sulit dan masih dalam tahap penelitian. Secara teori, materi genetik dilekatkan pada suatu molekul atau langsung ditembakkan ke dalam sel tubuh. Materi genetik akan membentuk bagian-bagian virus dan akan merangsang pembentukan antibodi.

Medan Perang itu Semakin Dekat

Foto: dokpri

Kabar itu datang di pagi hari, di penghujung November 2020. “Mr. C kritis, mohon doa Bapak Ibu.” Rasanya hati mencelos mendengar itu. Mr. C adalah kawan lama, beberapa kali bekerja sama, kalau bertemu selalu berbagi cerita dan pikiran, tentang kehidupan. Saat mendengar kabar itu tak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa. Entah sudah berapa kali mendengar seseorang terinfeksi Covid-19, tak terhitung lagi dengan akal pikiran, tetapi betapa berbeda ketika orang itu adalah orang yang sangat kita kenal, atau bahkan orang yang sangat kita cintai. Cukup satu orang saja seperti itu untuk menandakan bahwa medan perang kini berada di depan matamu.

Sebelum kabar itu datang, di media sosial sedang ada kericuhan tentang kerumunan masyarakat yang antusias dengan kedatangan HRS. Pro kontra tentang kerumunan itu merebak dan semakin lama semakin memanas. Setelah sembilan bulan berlalu sejak munculnya covid-19 di bumi, ada kerumunan bukan sesuatu yang luar biasa. Sudah lama di sana-sini orang kumpul-kumpul tanpa urgensi. Kalaupun digerebek dan diberi sanksi, orang-orang yang dengan sukarela berkumpul tidak sanggup menahan diri untuk mengulangi lagi. Apalagi jika kumpul-kumpul itu dalam rangka kebaikan, misalnya silaturahmi. Orang-orang ini tidak lagi memikirkan Covid-19 sehingga tidak nyambung dengan kekhawatiran orang lain. Orang-orang ini juga tidak dapat diajak berpikir panjang: apa yang terjadi bila saya terinfeksi; apa yang terjadi bila saya terinfeksi dan menulari orang lain; apa yang terjadi bila saya terinfeksi lalu mati; andai orang yang saya tulari mati sedangkan saya hidup, apa yang terjadi? Evaluasi diri seperti ini terlalu rumit buat mereka. Ditambah lagi mereka meyakini bahwa mati hidup seseorang itu sudah ada waktu dan jalannya. Tidak masalah apakah itu kematiannya atau kematian orang lain.

Manusia tidak punya kesabaran seperti virus yang bersabar dalam jutaan tahun evolusinya menunggu keberhasilan bersatu dengan manusia. Dalam umurnya yang pendek, manusia punya banyak keinginan sehingga kesabaran seringkali dicampakkan. Manusia sudah dibekali mata hati dan akal untuk memandang dirinya sebagai orang lain dan orang lain sebagai dirinya. Bila ia menjaga dirinya artinya ia menjaga orang lain. Sebaliknya, bila ia menjaga orang lain sama dengan menjaga dirinya sendiri. Dalam perang melawan covid-19, kesabaran, mata hati, dan akal adalah senjata yang ampuh. Sayangnya, lagi-lagi, manusia tidak sanggup bersabar, tidak membuka mata hati, dan kehilangan akal. Bersabar itu bukan pasrah tidak melakukan apa-apa. Bersabar itu justru melakukan hal yang terbaik dengan membuka mata hati dan akal. Kita tidak maju ke medan perang cuma berbekal doa, tanpa mengasah keahlian dan pedang kita. Bila kita menemui ajal setelah menyiapkan semua itu, artinya kita telah bertemu dengan takdir kita.

Malam ini Mr. C telah memenuhi takdirnya. Beliau tidak berada dalam kerumunan manapun. Beliau bertemu takdirnya di jalan yang berbeda. Meninggalkan kami yang merenungi jalan beliau sembari membisikkan doa Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu, aamiin Yaa Robb.

4 Desember 2020