
Semua organisme di muka bumi pasti ingin hidup panjang. Kalau mereka tidak mampu hidup selamanya (abadi), setidaknya hidup mereka diteruskan oleh keturunannya. Reproduksi merupakan salah satu cara spesies untuk mempertahankan populasinya dari kepunahan. Bagi alga bersel tunggal, memperbanyak diri lewat pembelahan sel adalah cara “kuno” yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Banyak spesies alga yang dapat melakukan perkawinan. Mereka mencari pasangan, kawin, dan memiliki keturunan. Namun, cara ini jauh lebih rumit dan “mahal”. Risiko tidak menemukan pasangan dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh keturunan menjadi faktor-faktor mengapa pembelahan sel menjadi pilihan pertama bagi alga bersel tunggal.
Pembelahan sel sepertinya sangat menguntungkan. Namun, bila diperhatikan, organisme dengan banyak sel (multiseluler) melakukan hal sebaliknya. Mereka lebih mengandalkan perkawinan, walaupun butuh “biaya” tinggi. Pembelahan sel menghasilkan anak/keturunan yang sama persis seperti induknya. Seratus persen identik, luar dalam. Hal ini menyebabkan mereka rentan terhadap perubahan lingkungan: mutasi yang merugikan, serangan penyakit, kompetisi dengan spesies yang lain, dan banyak lagi. Bayangkan kalau sang induk rentan terhadap virus X, sudah pasti keturunan mereka sama nasibnya.
Perkawinan, sebaliknya, memiliki peluang mendapatkan keturunan yang lebih baik dari pada induknya. Mengapa? Karena keturunan (anak) memiliki setengah materi genetik dari kedua induk. Ada peluang bahwa anak memiliki kombinasi sifat dari kedua induk. Salah satu induk boleh jadi rentan terhadap virus X, tapi induk satunya lebih kuat sehingga ada peluang anak mewarisi sifat yang tahan terhadap virus X.

Terlepas dari omong-omong tentang tujuan dari pembelahan sel, pembelahan itu sendiri harus terjadi dengan sempurna. Sel anak harus mendapatkan berbagai organel sel dari induknya karena organel sel itulah yang akan menjalankan berbagai fungsi sel. Oleh karena itu selain inti sel yg menyimpan materi genetik, ada kloroplas, mitokondria, ribosom, dan masih banyak lagi organel yang harus disintesis untuk kemudian dibagikan ke sel anak. Setelah dewasa, sel anak akan membelah lagi dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan induknya. Seperti bumi yang berputar, begitulah siklus sel mengawali kehidupan yang tak pernah berhenti sampai tiba di titik nadirnya.





