Raminten. Nama yang familiar, apalagi yang senang kulineran di Jogya. Raminten tidak hanya sebuah nama, tapi juga budaya dan kini telah jadi legenda. Tanggal 23 April 2025, Raminten, alias Hamzah Sulaiman, telah pergi dan tak akan kembali. Kepergiannya meninggalkan satu warisan yang boleh jadi akan hidup lestari atau tinggal bayang-bayang dalam ingatan yang perlahan menghilang. Waktulah yang akan menjawab.
Bulan Februari di tahun yang sama, saya dan seorang teman menikmati makan malam di House of Raminten, Malioboro. Semula kami mau mencoba cabangnya yang di Kaliurang. Tapi akhirnya batal karena kegiatan seminar yang kami ikuti cukup melelahkan, sementara venue lebih dekat ke Malioboro. Lagi-lagi, bau khas itu menyeruak ketika masuk ke Mirota (sekarang Hamzah Batik). Wewangian yang mengingatkan saya pada rumah Mbah di Boyolali dan kenangan masa kecil waktu berlibur di sana. Berkunjung ke House of Raminten jadi lebih dari sekedar makan malam.
Suasana remang-remang membuat saya agak grogi dan memilih tempat yang agak terang. Untungnya teman saya sepakat, jadi duduklah kami di meja makan dekat (banner) Raminten. Sebenarnya saya bukan orang yang punya gelombang mistis. Tapiiii bila waktu itu beliau sudah almarhum sepertinya saya akan duduk di tempat lain. Yang jelas waktu itu kami menikmati makan malam dengan nyaman. Tamu-tamu mulai berdatangan dan suasana jadi lebih hidup dengan obrolan mereka. Tidak hanya tamu lokal, turis mancanegara juga tampak.
Menu makan malam saya pecel dan wedang sereh. Bumbu pecelnya top markotop. Batin saya, “Ini dia pecel jawa!” Hahaha … Di sekitar Depok sulit mendapat bumbu pecel dengan generousity seperti ini. Tentu saja!! Biasanya, makan malam saya tidak banyak. Tapi, sepiring pecel dan lauk pauk komplit itu tandas. Wedang serehnya berhias potongan sereh besar, mengeluarkan wangi segar setiap kali saya menempelkan bibir di gelas dan meminum airnya. Alhamdulillah. Makan malam yang menuntaskan rasa lapar dan rindu pada Jogya.
Raminten telah pergi. Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah House of Raminten juga akan pergi? Seperti semua spesies di alam, apakah ia akan bertahan dalam bentuknya yang sekarang sampai puluhan tahun ke depan? Atau, apakah ia akan beradaptasi, memiliki karakter baru, dan terlahir kembali sebagai sesuatu yang berbeda, kekinian, sambil tetap menyimpan gen-gen warisan nenek moyangnya. Ah, apapun bentuknya, saya akan senang bertemu kembali dengan House of Raminten di masa depan.
Baru saja memulai lagi tulisan di sini tiba-tiba saya bertemu blog Frederik Leliaert. Blognya sangat menarik! Membuat saya teringat salah satu hal yang pernah saya tulis tentang pekerjaan yang kita cintai. Alangkah senang bila kita dapat bekerja di bidang yang kita suka. Tidak semua orang bisa seperti itu. Ada saja yang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukai karena kesulitan hidup. Frederik Leliaert mengatakan dia menyukai biodiversitas dan evolusi dan pekerjaannya jelas menunjukkan apa yang dia sukai. Yang paling menarik buat saya adalah kesukaannya pada alga.
Blog Frederik sederhana, tapi tertata rapi. Tulisannya ilmiah, maklumlah dia peneliti di Meise Botanic Garden, sekaligus anggota dari Phycology Research Group di Universitas Ghent, Belgia. Semua hasil penelitiannya ditulis dalam pos-posnya secara ringkas, padat, dan komunikatif. Kata “komunikatif” penting diingat oleh peneliti. Pada masa lalu para peneliti tinggal di bumi, tapi bicara dengan bahasa planet Mars, sehingga banyak orang awam gagal paham. Di era globalisasi ini, komunikasi sains menjadi keahlian yang harus dimiliki peneliti, agar mereka dapat dimengerti oleh publik. Salah satu contoh komunikasi sains adalah menghindari penyebutan nama ilmiah. Saya tidak perlu berkata, “Ini Mangifera indica.” untuk memberi tahu bahwa buah yang saya pegang adalah mangga. Atau, saya cukup mengatakan, “Mari kita pelihara kelestarian alam.” alih-alih “Mari kita melakukan konservasi biodiversitas di bumi.”
Salah satu pos Frederik yang menarik saya adalah cerita kemunculan ganggang hijau berukuran besar sekitar 1000-700 juta tahun lalu. Pada saat itu suhu bumi turun drastis dan terjadi pembekuan air besar-besaran. Ganggang yang berukuran kecil mengalami banyak kematian, tetapi tidak semuanya punah. Ganggang yang semula hidup berenang-renang di laut mulai beradaptasi dengan gaya hidup menempel di lapisan es. Setelah perlahan-lahan suhu bumi kembali meningkat, populasi yang telah terbiasa hidup menempel di lapisan air tetap hidup seperti itu. Ukuran tubuh kemudian bertambah besar karena lebih banyak menyerap unsur hara dari dasar perairan laut. Adaptasi memang penting bagi spesies agar tidak punah.
Tulis saja, tidak usah pikir panjang. Itu tips paling jitu yang selalu diumbar para penulis. Tapi ada saja yang membuat kenyataan tidak sesederhana itu. Mungkin karena tangan yang menulis dan kepala yang menyimpan kata-kata tidak padu. Begitu banyak kata dalam pikiran, begitu lambat tangan menulis. Atau sebaliknya. Tangan sudah bergerak kanan kiri, tapi setiap kata dihapus kembali karena kepala menggeleng-geleng. Akhirnya seperti inilah. Ternyata sudah setahun saya tidak menoreh kata-kata di sini. Sepertinya hari ini kepala dan tangan saya sudah berdamai. Tapi, apakah besok dan lusa dan hari-hari ke depan mereka akan ribut kembali sehingga tulisan macet lagi? Let’s see …
Seperti yang saya duga, saya tidak akan sanggup membaca satu per satu kalimat pada Laut Bercerita. Cerita Biru Laut tentang kekejaman yang dia alami terlalu detil, jelas, membuat saya seperti merasakan sendiri deraan yang diberikan di sekujur tubuhnya. Saya juga tidak tega mendengar jeritan hatinya menahan rasa perih dan malu yang dicampakkan dengan paksa oleh para penyiksanya kala mereka melakukan perbuatan tak berperikemanusiaan. Dua kepedihan itu, jiwa dan raga, dikatakan Biru Laut dalam satu kalimat.
‘Tetapi mungkin yang paling tak bisa kusangga adalah perasaan kemanusiaan yang perlahan-lahan terkelupas selapis demi selapis karena mereka memberlakukan kami seperti nyamuk-nyamuk pengganggu.’
Saya mendengar dengan cepat Laut Bercerita. Dia dan teman-temannya menjadi organisator gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. Ada bermacam karakter yang berada di sekitar Laut, namun hanya satu fenomena yang, bagi saya, menyatukan mereka. Mereka kehilangan seseorang (guru, paman, ayah) yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka di masa remaja. Orang-orang yang pergi tanpa pernah kembali ini mengajarkan mereka tentang kemiskinan yang absdurd di tengah kemewahan para penguasa, juga perlawanan rakyat. Pengajaran lewat buku-buku semacam The Tale of Two Cities dan Oliver Twist-nya Charles Dickens, atau Tan Malaka, melekat kuat dalam pikiran seorang anak menjelang dewasa. Saya tahu benar perasaan yang menggelora itu karena itulah yang terjadi pada saya, sebagai pelajar SMP, ketika membaca dua buku pertama di atas. Karenanya, ketika mereka (Laut dan teman-temannya) dihadapkan pada realita (pemerintah) yang berlawanan dengan konsep-konsep keberpihakan pada rakyat yang tertindas, mereka bergejolak dan tak menerima.
Tidak terelakkan, kontroversi liberalisme dan komunisme pun hadir di sini. Menurut saya memang tidak mungkin memandang peristiwa 1998 lepas dari nuansa itu. Bagaimana pun, kemajuan perekonomian Bangsa Indonesia sampai tahun 1998 adalah bagian dari liberalisme. Karena itu, ketika semakin banyak rakyat di sana sini semakin tertekan, liberalisme (yang diwakili oleh para penguasa negara) dituding sebagai penyebabnya. Oleh karena itu, hal-hal yang berbau keberpihakan kepada rakyat, yang dalam hal ini disimbolkan dan dipropagandakan sebagai paham komunisme, menjadi antitesisnya. Seharusnya kita belajar dan berpikir apa maksud di belakang pembredelan buku-buku. Banyak buku-buku yang menyuarakan perlawanan rakyat terhadap penguasa dilarang dicetak dan diedarkan, bahkan dicap sebagai suara komunis. Kita tidak sadar homogenitas bacaan atau media yang dihidangkan di depan mata telah mencetak pikiran-pikiran yang takut terhadap heterogenitas.
Laut Bercerita memang ditulis berdasarkan kisah perlawanan mahasiswa (simbol dari rakyat) yang berujung pada penculikan dan penyiksaan oleh pasukan tentara. Walaupun tak pernah terungkap (belum) siapa dalang kejahatan itu, sudah jelas mereka bukan penjahat jalanan. Mereka bukan para mafia, seperti di film The Godfather. Mereka orang-orang bersenjata yang terorganisir dan bukan orang asing. Para pelaku kejahatan itu sama seperti kita, orang Indonesia. Ini membuat saya merasa malu, marah, terhina, dan nista. Bukan hanya sebagai orang Indonesia, tapi juga sebagai manusia. Ternyata apa yang dikatakan Laut mengenai hilangnya kemanusiaan benar adanya. Bahkan, sekarang pun, kita menghadapi orang-orang yang tak malu menyatakan diri lewat pikiran, perkataan, dan sikap bahwa mereka bukan manusia. Mereka tahu, tapi tidak mau tahu. Sementara kita malu dan terhina, mereka bangga.
Setelah habis mendengar Laut Bercerita, saya masih punya banyak pertanyaan. Menurut saya pertanyaan ini penting agar bisa merasionalkan runutan kejadian yang dialami oleh Laut dan teman-temannya. Pertanyaan ini tidak berarti mengecilkan arti perjuangan mereka dan siapa pun yang entah akan muncul di masa depan. Pertanyaan ini juga pernah dilontarkan oleh para pelaku kejahatan. “Siapa yang mendanai kegiatan perlawanan kalian?” Biru Laut berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, menggunakan transportasi darat, laut, dan udara. Menginap di satu rumah ke rumah yang lain. Tanpa ada sumber keuangan, tentu mereka tidak dapat bergerak lincah ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang jauh dari markas mereka di Jogyakarta. Hal ini tidak pernah dijelaskan, padahal menurut saya, lazimnya sebuah gerakan pasti ada orang-orang yang bersimpati dan memberikan dukungan baik moral maupun material.
Pertanyaan berikutnya lebih pribadi. Seperti halnya sebuah novel, Laut Bercerita juga punya bumbu romantisme. Ada kisah cinta antara para pelaku peristiwa. Percintaan yang digambarkan dalam novel ini menggunakan kacamata Barat yang menganut free sex. Saya tidak menutup mata bahwa kebebasan bercinta semakin meluas di masyarakat, menyebar di berbagai kalangan tak terbatas umur dan tingkat sosial. Meskipun demikian, bukan berarti kita membiarkan itu kecuali bila memang itu sesuai dengan paham yang kita anut. Saya mencoba melihat bahwa Laut Bercerita hanya ingin berfokus pada perjuangan mahasiswa tanpa embel-embel moralitas agama. Namun, mengingat novel ini akan dibaca pemuda pemudi, bukan tidak mungkin muncul kesimpulan bahwa para mahasiswa yang mencoba membela “rakyat yang tertindas” memiliki perilaku yang melanggar hukum agama dan itu sah-sah saja. Toh, Biru Laut dan adiknya melakukan itu.
Saya telah mendengar Laut Bercerita. Saya berpikir apakah peristiwa penculikan ini akan terulang atau sekarang pun sedang terjadi. Ketika saya menulis ini, rakyat Indonesia sedang menonton orang-orang yang dimabuk uang dan kekuasaan. Mereka saling sikut, saling hujat, saling fitnah, saling merasa dibela oleh “rakyat”. Orang-orang yang dulu menjadi pembela rakyat telah lelah dan ingin menikmati kenyamanan. Orang-orang pintar yang beradu argumentasi telah meninggalkan panggung diskusi dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Rakyat telah hilang, kembali menjadi kata yang tiada arti. Biru Laut, apakah kamu telah mati dan tidak akan lahir kembali?
Tepat pukul tujuh, seharusnya Ryu sudah nongol. Untuk ketiga kalinya, Qon melirik jam di tangan. Ryu tidak pernah telat dengan jadwal jalan paginya. Sudah sebulan Qon dan Ryu jalan pagi bareng. Ritualnya dimulai dengan lari tiga putaran di Rotunda lalu berjalan ke arah Perpusatakaan Pusat, menyusuri jalan di samping Fakultas Hukum menuju lingkar UI, berbelok ke kiri menyusuri Fakultas Psikologi-Fisip, sampai akhirnya tiba di Fakultas Teknik dan beristirahat di sana. Qon dan Ryu menikmati jalan pagi mereka, terutama saat tiba libur semester seperti sekarang. Kampus tidak terlalu ramai dengan kendaraan sehingga udara terasa lebih menyegarkan.
“Qon!”
Qon mendengar namanya dipanggil. Dilihatnya Ryu muncul dari arah Dekanat. Qon membalas lambaian tangan Ryu. Ia meninggalkan tempatnya menunggu dan mendekati Ryu yang bergerak ke arah Rotunda.
“Sori ya, telat.” Ryu meminta maaf.
“Tenang aja. Baru nunggu lima menit, kok.” Qon santai membalas.
“Rute seperti biasa, kan?”
“Siap. Seperti biasa kita makan bubur dulu di Kukel baru balik ke Mipa.”
“Oke.”
Mereka berdua mulai berlari. Beberapa kali mereka mendahului orang-orang yang berjalan santai memutari Rotunda. Setelah tiga putaran, Qon dan Ryu melanjutkan jalan pagi mengikuti rute seperti biasa. Namun, sampai di Fakultas Teknik mereka kecewa karena tukang bubur langganan tutup. Lapak tukang bubur yang bersebelahan dengan pagar kuning kampus ini tidak pernah sepi. Pembelinya tidak hanya orang-orang yang tinggal di dekat situ. Qon sering melihat orang-orang yang lari atau jalan pagi melipir ke lapak ini. Tapi hari ini pelanggan yang datang kecewa karena Bapak Tukang Bubur tidak berjualan. Penjual nasi uduk di sebelah lapak bubur pun tidak tahu kabarnya. Akhirnya Qon dan Ryu pulang sambil menahan perut yang keroncongan.
Keesokan harinya, Qon dan Ryu kembali kecewa mengetahui lapak bubur langganan masih tutup. Karena penasaran, di hari ketiga mereka mampir lagi, tapi hasilnya sia-sia. Tukang bubur langganan masih tidak kelihatan batang hidungnya dan tidak ada yang tahu ke mana Bapak Tukang Bubur itu. Akhirnya mereka menyerah dan berpikir mungkin si Bapak pulang kampung karena kampus sedang libur semester.
Hampir seminggu mereka tidak mampir makan bubur sampai ketika mereka melihat keramaian di lapak penjual bubur. Asik, kayaknya sudah jualan lagi! Qoni bersorak dalam hati. Tanpa menunggu komando, Qon dan Ryu bergegas ke sana. Ternyata benar adanya. Bapak Tukang bubur sedang melayani pelanggan. Namun berbeda dari sebelumnya, di pagar ada karton bertuliskan Diaduk atau tidak diaduk, yang penting happy makan bubur.
“Kok lama nggak jualan, Pak?” Qon tidak dapat menahan rasa penasaran.
“Diminta jualan di Srengseng, Mbak.” jawab si Bapak.
“Diminta siapa, Pak?” Ryu tidak ketinggalan kepo.
Setengah bersungut Bapak Tukang Bubur bercerita. Rupanya ada seorang caleg mau menyediakan bubur gratis di daerah pemilihannya. Lapak buburnya dipasangi umbul-umbul dan poster bergambar caleg serta paslon presidennya. Tidak lupa tulisan BUBUR GRATIS! ditambahkan di sana. Saking lengkap promosinya ditambahkan: Makan bubur tidak usah diaduk, biar kelihatan cantik dan mewah! Hari pertama dan kedua memang ada yang datang makan. Namun, lebih banyak yang nggak sreg dengan cara makan buburnya. Bapak Tukang Bubur banyak terima keluhan. Emang nggak boleh diaduk, Pak? Kenapa nggak boleh? Makan bubur aja kok diatur-atur. Mau makan bubur kok pake mikir diaduk apa enggak. Gratis sih, tapi kok nggak demokratis. Ujung-ujungnya, sepilah lapak bubur gratis dan setelah seminggu si caleg menyerah. Kontrak bubur gratis pun bubar.
“Jadi sekarang saya pasang tulisan di pagar. Mau makan bubur diaduk boleh. Nggak diaduk juga boleh. Yang penting bubur saya laku.”
Oalahhhhh … kesian si Bapak kena gombalan Caleg!! Ya memang kalau tidak demokratis, tidak asik!
Kutitip marahku pada hujan sore ini Yang turun rintik membasahi jalan Biar luruh terserap tanah Yang selalu berbaik sangka Pada apa yang jatuh di atasnya
Kutitip cintaku pada hujan sore ini Yang deras mengalir di sela batuan Biar terbawa ke ujung bumi Yang tak bertepi Tuk kembali memelukku
Kutitip rinduku pada hujan sore ini Yang menari bersama angin Biar tersimpan di tiap butir debu Yang mengawang di udara Abadi selamanya
Biarkan hujan sore ini Menghapus marahku Menyebar cintaku Memelihara rinduku Melahirkan kembali tawaku yang dulu
Inilah tulisan pertama saya di tahun 2024 di blog ini. Rupanya WordPress mengirim ucapan selamat dan review karena saya telah lima tahun bergabung dengannya. Saya jadi terkenang lagi hal-hal yang menyebabkan saya mengaktifkan blog ini dan bagaimana kemudian berkenalan dengan teman-teman di Komunitas Ikatan Kata. Setiap peristiwa ada masanya dan sebaliknya masa memiliki peristiwanya.
Di tahun 2023 saya mulai aktif lagi di FB. Aktif yang saya maksud tidak berhubungan dengan disiplin menulis, tapi lebih mencoba untuk berbagi momen-momen tertentu di keseharian saya, baik sebagai dosen maupun sebagai pribadi. Kali ini saya lebih terpacu untuk berbagi tentang pekerjaan saya sebagai peneliti alga, bidang yang sudah saya geluti selama lebih dari 20 tahun.
Dua tahun ini saya punya beberapa kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman-teman dari dalam dan luar negeri. Dalam kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai peneliti alga, hal ini sangat menggembirakan. Saya gembira bisa terhubung dengan teman-teman yang punya passion sama, saling terbuka dan memberi dukungan, serta berkompetitif dengan positif. Yang pasti, lewat kolaborasi itu hubungan silaturahmi menjadi terjaga.
Saya juga senang dengan antusiasme mahasiswa yang ingin belajar alga. Masing-masing berusaha mencapai impian. Ada yang seperti burung di udara-meluncur cepat. Ada yang seperti kelinci melompat ke sana ke mari sambil mencoba tetap di dalam pagar. Ada juga yang timbul tenggelam seperti lumba-lumba dalam air. Begitulah setiap kita berusaha. Insyaa Allah kelak akan bertemu juga dengan hari kemenangan, saat toga dipasang di atas kepala dan hati ditundukkan.
Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, sehari menjelang keberangkatan ke Amerika perasaan justru lebih tenang. Persiapan mengikuti Workshop Alga di Mountain Research Station (MRS) Colorado dimulai waktu Prof. Patrick Kocielek mengumumkan kepastian saya sebagai peserta. Hal yang pertama disiapkan adalah pembuatan Dokumen DS-2019 agar kami dapat mengurus visa J1 di Kedubes Amerika. Visa J1 adalah kategori visa untuk student exchange and scholar. Mengurusnya lumayan rumit karena tidak hanya mengisi formulir DS-2019 saya juga harus membuat akun di portal MyISSS. Ini portal tempat pelaporan segala kegiatan pemegang visa J1, antara lain melapor kedatangan saat tiba di Amerika. Entah kenapa username dan password saya gagal dikenali oleh sistem portal sehingga saya harus menghubungi bagian IT universitas. Ini membuat adrenalin naik turun.
Pertama, saya harus membuat janji temu dengan petugas secara online (karena tidak mungkin bertemu langsung, kan?). Kedua, perbedaan waktu Depok, Indonesia, dengan Boulder, Colorado, hampir 12 jam. Artinya, di sini siang di sana malam. Setelah 2-3 kali gagal komunikasi, akhirnya saya bisa online meeting dengan petugas dan dibantu membereskan akun. Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata belum. Akun dan password memang dikenali, tapi alih-alih masuk ke beranda portal saya malah diminta lagi untuk mendaftarkan akun. Benar-benar membuat makan hati. Akhirnya, terpaksa harus lapor lagi sambil menunjukkan screenshot bukti gagal masuk. Kali ini yang membereskan masalah bukan IT universitas melainkan IT dr portal MyISSS. Akhirnya done!
Lanjut lagi ke pembuatan visa, kali ini masalah datang dari pendaftaran online visa. Pak Rasyid, agen jasa pembuatan visa, tidak mendaftarkan saya untuk visa J1, tetapi visa B1/B2 alias visa bisnis. Alasannya, saat mengisi formulir tidak ada kategori untuk student exchange selama 2 minggu seperti workshop yang akan saya ikuti. Periode student exchange minimal 3 bulan. Ditambah antrian wawancara yang panjang, kami didaftarkan ke wawancara darurat. Benar-benar darurat karena tinggal 10 hari sebelum hari H. Situasinya adalah karena formulir untuk aplikasi visa bisnis bukan DS-2019, tapi DS-160. Ditambah dengan bunyi surat undangan yang tidak sesuai, komplit sudah permasalahannya. Akhirnya saya menghubungi Stephanie dari International Office Colorado University. Dia menekankan bahwa surat undangan dari Fakultas harus disesuaikan dengan aplikasi visa bisnis. Alhamdulillah, respon dari Patrick cepat sehingga saya dibuatkan surat yang baru. Berbekal surat itu akhirnya visa saya lolos. Yeayy!!
Kejelasan hari keberangkatan diperoleh ketika tiket berhasil dipesan. Ini juga banyak kejutan. Dana tiket pesawat hanya setengah dari total harga. Artinya, saya harus cari sumber dana untuk menutupi. Agen travel CU membantu pemesanan tiket sehingga saya tidak harus membayar di awal. Semula rute yang ditawarkan adalah CGK-Narita-LA-Denver, tapi waktu sampai di Denver sudah lewat pukul enam padahal kami masih harus ke gunung. Kemudian diubah ke Sydney-LA-Denver yang waktunya kedatangan di Denver lebih masuk akal. Namun, karena pemesanan menunggu kepastian visa, harga tiket lewat Sydney naik drastis ke $3300 dari $1700. Akhirnya agen travel banting setir ke rute Narita-Dallas-Denver. Angan-angan mampir di Benua Australia jadi sirna. Hahaha.
Alhamdulillah, setelah semua huru-hara, akhirnya saya jadi berangkat tanggal 7 Juli 2023.
Sabtu siang 22 Mei nonton konser Orkes Simfoni UI. Semula berpikir yang datang pasti generasi seangkatan saya, bahkan lebih tua lagi. Apalagi tema konser kata Si Flyer tentang perjuangan. Langsung saya berpikir yang dimainkan adalah lagu-lagu perjuangan jaman kemerdekaan. Ternyata saya salah besar. Tamu-tamunya anak-anak muda dengan dandanan rapi, setengah formal, semua bergaya dan ingin kelihatan tampil cantik dan menarik. Sangat menyenangkan melihat anak-anak muda mendukung orkes yang pemainnya ternyata anak-anak muda juga.
Salah dua saya adalah saya sudah siap-siap untuk merasa bosan, jenuh, atau mengantuk. Ternyata mendengar musik yang dimainkan justru membuka mata dan telinga, dan membangunkan ide-ide di kepala. Rasa-rasa dalam hati ikut terbangun mendengar gesekan biola dan cello, tiupan terompet, klarinet, dan obo, dentuman drum, dan sesekali dentingan triangle. Mendengar kesatuan alat musik mengayunkan lagu-lagu Johannes Brahms, Cristopher Larkin, Johann Sebastian Bach, dan lainnya, saya bagai dibawa dalam suatu petualangan yang seru dan menyegarkan. Lagu The Typewriter karya Leroy Anderson dimainkan dengan unik. Suara ketikan dan denting khas dari mesin tik berpadu dengan instrumen lain membuat saya membayangkan sedang menulis diiringi oleh lagu gembira.
Saya juga baru tahu bahwa orkes punya babak-babak, sama seperti sandiwara atau teater. Para pemain datang dan pergi sesuai dengan lagu yang dimainkan. Kadang yang bermain kelompok kecil, lima orang. Lagu yang lain dimainkan oleh kelompok yang lebih besar bisa lebih dari sepuluh orang. Di tengah-tengah babak ada lima belas menit rehat. Penonton diberi waktu istirahat. Jadi yang mau ke kamar kecil atau makan minum bisa menyelesaikan urusannya tanpa mengganggu pertunjukan. Sambil menikmati pertunjukan saya perhatikan setiap orang punya peran, sekecil apapun. Walaupun hanya mendentingkan triangle atau sesekali mengayunkan genderang, semua ikut menyempurnakan lagu yang dihadirkan.
Waktu para pemain akhirnya memainkan lagu terakhir saya merasa waktu berlalu begitu cepat. Pengalaman hari ini benar-benar tidak terduga, tidak terbayangkan, bahkan agak mengejutkan bahwa ini menyenangkan. Saya pikir yang membuat hari ini bersemangat adalah melihat anak-anak muda yang terlibat dalam acara orkes. Mulai dari penerima tamu, pengatur panggung, pemain, Sang Jerigen, semua wajah-wajah muda. Di tengah-tengah mereka juga ternyata ada mahasiswa Biologi Angkatan 2020 dan 2021. Sungguh patut dibanggakan! Mereka punya hal-hal yang mereka cintai dengan serius dan sungguh-sungguh. Serasa melihat masa depan yang penuh harapan. Semoga apa yang mereka cita-citakan, semua harapan dan keinginan, bisa menemukan jalannya.
Kalau mendengar nama Museum Nasional disebut, saya masih berpikir, “Di mana, ya?” Tapi kalau Museum Gajah, nah … langsung saya tahu dan ingat letaknya di Jalan Merdeka Barat, dekat Tugu Monas. Padahal Museum Nasional dan Museum Gajah adalah museum yang sama. Ini karena Museum Gajah sudah melekat dalam pikiran dan hati saking seringnya waktu kecil dulu main ke sana.
Entah kapan terakhir saya ke Museum Nasional, yang jelas sudah lama sekali. Karena itu senang sekali bisa berkunjung lagi ke sana. Museum Nasional sudah ramai dikunjungi siswa-siswa sekolah, turis lokal dan asing, baik yang datang sendiri maupun dalam rombongan. Semua tumpah ruah di sana. Alhamdulillah, senang melihat antusiasme pengunjung. Museum Nasional sudah jauh lebih modern dibanding masa dulu waktu saya ke sini. Tapi, sudut-sudut tertentu masih menyisakan kenangan manis, terutama arcanya yang tetap bergeming di tempat mereka.
Museum Nasional kini punya dua Gedung. Gedung A digunakan untuk pameran koleksi sekaligus ruang penyimpanan. Gedung B, yang lebih baru, selain untuk ruang pameran juga untuk kantor, ruang konferensi dan perpustakaan. Salah satu ruang pameran yang menarik bagi saya adalah Lantai 4 Gedung B, tempat pameran koleksi benda-benda purbakala yang terbuat dari emas dipamerkan. Ruang Koleksi Khazanah Emas di lantai 4 Gedung B ini sepertinya menjadi satu-satunya ruang yang tidak memperbolehkan pengunjung untuk memotret.
Tanpa saya duga, Arca Prajnaparamita yang terkenal dengan kecantikannya ditempatkan di sana. Arca ini memang sangat cantik, halus, hampir tak ada kerusakan. Menurut informasi dari Wikipedia, arti harfiah Prajnaparamita adalah “kesempurnaan dalam kebijaksanaan” dan merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transedental manusia.
Terus terang, saya cukup terkejut bahwa selama ini saya mengingat hal yang salah tentang arca Prajnaparamita, arca yang sejak kecil sudah saya dengar popularitasnya. Dulu saya mendengar bahwa Prajnaparamita adalah perwujudan Ken Dedes, istri Ken Arok, raja pertama Singhasari. Ternyata, Menurut penelitian Munandar (2003) arca Prajñaparamita menggambarkan Rajapatni Gayatri, putri bungsu Raja Krtanagara yang hidup pada masa akhir kerajaan Singhasari dan awal kejayaan kerajaan Majapahit. Siapapun dia, yang jelas kecantikan seorang wanita pada masa itu tidak kalah dengan masa kini.
Yang menarik, nama Prajnaparamita dijadikan sebagai nama jurnal ilmiah terbitan Museum Nasional (https://www.museumnasional.or.id/category/publilkasi/jurnal-museum). Pada edisi tahun 2016, ada salah satu artikel yang ditulis oleh Gaya Mentari berjudul Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Mentari (2016) bercerita tentang gaya seni dari arca tersebut dan makna-makna yang terkandung dari postur sang “tokoh”. Menurutnya, arca tersebut memiliki ciri karya seni arca yang berasal dari masa Dinasti Singhasari, yaitu bunga Teratai (yang keluar dari bonggolnya) dan postur tubuh yang “kaku”. Bisa dikatakan, karya seni arca Prajnaparamita tergolong seni Klasik Muda yang berkembang di Jawa Timur, berbeda dengan gaya sebelumnya yang berkembang di era Mataram Kuna, Jawa Tengah (Susetyo dkk. 2021).
Referensi:
Mentari, G. 2016. Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Jurnal Prajnaparamita 1: 145-151.
Susetyo, S., A. Murdihastomo, A. Indrajaja, D. Nugroho. 2021. Gaya seni arca masa Kadiri: Studi terhadap arca Candi Gurah dan Candi Tondowongso. KALPATARU 30(1): 1-24.
“Setiap yang bernyawa pasti mengalami mati” (QS Ali Imran:185)
Tidak mudah bicara soal kematian. Bukan bicara sekedar bicara, tetapi lebih dari itu, memaknainya. Seperti hal-hal lain, kematian juga ada ilmunya. Bukan hanya ilmu agama, bagi mereka yang meyakini. Kematian juga dipahami sebagai fenomena alam sehingga menjadi bagian dari sains. Sejak kita dilahirkan, kematian sudah melekat dalam diri kita. Bersinggungan, tapi tidak selalu dirasakan kehadirannya. Terkadang, tanpa disadari, mungkin kita pernah menolaknya. Ucapan “Forever Young”, “Long Live the King”, “Semoga Panjang Umur”, mengandung harapan bagi kehidupan yang tak berujung. Harapan yang mendasari usaha-usaha penemuan sains dan teknologi agar sel dapat terus muda dan dengan begitu dapat terus hidup atau imortal.
Sewaktu muda saya tidak begitu dalam memikirkan kematian. Namun, seiring waktu, kesan-kesan terhadap kematian semakin mendalam. Saya pikir ini bukan masalah usia, bahwa orang muda tidak acuh dan orang tua pasti banyak memikirkan mati. Ada hal lain yang bukan faktor usia yang menentukan seseorang memiliki kesan terhadap kematian. Saya tidak ingat kapan dan apa pemicunya, tapi ada satu periode dalam kehidupan saya ketika muncul pemikiran bahwa bila saya berangkat tidur maka saya tidak akan bangun lagi. Momen itu masih saya ingat karena setelahnya saya mulai membaca buku-buku tentang “kematian”, baik itu buku serius atau fiksi. Kisah-kisah Near Death Experience (NDE), The Lovely Bones, Sing,Unburied,Sing, Death on Earth, dan yang terbaru Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme.
Ketakutan terhadap kematian, menurut saya, bukan karena tidak ikhlas pada ketentuan yang Allah tetapkan. Tetapi, pada dasarnya, sama dengan perasaan takut atau khawatir terhadap hal-hal yang tidak kita ketahui. Dalam kehidupan seringkali kita punya prasangka buruk terhadap sesuatu hanya karena kita tidak tahu hal tersebut. Orang tua takut anaknya pergi jauh karena tidak ada pengetahuan tentang tempat yang jauh itu. Seorang murid takut menjawab pertanyaan guru karena tidak ada pengetahuan tentang apa yang ditanyakan. Seseorang punya prasangka buruk terhadap orang yang berbeda agama-suku-ras karena dia tidak mengenalnya. Bila kita mencoba mencari tahu hal-hal yang kita takuti, boleh jadi ketakutan itu menjadi berkurang.
Kematian pun, dengan demikian, harusnya menjadi sesuatu yang digauli, bukan dijauhi apalagi ditakuti. Seperti kutipan tulisan Prof. Toeti Heraty Rooseno dalam Dialog dengan Kematian : “Menghadapi kematian dengan harapan untuk tidur tenang, dan lebur tanpa mimpi dengan ikhlas, sesudah mensyukuri dalam-dalam hidup yang sangat indah ini.”
Bacaan:
Howard J. 2016. Death on Earth: Adventures in Evolution and Mortality. Bloomsbury Publishing, London: 288 hlm.
Noerhadi-Roosseno TH & IG Roosseno. 2022. Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme. PT Kompas Media Nusantara, Jakarta: xviii+174 hlm.
Sebold A. 2002. The Lovely Bones. PT Gramedia Penerbit Utama, Jakarta: 440 hlm. [Terj.]
Sesekali bertindak impulsif sangat baik. Ikuti saja kata hatimu. Dengarkan keinginanmu untuk sesekali lepas dari keseharian. Jangan banyak menimbang: TO BE OR NOT TO BE, SHOULD I OR SHOULD’T, IS IT WISE OR NOT. Tinggalkan semua pemikiran itu dan bergembiralah. Itu yang terjadi di satu hari ini. Awan tebal menutup matahari membuat pagi jadi mendung dan hati diliputi was-was. Tapi, begitulah. Tak ada yang dapat menghalangi tekat bulat untuk menikmati alam Kebun Raya Bogor.
Entah, kapan terakhir kali berkunjung di kebun yang penuh nostalgia ini. Memang penuh nostalgia karena sebagai seorang anak, saya sudah diajak “main” ke sana oleh Bapak Ibu. Sewaktu jadi mahasiswa biologi, kebun ini seperti laboratorium outdoor, tempat pengamatan berbagai flora fauna. Karena itu, buat saya, banyak kenangan indah tersimpan dalam lanskap kebun raya yang secara umum tidak banyak berubah.
Kali ini yang menjadi pengamatan saya adalah liken, atau sering dikenal dengan nama lumut kerak. Bayangkan dalam satu pohon pandan, begitu banyak jenis lumut kerak hidup di batangnya. Aneka bentuk, warna, kepadatan, semua terpampang di sana. Lumut kerak memang sering luput dari pengamatan karena ukurannya yang kecil. Namun, sekali kita mengenalnya, pasti akan terpesona.
Satu perubahan yang penting buat para penggemar kopi adalah dibukanya beberapa kedai kopi di dalam kebun raya. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Secret Garden Cafe. Nuansa lapang dan segar langsung terasa begitu kita masuk ke dalamnya. Beberapa lukisan tanaman bergaya seni menghias dinding kafe yang berwarna putih. Saya bersyukur dapat menikmati pagi yang sejuk ditemani secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng. Satu hari yang penuh kebahagiaan sudah cukup sebagai amunisi menghadapi pekerjaan rutin di hari esok.
Secret Garden Cafe
Jangan lupa ajak teman-teman. Jalan-jalan di Kebun Raya Bogor tanpa teman kurang menggigit. Have FUN!!
Judul di atas saya tulis ulang dari kata pengantar yang saya toreh di buku saya Catatan Pendek Seorang Dosen. Memang begitulah adanya saya, terkungkung dalam tempurung sebelum akhirnya memberanikan membagikan catatan-catatan saya. Setelah ditolak oleh sebuah penerbit terkenal, kumpulan catatan itu saya tawarkan pada IPB Press. Alhamdulillah gayung bersambut dan terbitlah buku ini. Harapan saya, tentu saja, tak lain adalah pembaca mendapatkan kegembiraan dari membaca catatan ini. Mereka mungkin mengenang kembali masa-masa di sekolah dulu, baik yang pahit maupun manis. Semoga kenangan itu bisa menjadi refleksi diri sembari meneruskan langkah ke arah yang lebih baik. Setidaknya, begitulah harapan saya untuk diri sendiri.
Buat teman-teman yang sudah memberi dukungan, membeli, dan membaca kumpulan catatan ini, doa saya untuk kebahagiaan dan kesuksesan kalian. Semoga mimpi-mimpi kalian bisa menjadi kenyataan!
In comparison with Darwinian evolutionists who argue that the formation of new species is a result of mutation followed by natural selection, the Endosymbiotic Theory approaches evolution in differently. In high school, we are taught that evolution is a change through time, provided with classic evidence of the populations of finches in the Galapagos Island.
Under the piles of material study about Darwin’s Theory of Evolution, Endosymbiotic Theory is merely the engulfment of one bacterium by others, forming organelle cells of mitochondria and chloroplast. Many textbooks simply write that an endosymbiont is a common occurrence in the evolution of organisms. It is not common to think that new species evolved from an endosymbiont. However, we may re-construct this conclusion. Students should be given a balance information to understand that Darwin is the first but not the last one who proposed a theory of evolution. Elias and Archibald (2009) published a review on the impact of endosymbiosis on the evolution of the nuclear genome. This paper has a beautiful picture of the Endosymbiotic Theory explaining the origin and diversity of Chromalveolates (once known as algae). It is also mentioned that almost 20% of the nuclear genome of flowering plants Arabidopsis has the cyanobacterial footprints.
Evolution and classification is like two-sided coin they cannot be parted. Classification as a science has been developed, slowly but steadily. It was supported by the discovery of light and electronic microscope. Classification system is re-shaping its form: Starting from Linnaeus, who divided organisms into plants and animals, to Woese, who introduced Domain as the highest taxonomic ranking. As we revise the system so to be closer to the tree of life, taxa disappeared, diversified, blended. Contrary to the most scientists, Margulis kept questioning Woese’s single data -the RNA- in separating (Eu)Bacteria from Archae: “If the RNA of microorganism can change in just few hours (such as Plasmodium), RNA sequence is probably not the best way of defining the greatest of all groups” (Margulis 1998: 67). To this date, the debates among taxonomists and systematists on morphological and molecular characters for species identification and classification are still on going.
References:
Margulis, L. 1998. Symbiotic Planet : A New Look at Evolution, Basic Books, ISBN 0-465-07271-2Elias M, Archibald JM. 2009. Sizing up the genomic footprint of endosymbiosis. BioEssays 31: 1273-1279.