• oppo_0

    Sudah pernah melihat ganggang laut di alam? Mahasiswa peserta kuliah Mikrobiologi menggelengkan kepala. Wajah mereka tampak ragu dan tidak mengerti, seperti sedang membayangkan sesuatu yang misterius. Terasa miris bagi saya yang pernah duduk di bangku kuliah dua dekade lalu. Pada masa itu, tidak mungkin ada mahasiswa Biologi yang tidak pernah melihat ganggang laut. Pengamatan ganggang di alam menjadi salah satu kegiatan kami ketika praktikum di pulau, biasanya salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Organisme yang hidup di habitat pasang surut ini dengan mudah ditemukan, terlihat dengan mata telanjang walaupun secara teori masuk ke dalam kelompok mikroorganisme.

    Ganggang laut atau yang kita kenal dengan nama seaweed merupakan komponen biota laut. Dalam ekosistem dia berperan sebagai produsen, penyedia biomassa sekaligus energi untuk lingkungan. Bukan hanya biota laut, manusia pun menikmati jasa yang diberikan oleh ganggang. Masyarakat pesisir menikmati Caulerpa dan Ulva untuk lalapan, Eucheuma untuk campuran es sirup, Porphyra sebagai nori, serta Gracillaria untuk diolah sebagai agar-agar. Dunia industri memanfaatkan ganggang sebagai bahan kosmetik (skincare, serum, lotion) dan kesehatan (antioksidan, antibiotik, antikanker). Bagi mahasiswa, ganggang adalah bagian dari ilmu Biologi yang harus diketahui.

    Memang disayangkan bahwa mahasiswa Biologi era 2020 tidak lagi mengenal ganggang laut hidup. Mereka belajar ganggang dari spesimen awetan basah dan kering. Ganggang yang diawetkan dengan alkohol telah kehilangan warna aslinya. Warna hijau, merah, atau coklat luntur. Yang tersisa hanya warna putih, walaupun warna ganggang coklat biasanya mampu bertahan lebih lama daripada hijau atau merah. Beberapa ganggang bahkan tidak kuat menerima perlakuan alkohol. Badan mereka hancur menjadi seperti bubur. Pengawetan kering dapat menyimpan warna ganggang lebih lama. Namun, bila tidak dijaga dengan baik, herbarium ganggang rawan jamur.

    Mungkin kamu bertanya, “Kenapa mahasiswa zaman now tidak diajak pergi ke pulau dan melihat langsung ganggang laut yang cantik ini?”  Jawaban pertanyaan ini sangat teknis. Tidak lain adalah anggaran praktikum yang sangat terbatas. Perjalanan ke pulau memakan biaya yang tidak sedikit: transportasi darat dan laut, penginapan (yang biasanya terbatas dengan harga turis), serta konsumsi selama di pulau untuk lebih dari seratus mahasiswa. Dibandingkan zaman sekarang, kondisi kami di tahun 1990-an sangat berbeda. Jumlah mahasiswa tidak lebih dari 40, penginapan mengandalkan stasiun riset yang dikelola LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, sekarang BRIN), dan transportasi darat meminjam bus kampus.

    Kendala teknis seharusnya dapat dicari pemecahannya. Membawa seratus mahasiswa ke pulau memang tidak mudah, tapi bukan mustahil. Kenyataannya, kami dapat membawa mereka pergi ke gunung untuk praktikum keanekaragaman hewan dan tumbuhan. Solusi lain yang dapat ditawarkan adalah menjadikan pengamatan ganggang laut sebagai kegiatan di luar kurikulum. Misalnya, sebagai aktivitas mahasiswa pada waktu libur. Bila semua solusi itu masih sulit dilakukan, mungkin menghadirkan spesimen awetan yang baik perlu dipikirkan. Koleksi awetan ganggang di Departemen Biologi sudah banyak yang kadaluarsa. Ekspedisi ke pulau dapat dilakukan oleh dosen dan beberapa orang asisten. Sambil menyelam, minum air. Sambil belajar, healing sejenak menikmati semilir angin pantai dan usapan air laut. Sangat menyenangkan! Kamu mau ikut?

Design a site like this with WordPress.com
Get started