Through the Open Door

A brief conversation woke me up into my being as the head of Graduate Study Program. After four years of service, I returned to my regular position: a lecturer. While moving out my things from the head office, our assistant said abruptly, “It’s not the same now without your presence.”  I thought he was overthinking. There would not be any differences with my replacement. But then he continued that he would no longer hear my tapping shoes and the smell of the coffee I brew every morning. I could not hold my smile. What he said is true.

That little talk made me think back to the time when I was in the office. On my very first day working as the head of study program, I realized the significant addition of my contact names in my cellular phone. Usually, I am selective in saving the names of my acquaintances. This is not because I am exclusive. It is simply because the memory capacity of my phone is limited. Furthermore, I never expected to send messages to every single student whose name was listed in my contact at least once during their period of study. Looking back at my time in office, I wondered. During those days, I might have become a different person to accomplish the various tasks given.

I learned many things when I was in charge. Working in structural positions means constraints in terms of time and choice. Many things must be resolved in a short time with few options. It took me a while to understand the pattern when problems arose. For example, the time when students pick up courses or during the peak of students’ exams. Over time, I also learned that I could not hold a call or prompt message. All must be answered. The greatest pressure I face is that I cannot change the rhythm. The beat, pace, and tempo of academic work were steady, following the one and only direction. The boredom of routine can stifle creativity and freedom, ultimately killing your passion for life.

I do not say that there is no advantage in becoming a person in charge in an office. I had chance to build a wide network, meet important people, and even take side jobs offered by new acquaintances. People would know you and serve you. In short, you will be overwhelmed by the attention and privilege given to you. However, what kind of life do I want to live? The question keeps repeating in my mind.

George Lucas said, “We are all living in cages with the door wide open.”

I think I will take the opportunity now to go through that open door.

Pembelahan yang Sempurna

Pembelahan sel alga Netrium dimulai dengan pembentukan celah pada bagian tengah sel. Saat inti sel (N) telah membelah, celah di bagian tengah sel semakin menyempit dan akhirnya terbentuk dua sel anak (Dokumentasi: https://doi.org/10.1016/S1978-3019(16)30378-3)

Semua organisme di muka bumi pasti ingin hidup panjang. Kalau mereka tidak mampu hidup selamanya (abadi), setidaknya hidup mereka diteruskan oleh keturunannya. Reproduksi merupakan salah satu cara spesies untuk mempertahankan populasinya dari kepunahan. Bagi alga bersel tunggal, memperbanyak diri lewat pembelahan sel adalah cara “kuno” yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Banyak spesies alga yang dapat melakukan perkawinan. Mereka mencari pasangan, kawin, dan memiliki keturunan. Namun, cara ini jauh lebih rumit dan “mahal”. Risiko tidak menemukan pasangan dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh keturunan menjadi faktor-faktor mengapa pembelahan sel menjadi pilihan pertama bagi alga bersel tunggal.

Pembelahan sel sepertinya sangat menguntungkan. Namun, bila diperhatikan, organisme dengan banyak sel (multiseluler) melakukan hal sebaliknya. Mereka lebih mengandalkan perkawinan, walaupun butuh “biaya” tinggi. Pembelahan sel menghasilkan anak/keturunan yang sama persis seperti induknya. Seratus persen identik, luar dalam. Hal ini menyebabkan mereka rentan terhadap perubahan lingkungan: mutasi yang merugikan, serangan penyakit, kompetisi dengan spesies yang lain, dan banyak lagi. Bayangkan kalau sang induk rentan terhadap virus X, sudah pasti keturunan mereka sama nasibnya.

Perkawinan, sebaliknya, memiliki peluang mendapatkan keturunan yang lebih baik dari pada induknya. Mengapa? Karena keturunan (anak) memiliki setengah materi genetik dari kedua induk. Ada peluang bahwa anak memiliki kombinasi sifat dari kedua induk. Salah satu induk boleh jadi rentan terhadap virus X, tapi induk satunya lebih kuat sehingga ada peluang anak mewarisi sifat yang tahan terhadap virus X.

Puisi “Mitosis” karya Dian Hendrayanti

Terlepas dari omong-omong tentang tujuan dari pembelahan sel, pembelahan itu sendiri harus terjadi dengan sempurna. Sel anak harus mendapatkan berbagai organel sel dari induknya karena organel sel itulah yang akan menjalankan berbagai fungsi sel. Oleh karena itu selain inti sel yg menyimpan materi genetik, ada kloroplas, mitokondria, ribosom, dan masih banyak lagi organel yang harus disintesis untuk kemudian dibagikan ke sel anak. Setelah dewasa, sel anak akan membelah lagi dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan induknya. Seperti bumi yang berputar, begitulah siklus sel mengawali kehidupan yang tak pernah berhenti sampai tiba di titik nadirnya.

Bicara Kematian

“Setiap yang bernyawa pasti mengalami mati” (QS Ali Imran:185)

Tidak mudah bicara soal kematian. Bukan bicara sekedar bicara, tetapi lebih dari itu, memaknainya. Seperti hal-hal lain, kematian juga ada ilmunya. Bukan hanya ilmu agama, bagi mereka yang meyakini. Kematian juga dipahami sebagai fenomena alam sehingga menjadi bagian dari sains. Sejak kita dilahirkan, kematian sudah melekat dalam diri kita. Bersinggungan, tapi tidak selalu dirasakan kehadirannya. Terkadang, tanpa disadari, mungkin kita pernah menolaknya. Ucapan “Forever Young”, “Long Live the King”, “Semoga Panjang Umur”, mengandung harapan bagi kehidupan yang tak berujung. Harapan yang mendasari usaha-usaha penemuan sains dan teknologi agar sel dapat terus muda dan dengan begitu dapat terus hidup atau imortal.

Sewaktu muda saya tidak begitu dalam memikirkan kematian. Namun, seiring waktu, kesan-kesan terhadap kematian semakin mendalam. Saya pikir ini bukan masalah usia, bahwa orang muda tidak acuh dan orang tua pasti banyak memikirkan mati. Ada hal lain yang bukan faktor usia yang menentukan seseorang memiliki kesan terhadap kematian. Saya tidak ingat kapan dan apa pemicunya, tapi ada satu periode dalam kehidupan saya ketika muncul pemikiran bahwa bila saya berangkat tidur maka saya tidak akan bangun lagi. Momen itu masih saya ingat karena setelahnya saya mulai membaca buku-buku tentang “kematian”, baik itu buku serius atau fiksi. Kisah-kisah Near Death Experience (NDE), The Lovely Bones, Sing,Unburied,Sing, Death on Earth, dan yang terbaru Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme.

Ketakutan terhadap kematian, menurut saya, bukan karena tidak ikhlas pada ketentuan yang Allah tetapkan. Tetapi, pada dasarnya, sama dengan perasaan takut atau khawatir terhadap hal-hal yang tidak kita ketahui. Dalam kehidupan seringkali kita punya prasangka buruk terhadap sesuatu hanya karena kita tidak tahu hal tersebut. Orang tua takut anaknya pergi jauh karena tidak ada pengetahuan tentang tempat yang jauh itu. Seorang murid takut menjawab pertanyaan guru karena tidak ada pengetahuan tentang apa yang ditanyakan. Seseorang punya prasangka buruk terhadap orang yang berbeda agama-suku-ras karena dia tidak mengenalnya. Bila kita mencoba mencari tahu hal-hal yang kita takuti, boleh jadi ketakutan itu menjadi berkurang.

Kematian pun, dengan demikian, harusnya menjadi sesuatu yang digauli, bukan dijauhi apalagi ditakuti. Seperti kutipan tulisan Prof. Toeti Heraty Rooseno dalam Dialog dengan Kematian : “Menghadapi kematian dengan harapan untuk tidur tenang, dan lebur tanpa mimpi dengan ikhlas, sesudah mensyukuri dalam-dalam hidup yang sangat indah ini.”

Bacaan:

Howard J. 2016. Death on Earth: Adventures in Evolution and Mortality. Bloomsbury Publishing, London: 288 hlm.

Noerhadi-Roosseno TH & IG Roosseno. 2022. Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme. PT Kompas Media Nusantara, Jakarta: xviii+174 hlm.

Sebold A. 2002. The Lovely Bones. PT Gramedia Penerbit Utama, Jakarta: 440 hlm. [Terj.]

Ward J. 2017. Sing, Unburied, Sing. Penerbit Qanita, Bandung: 302 hlm. [Terj]

Puasa Tahun Ini

Tahun ini waktu yang berlalu dalam bulan puasa
menyisakan satu rasa tentang kehilangan yang aneh
karena sebenarnya apakah kita pernah memiliki

Baru kemarin teman mengisi pos hikmah
dengan tanda besar HARI KE-1
dan kemarin juga pos itu sudah berubah jadi HARI KE-23

Sahur demi sahur, satu menyusul yang lain
berkejaran dalam terik hari yang terkadang basah oleh hujan
menghilang dalam kumandang adzan Maghrib
yang sebentar saja berlalu dalam hiruk pikuk persiapan sahur berikut

Kutanya seorang teman
Apa yang dapat dilakukan di sisa bulan puasa
yang tidak biasa tahun ini
ketika banyak tradisi ditanggalkan
dan kita kembali pada kemurnian dan kesederhanaan makna Ramadhan
Kerjakan urusan duniamu di sela-sela urusan akhiratmu, katanya,
terburu-buru menutup chat seperti hendak mengamalkan kata-katanya sendiri

Mungkin ia sedang menelisik malam-malam ganjil bulan puasa
mencari Rahmat dan Ampunan Robb Penguasa Langit dan Bumi
dalam harap seorang hamba
akan janjiNYA
yang tak lekang oleh waktu yang berlari di tahun yang ganjil ini


Depok, 5 Mei 2021

Pisahkan Gundah dari Gulana

Sudah lama tidak mengisi kolom blog, begitu mengisi alasannya adalah untuk membuang gundah gulana akibat kejadian semalam. Ada apa dengan semalam? Tidak penting juga dengan “ada apa nya” yang jelas membuat saya mengutak-atik kolom ini. Gundah gulana pasti pernah dialami semua orang … yang normal. Ada efek baiknya mengalami ini, misalnya sekarang saya mendadak nulis setelah hampir sebulan vakum. Misal yang lain adalah jadi ingat pacar, sohib, mentor spiritual, atau yang paling baik ingat Tuhan. Soalnya, di waktu gundah gulana kita jadi butuh curhat, butuh teman yang bisa diajak bicara untuk menetralisir perasaan-perasaan negatif di hati. Yang penting jangan terlalu lama gundah gulana karena jadinya hanya mengasihani diri sendiri, mellow, ujung-ujungnya malah merugikan diri sendiri. Salah satu tips supaya gundah gulana cepat hilang adalah mengerjakan sesuatu yang bisa memisahkan gundah dari gulana dan saya yakin kita punya banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, walaupun cuma menyikat kamar mandi. Nah, tunggu apa lagi. Ayo sikat kamar mandi!

Kenapa Kau Simpan Kemarahanmu, Kawan?

Photo by Agustanhakri

Buku yang baru selesai saya baca ternyata tentang kemarahan. Padahal judulnya Pencuri dan Anjing-Anjing. Sama sekali tidak mencerminkan isinya. Buku ini karangan Naguib Mahfouz. Saya jarang membaca buku-buku karya penulis Timur Tengah, kalau boleh dikatakan belum pernah. Seingat saya, cuma dua buku yaitu Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Balthasar’s Odyssey karya Amin Maalouf. Dua-duanya buku yang bagus: yang pertama bicara tentang kemanusiaan, yang kedua tentang ketuhanan. Buku ketiga, yang baru selesai saya baca, bicara tentang kemarahan seorang manusia yang menuntut Tuhannya atas hidupnya yang hancur akibat pengkhianatan orang-orang di dekatnya. Padahal Tuhan telah menuntunnya pada seorang saleh, yang tidak lain tidak bukan adalah guru ayahnya. Ketika seluruh dunia berpaling darinya, guru yang saleh itu tidak. Namun, kemarahan telah memenuhi hati dan pikirannya sehingga ia terus membawa dendamnya, terperosok dalam sumur kegelapan yang tidak berdasar.

Setiap orang boleh marah karena marah sesungguhnya adalah fitrah, sesuatu yang dititipkan pada diri manusia oleh Tuhan. Saya pernah dengar teori tentang Anger Management, mengendalikan amarah. Katanya (siapa pun nya yang di sana), salah dua kiat mengendalikan amarah adalah “pikir-pikir dulu sebelum berbicara” atau “menjauh dari hal-hal yang membuatmu marah”. Ada juga nasihat lain, seperti take a deep breath dan look at the good side. Sebagai muslim, saya diajarkan untuk mengambil wudhu bila kemarahan mulai memenuhi hati dan pikiran. Setiap orang boleh pilih strategi mana yang tepat untuk mengontrol kemarahannya.

Boleh dibilang, saya baru saja berhasil mengatasi “kemarahan” yang lama tersimpan dalam hati. Itu bukan kemarahan yang kita lihat di sinetron saat tokoh antagonis berteriak-teriak dengan mata melotot, menanggalkan semua keindahan di wajah cantik atau ganteng pemerannya. Itu adalah jenis kemarahan yang membuat saya bertanya-tanya mengapa ada orang yang dapat membuat saya merasa jadi penjahat padahal saya tidak melakukan kejahatan apapun.

Saya cuma gak suka kamu, itu saja. Dan saya punya alasan yang benar mengapa tidak suka kamu.

Tapi konsekuensi dari rasa tidak suka itu ternyata di luar dugaan saya. Bahkan saya sampai “diterawang” oleh seorang teman indigo cuma untuk meyakinkan bahwa saya masih waras berniat jadi penjahat. Akhir cerita, ternyata kita memang harus ikhlas, harus bisa legowo, supaya hati tenang. Bagaimana caranya? Ada yang berbisik begini di telinga saya: “Hati manusia ada penjaganya. Maka, minta kepada Sang Penjaga Hati agar hatimu dilembutkan. Supaya bisa mendoakan orang yang membuat hati kita susah.” Want to try? It worked for me. Thank Allah.

Bagai Emas dan Loyang

Modifikasi dari Wolipop.detik.com

Hari Ibu sudah lewat. Sesungguhnya di hari itu ingin saya tulis sebuah tulisan buat ibu yang pasti tidak akan terbaca oleh beliau karena media online tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya. Nyatanya, di hari itu saya cuma menelepon ibu dan mendengarkan dia bercerita panjang lebar hal-hal remeh yang membahagiakan hidupnya. Saya, satu-satunya anak perempuan Ibu, tapi tidak menuruni banyak karakternya. Ibu hemat, saya boros. Ibu fokus pada sedikit pilihan, saya seperti salep gentamicin yang punya spektrum luas. Ibu sangat mandiri – saya kutip sendiri kata-katanya, “Selama aku masih bisa, aku akan kerjakan sendiri.”  Sedangkan saya percaya bahwa saya bukan superwoman yang bisa melakukan semua hal, pembagian pekerjaan penting buat saya. Ibu sangat terstruktur-sistematis-ada aturan, saya cenderung bebas-tidak punya pola. Terkait terstruktur-sistematis ini, kaum perempuan di keluarga besar saya punya joke: “Potong kue pun harus sesuai dengan caranya Mbah Uti.”

Pengalaman hidup telah membentuk Ibu seperti itu. Pengalaman hidup telah membentuk saya seperti ini. Walaupun tampaknya dunia ibu berbeda dengan saya, alhamdulillah, kami selalu bisa menemukan irisan dunia kami. Itu karena ibu selalu menghargai perbedaan pendapat. Bahkan, di usianya yang sudah di atas 70 beliau selalu memegang prinsip itu. Beliau tidak menjadi “manja karena usia” sehingga semua perkataannya harus dituruti. Bahkan, sebisa mungkin beliau tidak ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, walaupun tangannya gatal ingin mengatur kami.

Justru saya yang terkadang lepas kontrol untuk mengatur Ibu. Atas nama “pendidikan modern” saya suka mengkritik prinsip-prinsip Ibu. Misalnya, hematnya yang berlebihan. Ibu senang memakai barang sampai umur mereka yang penghabisan. Padahal, ada yang baru, yang tentunya lebih baik fungsi dan bentuknya. Pernah sekali waktu saya sengaja bawa pulang handuk kecil beliau yang selalu disediakan di kamar mandi. Seriously, handuk itu sudah layak masuk museum. Waktu Ibu sibuk mencari si handuk, saya bilang terbawa ke rumah saya. Akhirnya, kali waktu saya berkunjung lagi ke rumahnya, handuk baru sudah terpajang di tempatnya. Maafkan anakmu ini, Bu, karena memaksamu mengganti handuk.

Ibu selalu jauh dari panggung, padahal beliaulah aktornya. Saya pernah mengutarakan keinginan menulis biografinya. Dialog saya begini.

Saya: “Ayo Mbah Uti (begitu saya memanggil Ibu sekarang), kita bikin biografi Mbah Uti. Mbah Uti cerita aja, ntar aku yang tulis.”

Ibu: “Ah, buat apa?”

Saya: “Kan pengalaman Mbah Uti banyak, seru. Banyak pelajaran yang bisa diambil buat anak cucu.”

Ibu: “Masih banyak yang belum aku ceritain. Kamu gak tahu aku juga ada yang buruk-buruk.”

Saya: “Gak semua musti diceritain, Mbah Uti … bisa dipilah-pilah mana yang mau dikasih tahu mana yang enggak.”

Ibu: “Nanti apa kata orang? O, ternyata Ibu tuh kayak begini begitu… enggak ah!”

Saya (masih penasaran): “Enggaklah. Masa lalu Mbah Uti memang seperti itu, gak akan ngerubah pendapatku atau keluarga yang lain tentang Mbah Uti. Justru semakin memahami.”

Ibu (mikir-mikir): “Gitu ya? Entar deh aku pikir-pikir dulu.”

Seperti sudah saya kira, proyek biografi itu layu sebelum berkembang. Hahaha … Begitulah Ibu yang selalu memikirkan mana yang pantas mana yang tidak. Tidak silau dengan gemilangnya emas dan lebih memilih loyang. Sungguh saya bersyukur didekatkan Allah dengan ibu saya, walaupun kami bagai emas dan loyang. Kali ini, beliau yang emas, saya loyangnya.

Medan Perang itu Semakin Dekat

Foto: dokpri

Kabar itu datang di pagi hari, di penghujung November 2020. “Mr. C kritis, mohon doa Bapak Ibu.” Rasanya hati mencelos mendengar itu. Mr. C adalah kawan lama, beberapa kali bekerja sama, kalau bertemu selalu berbagi cerita dan pikiran, tentang kehidupan. Saat mendengar kabar itu tak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa. Entah sudah berapa kali mendengar seseorang terinfeksi Covid-19, tak terhitung lagi dengan akal pikiran, tetapi betapa berbeda ketika orang itu adalah orang yang sangat kita kenal, atau bahkan orang yang sangat kita cintai. Cukup satu orang saja seperti itu untuk menandakan bahwa medan perang kini berada di depan matamu.

Sebelum kabar itu datang, di media sosial sedang ada kericuhan tentang kerumunan masyarakat yang antusias dengan kedatangan HRS. Pro kontra tentang kerumunan itu merebak dan semakin lama semakin memanas. Setelah sembilan bulan berlalu sejak munculnya covid-19 di bumi, ada kerumunan bukan sesuatu yang luar biasa. Sudah lama di sana-sini orang kumpul-kumpul tanpa urgensi. Kalaupun digerebek dan diberi sanksi, orang-orang yang dengan sukarela berkumpul tidak sanggup menahan diri untuk mengulangi lagi. Apalagi jika kumpul-kumpul itu dalam rangka kebaikan, misalnya silaturahmi. Orang-orang ini tidak lagi memikirkan Covid-19 sehingga tidak nyambung dengan kekhawatiran orang lain. Orang-orang ini juga tidak dapat diajak berpikir panjang: apa yang terjadi bila saya terinfeksi; apa yang terjadi bila saya terinfeksi dan menulari orang lain; apa yang terjadi bila saya terinfeksi lalu mati; andai orang yang saya tulari mati sedangkan saya hidup, apa yang terjadi? Evaluasi diri seperti ini terlalu rumit buat mereka. Ditambah lagi mereka meyakini bahwa mati hidup seseorang itu sudah ada waktu dan jalannya. Tidak masalah apakah itu kematiannya atau kematian orang lain.

Manusia tidak punya kesabaran seperti virus yang bersabar dalam jutaan tahun evolusinya menunggu keberhasilan bersatu dengan manusia. Dalam umurnya yang pendek, manusia punya banyak keinginan sehingga kesabaran seringkali dicampakkan. Manusia sudah dibekali mata hati dan akal untuk memandang dirinya sebagai orang lain dan orang lain sebagai dirinya. Bila ia menjaga dirinya artinya ia menjaga orang lain. Sebaliknya, bila ia menjaga orang lain sama dengan menjaga dirinya sendiri. Dalam perang melawan covid-19, kesabaran, mata hati, dan akal adalah senjata yang ampuh. Sayangnya, lagi-lagi, manusia tidak sanggup bersabar, tidak membuka mata hati, dan kehilangan akal. Bersabar itu bukan pasrah tidak melakukan apa-apa. Bersabar itu justru melakukan hal yang terbaik dengan membuka mata hati dan akal. Kita tidak maju ke medan perang cuma berbekal doa, tanpa mengasah keahlian dan pedang kita. Bila kita menemui ajal setelah menyiapkan semua itu, artinya kita telah bertemu dengan takdir kita.

Malam ini Mr. C telah memenuhi takdirnya. Beliau tidak berada dalam kerumunan manapun. Beliau bertemu takdirnya di jalan yang berbeda. Meninggalkan kami yang merenungi jalan beliau sembari membisikkan doa Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu, aamiin Yaa Robb.

4 Desember 2020

Pakhom dalam Diri Kita

Kasus rasuah yang terakhir mengingatkan saya pada salah satu cerita pendek Leo Tolstoy “Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?” Tolstoy menjawab pertanyaan itu dengan menghadirkan Pakhom, seseorang yang mendapat bisikan setan untuk memiliki banyak tanah sebagai pembalasan dendam pada hidupnya yang kekurangan. Maka, Pakhom bercita-cita untuk memiliki tanah yang banyak bila ia kaya. Lalu, ia kaya dan mulailah ia mewujudkan cita-citanya membeli tanah di mana-mana. Petualangannya membeli tanah membawa ia ke tempat orang-orang Bashkir yang diberi karunia Tuhan tanah subur berbukit-bukit. Orang-orang Bashkir menjual tanahnya kepada siapa pun dengan murah hati, termasuk kepada Pakhom. Pakhom menyerahkan sejumlah uang kepada orang-orang Bashkir. Perjanjiannya adalah sang pembeli meletakkan patok pertama untuk menandakan titik awal tanah sebelum berjalan sejauh yang mereka inginkan sambil meletakkan patok-patok berikut, membuat suatu garis keliling yang berakhir di patok awal. Seluas keliling yang dapat mereka buat, seluas itulah lahan orang-orang Bashkir yang menjadi milik pembeli. Perjanjian yang kedua adalah pembeli hanya mendapat waktu mengukur tanah mulai dari matahari terbit sampai dengan terbenam. Pakhom menyanggupi semua perjanjian itu. Suatu harga yang murah untuk tanah subur dan tidak terbatas seperti ini! Pakhom tidak habis pikir dengan keberuntungannya. Tentu saja, Pakhom berhasil berjalan jauh dan menancapkan patok-patok. Pertanyaannya adalah apakah ia dapat kembali ke patok pertamanya sebelum matahari terbenam?

Cerita Pakhom adalah cerita kita sehari-hari. Cerita tentang keinginan dan impian manusia untuk menjalani “hidup yang lebih baik”. Banyak yang berusaha mati-matian untuk “hidup lebih baik”. Kriteria “hidup lebih baik” ini spektrumnya sangat luas. Setiap orang punya pengalaman masing-masing yang akan membentuk apa yang “lebih baik” untuk mereka. Memiliki keingingan untuk menjadi lebih baik adalah bagian dari nafsu, sifat yang dilekatkan Allah pada makhlukNya (fitrah). Namun, karena nafsu selalu cenderung pada keburukan, maka kita harus selalu meminta rahmat Allah agar nafsu itu tidak melampaui batas.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 12:53).

Saya sendiri pasti punya karakter Pakhom. Mungkin ujian saya bukan tanah, tapi sesuatu yang lain yang masih bersifat materi, status sosial, atau jangan-jangan, meniru istilah Cak Nun, kesombongan intelektual. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat buat saya bila suatu hari saya tergoda untuk menjadi pengikut Pakhom.

Dunia yang Kacau (A Chaotic World)

Pagi ini saya siap memulai kerja lebih awal. Urusan domestik berupa setumpuk piring cucian dan sarapan untuk keluarga termasuk buat si kaki-empat Brownies yang sudah merengek, beres. Saluran Euronews saya biarkan mengudara agar bisa tetap mengikuti perkembangan pemilu di Amerika yang sejak semalam berjalan menegangkan. Segelas kopi panas menemani saya ketika membuka laporan-laporan ujian yang sejak kemarin masuk dan belum saya tindaklanjuti. Lima laporan dari satu berkas selesai. Para pelapor telah saya hubungi untuk updating news bahwa masalah mereka sudah clear yang segera saja dibalas dengan ucapan-ucapan terima kasih. Saya mulai melirik berkas berikut Ketika WhatsApp Call berbunyi. Tetangga saya menelpon.

“Ada apa, Bu?” tanya saya setelah memberi salam.

“Apa anak-anak kucing ada di situ, Bu?” Tetangga saya melanjutkan, “Tadi masih main-main sama saya, kok sekarang gak ada ya. Ini Emaknya ngeong-ngeong.”

Kalau saya seekor kelinci, telinga saya pasti langsung tegak. Emak kucing yang dibicarakan di sini namanya Totol karena ada spot-spot hitam di badan putihnya, seperti pola hitam di badan sapi. Si Totol adalah emak kucing yang pandai mengurus anak. Ia rajin membersihkan anak-anaknya, membangunkan mereka kalau sudah tiba waktu menyusu, tidak pernah lama meninggalkan anaknya – selalu segera kembali ke kardus tempat mereka berada, menjaga anak-anaknya dari para pejantan yang mendekat karena tertarik dengan kecantikan Totol. Memang benar bahwa si Totol ini dianugerahi Tuhan gen yang bagus. Ini terlihat dari tubuhnya yang besar, kuat, dan rambutnya yang cemerlang.

Kembali ke telpon tetangga saya yang cemas. “Diumpetin di mana ya, Bu?” Status kucing-kucing di kompleks kami memang unik. Mereka bukan punya saya atau tetangga saya itu, walaupun secara de facto kami yang mengurus mereka. Si Totol, yang sudah 3 kali melahirkan, punya riwayat memindahkan anaknya ke beberapa tempat dan anak-anaknya sering hilang secara misterius. Beberapa hari lalu dia masih di garasi saya lalu tiba-tiba memindahkan anak-anaknya ke garasi rumah tetangga, tanpa ba bi bu. Sejak saat itu urusan pemeliharaan mereka jadi tanggungjawab tetangga saya itu dan dia senang sekali menerima tugas ini.

Akhirnya rencana kerja pagi saya berantakan. Sambil menerobos rintik hujan saya pergi ke rumah sebelah dan merunduk-runduk mencari anak-anak kucing yang baru berumur dua bulan. Semua tempat kami intip, tidak lupa sambil memanggil pus pus pus berulang kali. Emak Totol memperhatikan kami, sama sekali tidak membantu. Malah kemudian dia asik membersihkan badan di teras rumah. Kami curiga dia memindahkan anak-anaknya ke ruang mesin mobil tetangga saya. Ketika ingin dicek, masalah lain muncul karena kap mobil tidak bisa dibuka, mungkin karena sudah lama sekali tidak dijalankan mobilnya. Kami setengah putus asa dan siap menerima kenyataan kehilangan anak-anak Totol lagi. Penasaran, saya mengecek lagi bagian belakang mobil yang mepet dengan dinding garasi, lalu tertarik dengan bayangan hitam di sudut garasi. Di sana bersandar beberapa lempeng kaca bekas, tampak berat, dan sepertinya tidak ada celah tempat empat anak kucing bersembunyi. Tapi bayangan bulu hitam itu samar-samar ada dalam sorotan senter saya. Akhirnya, sambil menyempitkan tubuh, saya beringsut ke pojok garasi dan menggeser lempengan kaca yang berat itu. Eureka! Empat anak kucing berimpit di sana mendongak melihat saya tanpa rasa bersalah!

Awal yang panjang untuk mengatakan bahwa dunia ini adalah alam yang penuh dengan kekacauan-kegaduhan-ketidakseimbangan-tempat di mana peristiwa berloncatan tidak beraturan tetapi entah bagaimana sebenarnya mengikuti hukum-hukum alam yang berlaku. Saat ini kita duduk di atas kursi, di atas tanah yang datar, tak ada goncangan apa pun, padahal jauh di dalam bumi sana bola api besar sedang mendidih, siap menerobos ke atas dan menjungkirkan kursi dan kita di atasnya. Ada masanya Newton mengatakan bahwa bila kita mampu mengetahui kondisi awal dari suatu sistem dan kita mengetahui semua faktor yang memengaruhi sistem tersebut, maka kita dapat memprediksi seluruh masa depan sistem tersebut. Dengan kata lain kita dapat mengetahui apa yang terjadi pada sistem tersebut di masa depan. Dengan kata lain lagi, kita dapat menentukan masa depan kita dengan pasti. Prinsip Newtonian itu dibantah oleh Werner Heisenberg (1927) dengan Prinsip Ketidakpastian (The Uncertainty Principle) yang mengatakan bahwa dalam dunia kuantum, tidak mungkin kita dapat mengetahui posisi dan kecepatan suatu partikel (misalnya elektron) dalam satu waktu. Sederhananya, bila kita tahu posisi suatu partikel, kita tidak tahu kecepatannya. Sebaliknya, bila kita tahu kecepatannya, kita tidak tahu di mana partikel tersebut: mungkin di ruangan bersama kita mungkin pula di Cina. Jika dihubungkan dengan Newton, Heisenberg mengatakan bahwa kita tidak mungkin tahu dengan pasti seperti apa masa depan kita.

Begitulah saya dan rencana indah untuk bekerja lebih awal di hari ini. Siapa yang bisa memprediksi bahwa Totol dan anak-anaknya membawa kekacauan di jadwal saya hari ini? Untunglah saya sudah dibekali pengetahuan Prinsip Heisenberg sehingga cuma bisa mengangguk-angguk melihat rencana yang indah itu berantakan.

Referensi: Trefil & Hazen. 2007. The Sciences. An Integrated Approach 5th ed. John Wiley & Sons, Inc.

My Dear Mrs. Atria

flowerglossary.com/white-flowers/

Though we separate, I always remember your being here to comfort me in difficult situation. Since our training in Utrecht, I knew that I became more and more open to you. But, I think it was when you went to Leiden I comprehended that you were special. Not the kind of “special person” written in a birthday card I bought for you, but special in a way that you are being more neutral than I am now.  By that way, you helped me balancing my emotions (though maybe you were not realized).

It is good to have someone to believe in. For such a person like me who are difficult to express the feeling, having one person like you is enough. I don’t want to have hundred friends, indeed. Because I know I cannot give myself to all of them. I don’t interest in knowing all people, because I know I don’t have time to talk to all of them.

Everyday, at the end of my hectic day, along the way back to home, the feeling that my journey last at end, I find that all people I love and care is my family. And one or two dearest friends willing to share with me. And that’s all enough for me to say Alhamdulillah for Allah The Mighty and The Beneficent.

This afternoon, the rain was falling in my window. How were you there?

Siluet Prambanan

Datang waktu senja menjelang di puncak Prambanan punya sensasi terburu-buru. Jelas terburu-buru karena sebentar lagi situs ini ditutup untuk hari itu. Tapi karena terburu-buru hasilnya jadi puas karena ide-ide menyeruak dengan spontan. Selfie tak perlu banyak, tapi dapat angle yang tidak biasa. Tak terbantahkan siluet Candi Prambanan adalah primadonanya. Ini seperti bayangan yang hadir tanpa perlu banyak penjelasan. Apa yang kau jelaskan dari bayangan? Katakan saja Black-Bold-Beautiful, maka semua akan mengerti.