Hari itu hari Senin yang cerah, tanggal 30 Maret 2026. Pintu depan diketuk. Tetangga yang datang mengabarkan bahwa Coco, kucing kecil kami, tergeletak di jalan. Tidak bergerak. Sambil harap-harap cemas saya mendatangi lokasi dan melihat dia terbaring di pinggir jalan. Saat itulah saya tahu sudah tak ada harapan lagi. Coco tidak merespon sentuhan saya. Tubuhnya masih hangat. Matanya terbuka lebar, tapi dia tidak melihat apapun. Tidak ada darah, bahkan sedikit pun tak ada luka yang terlihat di sekujur badannya. Tidak ada yang melihat apa yang terjadi dengan dia. Saya mengangkat dan membawanya pulang ke rumah. Menyelimuti tubuhnya dengan kain sebelum menguburnya. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Coco baru melewati umur satu tahunnya. Dia kami adopsi dari emaknya yang entah kenapa tidak pandai mengurus anak-anaknya. Emak kucing belang tiga itu sudah berkali-kali punya anak, tapi tidak ada satu pun yang tumbuh besar. Entah tertinggal di suatu tempat atau memang dia tinggalkan. Sering dia terlihat tidak mendatangi anaknya yang ribut memanggil-manggil. Tidak juga menyusui atau memberi makanan buat anaknya. Sunggguh, menghadapi emak belang tiga ini bisa membuat emosi kita naik. Akibatnya, di bulan Maret 2025, kami putuskan untuk memelihara anak si emak kucing belang tiga. Dari tiga anak, hanya si kecil Coco yang masih bertahan.

Boleh dibilang, si kecil Coco selalu berada dekat kami. Karena si emak belang tiga sudah “dibebastugaskan”, maka kami yang harus mengajar Coco menjadi kucing rumah. Bukan hanya urusan toilet, makan pun dia tetap harus diajari. Dari kucing kecil yang ringkih, perlahan Coco tumbuh. Setelah nafsu makannya bagus, perutnya mulai membuncit. Makanan yang paling dia suka ternyata lain sama sekali dengan yang biasa kami berikan untuk kucing kami, Brownie alias Bron. Bron selalu makan ikan tongkol potong atau ayam. Dia sama sekali tidak suka makanan kucing basah, apapun mereknya. Coco malah suka makanan kucing basah (biasanya merek whiskas). Seperti umumnya kucing (hewan nokturnal), Coco lebih banyak tidur siang dan aktif di malam hari. Jadi, makan malam pun harus dibiasakan tidak di jam-jam kami tidur. Ketika tiba bulan Ramadhan, dia pun jadi terbiasa ikut makan sahur. Mungkin dia heran kenapa orang-orang bangun dan makan sebelum matahari terbit.

Kami perhatikan, sejak lahir kulit di kaki dan telinga Coco seperti terkelupas. Saya pikir itu tanda lahir. Ternyata salah besar. Dokter yang memeriksa bilang itu penyakit kulit akibat kurang terkena cahaya. Saya teringat bahwa semula Coco dan emaknya memang kami tempatkan di loteng rumah. Alhamdulillah, setelah diberi obat salep, kulit Coco menjadi baik. Kebiasaan lain Coco yang harus dilatih adalah caranya bermain. Seperti umumnya kucing kecil yang senang bergelut, Coco pun senang menggigit jari tangan dan kaki kami. Sayangnya dia tidak tahu seberapa kuat gigitannya. Dokter sampai mengingatkan kami bahwa kebiasaan Coco menggigit harus dihentikan.

Sehari-hari Coco tetap di dalam rumah, sampai kami merasa dia sudah cukup besar untuk bermain di luar. Salah satu pengalaman pertama dia di luar rumah adalah tercebur ke dalam got karena diserang kucing lain. Pengalaman kedua adalah hilang. Setelah dua hari tidak terlihat, saya menemukan dia di lapak tukang sayur langganan yang terletak di dekat jalan raya. Setelah kejadian hilang itu dia tidak pernah lagi main ke luar kompleks. Bahkan, yang menyedihkan, sampai ketika maut menjemputnya. Kini Coco tidak lagi menemani kami. Yang tinggal hanyalah foto-foto dan videonya, serta kenangan dalam hati. Sebentar saja Allah menitipkan amanah ini, tapi begitu banyak kegembiraan yang telah diberikan pada kami. Begitulah kehidupan dan kematian. Semua akan kembali kepada Allah, Sang Pencipta.

Posted in

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started