• Setelah Ramadhan pergi, Syawal datang. Seperti tahun lalu, masyarakat Indonesia dihadapi oleh perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 H. Ada tiga metode yang digunakan dalam penentuan waktu ini. Metode hisab (perhitungan matematika), rukyat (pengamatan hilal), dan Kalendar Hijriyah Global Tunggal (berbasis pada prinsip ittihād al-mathāli’, yaitu pengamatan hilal secara global). Tiga metode itu menghasilkan penetapan 1 Syawal yang berbeda: tanggal 20 Maret untuk metode tiga dan tanggal 21 untuk metode  satu dan dua. Apapun metodenya, 1 Syawal 1447 H telah tiba.

    Hari pertama bulan Syawal adalah hari yang istimewa bagi umat Islam. Hari itu menjadi hari pemutus puasa Ramadhan. Umat Islam dihadapkan pada pertanyaan apakah puasa Ramadhan telah membawanya pada kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu? Setelah sebulan penuh berpuasa, hari pertama Syawal membawa perbedaan. Tidak ada sahur, tak ada tarawih, hilangnya batasan makan dan minum, dan banyak lagi. Oleh karena itu, tidak hanya mendirikan sholat Ied, mendengarkan khutbah Ied juga penting. Lewat khutbah Ied kita mengevaluasi diri, tidak hanya gegap gempita merayakan hari pertama Syawal.

    Khutbah Ied tahun ini dimulai dengan pertanyaan retoris: apakah kita menang atau hanya merasa menang. Apakah setelah sebulan penuh berpuasa kita sudah bertransformasi atau hanya berganti suasana? Apakah Ramadhan membuat kita bersemangat atau hanya merasa lelah? Apakah di hari pertama Syawal ini kita yakin telah menjadi orang yang disebut dalam Al-Quran

    Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa [QS. Al-Baqarah: 183]

    Era media sosial telah membuka mata ini pada kebaikan, sekaligus keburukan. Kebodohan dipertontonkan dan disukai, sementara kebenaran ditertawakan. Waktu lebih banyak dihabiskan dengan scrolling monitor ketimbang lembaran kitab suci. Malam-malam diisi dengan membuat proposal hibah dan bahan kuliah ketimbang berdiri di atas sajadah. Begitu banyak usaha diberikan untuk mengejar satu rahmat Allah tapi melupakan 99 rahmat Allah yang lain.

    Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Dia tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian ia turunkan ke bumi. [Hadist Riwayat Abu Hurairah r.a.]

    Selama ini saya berpikir bahwa melakukan kebaikan di dunia sama dengan ibadah. Namun, mungkin saya terlalu mudah dan cepat mengambil kesimpulan. Boleh jadi kebaikan dunia itu segera menguap diserap keburukan-keburukan yang saya lakukan. Kebaikan yang bernilai kekal dan tersimpan di akhirat justru terlupakan. Padahal kebaikan itulah yang lebih mumpuni menyelamatkan diri ini dari malapetaka di akhirat.

    Ujian datang selepas Ramadhan. Ramadhan adalah tempat berlatih menahan berbagai hawa nafsu: lapar dahaga, angkara murka, kesombongan dan prasangka. Sebelas bulan berikutnya adalah medan perjuangan yang sesungguhnya. Dan medan ini lebih berat karena kita menghadapinya sendirian. Bagaimana saya dapat melewati ujian ini dengan sukses? Sibukkan dirimu dengan mengerjakan kebaikan, kata Pak Penceramah. Jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan akan disibukkan dengan kebatilan.

    Lebaran telah datang. Ramadhan pergi meninggalkan jiwa yang masih dahaga. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, memberikan berkah amalan Ramadhan kita, memberi kekuatan dan bimbingan selama sebelas bulan mendatang sehinggga kita dapat mengangkat muka dengan sukacita ketika bertemu dengan Ramadhan 1448 H. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

Design a site like this with WordPress.com
Get started