Kenapa Kau Simpan Kemarahanmu, Kawan?

Photo by Agustanhakri

Buku yang baru selesai saya baca ternyata tentang kemarahan. Padahal judulnya Pencuri dan Anjing-Anjing. Sama sekali tidak mencerminkan isinya. Buku ini karangan Naguib Mahfouz. Saya jarang membaca buku-buku karya penulis Timur Tengah, kalau boleh dikatakan belum pernah. Seingat saya, cuma dua buku yaitu Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Balthasar’s Odyssey karya Amin Maalouf. Dua-duanya buku yang bagus: yang pertama bicara tentang kemanusiaan, yang kedua tentang ketuhanan. Buku ketiga, yang baru selesai saya baca, bicara tentang kemarahan seorang manusia yang menuntut Tuhannya atas hidupnya yang hancur akibat pengkhianatan orang-orang di dekatnya. Padahal Tuhan telah menuntunnya pada seorang saleh, yang tidak lain tidak bukan adalah guru ayahnya. Ketika seluruh dunia berpaling darinya, guru yang saleh itu tidak. Namun, kemarahan telah memenuhi hati dan pikirannya sehingga ia terus membawa dendamnya, terperosok dalam sumur kegelapan yang tidak berdasar.

Setiap orang boleh marah karena marah sesungguhnya adalah fitrah, sesuatu yang dititipkan pada diri manusia oleh Tuhan. Saya pernah dengar teori tentang Anger Management, mengendalikan amarah. Katanya (siapa pun nya yang di sana), salah dua kiat mengendalikan amarah adalah “pikir-pikir dulu sebelum berbicara” atau “menjauh dari hal-hal yang membuatmu marah”. Ada juga nasihat lain, seperti take a deep breath dan look at the good side. Sebagai muslim, saya diajarkan untuk mengambil wudhu bila kemarahan mulai memenuhi hati dan pikiran. Setiap orang boleh pilih strategi mana yang tepat untuk mengontrol kemarahannya.

Boleh dibilang, saya baru saja berhasil mengatasi “kemarahan” yang lama tersimpan dalam hati. Itu bukan kemarahan yang kita lihat di sinetron saat tokoh antagonis berteriak-teriak dengan mata melotot, menanggalkan semua keindahan di wajah cantik atau ganteng pemerannya. Itu adalah jenis kemarahan yang membuat saya bertanya-tanya mengapa ada orang yang dapat membuat saya merasa jadi penjahat padahal saya tidak melakukan kejahatan apapun.

Saya cuma gak suka kamu, itu saja. Dan saya punya alasan yang benar mengapa tidak suka kamu.

Tapi konsekuensi dari rasa tidak suka itu ternyata di luar dugaan saya. Bahkan saya sampai “diterawang” oleh seorang teman indigo cuma untuk meyakinkan bahwa saya masih waras berniat jadi penjahat. Akhir cerita, ternyata kita memang harus ikhlas, harus bisa legowo, supaya hati tenang. Bagaimana caranya? Ada yang berbisik begini di telinga saya: “Hati manusia ada penjaganya. Maka, minta kepada Sang Penjaga Hati agar hatimu dilembutkan. Supaya bisa mendoakan orang yang membuat hati kita susah.” Want to try? It worked for me. Thank Allah.