
Kasus rasuah yang terakhir mengingatkan saya pada salah satu cerita pendek Leo Tolstoy “Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang?” Tolstoy menjawab pertanyaan itu dengan menghadirkan Pakhom, seseorang yang mendapat bisikan setan untuk memiliki banyak tanah sebagai pembalasan dendam pada hidupnya yang kekurangan. Maka, Pakhom bercita-cita untuk memiliki tanah yang banyak bila ia kaya. Lalu, ia kaya dan mulailah ia mewujudkan cita-citanya membeli tanah di mana-mana. Petualangannya membeli tanah membawa ia ke tempat orang-orang Bashkir yang diberi karunia Tuhan tanah subur berbukit-bukit. Orang-orang Bashkir menjual tanahnya kepada siapa pun dengan murah hati, termasuk kepada Pakhom. Pakhom menyerahkan sejumlah uang kepada orang-orang Bashkir. Perjanjiannya adalah sang pembeli meletakkan patok pertama untuk menandakan titik awal tanah sebelum berjalan sejauh yang mereka inginkan sambil meletakkan patok-patok berikut, membuat suatu garis keliling yang berakhir di patok awal. Seluas keliling yang dapat mereka buat, seluas itulah lahan orang-orang Bashkir yang menjadi milik pembeli. Perjanjian yang kedua adalah pembeli hanya mendapat waktu mengukur tanah mulai dari matahari terbit sampai dengan terbenam. Pakhom menyanggupi semua perjanjian itu. Suatu harga yang murah untuk tanah subur dan tidak terbatas seperti ini! Pakhom tidak habis pikir dengan keberuntungannya. Tentu saja, Pakhom berhasil berjalan jauh dan menancapkan patok-patok. Pertanyaannya adalah apakah ia dapat kembali ke patok pertamanya sebelum matahari terbenam?
Cerita Pakhom adalah cerita kita sehari-hari. Cerita tentang keinginan dan impian manusia untuk menjalani “hidup yang lebih baik”. Banyak yang berusaha mati-matian untuk “hidup lebih baik”. Kriteria “hidup lebih baik” ini spektrumnya sangat luas. Setiap orang punya pengalaman masing-masing yang akan membentuk apa yang “lebih baik” untuk mereka. Memiliki keingingan untuk menjadi lebih baik adalah bagian dari nafsu, sifat yang dilekatkan Allah pada makhlukNya (fitrah). Namun, karena nafsu selalu cenderung pada keburukan, maka kita harus selalu meminta rahmat Allah agar nafsu itu tidak melampaui batas.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 12:53).
Saya sendiri pasti punya karakter Pakhom. Mungkin ujian saya bukan tanah, tapi sesuatu yang lain yang masih bersifat materi, status sosial, atau jangan-jangan, meniru istilah Cak Nun, kesombongan intelektual. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat buat saya bila suatu hari saya tergoda untuk menjadi pengikut Pakhom.
