Happy 1st Birthday, Brownie

Sebenarnya enggak tahu persis kapan Brownie keluar dari perut emaknya, si Totol. Yang jelas waktu kami persilahkan Totol memboyong anak-anaknya ke dalam rumah, bulan sudah ada di posisi Maret. Sampai hari ini, hanya Brownie yang bertahan. Ketiga saudaranya terkena seleksi alam.

Awalnya tidak ada rencana Brownie akan jadi kucing rumahan. Tapi, setelah saudaranya tidak selamat dari serangan virus, akhirnya kami mengeluarkan green card. Brownie disediakan tempat di dalam rumah dan, tentu saja, dalam hati kami. Sebagai balasan, dia cuma memberikan kami satu saja: kebahagiaan.

Selamat menempuh setahun kebersamaan bersama kami, Bro. Semoga Allah memberi kamu kesehatan dan kegembiraan. Biarpun sekarang gigitanmu setajam harimau dan suaramu seperti auman macan, tingkahmu masih seperti kucing kecil yang menggemaskan.

Klasifikasi Alami dan Tidak Alami

Malam ini saya tengah menyegarkan pengetahuan tentang klasifikasi makhluk hidup ketika tiba-tiba teringat sebuah tanya jawab yang terjadi puluhan tahun yang lalu pada acara ujian sidang mahasiswa. “Apa beda klasifikasi yang alami dan buatan?” tanya saya. “Tidak ada klasifikasi yang alami, Bu. Semuanya kan buatan manusia.” Jawab mahasiswa yang sedang diuji itu.

Jawaban mahasiswa itu cukup mengagetkan mengingat salah satu tugas yang harus dikerjakan untuk proyek skripsinya adalah melakukan pengelompokan tanaman. Akhirnya, jadilah saya menjelaskan kembali duduk perkaranya lewat contoh yang menurut saya sederhana. Anggaplah kita mengelompokkan tumbuhan menjadi sayur-sayuran dan buah-buahan. Otomatis, kita akan memisahkan daun pepaya (sayur) dengan buah pepaya (buah). Padahal kita tahu bahwa daun pepaya dan buah pepaya seharusnya tidak dipisahkan karena keduanya berasal dari satu pohon (satu tanaman). Contoh lain, misalnya, kita membuat kelompok hewan ternak. Kita akan memasukkan ayam, kambing, ikan mas, ke dalam kelompok itu karena semuanya adalah hewan-hewan yang diternakkan manusia. Sejatinya, di alam, tidak pernah kita temukan ayam dan ikan mas berbagi tempat tinggal. Demikian juga kambing dengan ikan mas atau kambing dengan ayam. Penampilan mereka pun berbeda jauh. Belum lagi cara mereka kawin. Banyak sekali perbedaan-perbedaan di alam yang memisahkan ketiga hewan itu satu sama lain. Jadi, kelompok sayur-sayuran, buah-buahan, atau hewan ternak adalah pengelompokan tidak alami atau disebut juga pengelompokan buatan (artificial classification).

Bagaimana dengan pengelompokan yang alami? Makhluk hidup itu punya ciri khas yang membedakan satu dengan yang lain. Ciri khas itu disebut karakter. Kita dapat mencoba mengumpulkan banyak karakter dan memakai sekumpulan karakter itu sebagai pembeda. Misalnya kita punya kucing dan mencoba mencari makhluk mana yang mirip-mirip kucing. Maka kita akan mencari hewan yang punya raut muka seperti kucing (telinga runcing, hidung segitiga, wajah lancip), punya gigi dan cakar, punya ekor, berjalan seperti seekor kucing (merunduk, mengendap-endap), bertabiat dan kawin seperti kucing. HOLA! Kita akan menemukan harimau, macan, singa, lynx, dan cheetah. Itulah keluarga kucing atau nama susahnya Felicidae. Inilah pengelompokan yang alami (natural classification).

Dunia yang Kacau (A Chaotic World)

Pagi ini saya siap memulai kerja lebih awal. Urusan domestik berupa setumpuk piring cucian dan sarapan untuk keluarga termasuk buat si kaki-empat Brownies yang sudah merengek, beres. Saluran Euronews saya biarkan mengudara agar bisa tetap mengikuti perkembangan pemilu di Amerika yang sejak semalam berjalan menegangkan. Segelas kopi panas menemani saya ketika membuka laporan-laporan ujian yang sejak kemarin masuk dan belum saya tindaklanjuti. Lima laporan dari satu berkas selesai. Para pelapor telah saya hubungi untuk updating news bahwa masalah mereka sudah clear yang segera saja dibalas dengan ucapan-ucapan terima kasih. Saya mulai melirik berkas berikut Ketika WhatsApp Call berbunyi. Tetangga saya menelpon.

“Ada apa, Bu?” tanya saya setelah memberi salam.

“Apa anak-anak kucing ada di situ, Bu?” Tetangga saya melanjutkan, “Tadi masih main-main sama saya, kok sekarang gak ada ya. Ini Emaknya ngeong-ngeong.”

Kalau saya seekor kelinci, telinga saya pasti langsung tegak. Emak kucing yang dibicarakan di sini namanya Totol karena ada spot-spot hitam di badan putihnya, seperti pola hitam di badan sapi. Si Totol adalah emak kucing yang pandai mengurus anak. Ia rajin membersihkan anak-anaknya, membangunkan mereka kalau sudah tiba waktu menyusu, tidak pernah lama meninggalkan anaknya – selalu segera kembali ke kardus tempat mereka berada, menjaga anak-anaknya dari para pejantan yang mendekat karena tertarik dengan kecantikan Totol. Memang benar bahwa si Totol ini dianugerahi Tuhan gen yang bagus. Ini terlihat dari tubuhnya yang besar, kuat, dan rambutnya yang cemerlang.

Kembali ke telpon tetangga saya yang cemas. “Diumpetin di mana ya, Bu?” Status kucing-kucing di kompleks kami memang unik. Mereka bukan punya saya atau tetangga saya itu, walaupun secara de facto kami yang mengurus mereka. Si Totol, yang sudah 3 kali melahirkan, punya riwayat memindahkan anaknya ke beberapa tempat dan anak-anaknya sering hilang secara misterius. Beberapa hari lalu dia masih di garasi saya lalu tiba-tiba memindahkan anak-anaknya ke garasi rumah tetangga, tanpa ba bi bu. Sejak saat itu urusan pemeliharaan mereka jadi tanggungjawab tetangga saya itu dan dia senang sekali menerima tugas ini.

Akhirnya rencana kerja pagi saya berantakan. Sambil menerobos rintik hujan saya pergi ke rumah sebelah dan merunduk-runduk mencari anak-anak kucing yang baru berumur dua bulan. Semua tempat kami intip, tidak lupa sambil memanggil pus pus pus berulang kali. Emak Totol memperhatikan kami, sama sekali tidak membantu. Malah kemudian dia asik membersihkan badan di teras rumah. Kami curiga dia memindahkan anak-anaknya ke ruang mesin mobil tetangga saya. Ketika ingin dicek, masalah lain muncul karena kap mobil tidak bisa dibuka, mungkin karena sudah lama sekali tidak dijalankan mobilnya. Kami setengah putus asa dan siap menerima kenyataan kehilangan anak-anak Totol lagi. Penasaran, saya mengecek lagi bagian belakang mobil yang mepet dengan dinding garasi, lalu tertarik dengan bayangan hitam di sudut garasi. Di sana bersandar beberapa lempeng kaca bekas, tampak berat, dan sepertinya tidak ada celah tempat empat anak kucing bersembunyi. Tapi bayangan bulu hitam itu samar-samar ada dalam sorotan senter saya. Akhirnya, sambil menyempitkan tubuh, saya beringsut ke pojok garasi dan menggeser lempengan kaca yang berat itu. Eureka! Empat anak kucing berimpit di sana mendongak melihat saya tanpa rasa bersalah!

Awal yang panjang untuk mengatakan bahwa dunia ini adalah alam yang penuh dengan kekacauan-kegaduhan-ketidakseimbangan-tempat di mana peristiwa berloncatan tidak beraturan tetapi entah bagaimana sebenarnya mengikuti hukum-hukum alam yang berlaku. Saat ini kita duduk di atas kursi, di atas tanah yang datar, tak ada goncangan apa pun, padahal jauh di dalam bumi sana bola api besar sedang mendidih, siap menerobos ke atas dan menjungkirkan kursi dan kita di atasnya. Ada masanya Newton mengatakan bahwa bila kita mampu mengetahui kondisi awal dari suatu sistem dan kita mengetahui semua faktor yang memengaruhi sistem tersebut, maka kita dapat memprediksi seluruh masa depan sistem tersebut. Dengan kata lain kita dapat mengetahui apa yang terjadi pada sistem tersebut di masa depan. Dengan kata lain lagi, kita dapat menentukan masa depan kita dengan pasti. Prinsip Newtonian itu dibantah oleh Werner Heisenberg (1927) dengan Prinsip Ketidakpastian (The Uncertainty Principle) yang mengatakan bahwa dalam dunia kuantum, tidak mungkin kita dapat mengetahui posisi dan kecepatan suatu partikel (misalnya elektron) dalam satu waktu. Sederhananya, bila kita tahu posisi suatu partikel, kita tidak tahu kecepatannya. Sebaliknya, bila kita tahu kecepatannya, kita tidak tahu di mana partikel tersebut: mungkin di ruangan bersama kita mungkin pula di Cina. Jika dihubungkan dengan Newton, Heisenberg mengatakan bahwa kita tidak mungkin tahu dengan pasti seperti apa masa depan kita.

Begitulah saya dan rencana indah untuk bekerja lebih awal di hari ini. Siapa yang bisa memprediksi bahwa Totol dan anak-anaknya membawa kekacauan di jadwal saya hari ini? Untunglah saya sudah dibekali pengetahuan Prinsip Heisenberg sehingga cuma bisa mengangguk-angguk melihat rencana yang indah itu berantakan.

Referensi: Trefil & Hazen. 2007. The Sciences. An Integrated Approach 5th ed. John Wiley & Sons, Inc.