
“Setiap yang bernyawa pasti mengalami mati” (QS Ali Imran:185)
Tidak mudah bicara soal kematian. Bukan bicara sekedar bicara, tetapi lebih dari itu, memaknainya. Seperti hal-hal lain, kematian juga ada ilmunya. Bukan hanya ilmu agama, bagi mereka yang meyakini. Kematian juga dipahami sebagai fenomena alam sehingga menjadi bagian dari sains. Sejak kita dilahirkan, kematian sudah melekat dalam diri kita. Bersinggungan, tapi tidak selalu dirasakan kehadirannya. Terkadang, tanpa disadari, mungkin kita pernah menolaknya. Ucapan “Forever Young”, “Long Live the King”, “Semoga Panjang Umur”, mengandung harapan bagi kehidupan yang tak berujung. Harapan yang mendasari usaha-usaha penemuan sains dan teknologi agar sel dapat terus muda dan dengan begitu dapat terus hidup atau imortal.
Sewaktu muda saya tidak begitu dalam memikirkan kematian. Namun, seiring waktu, kesan-kesan terhadap kematian semakin mendalam. Saya pikir ini bukan masalah usia, bahwa orang muda tidak acuh dan orang tua pasti banyak memikirkan mati. Ada hal lain yang bukan faktor usia yang menentukan seseorang memiliki kesan terhadap kematian. Saya tidak ingat kapan dan apa pemicunya, tapi ada satu periode dalam kehidupan saya ketika muncul pemikiran bahwa bila saya berangkat tidur maka saya tidak akan bangun lagi. Momen itu masih saya ingat karena setelahnya saya mulai membaca buku-buku tentang “kematian”, baik itu buku serius atau fiksi. Kisah-kisah Near Death Experience (NDE), The Lovely Bones, Sing,Unburied,Sing, Death on Earth, dan yang terbaru Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme.
Ketakutan terhadap kematian, menurut saya, bukan karena tidak ikhlas pada ketentuan yang Allah tetapkan. Tetapi, pada dasarnya, sama dengan perasaan takut atau khawatir terhadap hal-hal yang tidak kita ketahui. Dalam kehidupan seringkali kita punya prasangka buruk terhadap sesuatu hanya karena kita tidak tahu hal tersebut. Orang tua takut anaknya pergi jauh karena tidak ada pengetahuan tentang tempat yang jauh itu. Seorang murid takut menjawab pertanyaan guru karena tidak ada pengetahuan tentang apa yang ditanyakan. Seseorang punya prasangka buruk terhadap orang yang berbeda agama-suku-ras karena dia tidak mengenalnya. Bila kita mencoba mencari tahu hal-hal yang kita takuti, boleh jadi ketakutan itu menjadi berkurang.
Kematian pun, dengan demikian, harusnya menjadi sesuatu yang digauli, bukan dijauhi apalagi ditakuti. Seperti kutipan tulisan Prof. Toeti Heraty Rooseno dalam Dialog dengan Kematian : “Menghadapi kematian dengan harapan untuk tidur tenang, dan lebur tanpa mimpi dengan ikhlas, sesudah mensyukuri dalam-dalam hidup yang sangat indah ini.”
Bacaan:
Howard J. 2016. Death on Earth: Adventures in Evolution and Mortality. Bloomsbury Publishing, London: 288 hlm.
Noerhadi-Roosseno TH & IG Roosseno. 2022. Dialog dengan Kematian dan Kehidupan Mikroorganisme. PT Kompas Media Nusantara, Jakarta: xviii+174 hlm.
Sebold A. 2002. The Lovely Bones. PT Gramedia Penerbit Utama, Jakarta: 440 hlm. [Terj.]
Ward J. 2017. Sing, Unburied, Sing. Penerbit Qanita, Bandung: 302 hlm. [Terj]
