Keseruan Satu Hari

Sesekali bertindak impulsif sangat baik. Ikuti saja kata hatimu. Dengarkan keinginanmu untuk sesekali lepas dari keseharian. Jangan banyak menimbang: TO BE OR NOT TO BE, SHOULD I OR SHOULD’T, IS IT WISE OR NOT. Tinggalkan semua pemikiran itu dan bergembiralah. Itu yang terjadi di satu hari ini. Awan tebal menutup matahari membuat pagi jadi mendung dan hati diliputi was-was. Tapi, begitulah. Tak ada yang dapat menghalangi tekat bulat untuk menikmati alam Kebun Raya Bogor.

Entah, kapan terakhir kali berkunjung di kebun yang penuh nostalgia ini. Memang penuh nostalgia karena sebagai seorang anak, saya sudah diajak “main” ke sana oleh Bapak Ibu. Sewaktu jadi mahasiswa biologi, kebun ini seperti laboratorium outdoor, tempat pengamatan berbagai flora fauna. Karena itu, buat saya, banyak kenangan indah tersimpan dalam lanskap kebun raya yang secara umum tidak banyak berubah.

Kali ini yang menjadi pengamatan saya adalah liken, atau sering dikenal dengan nama lumut kerak. Bayangkan dalam satu pohon pandan, begitu banyak jenis lumut kerak hidup di batangnya. Aneka bentuk, warna, kepadatan, semua terpampang di sana. Lumut kerak memang sering luput dari pengamatan karena ukurannya yang kecil. Namun, sekali kita mengenalnya, pasti akan terpesona.

Satu perubahan yang penting buat para penggemar kopi adalah dibukanya beberapa kedai kopi di dalam kebun raya. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Secret Garden Cafe. Nuansa lapang dan segar langsung terasa begitu kita masuk ke dalamnya. Beberapa lukisan tanaman bergaya seni menghias dinding kafe yang berwarna putih. Saya bersyukur dapat menikmati pagi yang sejuk ditemani secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng. Satu hari yang penuh kebahagiaan sudah cukup sebagai amunisi menghadapi pekerjaan rutin di hari esok.

Secret Garden Cafe

Jangan lupa ajak teman-teman. Jalan-jalan di Kebun Raya Bogor tanpa teman kurang menggigit. Have FUN!!

Chrisye – Konser 7 Ruang

Konser Chrisye yang digagas Konser 7 Ruang-DSS-Baznas-ILUNI UI sudah berakhir. Sesuai nama konsernya, semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu Chrisye. Penyanyi favorit saya, selain Vina Panduwinata. Setiap ada momen mendengarkan lagu bareng pasti akan ada yang komentar, “Penyanyi jaman kita emang TOP, lagunya bagus-bagus.” Terkadang ada yang menambahkan dengan komentar miring bahwa lagu jaman sekarang tidak “jelas”. Sebenarnya wajar saja komentar itu karena di balik sebuah lagu ada berbagai kenangan yang menyertai. Jaman SD, lagu saya mengikuti alunan irama Bapak yang suka menyetel lagu-lagu kenangan dan Perjuangan. Masa SMP saya lekat dengan lagu-lagu Vina dan Beatles, sedangkan Chrisye baru muncul waktu saya SMA, bersama dengan KLA-Project. Setelah kerja, pilihan saya lebih beragam termasuk lagu-lagu asing dari barat maupun Jepang yang memang baru terasa akrab di telinga. Lagu-lagu sekarang bagi saya biasa saja. Bukan dengan maksud merendahkan, tapi karena memang tidak terhubung dengan suasana batin saya. Saya yakin ini dirasakan juga oleh banyak orang. Karena itu generasi 70-80 akan akrab dengan lagu-lagu masa itu, beda dengan generasi 90-2000. Tentu saja lagu-lagu Evergreen yang abadi dan lintas generasi pasti ada dan saya yakin Chrisye salah satunya.

Konser ini punya maksud mulia, yaitu penggalangan dana untuk membantu rakyat Indonesia yang memerlukan. Alhamdulillah, banyak yang mendukung niat mulia ini. Yang menyumbang ternyata disebut nama dan jumlah sumbangan, jadi ketahuanlah angka-angka yang fantastis: 5, 8, 10, 25, bahkan 50 juta! Angka-angka unik juga muncul, misal yang mencerminkan Angkatan, atau yang hanya diketahui si penyumpang (Rp. 8.888.888). Pasti dia sangat senang angka 8. Buat mereka yang ada di luar negeri dan ingin menyumbang, panitia menggunakan aplikasi Pay Pal. Tercatat angka-angka 50 Euro, $100 dan $500. Berapa pun angkanya, saya merasa gembira sekaligus terharu dengan para partisipan dari dalam dan luar negeri. Memang sih, ada komentar penonton yang mengganggu saya, seperti “Kok dapatnya cuma ratusan juta? Bandingkan dengan alumni PTN anu dan anu yang dapatnya sekian milyar.” Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang masuk kategori evaluasi kerja panitia. Huaduhh. Bila panitia kecewa dengan jumlah sumbangan wajar saja, kan mereka punya target. Bila para penyanyi dan pendukung acara kecewa saya pun masih merasa wajar karena (mungkin) mereka ingin menginspirasi banyak orang untuk menyumbang. Tapi, kalau penonton kecewa dengan hasil sumbangan …. saya kok berpikir tidak sepantasnya memiliki rasa itu. Terlebih bila sepeser pun uang tidak kamu cemplungkan dalam kotak sumbangan.

Konser seperti ini sekaligus menjadi ajang reuni dadakan. Banyak hati yang senang karena bisa bertukar sapa dengan teman-teman lama. Kenangan manis menjelma menjadi semangat yang positif dalam diri, menular dari satu individu ke individu lain, berharap bisa berhimpun ke aksi-aksi lain yang bermanfaat bagi sesama. Sesederhana itu saya ingin berpikir dan merasa terhadap kegiatan-kegiatan positif yang terjadi di sekitar.

Akhirnya, mari kita berdoa, “Semoga, berapa pun dana yang terkumpul, bisa dimanfaatkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang dilanda musibah di seantero negeri.” Aamiin Ya Robb.

My Dear Mrs. Atria

flowerglossary.com/white-flowers/

Though we separate, I always remember your being here to comfort me in difficult situation. Since our training in Utrecht, I knew that I became more and more open to you. But, I think it was when you went to Leiden I comprehended that you were special. Not the kind of “special person” written in a birthday card I bought for you, but special in a way that you are being more neutral than I am now.  By that way, you helped me balancing my emotions (though maybe you were not realized).

It is good to have someone to believe in. For such a person like me who are difficult to express the feeling, having one person like you is enough. I don’t want to have hundred friends, indeed. Because I know I cannot give myself to all of them. I don’t interest in knowing all people, because I know I don’t have time to talk to all of them.

Everyday, at the end of my hectic day, along the way back to home, the feeling that my journey last at end, I find that all people I love and care is my family. And one or two dearest friends willing to share with me. And that’s all enough for me to say Alhamdulillah for Allah The Mighty and The Beneficent.

This afternoon, the rain was falling in my window. How were you there?