
Kabar itu datang di pagi hari, di penghujung November 2020. “Mr. C kritis, mohon doa Bapak Ibu.” Rasanya hati mencelos mendengar itu. Mr. C adalah kawan lama, beberapa kali bekerja sama, kalau bertemu selalu berbagi cerita dan pikiran, tentang kehidupan. Saat mendengar kabar itu tak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa. Entah sudah berapa kali mendengar seseorang terinfeksi Covid-19, tak terhitung lagi dengan akal pikiran, tetapi betapa berbeda ketika orang itu adalah orang yang sangat kita kenal, atau bahkan orang yang sangat kita cintai. Cukup satu orang saja seperti itu untuk menandakan bahwa medan perang kini berada di depan matamu.
Sebelum kabar itu datang, di media sosial sedang ada kericuhan tentang kerumunan masyarakat yang antusias dengan kedatangan HRS. Pro kontra tentang kerumunan itu merebak dan semakin lama semakin memanas. Setelah sembilan bulan berlalu sejak munculnya covid-19 di bumi, ada kerumunan bukan sesuatu yang luar biasa. Sudah lama di sana-sini orang kumpul-kumpul tanpa urgensi. Kalaupun digerebek dan diberi sanksi, orang-orang yang dengan sukarela berkumpul tidak sanggup menahan diri untuk mengulangi lagi. Apalagi jika kumpul-kumpul itu dalam rangka kebaikan, misalnya silaturahmi. Orang-orang ini tidak lagi memikirkan Covid-19 sehingga tidak nyambung dengan kekhawatiran orang lain. Orang-orang ini juga tidak dapat diajak berpikir panjang: apa yang terjadi bila saya terinfeksi; apa yang terjadi bila saya terinfeksi dan menulari orang lain; apa yang terjadi bila saya terinfeksi lalu mati; andai orang yang saya tulari mati sedangkan saya hidup, apa yang terjadi? Evaluasi diri seperti ini terlalu rumit buat mereka. Ditambah lagi mereka meyakini bahwa mati hidup seseorang itu sudah ada waktu dan jalannya. Tidak masalah apakah itu kematiannya atau kematian orang lain.
Manusia tidak punya kesabaran seperti virus yang bersabar dalam jutaan tahun evolusinya menunggu keberhasilan bersatu dengan manusia. Dalam umurnya yang pendek, manusia punya banyak keinginan sehingga kesabaran seringkali dicampakkan. Manusia sudah dibekali mata hati dan akal untuk memandang dirinya sebagai orang lain dan orang lain sebagai dirinya. Bila ia menjaga dirinya artinya ia menjaga orang lain. Sebaliknya, bila ia menjaga orang lain sama dengan menjaga dirinya sendiri. Dalam perang melawan covid-19, kesabaran, mata hati, dan akal adalah senjata yang ampuh. Sayangnya, lagi-lagi, manusia tidak sanggup bersabar, tidak membuka mata hati, dan kehilangan akal. Bersabar itu bukan pasrah tidak melakukan apa-apa. Bersabar itu justru melakukan hal yang terbaik dengan membuka mata hati dan akal. Kita tidak maju ke medan perang cuma berbekal doa, tanpa mengasah keahlian dan pedang kita. Bila kita menemui ajal setelah menyiapkan semua itu, artinya kita telah bertemu dengan takdir kita.
Malam ini Mr. C telah memenuhi takdirnya. Beliau tidak berada dalam kerumunan manapun. Beliau bertemu takdirnya di jalan yang berbeda. Meninggalkan kami yang merenungi jalan beliau sembari membisikkan doa Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu, aamiin Yaa Robb.
4 Desember 2020
