Through the Open Door

A brief conversation woke me up into my being as the head of Graduate Study Program. After four years of service, I returned to my regular position: a lecturer. While moving out my things from the head office, our assistant said abruptly, “It’s not the same now without your presence.”  I thought he was overthinking. There would not be any differences with my replacement. But then he continued that he would no longer hear my tapping shoes and the smell of the coffee I brew every morning. I could not hold my smile. What he said is true.

That little talk made me think back to the time when I was in the office. On my very first day working as the head of study program, I realized the significant addition of my contact names in my cellular phone. Usually, I am selective in saving the names of my acquaintances. This is not because I am exclusive. It is simply because the memory capacity of my phone is limited. Furthermore, I never expected to send messages to every single student whose name was listed in my contact at least once during their period of study. Looking back at my time in office, I wondered. During those days, I might have become a different person to accomplish the various tasks given.

I learned many things when I was in charge. Working in structural positions means constraints in terms of time and choice. Many things must be resolved in a short time with few options. It took me a while to understand the pattern when problems arose. For example, the time when students pick up courses or during the peak of students’ exams. Over time, I also learned that I could not hold a call or prompt message. All must be answered. The greatest pressure I face is that I cannot change the rhythm. The beat, pace, and tempo of academic work were steady, following the one and only direction. The boredom of routine can stifle creativity and freedom, ultimately killing your passion for life.

I do not say that there is no advantage in becoming a person in charge in an office. I had chance to build a wide network, meet important people, and even take side jobs offered by new acquaintances. People would know you and serve you. In short, you will be overwhelmed by the attention and privilege given to you. However, what kind of life do I want to live? The question keeps repeating in my mind.

George Lucas said, “We are all living in cages with the door wide open.”

I think I will take the opportunity now to go through that open door.

Hujan Sore Ini

Kutitip marahku pada hujan sore ini
Yang turun rintik membasahi jalan
Biar luruh terserap tanah
Yang selalu berbaik sangka
Pada apa yang jatuh di atasnya

Kutitip cintaku pada hujan sore ini
Yang deras mengalir di sela batuan
Biar terbawa ke ujung bumi
Yang tak bertepi
Tuk kembali memelukku

Kutitip rinduku pada hujan sore ini
Yang menari bersama angin
Biar tersimpan di tiap butir debu
Yang mengawang di udara
Abadi selamanya

Biarkan hujan sore ini
Menghapus marahku
Menyebar cintaku
Memelihara rinduku
Melahirkan kembali tawaku yang dulu

Depok, 10 November 2023 

Tulisan Pertama 2024

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2024 di blog ini. Rupanya WordPress mengirim ucapan selamat dan review karena saya telah lima tahun bergabung dengannya. Saya jadi terkenang lagi hal-hal yang menyebabkan saya mengaktifkan blog ini dan bagaimana kemudian berkenalan dengan teman-teman di Komunitas Ikatan Kata. Setiap peristiwa ada masanya dan sebaliknya masa memiliki peristiwanya.

Di tahun 2023 saya mulai aktif lagi di FB. Aktif yang saya maksud tidak berhubungan dengan disiplin menulis, tapi lebih mencoba untuk berbagi momen-momen tertentu di keseharian saya, baik sebagai dosen maupun sebagai pribadi. Kali ini saya lebih terpacu untuk berbagi tentang pekerjaan saya sebagai peneliti alga, bidang yang sudah saya geluti selama lebih dari 20 tahun.

Dua tahun ini saya punya beberapa kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman-teman dari dalam dan luar negeri. Dalam kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai peneliti alga, hal ini sangat menggembirakan. Saya gembira bisa terhubung dengan teman-teman yang punya passion sama, saling terbuka dan memberi dukungan, serta berkompetitif dengan positif. Yang pasti, lewat kolaborasi itu hubungan silaturahmi menjadi terjaga.

Saya juga senang dengan antusiasme mahasiswa yang ingin belajar alga. Masing-masing berusaha mencapai impian. Ada yang seperti burung di udara-meluncur cepat. Ada yang seperti kelinci melompat ke sana ke mari sambil mencoba tetap di dalam pagar. Ada juga yang timbul tenggelam seperti lumba-lumba dalam air. Begitulah setiap kita berusaha. Insyaa Allah kelak akan bertemu juga dengan hari kemenangan, saat toga dipasang di atas kepala dan hati ditundukkan.

Sport Jantung Persiapan Keberangkatan ke Amerika

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, sehari menjelang keberangkatan ke Amerika perasaan justru lebih tenang. Persiapan mengikuti Workshop Alga di Mountain Research Station (MRS) Colorado dimulai waktu Prof. Patrick Kocielek mengumumkan kepastian saya sebagai peserta. Hal yang pertama disiapkan adalah pembuatan Dokumen DS-2019 agar kami dapat mengurus visa J1 di Kedubes Amerika. Visa J1 adalah kategori visa untuk student exchange and scholar. Mengurusnya lumayan rumit karena tidak hanya mengisi formulir DS-2019 saya juga harus membuat akun di portal MyISSS. Ini portal tempat pelaporan segala kegiatan pemegang visa J1, antara lain melapor kedatangan saat tiba di Amerika. Entah kenapa username dan password saya gagal dikenali oleh sistem portal sehingga saya harus menghubungi bagian IT universitas. Ini membuat adrenalin naik turun.

Pertama, saya harus membuat janji temu dengan petugas secara online (karena tidak mungkin bertemu langsung, kan?). Kedua, perbedaan waktu Depok, Indonesia, dengan Boulder, Colorado, hampir 12 jam. Artinya, di sini siang di sana malam. Setelah 2-3 kali gagal komunikasi, akhirnya saya bisa online meeting dengan petugas dan dibantu membereskan akun. Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata belum. Akun dan password memang dikenali, tapi alih-alih masuk ke beranda portal saya malah diminta lagi untuk mendaftarkan akun. Benar-benar membuat makan hati. Akhirnya, terpaksa harus lapor lagi sambil menunjukkan screenshot bukti gagal masuk. Kali ini yang membereskan masalah bukan IT universitas melainkan IT dr portal MyISSS. Akhirnya done!

Lanjut lagi ke pembuatan visa, kali ini masalah datang dari pendaftaran online visa. Pak Rasyid, agen jasa pembuatan visa, tidak mendaftarkan saya untuk visa J1, tetapi visa B1/B2 alias visa bisnis. Alasannya, saat mengisi formulir tidak ada kategori untuk student exchange selama 2 minggu seperti workshop yang akan saya ikuti. Periode student exchange minimal 3 bulan. Ditambah antrian wawancara yang panjang, kami didaftarkan ke wawancara darurat. Benar-benar darurat karena tinggal 10 hari sebelum hari H. Situasinya adalah karena formulir untuk aplikasi visa bisnis bukan DS-2019, tapi DS-160. Ditambah dengan bunyi surat undangan yang tidak sesuai, komplit sudah permasalahannya. Akhirnya saya menghubungi Stephanie dari International Office Colorado University. Dia menekankan bahwa surat undangan dari Fakultas harus disesuaikan dengan aplikasi visa bisnis. Alhamdulillah, respon dari Patrick cepat sehingga saya dibuatkan surat yang baru. Berbekal surat itu akhirnya visa saya lolos. Yeayy!!

Kejelasan hari keberangkatan diperoleh ketika tiket berhasil dipesan. Ini juga banyak kejutan. Dana tiket pesawat hanya setengah dari total harga. Artinya, saya harus cari sumber dana untuk menutupi. Agen travel CU membantu pemesanan tiket sehingga saya tidak harus membayar di awal. Semula rute yang ditawarkan adalah CGK-Narita-LA-Denver, tapi waktu sampai di Denver sudah lewat pukul enam padahal kami masih harus ke gunung. Kemudian diubah ke Sydney-LA-Denver yang waktunya kedatangan di Denver lebih masuk akal. Namun, karena pemesanan menunggu kepastian visa, harga tiket lewat Sydney naik drastis ke $3300 dari $1700. Akhirnya agen travel banting setir ke rute Narita-Dallas-Denver. Angan-angan mampir di Benua Australia jadi sirna. Hahaha.

Alhamdulillah, setelah semua huru-hara, akhirnya saya jadi berangkat tanggal 7 Juli 2023.

Keseruan Satu Hari

Sesekali bertindak impulsif sangat baik. Ikuti saja kata hatimu. Dengarkan keinginanmu untuk sesekali lepas dari keseharian. Jangan banyak menimbang: TO BE OR NOT TO BE, SHOULD I OR SHOULD’T, IS IT WISE OR NOT. Tinggalkan semua pemikiran itu dan bergembiralah. Itu yang terjadi di satu hari ini. Awan tebal menutup matahari membuat pagi jadi mendung dan hati diliputi was-was. Tapi, begitulah. Tak ada yang dapat menghalangi tekat bulat untuk menikmati alam Kebun Raya Bogor.

Entah, kapan terakhir kali berkunjung di kebun yang penuh nostalgia ini. Memang penuh nostalgia karena sebagai seorang anak, saya sudah diajak “main” ke sana oleh Bapak Ibu. Sewaktu jadi mahasiswa biologi, kebun ini seperti laboratorium outdoor, tempat pengamatan berbagai flora fauna. Karena itu, buat saya, banyak kenangan indah tersimpan dalam lanskap kebun raya yang secara umum tidak banyak berubah.

Kali ini yang menjadi pengamatan saya adalah liken, atau sering dikenal dengan nama lumut kerak. Bayangkan dalam satu pohon pandan, begitu banyak jenis lumut kerak hidup di batangnya. Aneka bentuk, warna, kepadatan, semua terpampang di sana. Lumut kerak memang sering luput dari pengamatan karena ukurannya yang kecil. Namun, sekali kita mengenalnya, pasti akan terpesona.

Satu perubahan yang penting buat para penggemar kopi adalah dibukanya beberapa kedai kopi di dalam kebun raya. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Secret Garden Cafe. Nuansa lapang dan segar langsung terasa begitu kita masuk ke dalamnya. Beberapa lukisan tanaman bergaya seni menghias dinding kafe yang berwarna putih. Saya bersyukur dapat menikmati pagi yang sejuk ditemani secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng. Satu hari yang penuh kebahagiaan sudah cukup sebagai amunisi menghadapi pekerjaan rutin di hari esok.

Secret Garden Cafe

Jangan lupa ajak teman-teman. Jalan-jalan di Kebun Raya Bogor tanpa teman kurang menggigit. Have FUN!!

Seperti Wabah, Semangat juga Menular

Pertemuan terakhir kuliah Biosistematika ditutup dengan penampilan video-video mahasiswa yang sudah tayang di YouTube mereka. Pertama kali tugas diumumkan, ada sedikit keraguan apakah mahasiswa dapat membuat video setengah ilmiah. Kenapa setengah ilmiah? Karena kontennya memang ilmiah, yaitu materi kuliah. Tapi, penyajiannya lebih mengutamakan estetika dan kreativitas, tidak fokus pada materi. Hasilnya adalah video-video yang sangat menginspirasi, menyegarkan, dan membuat saya meyakini bahwa mahasiswa kami memang punya gen pemenang, gen yang tidak mau menyerah begitu saja terhadap tantangan.

Sejujurnya, Biosistematika termasuk ilmu yang kompleks. Menurut saya ini karena banyak materi di dalamnya yang memerlukan “pengertian dan pemahaman”. Bayangkan bila seseorang memberi tahu kita bahwa kelelawar itu bukan burung, padahal kita tahu mereka sama-sama bisa terbang. Belum lagi, orang yang sama menambahkan bahwa sayap kelelawar itu sejatinya lebih mirip dengan struktur tangan kita, manusia, ketimbang sayap burung. Lalu, seperti masih ingin membuat kita ternganga, dia akan membisikkan bahwa burung adalah sepupu sang buaya. Sementara kita mengira buaya adalah sepupu kadal, ular, dan segala sesuatu yang merayap. Sungguh absurd! Namun, kalau kita mau membuka-buka buku Biosistematika, informasi di atas dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Tentu saja saya tidak akan cerita di sini. Biarlah yang rumit-rumit itu milik mahasiswa, yang untuk kali ini saya wakilkan pada R18OSOME.

Kuliah daring gegara wabah Covid-19 menyebabkan saya tidak dapat bertemu dengan R18OSOME. Kuliah daring sebenarnya tidak mengasyikkan. Saya tidak dapat melihat kening yang berkerut, mata yang berair karena menahan kantuk, anggukan pura-pura mengerti, tundukan yang bukan malu-malu kucing kalau dosen bertanya, “Ada pertanyaan?”, juga wajah-wajah yang ditekuk karena mendapat banyak tugas. Sebagai mantan mahasiswa, tentu saja saya tahu semua ekspresi itu. Sepertinya, semuanya ekspresi yang tidak bagus, ya? Well, tentu saja tidak demikian. Yang paling membuat kehilangan justru yang bagus-bagus dari ekspresi mereka: tawa ceria, mata yang berbinar-binar ketika akhirnya bisa ke kantin, olok-olok yang baik dan ngangenin, jabat tangan dan rangkulan, atau sekedar senyum dan salam.

Maka, semangat R18OSOME yang terpancar dari karya mereka menjadi oase bagi kami yang sudah jenuh dengan keheningan kelas daring dan, ironisnya, hiruk pikuk jaringan internet. Mendengar lagu-lagu pilihan mereka untuk mengiringi lirik yang mereka ciptakan membuat hati gembira. Bahkan, beberapa kali hati melengos ketika mendengar lagu-lagu jadul mengalun. Memori saya kembali pada masa-masa indah sekolah …….. melankolis sekali! Yang membuat saya salut adalah ketika ada kelompok yang mampu membuat lagu sendiri dan menampilkan dengan sangat apik. It’s beyond my expectation. Bahkan, seorang rekan dosen sampai meneteskan air mata haru menerima semangat yang luar biasa ini.

Pos ini saya dedikasikan buat R18OSOME, mahasiswa Angkatan 2018 di Departemen kami. Saya berterima kasih atas kerjasama dan kerja keras kalian. Tentunya kalian yang paling tahu apakah kerja keras itu sudah mencapai standar kalian, termasuk apakah kalian telah mengerti dan paham dengan materi yang diberikan. Yang saya tahu, kalian telah memberi amunisi baru buat saya untuk menghadapi kuliah daring di semester berikut. Semoga kalian juga dapat memetik buah dari kerja keras kalian.

Yang mau coba-coba dengar silahkan klik beberapa link berikut ya 😀

Ruang Lingkup Biosistematika – Parasit (Gita Gutawa)
Nomenklatur – Cinta (Vina Panduwinata)
Konsep Spesies – Moves Like Jagger (Maroon 5)
Karakter – Kopi Dangdut (Fahmi Shahab)