Pembelahan yang Sempurna

Pembelahan sel alga Netrium dimulai dengan pembentukan celah pada bagian tengah sel. Saat inti sel (N) telah membelah, celah di bagian tengah sel semakin menyempit dan akhirnya terbentuk dua sel anak (Dokumentasi: https://doi.org/10.1016/S1978-3019(16)30378-3)

Semua organisme di muka bumi pasti ingin hidup panjang. Kalau mereka tidak mampu hidup selamanya (abadi), setidaknya hidup mereka diteruskan oleh keturunannya. Reproduksi merupakan salah satu cara spesies untuk mempertahankan populasinya dari kepunahan. Bagi alga bersel tunggal, memperbanyak diri lewat pembelahan sel adalah cara “kuno” yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Banyak spesies alga yang dapat melakukan perkawinan. Mereka mencari pasangan, kawin, dan memiliki keturunan. Namun, cara ini jauh lebih rumit dan “mahal”. Risiko tidak menemukan pasangan dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh keturunan menjadi faktor-faktor mengapa pembelahan sel menjadi pilihan pertama bagi alga bersel tunggal.

Pembelahan sel sepertinya sangat menguntungkan. Namun, bila diperhatikan, organisme dengan banyak sel (multiseluler) melakukan hal sebaliknya. Mereka lebih mengandalkan perkawinan, walaupun butuh “biaya” tinggi. Pembelahan sel menghasilkan anak/keturunan yang sama persis seperti induknya. Seratus persen identik, luar dalam. Hal ini menyebabkan mereka rentan terhadap perubahan lingkungan: mutasi yang merugikan, serangan penyakit, kompetisi dengan spesies yang lain, dan banyak lagi. Bayangkan kalau sang induk rentan terhadap virus X, sudah pasti keturunan mereka sama nasibnya.

Perkawinan, sebaliknya, memiliki peluang mendapatkan keturunan yang lebih baik dari pada induknya. Mengapa? Karena keturunan (anak) memiliki setengah materi genetik dari kedua induk. Ada peluang bahwa anak memiliki kombinasi sifat dari kedua induk. Salah satu induk boleh jadi rentan terhadap virus X, tapi induk satunya lebih kuat sehingga ada peluang anak mewarisi sifat yang tahan terhadap virus X.

Puisi “Mitosis” karya Dian Hendrayanti

Terlepas dari omong-omong tentang tujuan dari pembelahan sel, pembelahan itu sendiri harus terjadi dengan sempurna. Sel anak harus mendapatkan berbagai organel sel dari induknya karena organel sel itulah yang akan menjalankan berbagai fungsi sel. Oleh karena itu selain inti sel yg menyimpan materi genetik, ada kloroplas, mitokondria, ribosom, dan masih banyak lagi organel yang harus disintesis untuk kemudian dibagikan ke sel anak. Setelah dewasa, sel anak akan membelah lagi dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan induknya. Seperti bumi yang berputar, begitulah siklus sel mengawali kehidupan yang tak pernah berhenti sampai tiba di titik nadirnya.

Penghuni Air Terjun

Setiap pergi ke air terjun, ada sesuatu yang menarik saya. Tebing batu berlumut yang ada di sekitar air terjun. Bermacam jenis lumut memenuhi tebing. Ada lumut hati yang sederhana bentuknya, hanya serupa lembaran daun pipih tak jelas batang dan akarnya. Ada juga lumut sejati yang sudah mirip tumbuhan umumnya, terlihat bagian akar, batang, dan daun. Di habitat air terjun tubuh lumut yang mungil jadi agak lebih besar. Percikan air terjun yang terus menerus membasahi tebing membuat tempat itu lembap sehingga lumut dapat tumbuh dengan tenang: bertambah besar dan banyak.

Yang menarik perhatian saya adalah apa yang ada di bawahnya, bergelimang dengan tanah, menempel di permukaan batu tebing, atau mengalir bersama air. Itulah alga, biota renik yang sering disangka tumbuhan. Tentu saja saya tidak melihatnya langsung dengan mata telanjang. Gumpalan lumut dan tanah itu perlu dibawa ke laboratorium, dibersihkan, diteteskan di atas kaca, dan diamati dengan mikroskop. Butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kecantikan makhluk berukuran mikro ini. Tapi, tentu saja semua itu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah mikroskop, beragam bentuk terlihat jelas. Ada yang hanya berupa sel tunggal, seperti diatom. Ada sel tunggal yang lebih senang hidup berkoloni, seperti Chroococcus. Yang lain berbentuk seperti benang atau pita. Ada yang memiliki spiral di dalam rangkaian selnya, yang sebenarnya adalah “organ” fotosintetiknya. Kita memberi nama alga ini Spirogyra. Ada juga Nostoc, yang bentuknya bergerombol, bergulung-gulung seperti mie kusut. Semua punya bentuk yang khas, unik, berbeda satu dengan yang lain. Bentuk yang sederhana, tapi punya peran besar. Mereka adalah para produsen yang menggerakkan ekosistem: menyediakan diri mereka sebagai makanan bagi para konsumen, mulai dari tingkat bawah sampai top predator. Tanpa mereka, ekosistem akan kolaps.

Berteman dengan alga di alam sangat menyenangkan. Bentuknya yang menarik selalu membuat hati saya senang. Bagaimana sejuta keragaman itu dapat memenuhi alam? Pertanyaan yang membuat saya mencari tahu (https://atthecorner.home.blog/2022/01/18/symbiosis-and-evolution/), menundukkan hati, dan kemudian memuji kebesaran pencipta mereka. Allahu Akbar.