Audio Book

Teknologi internet memberikan informasi tentang banyak hal, you name it. Sampai sekarang saya masih suka merasa heran dengan macam-macam informasi yang bisa saya dapatkan. Misalnya tentang mengikat tali sepatu. Suatu hal yang “remeh” yang bahkan tidak pernah terpikir bahwa mengikat tali sepatu layak diinformasikan. Tapi, buat yang sudah melihat video-video How to tie your shoelaces pasti akan berubah pikiran. Ternyata hal yang sangat sederhana dapat menjadi begitu rumit sehingga memang layak untuk diberi tahu kepada orang banyak. Banyaknya informasi yang ada juga membuat saya tidak habis pikir, do we need all of them? Tapi, saya akui bila kita bisa menemukan informasi yang menarik, ceritanya akan berbeda.

Baru-baru ini saya tahu ada yang namanya audio book. Mungkin banyak yang sudah tahu, jadi memang saya saja yang payah atau kalau istilah sekarang kudet. Yang jelas, audio book ini menjawab kebutuhan saya untuk membaca buku (terutama fiksi) di tengah keterbatasan waktu dan kelelahan mata. Kelelahan mata mungkin yang utama. Sejak covid 19 melanda dunia, praktis segala bentuk pertemuan fisik diganti dengan pertemuan daring. Akibatnya, mata makin sering ketemu dengan layar komputer sampai sepet. Karena itu, saya senang sekali menemukan audio book ini

Audio book adalah buku yang dibacakan oleh seorang narator. Karakter-karakter yang muncul dalam cerita punya pengisi suara sendiri. Tapi, ada juga narator yang sekaligus menjadi pengisi suara untuk beberapa karakter yang muncul dalam cerita. Tidak seluruh isi buku dibacakan. Beberapa bagian dilewati tanpa mengubah inti ceritanya, persis seperti mengadopsi buku ke film. Meskipun begitu ada juga audio book yang punya durasi panjang, seperti Bleak House (3:52:48) dan The Old Curiosity Shop (2:44:43), dua-duanya karangan Charles Dickens. Well, buku Charles Dickens memang luar biasa tebal!

Sekarang saya bisa menikmati cerita-cerita menarik dengan cara yang menyenangkan. Dalam beberapa hari ini saya telah menyelesaikan Black Cat (Edgar Allan Poe), The Adventure of Tom Sawyer (Mark Twins), cerita horor The Judge House (Bram Stoker), cerita petualangan romantis Meet Me in Istanbul (Richard Crisholm), beberapa buku Sherlock Holmes (Arthur Conan Doyle), dan tentu saja buku-buku pengarang favorit saya Agatha Christie. Why don’t you try?

Siluet Prambanan

Datang waktu senja menjelang di puncak Prambanan punya sensasi terburu-buru. Jelas terburu-buru karena sebentar lagi situs ini ditutup untuk hari itu. Tapi karena terburu-buru hasilnya jadi puas karena ide-ide menyeruak dengan spontan. Selfie tak perlu banyak, tapi dapat angle yang tidak biasa. Tak terbantahkan siluet Candi Prambanan adalah primadonanya. Ini seperti bayangan yang hadir tanpa perlu banyak penjelasan. Apa yang kau jelaskan dari bayangan? Katakan saja Black-Bold-Beautiful, maka semua akan mengerti.

Epic Rama dan Sinta

Akhirnya kesempatan menonton pertunjukan Rama dan Sinta yang dikemas dalam Tari Kecak datang. Tempatnya tentu spesial: Pura Uluwatu, Bali. Inti dari kisah ini adalah penculikan Sinta oleh seorang raja lalim bernama Rahwana. Dibantu sang adik dan seekor kera putih sakti, Rama membebaskan istrinya dari cengkraman Raja Alengka yang menyeramkan itu. Itulah akhir sendratari kecak yang gegap gempita selama 2 jam lebih. Dihiasi langit sunset Uluwatu, tidak heran pertunjukan ini selalu full penonton, sampai terkesan dipaksakan. Ada pengunjung yang 2 hari berturut-turut kehabisan tiket dan baru bisa menonton di hari ketiga.

Epic Ramayana sebenarnya tidak happy ending. Meski dikisahkan berhasil membebaskan Sinta, cerita ini justru diakhiri dengan keraguan Rama akan kesucian istrinya. Sebagai bukti kesuciannya Sinta rela masuk ke dalam kobaran api. Tragisnya, walaupun terbukti Sinta tidak terbakar, Rama tetap mengusirnya dari istana sementara ia bertahta sebagai Raja Ayodha. Jadi, ini bukan cerita super hero yang pasti menang. Cerita ini benar-benar cerita panggung kehidupan dimana orang punya sisi baik dan buruknya.

Tiap kisah punya tokoh, tiap pembaca juga punya tokoh sendiri yang mungkin berbeda dengan pembuat cerita. Buat budayawan Sujiwo Tejo, Rahwana adalah aktor utama. Cinta Rahwana kepada Sinta lebih menarik untuk disorot (Dalam buku Cinta Suci Rahwana). Tokoh Masashi Kishimoto adalah Naruto, meski banyak yang jatuh cinta pada Sasuke yang lebih ganteng, jaim, dan tidak kalah jagonya. Kenapa pula Katniss “ditakdirkan” memilih Peeta, bukan Gale yang berkali-kali terbukti menomorsatukan Katniss. Bahkan JK Rowlings pun kabarnya menyesalkan “pemasangan” Ron-Hermione dalam kisah Harry Potter.

Well, how about you in your life? Are you the writer or the reader?

Breakfast at Hotel

What is the reason you spend nights at a hotel?
You may answer it: breakfast!!

It is an extraordinary day when you wake up in the morning and find you are not in your bedroom. You open your eyes, then close, then open, then close, while your brain thinks about breakfast. When finally you crawl up from a warm blanket, you take those thin slippers then walk down the hall. Down, down, down to the breakfast room.

Breakfast ceremony:

  1. a GREAT salad dish. Lettuces (happy if there are three varieties), carrots, paprika, cherry tomato, parmesan-cheddar-swiss-cheese, crouton, bacon, and if lucky the olive fruit.
  2. Baked potato and sausages
  3. Sunnyside up egg (half-cooked) no salt, no pepper

Siluet Prambanan

Datang waktu senja menjelang di puncak Prambanan punya sensasi terburu-buru. Jelas terburu-buru karena sebentar lagi situs ini ditutup untuk hari itu. Tapi karena terburu-buru hasilnya jadi puas karena ide-ide menyeruak dengan spontan. Selfie tak perlu banyak, tapi dapat angle yang tidak biasa. Tak terbantahkan siluet Candi Prambanan adalah primadonanya. Ini seperti bayangan yang hadir tanpa perlu banyak penjelasan. Apa yang kau jelaskan dari bayangan? Katakan saja Black-Bold-Beautiful, maka semua akan mengerti.

Breakfast at Hotel

What is the reason you spend nights at a hotel?
You may answer it: breakfast!!

It is an extraordinary day when you wake up in the morning and find you are not in your bedroom. You open your eyes, then close, then open, then close, while your brain thinks about breakfast. When finally you crawl up from the warm blanket, you take those thin slippers then walk down the hall. Down, down, down to the breakfast room.

Breakfast ceremony: a GREAT salad dish. Lettuces (happy if there are three varieties), carrots, paprika, cherry tomato, parmesan-cheddar-swiss-cheese, crouton, bacon, and if lucky the olive fruit. Baked potato and sausages. Sunnyside up egg (half-cooked) no salt, no pepper.

Ended up with a cup of hot coffee.

The morning shall be condemned.

Remember: this is not daily routine.

This is the day when you wake up in the morning….and you are not in your bedroom.