Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, sehari menjelang keberangkatan ke Amerika perasaan justru lebih tenang. Persiapan mengikuti Workshop Alga di Mountain Research Station (MRS) Colorado dimulai waktu Prof. Patrick Kocielek mengumumkan kepastian saya sebagai peserta. Hal yang pertama disiapkan adalah pembuatan Dokumen DS-2019 agar kami dapat mengurus visa J1 di Kedubes Amerika. Visa J1 adalah kategori visa untuk student exchange and scholar. Mengurusnya lumayan rumit karena tidak hanya mengisi formulir DS-2019 saya juga harus membuat akun di portal MyISSS. Ini portal tempat pelaporan segala kegiatan pemegang visa J1, antara lain melapor kedatangan saat tiba di Amerika. Entah kenapa username dan password saya gagal dikenali oleh sistem portal sehingga saya harus menghubungi bagian IT universitas. Ini membuat adrenalin naik turun.
Pertama, saya harus membuat janji temu dengan petugas secara online (karena tidak mungkin bertemu langsung, kan?). Kedua, perbedaan waktu Depok, Indonesia, dengan Boulder, Colorado, hampir 12 jam. Artinya, di sini siang di sana malam. Setelah 2-3 kali gagal komunikasi, akhirnya saya bisa online meeting dengan petugas dan dibantu membereskan akun. Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata belum. Akun dan password memang dikenali, tapi alih-alih masuk ke beranda portal saya malah diminta lagi untuk mendaftarkan akun. Benar-benar membuat makan hati. Akhirnya, terpaksa harus lapor lagi sambil menunjukkan screenshot bukti gagal masuk. Kali ini yang membereskan masalah bukan IT universitas melainkan IT dr portal MyISSS. Akhirnya done!
Lanjut lagi ke pembuatan visa, kali ini masalah datang dari pendaftaran online visa. Pak Rasyid, agen jasa pembuatan visa, tidak mendaftarkan saya untuk visa J1, tetapi visa B1/B2 alias visa bisnis. Alasannya, saat mengisi formulir tidak ada kategori untuk student exchange selama 2 minggu seperti workshop yang akan saya ikuti. Periode student exchange minimal 3 bulan. Ditambah antrian wawancara yang panjang, kami didaftarkan ke wawancara darurat. Benar-benar darurat karena tinggal 10 hari sebelum hari H. Situasinya adalah karena formulir untuk aplikasi visa bisnis bukan DS-2019, tapi DS-160. Ditambah dengan bunyi surat undangan yang tidak sesuai, komplit sudah permasalahannya. Akhirnya saya menghubungi Stephanie dari International Office Colorado University. Dia menekankan bahwa surat undangan dari Fakultas harus disesuaikan dengan aplikasi visa bisnis. Alhamdulillah, respon dari Patrick cepat sehingga saya dibuatkan surat yang baru. Berbekal surat itu akhirnya visa saya lolos. Yeayy!!

Kejelasan hari keberangkatan diperoleh ketika tiket berhasil dipesan. Ini juga banyak kejutan. Dana tiket pesawat hanya setengah dari total harga. Artinya, saya harus cari sumber dana untuk menutupi. Agen travel CU membantu pemesanan tiket sehingga saya tidak harus membayar di awal. Semula rute yang ditawarkan adalah CGK-Narita-LA-Denver, tapi waktu sampai di Denver sudah lewat pukul enam padahal kami masih harus ke gunung. Kemudian diubah ke Sydney-LA-Denver yang waktunya kedatangan di Denver lebih masuk akal. Namun, karena pemesanan menunggu kepastian visa, harga tiket lewat Sydney naik drastis ke $3300 dari $1700. Akhirnya agen travel banting setir ke rute Narita-Dallas-Denver. Angan-angan mampir di Benua Australia jadi sirna. Hahaha.
Alhamdulillah, setelah semua huru-hara, akhirnya saya jadi berangkat tanggal 7 Juli 2023.



