• Mata saya bersirobok dengan papan kedai kopi di siwa. Promosi di papan itu agak lain. Menyediakan kopi, teh, dan pisang. Bagaimana pisang bisa jadi daya tarik sehingga pantas ditulis pada papan nama kedai itu. Kita orang musti datang ke Pantai Losari tempat lapak-lapak pisang epe digelar. Sejak dulu sampai sekarang pisang epe masih jadi destinasi kuliner Makassar. Dulu tak ada rasa kecuali mentega dan gula. Di jaman now ini ada toping coklat dan keju yang lebih tepat dibilang kuah ketimbang toping saking perasa itu diguyur di atas pisangnya. Tapi saya punya pengalaman pribadi yang mengingatkan pamor pisang di kota-kota di Sulawesi Selatan ini. Almarhumah ibu mertua saya yang asal Siwa selalu membawa pisang kepok Siwa kalau datang ke Jakarta. Pisangnya dibelah tiga bujur, sehingga tidak terlalu tipis atau tebal, pas buat digoreng setengah matang agar tahan sesampainya di Jakarta. Dan memang rasanya enak, beda dengan pisang goreng yang biasa saya beli. Tidak terlalu keras, tidak terlalu empuk, pokoknya pas antara kelembutan dan kepadatannya. Apalagi kalau jadi teman minum kopi. Bestie, kata anak muda jaman now. Sayang saya tidak sempat turun sejenak untuk menikmati kopi dan pisang Utton.idn

    Ada lagi yang mencolok mata di Siwa. Banyak rumah punya lubang-lubang kecil di dindingnya. Sesekali tampak burung-burung kecil berterbangan di sekitar lubang-lubang itu. Usut punya usut, benarlah itu rupanya lubang-lubang yang disediakan untuk burung walet bersarang. Rupanya, di Siwa-Wajo ini usaha sarang burung walet sangat tinggi. Sepertinya penduduk di sini tidak berkeberatan berbagi tempat tinggal dengan burung walet. Saking penasaran, saya berselancar di google dengan kata kunci “walet siwa”. Selain berita banyak warga membuka usaha sarang burung walet, ada juga berita sengketa bangunan burung walet antar warga. Weleh weleh.

Design a site like this with WordPress.com
Get started