• Sore hari di Kampus UI, setelah turun hujan, menghadirkan banyak nuansa. Keceriaan, kesegaran, kerinduan, romansa, bahkan misteri. Udara yang dingin, kabut yang perlahan naik, tetes air yang turun dari dedaunan, tidak sekedar peristiwa alam, tetapi juga pengalaman batin. Terkadang, sambil menikmati angin dingin dalam perjalanan pulang, lahir sebuah puisi. Puisi yang dapat menghalau aura negatif, bila hati sedang resah.

    Janji tak pernah dikhianati oleh riak danau kala bertemu angin, gugur daun kala bumi memanggil, harum petrikor kala dideras hujan, bait-bait kataku kala gelisah tak kunjung reda

    Kampus UI yang luas bisa menjadi habitat tersendiri, lepas dari lingkungan di sekitarnya: perkotaan. Di dalam kampus boleh jadi hujan, tapi di luar tidak. Begitu juga sebaliknya. Petir yang menyertai datangnya hujan bisa terlihat sangat jelas di langit kampus. Memanjang dari langit ke bumi, dengan kilatan perak menyilaukan dan suara yang memekakkan. Hati menjadi gentar melihat kekuatan alam itu dan bibir berbisik, Allaahu Akbar. Betapa diri ini hanya insan lemah, tapi seringkali sombong dan takabur.

    Dengarlah tetesan air hujan
    Sebelum ia menjadi banjir bandang
    Dan menumbangkan pohon yang telah engkau tanam

    Dengarlah bisik angin sepoi
    Sebelum ia menjadi badai
    Dan menggugurkan bunga-bunga yang telah engkau rangkai

    Dengarlah suara hatimu
    Sebelum ia tertelan dan menggumpal
    Menjadi seonggok batu dan membisu

    Terkadang, setelah hujan dan petir itu berhenti, matahari muncul memesona. Sinarnya menghangatkan tubuh dan mengembalikan keceriaan dari rasa sendu. Khayalan menyatu bersama kabut yang naik dari Situ Salam, terbang menghilang entah kemana. Yang tinggal hanya rasa-rasa yang sulit dilukiskan tapi nyata.

    Kutitip cintaku pada hujan sore ini
    Yang deras mengalir di sela batuan
    Biar terbawa ke ujung bumi
    Yang tak bertepi
    Tuk kembali memelukku

    Kutitip rinduku pada hujan sore ini
    Yang menari bersama angin
    Biar tersimpan di tiap butir debu
    Yang mengawang di udara
    Abadi selamanya

    10 November 2023
Design a site like this with WordPress.com
Get started