The Devil and Miss Prym and I

Masamba is a town in Luwu Utara Regency. It’s famous for sawit (palm oil), cacao, and jengkol. When my colleague and I went there for a business trip, we took a flight first to Makassar, then continued with a sleeper bus to Masamba. The sleeper bus serves a seat compartment so we can sleep and enjoy the trip comfortably. Because the sleeper bus departs at night, we can rest and sleep during the trip and reach our destination the next morning. We were excited to have a fun trip to Masamba before it became a disaster.

Buying a sleeper bus ticket should be easy and safe as long as you know where to buy and who the agent is. We opened the bus website and connected to the agent. We chose the sleeper seat (they also offered the regular seat) and paid the price. The agent then gave us the photo of our ticket, with my name, the bus schedule, and the price. Everything was okay, although if I think now, we should be suspicious of that ticket. But we were glad to have the ticket and moved to the next agenda that afternoon. It was not until we went to the bus terminal at eight pm that we realized the ticket was fake.

The front officer dispelled our ticket (which was actually the photo of the ticket!) and said our contact was not their agent. We were shocked. When we tried to call the agent, there was no response. The fraudster erased our communication, and no one knew where he or she was. At the end, we had to buy tickets again. As the bus departed, my colleague could not hold back and blurted angrily, “Nasty man!” to the fake agent.

As I recall, I rarely collided with fraud. Of course, I felt pity when it happened. But, unexpectedly, the experience reminded me of the book I brought along this trip. It was Paulo Coelho The Devil and Miss Prym. The book is about the battle between the good and the bad sides of us. Are we truly good or being pushed to be a good one because we are afraid to do bad things? If you were poor and somebody offered you gold for doing something bad, could you accept the offering? A gold that can change the life of you and your family forever is something worth it! Do you think you can take the action?

In my life, I am bestowed with many opportunities and choices, free to live as I want. Even with such a fortunate life, the good does not always win in the battle of the angel and the devil in my heart. In this world, many people struggle with their lives. Many times, they face situations where all choices are bad. Life is just unfair, even if you do nothing. That’s sad.

Back to my story, I’d rather feel pity than anger with the fake agent. What kind of life does he through? Can he bear all the troubles that come so that he can be a good person? Is life really hard, so that he only has bad choices? May God give him a family, a friend, a stranger who leads him to win the battle of the angel and the devil in his heart. Ameen.

Raminten

https://raminten.com/en/raminten-jogja/

Raminten. Nama yang familiar, apalagi yang senang kulineran di Jogya. Raminten tidak hanya sebuah nama, tapi juga budaya dan kini telah jadi legenda. Tanggal 23 April 2025, Raminten, alias Hamzah Sulaiman, telah pergi dan tak akan kembali. Kepergiannya meninggalkan satu warisan yang boleh jadi akan hidup lestari atau tinggal bayang-bayang dalam ingatan yang perlahan menghilang. Waktulah yang akan menjawab.

Bulan Februari di tahun yang sama, saya dan seorang teman menikmati makan malam di House of Raminten, Malioboro. Semula kami mau mencoba cabangnya yang di Kaliurang. Tapi akhirnya batal karena kegiatan seminar yang kami ikuti cukup melelahkan, sementara venue lebih dekat ke Malioboro. Lagi-lagi, bau khas itu menyeruak ketika masuk ke Mirota (sekarang Hamzah Batik). Wewangian yang mengingatkan saya pada rumah Mbah di Boyolali dan kenangan masa kecil waktu berlibur di sana. Berkunjung ke House of Raminten jadi lebih dari sekedar makan malam.

Suasana remang-remang membuat saya agak grogi dan memilih tempat yang agak terang. Untungnya teman saya sepakat, jadi duduklah kami di meja makan dekat (banner) Raminten. Sebenarnya saya bukan orang yang punya gelombang mistis. Tapiiii bila waktu itu beliau sudah almarhum sepertinya saya akan duduk di tempat lain. Yang jelas waktu itu kami menikmati makan malam dengan nyaman. Tamu-tamu mulai berdatangan dan suasana jadi lebih hidup dengan obrolan mereka. Tidak hanya tamu lokal, turis mancanegara juga tampak.

Menu makan malam saya pecel dan wedang sereh. Bumbu pecelnya top markotop. Batin saya, “Ini dia pecel jawa!” Hahaha … Di sekitar Depok sulit mendapat bumbu pecel dengan generousity seperti ini. Tentu saja!! Biasanya, makan malam saya tidak banyak. Tapi, sepiring pecel dan lauk pauk komplit itu tandas. Wedang serehnya berhias potongan sereh besar, mengeluarkan wangi segar setiap kali saya menempelkan bibir di gelas dan meminum airnya. Alhamdulillah. Makan malam yang menuntaskan rasa lapar dan rindu pada Jogya.

Raminten telah pergi. Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah House of Raminten juga akan pergi? Seperti semua spesies di alam, apakah ia akan bertahan dalam bentuknya yang sekarang sampai puluhan tahun ke depan? Atau, apakah ia akan beradaptasi, memiliki karakter baru, dan terlahir kembali sebagai sesuatu yang berbeda, kekinian, sambil tetap menyimpan gen-gen warisan nenek moyangnya. Ah, apapun bentuknya, saya akan senang bertemu kembali dengan House of Raminten di masa depan.

Frederik Leliaert

Baru saja memulai lagi tulisan di sini tiba-tiba saya bertemu blog Frederik Leliaert. Blognya sangat menarik! Membuat saya teringat salah satu hal yang pernah saya tulis tentang pekerjaan yang kita cintai. Alangkah senang bila kita dapat bekerja di bidang yang kita suka. Tidak semua orang bisa seperti itu. Ada saja yang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukai karena kesulitan hidup. Frederik Leliaert mengatakan dia menyukai biodiversitas dan evolusi dan pekerjaannya jelas menunjukkan apa yang dia sukai. Yang paling menarik buat saya adalah kesukaannya pada alga.

Blog Frederik sederhana, tapi tertata rapi. Tulisannya ilmiah, maklumlah dia peneliti di  Meise Botanic Garden, sekaligus anggota dari  Phycology Research Group di Universitas Ghent, Belgia. Semua hasil penelitiannya ditulis dalam pos-posnya secara ringkas, padat, dan komunikatif. Kata “komunikatif” penting diingat oleh peneliti. Pada masa lalu para peneliti tinggal di bumi, tapi bicara dengan bahasa planet Mars, sehingga banyak orang awam gagal paham. Di era globalisasi ini, komunikasi sains menjadi keahlian yang harus dimiliki peneliti, agar mereka dapat dimengerti oleh publik. Salah satu contoh komunikasi sains adalah menghindari penyebutan nama ilmiah. Saya tidak perlu berkata, “Ini Mangifera indica.” untuk memberi tahu bahwa buah yang saya pegang adalah mangga. Atau, saya cukup mengatakan, “Mari kita pelihara kelestarian alam.” alih-alih “Mari kita melakukan konservasi biodiversitas di bumi.”

Salah satu pos Frederik yang menarik saya adalah cerita kemunculan ganggang hijau berukuran besar sekitar 1000-700 juta tahun lalu. Pada saat itu suhu bumi turun drastis dan terjadi pembekuan air besar-besaran. Ganggang yang berukuran kecil mengalami banyak kematian, tetapi tidak semuanya punah. Ganggang yang semula hidup berenang-renang di laut mulai beradaptasi dengan gaya hidup menempel di lapisan es. Setelah perlahan-lahan suhu bumi kembali meningkat, populasi yang telah terbiasa hidup menempel di lapisan air tetap hidup seperti itu. Ukuran tubuh kemudian bertambah besar karena lebih banyak menyerap unsur hara dari dasar perairan laut. Adaptasi memang penting bagi spesies agar tidak punah.

Chlorella (uniseluler)

Sesederhana Itu

Tulis saja, tidak usah pikir panjang. Itu tips paling jitu yang selalu diumbar para penulis. Tapi ada saja yang membuat kenyataan tidak sesederhana itu. Mungkin karena tangan yang menulis dan kepala yang menyimpan kata-kata tidak padu. Begitu banyak kata dalam pikiran, begitu lambat tangan menulis. Atau sebaliknya. Tangan sudah bergerak kanan kiri, tapi setiap kata dihapus kembali karena kepala menggeleng-geleng. Akhirnya seperti inilah. Ternyata sudah setahun saya tidak menoreh kata-kata di sini. Sepertinya hari ini kepala dan tangan saya sudah berdamai. Tapi, apakah besok dan lusa dan hari-hari ke depan mereka akan ribut kembali sehingga tulisan macet lagi? Let’s see …

Cerita Laut adalah Cerita Kita

Seperti yang saya duga, saya tidak akan sanggup membaca satu per satu kalimat pada Laut Bercerita. Cerita Biru Laut tentang kekejaman yang dia alami terlalu detil, jelas, membuat saya seperti merasakan sendiri deraan yang diberikan di sekujur tubuhnya. Saya juga tidak tega mendengar jeritan hatinya menahan rasa perih dan malu yang dicampakkan dengan paksa oleh para penyiksanya kala mereka melakukan perbuatan tak berperikemanusiaan. Dua kepedihan itu, jiwa dan raga, dikatakan Biru Laut dalam satu kalimat.

‘Tetapi mungkin yang paling tak bisa kusangga adalah perasaan kemanusiaan yang perlahan-lahan terkelupas selapis demi selapis karena mereka memberlakukan kami seperti nyamuk-nyamuk pengganggu.’

Saya mendengar dengan cepat Laut Bercerita. Dia dan teman-temannya menjadi organisator gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. Ada bermacam karakter yang berada di sekitar Laut, namun hanya satu fenomena yang, bagi saya, menyatukan mereka. Mereka kehilangan seseorang (guru, paman, ayah) yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka di masa remaja. Orang-orang yang pergi tanpa pernah kembali ini mengajarkan mereka tentang kemiskinan yang absdurd di tengah kemewahan para penguasa, juga perlawanan rakyat. Pengajaran lewat buku-buku semacam The Tale of Two Cities dan Oliver Twist-nya Charles Dickens, atau Tan Malaka, melekat kuat dalam pikiran seorang anak menjelang dewasa. Saya tahu benar perasaan yang menggelora itu karena itulah yang terjadi pada saya, sebagai pelajar SMP, ketika membaca dua buku pertama di atas. Karenanya, ketika mereka (Laut dan teman-temannya) dihadapkan pada realita (pemerintah) yang berlawanan dengan konsep-konsep keberpihakan pada rakyat yang tertindas, mereka bergejolak dan tak menerima.

Tidak terelakkan, kontroversi liberalisme dan komunisme pun hadir di sini. Menurut saya memang tidak mungkin memandang peristiwa 1998 lepas dari nuansa itu. Bagaimana pun, kemajuan perekonomian Bangsa Indonesia sampai tahun 1998 adalah bagian dari liberalisme. Karena itu, ketika semakin banyak rakyat di sana sini semakin tertekan, liberalisme (yang diwakili oleh para penguasa negara) dituding sebagai penyebabnya. Oleh karena itu, hal-hal yang berbau keberpihakan kepada rakyat, yang dalam hal ini disimbolkan dan dipropagandakan sebagai paham komunisme, menjadi antitesisnya. Seharusnya kita belajar dan berpikir apa maksud di belakang pembredelan buku-buku. Banyak buku-buku yang menyuarakan perlawanan rakyat terhadap penguasa dilarang dicetak dan diedarkan, bahkan dicap sebagai suara komunis. Kita tidak sadar homogenitas bacaan atau media yang dihidangkan di depan mata telah mencetak pikiran-pikiran yang takut terhadap heterogenitas.

Laut Bercerita memang ditulis berdasarkan kisah perlawanan mahasiswa (simbol dari rakyat) yang berujung pada penculikan dan penyiksaan oleh pasukan tentara. Walaupun tak pernah terungkap (belum) siapa dalang kejahatan itu, sudah jelas mereka bukan penjahat jalanan. Mereka bukan para mafia, seperti di film The Godfather. Mereka orang-orang bersenjata yang terorganisir dan bukan orang asing. Para pelaku kejahatan itu sama seperti kita, orang Indonesia. Ini membuat saya merasa malu, marah, terhina, dan nista. Bukan hanya sebagai orang Indonesia, tapi juga sebagai manusia. Ternyata apa yang dikatakan Laut mengenai hilangnya kemanusiaan benar adanya. Bahkan, sekarang pun, kita menghadapi orang-orang yang tak malu menyatakan diri lewat pikiran, perkataan, dan sikap bahwa mereka bukan manusia. Mereka tahu, tapi tidak mau tahu. Sementara kita malu dan terhina, mereka bangga.

Setelah habis mendengar Laut Bercerita, saya masih punya banyak pertanyaan. Menurut saya pertanyaan ini penting agar bisa merasionalkan runutan kejadian yang dialami oleh Laut dan teman-temannya. Pertanyaan ini tidak berarti mengecilkan arti perjuangan mereka dan siapa pun yang entah akan muncul di masa depan. Pertanyaan ini juga pernah dilontarkan oleh para pelaku kejahatan. “Siapa yang mendanai kegiatan perlawanan kalian?” Biru Laut berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, menggunakan transportasi darat, laut, dan udara. Menginap di satu rumah ke rumah yang lain. Tanpa ada sumber keuangan, tentu mereka tidak dapat bergerak lincah ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang jauh dari markas mereka di Jogyakarta. Hal ini tidak pernah dijelaskan, padahal menurut saya, lazimnya sebuah gerakan pasti ada orang-orang yang bersimpati dan memberikan dukungan baik moral maupun material.

Pertanyaan berikutnya lebih pribadi. Seperti halnya sebuah novel, Laut Bercerita juga punya bumbu romantisme. Ada kisah cinta antara para pelaku peristiwa. Percintaan yang digambarkan dalam novel ini menggunakan kacamata Barat yang menganut free sex. Saya tidak menutup mata bahwa kebebasan bercinta semakin meluas di masyarakat, menyebar di berbagai kalangan tak terbatas umur dan tingkat sosial. Meskipun demikian, bukan berarti kita membiarkan itu kecuali bila memang itu sesuai dengan paham yang kita anut. Saya mencoba melihat bahwa Laut Bercerita hanya ingin berfokus pada perjuangan mahasiswa tanpa embel-embel moralitas agama. Namun, mengingat novel ini akan dibaca pemuda pemudi, bukan tidak mungkin muncul kesimpulan bahwa para mahasiswa yang mencoba membela “rakyat yang tertindas” memiliki perilaku yang melanggar hukum agama dan itu sah-sah saja. Toh, Biru Laut dan adiknya melakukan itu.

Saya telah mendengar Laut Bercerita. Saya berpikir apakah peristiwa penculikan ini akan terulang atau sekarang pun sedang terjadi. Ketika saya menulis ini, rakyat Indonesia sedang menonton orang-orang yang dimabuk uang dan kekuasaan. Mereka saling sikut, saling hujat, saling fitnah, saling merasa dibela oleh “rakyat”. Orang-orang yang dulu menjadi pembela rakyat telah lelah dan ingin menikmati kenyamanan. Orang-orang pintar yang beradu argumentasi telah meninggalkan panggung diskusi dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Rakyat telah hilang, kembali menjadi kata yang tiada arti. Biru Laut, apakah kamu telah mati dan tidak akan lahir kembali?

Depok, 24 Februari 2024

Bubur Ala Pemilu

Tepat pukul tujuh, seharusnya Ryu sudah nongol. Untuk ketiga kalinya, Qon melirik jam di tangan. Ryu tidak pernah telat dengan jadwal jalan paginya. Sudah sebulan Qon dan Ryu jalan pagi bareng. Ritualnya dimulai dengan lari tiga putaran di Rotunda lalu berjalan ke arah Perpusatakaan Pusat, menyusuri jalan di samping Fakultas Hukum menuju lingkar UI, berbelok ke kiri menyusuri Fakultas Psikologi-Fisip, sampai akhirnya tiba di Fakultas Teknik dan beristirahat di sana. Qon dan Ryu menikmati jalan pagi mereka, terutama saat tiba libur semester seperti sekarang. Kampus tidak terlalu ramai dengan kendaraan sehingga udara terasa lebih menyegarkan.

“Qon!”

Qon mendengar namanya dipanggil. Dilihatnya Ryu muncul dari arah Dekanat. Qon membalas lambaian tangan Ryu. Ia meninggalkan tempatnya menunggu dan mendekati Ryu yang bergerak ke arah Rotunda.

“Sori ya, telat.” Ryu meminta maaf.

“Tenang aja. Baru nunggu lima menit, kok.” Qon santai membalas.

“Rute seperti biasa, kan?”

“Siap. Seperti biasa kita makan bubur dulu di Kukel baru balik ke Mipa.”

“Oke.”

Mereka berdua mulai berlari. Beberapa kali mereka mendahului orang-orang yang berjalan santai memutari Rotunda. Setelah tiga putaran, Qon dan Ryu melanjutkan jalan pagi mengikuti rute seperti biasa. Namun, sampai di Fakultas Teknik mereka kecewa karena tukang bubur langganan tutup. Lapak tukang bubur yang bersebelahan dengan pagar kuning kampus ini tidak pernah sepi. Pembelinya tidak hanya orang-orang yang tinggal di dekat situ. Qon sering melihat orang-orang yang lari atau jalan pagi melipir ke lapak ini. Tapi hari ini pelanggan yang datang kecewa karena Bapak Tukang Bubur tidak berjualan. Penjual nasi uduk di sebelah lapak bubur pun tidak tahu kabarnya. Akhirnya Qon dan Ryu pulang sambil menahan perut yang keroncongan.

Keesokan harinya, Qon dan Ryu kembali kecewa mengetahui lapak bubur langganan masih tutup. Karena penasaran, di hari ketiga mereka mampir lagi, tapi hasilnya sia-sia. Tukang bubur langganan masih tidak kelihatan batang hidungnya dan tidak ada yang tahu ke mana Bapak Tukang Bubur itu. Akhirnya mereka menyerah dan berpikir mungkin si Bapak pulang kampung karena kampus sedang libur semester.

Hampir seminggu mereka tidak mampir makan bubur sampai ketika mereka melihat keramaian di lapak penjual bubur. Asik, kayaknya sudah jualan lagi! Qoni bersorak dalam hati. Tanpa menunggu komando, Qon dan Ryu bergegas ke sana. Ternyata benar adanya. Bapak Tukang bubur sedang melayani pelanggan. Namun berbeda dari sebelumnya, di pagar ada karton bertuliskan Diaduk atau tidak diaduk, yang penting happy makan bubur.

“Kok lama nggak jualan, Pak?” Qon tidak dapat menahan rasa penasaran.

“Diminta jualan di Srengseng, Mbak.” jawab si Bapak.

“Diminta siapa, Pak?” Ryu tidak ketinggalan kepo.

Setengah bersungut Bapak Tukang Bubur bercerita. Rupanya ada seorang caleg mau menyediakan bubur gratis di daerah pemilihannya. Lapak buburnya dipasangi umbul-umbul dan poster bergambar caleg serta paslon presidennya. Tidak lupa tulisan BUBUR GRATIS! ditambahkan di sana. Saking lengkap promosinya ditambahkan: Makan bubur tidak usah diaduk, biar kelihatan cantik dan mewah! Hari pertama dan kedua memang ada yang datang makan. Namun, lebih banyak yang nggak sreg dengan cara makan buburnya. Bapak Tukang Bubur banyak terima keluhan. Emang nggak boleh diaduk, Pak? Kenapa nggak boleh? Makan bubur aja kok diatur-atur. Mau makan bubur kok pake mikir diaduk apa enggak. Gratis sih, tapi kok nggak demokratis. Ujung-ujungnya, sepilah lapak bubur gratis dan setelah seminggu si caleg menyerah. Kontrak bubur gratis pun bubar.

“Jadi sekarang saya pasang tulisan di pagar. Mau makan bubur diaduk boleh. Nggak diaduk juga boleh. Yang penting bubur saya laku.”

Oalahhhhh … kesian si Bapak kena gombalan Caleg!! Ya memang kalau tidak demokratis, tidak asik!

Depok, 7 Februari 2024.

Berangkat Siang, Bunda?

Sopir Ojol memulai hari

Menjemput rezeki yang telah pasti

Untuk hidup anak dan istri

Roda motor berputar berlari

Meliuk-liuk bagai penari

Sementara pagi perlahan berganti

Langit biru menawan

Dihias serakan awan

Tersapu angin tak melawan

Burung selesai berdendang

Matahari telah bersenang-senang

Wajah Sopir Ojol terang benderang

Menikmati berkah dari Yang Maha Penyayang

Depok, 26 Januari 2023

Konser Anak Muda

Sabtu siang 22 Mei nonton konser Orkes Simfoni UI. Semula berpikir yang datang pasti generasi seangkatan saya, bahkan lebih tua lagi. Apalagi tema konser kata Si Flyer tentang perjuangan. Langsung saya berpikir yang dimainkan adalah lagu-lagu perjuangan jaman kemerdekaan. Ternyata saya salah besar. Tamu-tamunya anak-anak muda dengan dandanan rapi, setengah formal, semua bergaya dan ingin kelihatan tampil cantik dan menarik. Sangat menyenangkan melihat anak-anak muda mendukung orkes yang pemainnya ternyata anak-anak muda juga.

Salah dua saya adalah saya sudah siap-siap untuk merasa bosan, jenuh, atau mengantuk. Ternyata mendengar musik yang dimainkan justru membuka mata dan telinga, dan membangunkan ide-ide di kepala. Rasa-rasa dalam hati ikut terbangun mendengar gesekan biola dan cello, tiupan terompet, klarinet, dan obo, dentuman drum, dan sesekali dentingan triangle. Mendengar kesatuan alat musik mengayunkan lagu-lagu Johannes Brahms, Cristopher Larkin, Johann Sebastian Bach, dan lainnya, saya bagai dibawa dalam suatu petualangan yang seru dan menyegarkan. Lagu The Typewriter karya Leroy Anderson dimainkan dengan unik. Suara ketikan dan denting khas dari mesin tik berpadu dengan instrumen lain membuat saya membayangkan sedang menulis diiringi oleh lagu gembira.

Saya juga baru tahu bahwa orkes punya babak-babak, sama seperti sandiwara atau teater. Para pemain datang dan pergi sesuai dengan lagu yang dimainkan. Kadang yang bermain kelompok kecil, lima orang. Lagu yang lain dimainkan oleh kelompok yang lebih besar bisa lebih dari sepuluh orang. Di tengah-tengah babak ada lima belas menit rehat. Penonton diberi waktu istirahat. Jadi yang mau ke kamar kecil atau makan minum bisa menyelesaikan urusannya tanpa mengganggu pertunjukan. Sambil menikmati pertunjukan saya perhatikan setiap orang punya peran, sekecil apapun. Walaupun hanya mendentingkan triangle atau sesekali mengayunkan genderang, semua ikut menyempurnakan lagu yang dihadirkan.

Waktu para pemain akhirnya memainkan lagu terakhir saya merasa waktu berlalu begitu cepat. Pengalaman hari ini benar-benar tidak terduga, tidak terbayangkan, bahkan agak mengejutkan bahwa ini menyenangkan. Saya pikir yang membuat hari ini bersemangat adalah melihat anak-anak muda yang terlibat dalam acara orkes. Mulai dari penerima tamu, pengatur panggung, pemain, Sang Jerigen, semua wajah-wajah muda. Di tengah-tengah mereka juga ternyata ada mahasiswa Biologi Angkatan 2020 dan 2021. Sungguh patut dibanggakan! Mereka punya hal-hal yang mereka cintai dengan serius dan sungguh-sungguh. Serasa melihat masa depan yang penuh harapan. Semoga apa yang mereka cita-citakan, semua harapan dan keinginan, bisa menemukan jalannya.

Bertemu Prajnaparamita di Museum Nasional

Kalau mendengar nama Museum Nasional disebut, saya masih berpikir, “Di mana, ya?” Tapi kalau Museum Gajah, nah … langsung saya tahu dan ingat letaknya di Jalan Merdeka Barat, dekat Tugu Monas. Padahal Museum Nasional dan Museum Gajah adalah museum yang sama. Ini karena Museum Gajah sudah melekat dalam pikiran dan hati saking seringnya waktu kecil dulu main ke sana.

Entah kapan terakhir saya ke Museum Nasional, yang jelas sudah lama sekali. Karena itu senang sekali bisa berkunjung lagi ke sana.  Museum Nasional sudah ramai dikunjungi siswa-siswa sekolah, turis lokal dan asing, baik yang datang sendiri maupun dalam rombongan. Semua tumpah ruah di sana. Alhamdulillah, senang melihat antusiasme pengunjung. Museum Nasional sudah jauh lebih modern dibanding masa dulu waktu saya ke sini. Tapi, sudut-sudut tertentu masih menyisakan kenangan manis, terutama arcanya yang tetap bergeming di tempat mereka.

Museum Nasional kini punya dua Gedung. Gedung A digunakan untuk pameran koleksi sekaligus ruang penyimpanan. Gedung B, yang lebih baru, selain untuk ruang pameran juga untuk kantor, ruang konferensi dan perpustakaan. Salah satu ruang pameran yang menarik bagi saya adalah Lantai 4 Gedung B, tempat pameran koleksi benda-benda purbakala yang terbuat dari emas dipamerkan. Ruang Koleksi Khazanah Emas di lantai 4 Gedung B ini sepertinya menjadi satu-satunya ruang yang tidak memperbolehkan pengunjung untuk memotret.

Tanpa saya duga, Arca Prajnaparamita yang terkenal dengan kecantikannya ditempatkan di sana. Arca ini memang sangat cantik, halus, hampir tak ada kerusakan. Menurut informasi dari Wikipedia, arti harfiah Prajnaparamita adalah “kesempurnaan dalam kebijaksanaan” dan merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transedental manusia.

Terus terang, saya cukup terkejut bahwa selama ini saya mengingat hal yang salah tentang arca Prajnaparamita, arca yang sejak kecil sudah saya dengar popularitasnya. Dulu saya mendengar bahwa Prajnaparamita adalah perwujudan Ken Dedes, istri Ken Arok, raja pertama Singhasari. Ternyata, Menurut penelitian Munandar (2003) arca Prajñaparamita menggambarkan Rajapatni Gayatri, putri bungsu Raja Krtanagara yang hidup pada masa akhir kerajaan Singhasari dan awal kejayaan kerajaan Majapahit. Siapapun dia, yang jelas kecantikan seorang wanita pada masa itu tidak kalah dengan masa kini.

Yang menarik, nama Prajnaparamita dijadikan sebagai nama jurnal ilmiah terbitan Museum Nasional (https://www.museumnasional.or.id/category/publilkasi/jurnal-museum). Pada edisi tahun 2016, ada salah satu artikel yang ditulis oleh Gaya Mentari berjudul Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Mentari (2016) bercerita tentang gaya seni dari arca tersebut dan makna-makna yang terkandung dari postur sang “tokoh”. Menurutnya, arca tersebut memiliki ciri karya seni arca yang berasal dari masa Dinasti Singhasari, yaitu bunga Teratai (yang keluar dari bonggolnya) dan postur tubuh yang “kaku”. Bisa dikatakan, karya seni arca Prajnaparamita tergolong seni Klasik Muda yang berkembang di Jawa Timur, berbeda dengan gaya sebelumnya yang berkembang di era Mataram Kuna, Jawa Tengah (Susetyo dkk. 2021).

Referensi:

Mentari, G. 2016. Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Jurnal Prajnaparamita 1: 145-151.

Susetyo, S., A. Murdihastomo, A. Indrajaja, D. Nugroho. 2021. Gaya seni arca masa Kadiri: Studi terhadap arca Candi Gurah dan Candi Tondowongso. KALPATARU 30(1): 1-24.

Belum Bisa Pulang

Lembayung menyapa ufuk
Membalur merah kuning kemusuk
Menggayut bulir di pelupuk
Aku belum bisa pulang, Bu
Mencicip asam manis buncis tumisanmu
Menuntas rindu di ujung kalbu

Telah lama
Kutulis cerita di atas kartu merah muda
Tentang dirimu yang istimewa
Ingin kubacakan kala berjumpa
Insan berniat Allah Pemilik Rencana
Aku belum bisa pulang, Bu

Lamat-lamat terdengar adzan
Mengantar senja masuk peraduan 
Kubasuh tangan, wajah, dan kaki
Mengucap takbir bersihkan diri 
Yaa, Ilahi Robbi, pintaku
Biarkan badai ini pergi berlalu

Depok, 20 Juli 2021

Puisi buat Bu Guru

Tidak terasa setahun sudah anak bontot sekolah dari rumah. Dia tidak pernah mengeluh soal itu, walaupun di tiap kesempatan bertemu luring dengan teman-temannya tampak semangat dan keriangan di wajahnya. Setahun sudah anak bontot dibimbing oleh gurunya yang punya dedikasi luar biasa. Tiap guru pasti punya dedikasi dengan siswanya, tapi orang tua biasanya tahu guru mana yang pas dengan karakter anaknya. Yang membuat saya heran, bagi si bontot yang punya watak slonong boy, guru-guru “galak” justru pas buat dia. Guru yang disiplin, selalu ngingetin, punya sistem reward and punishment untuk siswa perwaliannya, keras di satu sisi lembek di sisi lain, malah membuat si bontot fokus dengan tujuan. Tanpa stres, tanpa tekanan. Karena itu sedih saya ketika menerima rapot kenaikan kelas dan harus berpisah dengan gurunya. Lalu terciptalah puisi di bawah ini.

Sapamu 'kan Membiru

Sudah terbiasa aku
mendengar denting pos wa-mu
di tiap hari
bersahut-sahut dengan cicit burung dan gemericik air cucian piring sehabis menyiapkan sarapan pagi
Semoga kau dalam keadaan sehat, Bu Guru

Sudah terbiasa aku
menerima salam dan beritamu
di tiap hari
mengilik-kilik kesadaran untuk sebentar berpaling dari kesibukan diri dan menengok permata hati
Terima kasih, Bu, telah mengawal permata kami

Setiap hari setiap waktu
Tak lelah engkau menyapa merdu
Lewat pos-pos wa mu
Sapa yang ‘kan selalu membiru
Setiap kulihat permata hatiku
Bersinar cemerlang diasah cinta dan ketulusanmu
Tak ada yang dapat kuberi padamu, Bu
Selain doa pada Ilahi
Robbi, limpahkan kasih sayangMu bagi guru kami terkasih, Ibu Badriah

Depok, 24 Juni 2021

Chrisye – Konser 7 Ruang

Konser Chrisye yang digagas Konser 7 Ruang-DSS-Baznas-ILUNI UI sudah berakhir. Sesuai nama konsernya, semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu Chrisye. Penyanyi favorit saya, selain Vina Panduwinata. Setiap ada momen mendengarkan lagu bareng pasti akan ada yang komentar, “Penyanyi jaman kita emang TOP, lagunya bagus-bagus.” Terkadang ada yang menambahkan dengan komentar miring bahwa lagu jaman sekarang tidak “jelas”. Sebenarnya wajar saja komentar itu karena di balik sebuah lagu ada berbagai kenangan yang menyertai. Jaman SD, lagu saya mengikuti alunan irama Bapak yang suka menyetel lagu-lagu kenangan dan Perjuangan. Masa SMP saya lekat dengan lagu-lagu Vina dan Beatles, sedangkan Chrisye baru muncul waktu saya SMA, bersama dengan KLA-Project. Setelah kerja, pilihan saya lebih beragam termasuk lagu-lagu asing dari barat maupun Jepang yang memang baru terasa akrab di telinga. Lagu-lagu sekarang bagi saya biasa saja. Bukan dengan maksud merendahkan, tapi karena memang tidak terhubung dengan suasana batin saya. Saya yakin ini dirasakan juga oleh banyak orang. Karena itu generasi 70-80 akan akrab dengan lagu-lagu masa itu, beda dengan generasi 90-2000. Tentu saja lagu-lagu Evergreen yang abadi dan lintas generasi pasti ada dan saya yakin Chrisye salah satunya.

Konser ini punya maksud mulia, yaitu penggalangan dana untuk membantu rakyat Indonesia yang memerlukan. Alhamdulillah, banyak yang mendukung niat mulia ini. Yang menyumbang ternyata disebut nama dan jumlah sumbangan, jadi ketahuanlah angka-angka yang fantastis: 5, 8, 10, 25, bahkan 50 juta! Angka-angka unik juga muncul, misal yang mencerminkan Angkatan, atau yang hanya diketahui si penyumpang (Rp. 8.888.888). Pasti dia sangat senang angka 8. Buat mereka yang ada di luar negeri dan ingin menyumbang, panitia menggunakan aplikasi Pay Pal. Tercatat angka-angka 50 Euro, $100 dan $500. Berapa pun angkanya, saya merasa gembira sekaligus terharu dengan para partisipan dari dalam dan luar negeri. Memang sih, ada komentar penonton yang mengganggu saya, seperti “Kok dapatnya cuma ratusan juta? Bandingkan dengan alumni PTN anu dan anu yang dapatnya sekian milyar.” Kemudian dilanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang masuk kategori evaluasi kerja panitia. Huaduhh. Bila panitia kecewa dengan jumlah sumbangan wajar saja, kan mereka punya target. Bila para penyanyi dan pendukung acara kecewa saya pun masih merasa wajar karena (mungkin) mereka ingin menginspirasi banyak orang untuk menyumbang. Tapi, kalau penonton kecewa dengan hasil sumbangan …. saya kok berpikir tidak sepantasnya memiliki rasa itu. Terlebih bila sepeser pun uang tidak kamu cemplungkan dalam kotak sumbangan.

Konser seperti ini sekaligus menjadi ajang reuni dadakan. Banyak hati yang senang karena bisa bertukar sapa dengan teman-teman lama. Kenangan manis menjelma menjadi semangat yang positif dalam diri, menular dari satu individu ke individu lain, berharap bisa berhimpun ke aksi-aksi lain yang bermanfaat bagi sesama. Sesederhana itu saya ingin berpikir dan merasa terhadap kegiatan-kegiatan positif yang terjadi di sekitar.

Akhirnya, mari kita berdoa, “Semoga, berapa pun dana yang terkumpul, bisa dimanfaatkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang dilanda musibah di seantero negeri.” Aamiin Ya Robb.

Bernard Shaw – Pencarian

Saya berusaha mencari buku asli dari nukilan tulisan ini, yang pernah saya catat sekitar tahun 2004-2005. Saya ingin memastikan apakah memang Bernard Shaw pernah menulis seperti ini. Tulisan ini sungguh berkesan, mengingatkan saya tentang kecintaan terhadap buku.

Bernard Shaw mengatakan:

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku pernah merasakan kemiskinan yang sesungguhnya. Sebelum aku bisa mencari nafkah dengan menulis, aku memiliki sebuah perpustakaan besar yang terletak di museum Inggris. Aku memiliki ruang pameran seni lukis. Apa yang bisa aku lakukan dengan harta? Menghisap rokok? Aku tidak merokok. Minum champagne? Aku tidak suka minum. Membeli tigapuluh setelan model terakhir? Maka mereka cepat mengajak aku menghadiri undangan makan malam di istana-istana mereka. Mereka orang-orang yang aku merasa sesak dada ketika memandang mereka sekejab saja. Atau aku membeli seekor kuda? Atau mobil? Semua itu membuat aku resah. Sekarang aku telah mempunyai sejumlah harta yang dengannya aku mampu membeli barang-barang tersebut. Namun aku tidak membeli apa-apa kecuali membeli apa yang bisa kubeli ketika aku miskin.

Sesungguhnya kebahagiaanku terletak pada apa-apa yang telah membahagiakan aku ketika aku miskin: buku yang aku baca, lukisan yang aku menikmatinya, dan ide-ide yang aku tulis. Di sisi lain, aku memiliki imajinasi yang luar biasa. Aku tidak ingat bahwa aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar memejamkan mata untuk membayangkan apa yang aku inginkan. Jadi, apa gunanya kemewahan yang mencelakakan yang menghiasi jalan Bond?

Sumber: Menjadi Wanita Paling Berbahagia (As’ad al-Mar’ah fi al-’Alam).

(Dr. Aidh al-Qarni 2004)

Di Bawah Sini

Di bawah sini
Semua menunduk takzim
Tak ada bunyi tak ada suara
Hanya hening menyatu dengan bentangan pasir, tegakan karang,
dan jurang yang dasarnya tiada

Di bawah sini
Kegelapan adalah selimut abadi
Semua masuk dan meringkuk di dalamnya
Menghisap sari kehidupan yang di atas sana adalah milik cahaya
dan tak ada yang bertanya mengapa

Hari itu di bawah sini
Keheningan berteriak dan kegelapan terkoyak 
Oleh gemuruh cahaya yang datang dan tak ada yang sanggup menjawab mengapa ia datang 
Tak ada tanya tak ada jawab
Di bawah sini
Hanya menunduk takzim
Menyatukan cahaya dalam keheningan dan kegelapan semesta

Depok, 26 April 2021
#praynanggala402