Toba

Tiga kali ke Toba, tak ada bosannya karena selalu ada pengalaman baru. Sepertinya tidak ada tempat penelitian yang saya datangi berulang seperti Danau Toba. Pertama di bulan Februari 2023. Kedua di bulan Mei di tahun yang sama. Kali ketiga September 2025. Setiap berangkat membayangkan bertemu hal-hal serupa, tetapi nyatanya tidak. Dan itu jadi sesuatu yang menyenangkan.

Toba sendiri telah berubah. Banyak pembangunan spot-spot pariwisata yang di tahun 2024 sudah terlihat. Geopark Efrata misalnya. Pada tahun 2024 jembatan tele tempat orang dapat melihat lanskap Toba secara utuh sudah berdiri. Namun, baru di tahun ini Jembatan Tele itu diresmikan. Agak terlambat sebenarnya karena konstruksi jembatannya sudah mulai berkarat. Patung Yesus di Sibeabea Hill telah rampung, berdiri tegak setinggi 61 m. Lebih tinggi dari patung Yesus di Brasil (43,5 m). Taman di sekitar patung semarak dengan bunga warna warni. Bougenvil, lili, tapak dara, juga rumput-rumput besar berwarna coklat putih. Warnanya sedikit mengurangi terik matahari yang garang bersinar di puncak bukit Sibeabea.

Di pantai Panguruan ada Waterfront Panguruan. Pertama kali saya ke sana, Jembatan Panguruan adalah ikon yang paling menarik perhatian wisatawan. Kini pelataran Waterfront Panguruan jadi pusat keramaian yang baru. Saya dengar setiap akhir pekan tempat ini ramai dikunjungi. Orang menikmati air mancur menari, lampu, kafe, dan tentu saja obrolan malam minggu.

Ada keunikan Toba bagi saya yang mungkin berbeda dari orang lain. Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purbakala menjadi rumah bagi keragaman diatom, utamanya Ordo Rhopalodiales. Anggota diatom dari ordo ini hanya tiga, Rhopalodia, Epithemia, dan Tetralunata. Salah satu tujuan perjalanan saya ke Toba memang ingin menelusuri jejak Rhopalodiales, utamanya Tetralunata. Catatan keberadaan Tetralunata di Danau Toba sudah berumur lebih dari 90 tahun ketika Hustedt membuat laporan dari diatom tersebut di tahun 1935 dan 1937. Sangat menarik bila kita dapat membuktikan bahwa Tetralunata masih bertahan di sini, di Danau Toba.

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika menemukan tidak hanya Tetralunata, tapi juga Rhopalodia dan Epithemia dalam kondisi hidup. Sel-sel mereka yang sehat berwarna coklat kekuningan dengan bulatan-bulatan lipid di sana sini. Penanda khas lain yang menjadi ciri Rhopalodiales adalah simbion cyanobacteria di dalam selnya. Dari ketiga genus Rhopalodiales, Tetralunata masih sangat sedikit diteliti oleh para ahli diatom dunia. Observasi Tetralunata di Danau Toba tahun 2023-2024 berhasil mengidentifikasi 9 spesies, lebih sedikit dari 14 spesies yang dilaporkan Hustedt (1937). Jadi, masih terbuka kesempatan lebar untuk menguak rahasia Tetralunata dan teman-temannya di Danau Toba yang indah dan unik ini. Betapa besar kekayaan alam kita sementara begitu sedikit yang kita ketahui. Allahu Akbar.

Penghuni Air Terjun

Setiap pergi ke air terjun, ada sesuatu yang menarik saya. Tebing batu berlumut yang ada di sekitar air terjun. Bermacam jenis lumut memenuhi tebing. Ada lumut hati yang sederhana bentuknya, hanya serupa lembaran daun pipih tak jelas batang dan akarnya. Ada juga lumut sejati yang sudah mirip tumbuhan umumnya, terlihat bagian akar, batang, dan daun. Di habitat air terjun tubuh lumut yang mungil jadi agak lebih besar. Percikan air terjun yang terus menerus membasahi tebing membuat tempat itu lembap sehingga lumut dapat tumbuh dengan tenang: bertambah besar dan banyak.

Yang menarik perhatian saya adalah apa yang ada di bawahnya, bergelimang dengan tanah, menempel di permukaan batu tebing, atau mengalir bersama air. Itulah alga, biota renik yang sering disangka tumbuhan. Tentu saja saya tidak melihatnya langsung dengan mata telanjang. Gumpalan lumut dan tanah itu perlu dibawa ke laboratorium, dibersihkan, diteteskan di atas kaca, dan diamati dengan mikroskop. Butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kecantikan makhluk berukuran mikro ini. Tapi, tentu saja semua itu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah mikroskop, beragam bentuk terlihat jelas. Ada yang hanya berupa sel tunggal, seperti diatom. Ada sel tunggal yang lebih senang hidup berkoloni, seperti Chroococcus. Yang lain berbentuk seperti benang atau pita. Ada yang memiliki spiral di dalam rangkaian selnya, yang sebenarnya adalah “organ” fotosintetiknya. Kita memberi nama alga ini Spirogyra. Ada juga Nostoc, yang bentuknya bergerombol, bergulung-gulung seperti mie kusut. Semua punya bentuk yang khas, unik, berbeda satu dengan yang lain. Bentuk yang sederhana, tapi punya peran besar. Mereka adalah para produsen yang menggerakkan ekosistem: menyediakan diri mereka sebagai makanan bagi para konsumen, mulai dari tingkat bawah sampai top predator. Tanpa mereka, ekosistem akan kolaps.

Berteman dengan alga di alam sangat menyenangkan. Bentuknya yang menarik selalu membuat hati saya senang. Bagaimana sejuta keragaman itu dapat memenuhi alam? Pertanyaan yang membuat saya mencari tahu (https://atthecorner.home.blog/2022/01/18/symbiosis-and-evolution/), menundukkan hati, dan kemudian memuji kebesaran pencipta mereka. Allahu Akbar.

Kemping Ceria

Geng Kemping Ceria beraksi lagi. Kali ini merambah Panorama Pinus Camping Ground di kawasan Gunung Salak. Jalan ke sana semula baik-baik saja sebelum satu kilo terakhir dari gerbang bumi perkemahan. Jalurnya hanya cukup satu mobil, tajam mendaki, kanan tebing kiri jurang. Ada pagar berlampu yang dibangun sepanjang beberapa meter di tebing itu. Fungsinya sebagai penerangan di malam hari. Pemandangan yang indah dengan rasa ngeri. Mungkin perasaan itu saya saja yang punya karena Pak Su tenang-tenang saja membawa mobil mendaki. Mungkin kalau ada mobil lain dari arah berlawanan dia tidak setenang itu. Yang jelas malam itu kami sampai dengan selamat di bumi perkemahan.

Kemping jaman now jauh berbeda dari masa muda saya dulu. Tenda kemping sekarang sangat nyaman, seperti rumah mungil. Terbuat dari bahan parasut, bagian bawah, sisi, dan atas tenda menyatu, tidak menyisakan lubang tempat cacing, kutu, atau serangga masuk ke dalam. Atap tenda dibuat dua lapis agar embun dari luar hanya merembes di lapisan pertama, tidak sampai ke lapisan dalam. Struktur dua lapis ini memungkinkan dibuat “jendela” di satu sisi tenda. Di siang hari, lapis pertama bisa dibuka sehingga udara bisa mengalir masuk lewat jendela yang ada di lapis kedua. Bagian depan tenda dibuat “teras” dengan memasang awning yang ditegakkan oleh tiang. Agar ada sensasi home sweet home di teras digelar karpet dari rumput sintetis. Luar biasa!

Rumah sudah dipindah. Dapur juga tidak ketinggalan. Berbagai peralatan masak dan bahan makanan dibawa. Kompor gas, panci, wajan, ceret, piring, sendok, bahan protein dan sayur siap memenuhi kebutuhan perut. Tidak ada makanan versi darurat di komunitas kemping ceria, walaupun mie dan kopi instan tetap disediakan. Tapi, kegiatan memasak tetap digelar. Inilah saat ibu-ibu beraksi. Nasi dimasak, sayur ditumis, ikan digoreng. Lalu semua digelar di rumput yang telah diberi alas dan peserta kemping duduk lesehan. Acara kemping yang utama dimulai: bergosip dan makan-makan.

Jangan membayangkan kemping ala survival di komunitas ini. Dengan berbagai persiapan yang menjamin tempat tidur dan makan, kenyamanan diperoleh. Tinggal satu yang mau tidak mau harus diterima dengan ikhlas. Kamar mandi dan toilet. Jarang pengelola bumi perkemahan menyediakan kamar mandi yang nyaman. Entah kamar mandinya sempit, pintu rusak, toilet tidak bersih, sarang laba-laba bergelantungan, dan berbagai bentuk “seadanya” yang semuanya harus ditelan oleh para tamu. Pengelola hanya menjamin ketersediaan air bersih dan melimpah. Jadi, urusan toilet adalah satu-satunya survival bagi komunitas ini.

Mereka yang biasa pergi berpetualang ke alam bebas mungkin geleng-geleng kepala melihat susah payahnya geng kemping ceria “menyatu dengan alam”. Pendaki gunung, the ranger, the survivor, mungkin tersenyum simpul melihat susah payahnya kami sedikit keluar dari zona nyaman. Tapi, semua bisa saling menghormati dan berbagi pengalaman. Tidak sedikit para petualang yang sesekali bergabung dan menyemarakkan suasana malam hari dengan cerita-cerita yang seru dan terkadang horor. Satu yang sulit ditoleransi oleh geng kemping ceria, apalagi para ranger, adalah para tamu yang datang dengan peralatan musik membahana. Kami kemping untuk menikmati suara alam, bukan nyanyian manusia.

Keseruan Satu Hari

Sesekali bertindak impulsif sangat baik. Ikuti saja kata hatimu. Dengarkan keinginanmu untuk sesekali lepas dari keseharian. Jangan banyak menimbang: TO BE OR NOT TO BE, SHOULD I OR SHOULD’T, IS IT WISE OR NOT. Tinggalkan semua pemikiran itu dan bergembiralah. Itu yang terjadi di satu hari ini. Awan tebal menutup matahari membuat pagi jadi mendung dan hati diliputi was-was. Tapi, begitulah. Tak ada yang dapat menghalangi tekat bulat untuk menikmati alam Kebun Raya Bogor.

Entah, kapan terakhir kali berkunjung di kebun yang penuh nostalgia ini. Memang penuh nostalgia karena sebagai seorang anak, saya sudah diajak “main” ke sana oleh Bapak Ibu. Sewaktu jadi mahasiswa biologi, kebun ini seperti laboratorium outdoor, tempat pengamatan berbagai flora fauna. Karena itu, buat saya, banyak kenangan indah tersimpan dalam lanskap kebun raya yang secara umum tidak banyak berubah.

Kali ini yang menjadi pengamatan saya adalah liken, atau sering dikenal dengan nama lumut kerak. Bayangkan dalam satu pohon pandan, begitu banyak jenis lumut kerak hidup di batangnya. Aneka bentuk, warna, kepadatan, semua terpampang di sana. Lumut kerak memang sering luput dari pengamatan karena ukurannya yang kecil. Namun, sekali kita mengenalnya, pasti akan terpesona.

Satu perubahan yang penting buat para penggemar kopi adalah dibukanya beberapa kedai kopi di dalam kebun raya. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Secret Garden Cafe. Nuansa lapang dan segar langsung terasa begitu kita masuk ke dalamnya. Beberapa lukisan tanaman bergaya seni menghias dinding kafe yang berwarna putih. Saya bersyukur dapat menikmati pagi yang sejuk ditemani secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng. Satu hari yang penuh kebahagiaan sudah cukup sebagai amunisi menghadapi pekerjaan rutin di hari esok.

Secret Garden Cafe

Jangan lupa ajak teman-teman. Jalan-jalan di Kebun Raya Bogor tanpa teman kurang menggigit. Have FUN!!

Symbiosis and Evolution

In comparison with Darwinian evolutionists who argue that the formation of new species is a result of mutation followed by natural selection, the Endosymbiotic Theory approaches evolution in differently. In high school, we are taught that evolution is a change through time, provided with classic evidence of the populations of finches in the Galapagos Island.

Under the piles of material study about Darwin’s Theory of Evolution, Endosymbiotic Theory is merely the engulfment of one bacterium by others, forming organelle cells of mitochondria and chloroplast. Many textbooks simply write that an endosymbiont is a common occurrence in the evolution of organisms. It is not common to think that new species evolved from an endosymbiont. However, we may re-construct this conclusion. Students should be given a balance information to understand that Darwin is the first but not the last one who proposed a theory of evolution. Elias and Archibald (2009) published a review on the impact of endosymbiosis on the evolution of the nuclear genome. This paper has a beautiful picture of the Endosymbiotic Theory explaining the origin and diversity of Chromalveolates (once known as algae). It is also mentioned that almost 20% of the nuclear genome of flowering plants Arabidopsis has the cyanobacterial footprints.

Evolution and classification is like two-sided coin they cannot be parted. Classification as a science has been developed, slowly but steadily. It was supported by the discovery of light and electronic microscope. Classification system is re-shaping its form: Starting from Linnaeus, who divided organisms into plants and animals, to Woese, who introduced Domain as the highest taxonomic ranking. As we revise the system so to be closer to the tree of life, taxa disappeared, diversified, blended. Contrary to the most scientists, Margulis kept questioning Woese’s single data -the RNA- in separating (Eu)Bacteria from Archae: “If the RNA of microorganism can change in just few hours (such as Plasmodium), RNA sequence is probably not the best way of defining the greatest of all groups” (Margulis 1998: 67). To this date, the debates among taxonomists and systematists on morphological and molecular characters for species identification and classification are still on going.

References:

Margulis, L. 1998. Symbiotic Planet : A New Look at Evolution, Basic Books, ISBN 0-465-07271-2Elias M, Archibald JM. 2009. Sizing up the genomic footprint of endosymbiosis. BioEssays 31: 1273-1279.

https://www.deviantart.com/…/Endosymbiotic-Theory…

note: this article has been published in author FB

Seperti Wabah, Semangat juga Menular

Pertemuan terakhir kuliah Biosistematika ditutup dengan penampilan video-video mahasiswa yang sudah tayang di YouTube mereka. Pertama kali tugas diumumkan, ada sedikit keraguan apakah mahasiswa dapat membuat video setengah ilmiah. Kenapa setengah ilmiah? Karena kontennya memang ilmiah, yaitu materi kuliah. Tapi, penyajiannya lebih mengutamakan estetika dan kreativitas, tidak fokus pada materi. Hasilnya adalah video-video yang sangat menginspirasi, menyegarkan, dan membuat saya meyakini bahwa mahasiswa kami memang punya gen pemenang, gen yang tidak mau menyerah begitu saja terhadap tantangan.

Sejujurnya, Biosistematika termasuk ilmu yang kompleks. Menurut saya ini karena banyak materi di dalamnya yang memerlukan “pengertian dan pemahaman”. Bayangkan bila seseorang memberi tahu kita bahwa kelelawar itu bukan burung, padahal kita tahu mereka sama-sama bisa terbang. Belum lagi, orang yang sama menambahkan bahwa sayap kelelawar itu sejatinya lebih mirip dengan struktur tangan kita, manusia, ketimbang sayap burung. Lalu, seperti masih ingin membuat kita ternganga, dia akan membisikkan bahwa burung adalah sepupu sang buaya. Sementara kita mengira buaya adalah sepupu kadal, ular, dan segala sesuatu yang merayap. Sungguh absurd! Namun, kalau kita mau membuka-buka buku Biosistematika, informasi di atas dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Tentu saja saya tidak akan cerita di sini. Biarlah yang rumit-rumit itu milik mahasiswa, yang untuk kali ini saya wakilkan pada R18OSOME.

Kuliah daring gegara wabah Covid-19 menyebabkan saya tidak dapat bertemu dengan R18OSOME. Kuliah daring sebenarnya tidak mengasyikkan. Saya tidak dapat melihat kening yang berkerut, mata yang berair karena menahan kantuk, anggukan pura-pura mengerti, tundukan yang bukan malu-malu kucing kalau dosen bertanya, “Ada pertanyaan?”, juga wajah-wajah yang ditekuk karena mendapat banyak tugas. Sebagai mantan mahasiswa, tentu saja saya tahu semua ekspresi itu. Sepertinya, semuanya ekspresi yang tidak bagus, ya? Well, tentu saja tidak demikian. Yang paling membuat kehilangan justru yang bagus-bagus dari ekspresi mereka: tawa ceria, mata yang berbinar-binar ketika akhirnya bisa ke kantin, olok-olok yang baik dan ngangenin, jabat tangan dan rangkulan, atau sekedar senyum dan salam.

Maka, semangat R18OSOME yang terpancar dari karya mereka menjadi oase bagi kami yang sudah jenuh dengan keheningan kelas daring dan, ironisnya, hiruk pikuk jaringan internet. Mendengar lagu-lagu pilihan mereka untuk mengiringi lirik yang mereka ciptakan membuat hati gembira. Bahkan, beberapa kali hati melengos ketika mendengar lagu-lagu jadul mengalun. Memori saya kembali pada masa-masa indah sekolah …….. melankolis sekali! Yang membuat saya salut adalah ketika ada kelompok yang mampu membuat lagu sendiri dan menampilkan dengan sangat apik. It’s beyond my expectation. Bahkan, seorang rekan dosen sampai meneteskan air mata haru menerima semangat yang luar biasa ini.

Pos ini saya dedikasikan buat R18OSOME, mahasiswa Angkatan 2018 di Departemen kami. Saya berterima kasih atas kerjasama dan kerja keras kalian. Tentunya kalian yang paling tahu apakah kerja keras itu sudah mencapai standar kalian, termasuk apakah kalian telah mengerti dan paham dengan materi yang diberikan. Yang saya tahu, kalian telah memberi amunisi baru buat saya untuk menghadapi kuliah daring di semester berikut. Semoga kalian juga dapat memetik buah dari kerja keras kalian.

Yang mau coba-coba dengar silahkan klik beberapa link berikut ya 😀

Ruang Lingkup Biosistematika – Parasit (Gita Gutawa)
Nomenklatur – Cinta (Vina Panduwinata)
Konsep Spesies – Moves Like Jagger (Maroon 5)
Karakter – Kopi Dangdut (Fahmi Shahab)

Klasifikasi Alami dan Tidak Alami

Malam ini saya tengah menyegarkan pengetahuan tentang klasifikasi makhluk hidup ketika tiba-tiba teringat sebuah tanya jawab yang terjadi puluhan tahun yang lalu pada acara ujian sidang mahasiswa. “Apa beda klasifikasi yang alami dan buatan?” tanya saya. “Tidak ada klasifikasi yang alami, Bu. Semuanya kan buatan manusia.” Jawab mahasiswa yang sedang diuji itu.

Jawaban mahasiswa itu cukup mengagetkan mengingat salah satu tugas yang harus dikerjakan untuk proyek skripsinya adalah melakukan pengelompokan tanaman. Akhirnya, jadilah saya menjelaskan kembali duduk perkaranya lewat contoh yang menurut saya sederhana. Anggaplah kita mengelompokkan tumbuhan menjadi sayur-sayuran dan buah-buahan. Otomatis, kita akan memisahkan daun pepaya (sayur) dengan buah pepaya (buah). Padahal kita tahu bahwa daun pepaya dan buah pepaya seharusnya tidak dipisahkan karena keduanya berasal dari satu pohon (satu tanaman). Contoh lain, misalnya, kita membuat kelompok hewan ternak. Kita akan memasukkan ayam, kambing, ikan mas, ke dalam kelompok itu karena semuanya adalah hewan-hewan yang diternakkan manusia. Sejatinya, di alam, tidak pernah kita temukan ayam dan ikan mas berbagi tempat tinggal. Demikian juga kambing dengan ikan mas atau kambing dengan ayam. Penampilan mereka pun berbeda jauh. Belum lagi cara mereka kawin. Banyak sekali perbedaan-perbedaan di alam yang memisahkan ketiga hewan itu satu sama lain. Jadi, kelompok sayur-sayuran, buah-buahan, atau hewan ternak adalah pengelompokan tidak alami atau disebut juga pengelompokan buatan (artificial classification).

Bagaimana dengan pengelompokan yang alami? Makhluk hidup itu punya ciri khas yang membedakan satu dengan yang lain. Ciri khas itu disebut karakter. Kita dapat mencoba mengumpulkan banyak karakter dan memakai sekumpulan karakter itu sebagai pembeda. Misalnya kita punya kucing dan mencoba mencari makhluk mana yang mirip-mirip kucing. Maka kita akan mencari hewan yang punya raut muka seperti kucing (telinga runcing, hidung segitiga, wajah lancip), punya gigi dan cakar, punya ekor, berjalan seperti seekor kucing (merunduk, mengendap-endap), bertabiat dan kawin seperti kucing. HOLA! Kita akan menemukan harimau, macan, singa, lynx, dan cheetah. Itulah keluarga kucing atau nama susahnya Felicidae. Inilah pengelompokan yang alami (natural classification).

Duo Alfred

Pernah dengar Alfred Wallace? Garis Wallace? Alfred Wagener? Continental Shift atau pergerakan benua? Kalau belum pernah dengar, mungkin sekarang waktunya mengulik siapa dan apa semua itu. Sebagai orang Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam begitu besar rasanya pantas bila kita bisa sedikit bercerita tentang Duo Alfred: Alfred Wallace dan Alfred Wagener.

Garis Wallace adalah garis khayal yang membentang dari kepulauan Filipina di Utara sampai ke Selat Lombok – yang memisahkan Pulau Bali dan Lombok – di sebelah Selatan. Garis ini membagi flora dan fauna Indonesia ke dalam dua wilayah: Barat dan Timur. Di wilayah Barat ada kera-kera besar, badak, kerbau, banteng, gajah, dan tapir yang sama sekali tidak ada di Timur. Sebaliknya, di wilayah Timur ada hewan-hewan berkantung, berang-berang, platypus, kalkun, dan kakaktua yang tidak ditemukan di Barat. Orang yang mengamati perbedaan ini adalah Alfred Wallace, seorang naturalis asal Inggris yang betah tinggal di dalam hutan di Maluku, Ternate, Sulawesi, Borneo, dan Sumatra. Kecintaan Wallace terhadap alam Indonesia terbukti dari suratnya kepada istrinya, yang mengatakan bahwa ia bahagia dan kerasan di kepulauan Hindia Belanda (waktu itu tahun 1860-an). Memang pantas bila nama Wallace itu diabadikan sesuai dengan apa yang diamatinya.

Wallace melontarkan gagasan bahwa perbedaan flora fauna antara Barat dan Timur Indonesia adalah akibat pemisahan daratan barat dan timur jutaan tahun yang lalu. Ide bahwa jutaan tahun yang lalu Sumatra, Jawa, Borneo, Bali, dan Lombok pernah bersatu lalu berpisah cukup “menakutkan” Wallace. Demikian juga ide pergerakan geologi: pemekaran daratan, pengangkatan bumi, atau naiknya sedimen bawah laut akibat letusan gunung berapi.  Semua ide itu membuat Wallace berkeringat dingin dan hampir-hampir tidak sanggup meneruskan angan-angannya. Apalagi, di tahun 1860-an itu tidak ada bukti yang cutup untuk memastikan teori-teori Wallace tentang pergerakan geologi.

Wallace survived 12 years in the tropics collecting specimens (Image: Evstafieff/Down House, Downe, Kent, UK/English Heritage Photo Library/Bridgeman).
Wallace Collection beetle specimens. Drawer containing beetles collected and mounted by the British naturalist Alfred Russel Wallace (1823-1913). Collection of Natural History Museum, London. (https://fineartamerica.com/profiles/science-photo-library).

Bukti-buktinya baru datang hampir seratus tahun kemudian, dilontarkan oleh Alfred Wagener, seorang penjelah Kutub Utara berkebangsaan Jerman, berwajah tampan dengan mata biru kelabu tajam. Sungguh suatu kebetulan bahwa kedua orang itu memiliki nama depan yang sama: Alfred. Pada tahun 1915, Wagener menulis buku The Origin of Continents and Oceans (Asal Usul Benua-Benua dan Samudra-Samudra) dan menyisipkan istilah “pergeseran benua” di dalamnya (pada tahun 1926 istilah ini diubah menjadi continental drift atau “benua yang terapung”).

Salah satu hal yang menyebabkan Wagener berpikir tentang penyatuan dan pemisahan benua adalah bentuk garis pantai Afrika dan America Selatan yang seperti kepingan puzzle, bila disambung akan klop! (Wagener menulis gagasan puzzle ini kepada tunangannya). Wagener berusaha melengkapi idenya dengan berbagai bukti (termasuk hasil temuan Wallace di Hindia Belanda). Lalu, terbentuklah gambar itu: gambar benua purba Pangea yang kemudian berpisah menjadi Laurasia dan Gondwanaland.

Sayangnya hipotesis ini ditentang oleh banyak ilmuwan hanya karena otoritas akademik. Wagener, seorang meteorologist, sok-sok an bicara tentang geologi! Begitu kira-kira penolakan yang ia terima. Pada masa itu, ilmuwan geologi percaya bahwa bumi adalah suatu “penampakan” yang solid, rigid, tidak berubah. Lagipula, bagaimana mungkin benua bergerak? Apa yang dapat menggerakkan daratan yang besar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan bukan untuk didiskusikan melainkan sebagai cemohan untuk Wagener.

Wagener sendiri tidak peduli. Ia tidak ngotot memaksa orang mempercayai teorinya. Seperti biasa, ia meneruskan penjelajahannya di kutub. Pada suatu hari di bulan November 1930, ia tidak kembali dari perjalananya ke salah satu ujung Greenland. Beberapa bulan kemudian, di bulan Mei 1931, tubuhnya ditemukan telentang di hamparan salju. Matanya terbuka menatap langit biru kutub yang dicintainya dan mulutnya hampir menyunggingkan senyum seakan puas dengan akhir hidupnya. Teorinya tentang benua yang bergerak akhirnya diterima dengan ditemukannya bukti-bukti baru oleh para peneliti-peneliti muda yang berpikiran terbuka. Salah satu bukti yang tidak terbantahkan ada di Indonesia, tepatnya di Pontianak. Posisi lintang nol yang membagi bumi menjadi Utara Selatan ditandai oleh Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Apakah kalian tahu bahwa posisi Tugu Khatulistiwa di Pontianak sekarang tidak lagi di titik nol derajat lintang khatulistiwa?

Si Cantik Yang Tersisih

Manusia selalu punya ikon untuk segala sesuatu yang indah. Ada Miss Universe, Putri Indonesia atau Putri Kampus. Dunia hewan punya harimau, si Raja Hutan, sebagai ikonnya, walaupun kini nama Raja Hutan patut dipertanyakan karena hutannya sudah habis dibabat manusia. Dunia tumbuhan diwakili oleh tumbuhan berbunga, sebagai bentuk yang paling maju, “mengalahkan” bentuk-bentuk lumut, paku, dan tumbuhan gimnosperma (pinus, sikas). Tumbuhan berbunga telah mengembangkan struktur tubuhnya dengan kehadiran batang berpembuluh, kambium, dan biji. Dalam perkembangan struktur tubuh tumbuhan berbunga itu sendiri, evolusi daun menjadi bunga adalah puncak keunggulan tumbuhan berbunga. Evolusi bunga ini menjadi jawaban mengapa bumi yang kita tinggali sekarang dipenuhi oleh tumbuhan berbunga.

Lalu, siapa ikon tumbuhan yang mewakili kecantikan dan keindahan bunga? Tidak lain adalah bunga anggrek. Selain warna yang menarik dan bentuk yang bervariasi, struktur bunga anggrek sangat berbeda dari bunga apapun di bumi ini.

Namun, ada kecantikan lain yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Dalam dunia ini ada sekelompok organisme berklorofil yang hidup melayang-layang di perairan, yang dikenal dengan nama fitoplankton. Kebanyakan anggotanya merupakan makhluk satu sel dengan cara hidup soliter atau berkelompok. Ukuran sel bervariasi mulai dari satuan sampai ratusan mikrometer. Bentuk selnya bermacam-macam: bulat seperti bola, oval seperti telur, panjang seperti rantai, sampai bentuk-bentuk yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Salah satu kelompok fitoplankton yang sangat cantik adalah desmid, yang kecantikannya sangat khas. Sebut saja Closterium si bulan sabit, Micrasterium si bunga mawar, Cosmarium si hamburger, atau si rantai panjang Desmidium yang menjadi simbol penamaan Desmid. Bentuk tubuhnya yang seperti cermin dibelah dua sangat mengesankan. Belum lagi silsilahnya yang dipercaya sebagai sepupu dari leluhur tumbuhan yang hidup di darat.

Sumber: 1). Desmidium (http://protist.i.hosei.ac.jp/); 2). Closterium (https://www.pinterest.com/pin/77335318571467283/); 3). Micrasterias division: https://www.pinterest.com/pin/589971619930397525/);

Kelompok fitoplankton lain yang tidak kalah cantik adalah diatom. Struktur dinding selnya mengandung senyawa kapur, membuat makhluk ini mampu “mendekorasi” tubuhnya dengan pola yang unik. Bentuk tubuh diatom ini dapat dibayangkan seperti kotak dengan tutupnya. Bagian kotak akan selalu lebih kecil dibandingkan dengan bagian tutup dan memang demikianlah sel diatom.

Berbagai bentuk sel diatom (Sumber: 1). Cymbella-like: https://www.pinterest.com/pin/589971619930398124/); 2), round-diatom (https://www.pinterest.com/pin/589971619930397963/); 3). Fragilariforma (https://www.pinterest.com/pin/506655026815066134/)

Mahkluk satu sel seperti desmid dan diatom berkembang biak dengan cara membelah diri. Satu sel menjadi dua sel. Dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya. Bayangkan ketika sel desmid membelah, maka setengah bagian selnya harus terbentuk sama persis dengan setengah selnya yang lain. Betapa rumitnya! Bila salah lekukan, maka retaklah cermin itu. Pembelahan sel diatom tidak kalah membingungkan. Bagian tutup akan membentuk bagian kotak, sedangkan bagian kotak akan membentuk bagian tutup.

Karena kotak selalu lebih kecil dibandingkan dengan tutup, maka setelah 100 generasi boleh jadi ukuran sel ke-100 itu akan jadi 1/100 ukuran induknya. Jangan-jangan akan ada satu generasi dimana sel anak itu hilang, karena kecil sekali! Well, ternyata tidak seperti itu Allah Yang MahaPencipta merancang sel diatom. Ada mekanisme yang berfungsi ketika ukuran sel diatom mencapai titik kritis, mereka akan mencari pasangan kawin dan menghasilkan sel anak dengan ukuran tubuh normal.

Perairan Indonesia sangat kaya dengan fitoplankton. Lautan, sungai, dan danau adalah habitat mereka. Diatom yang tinggal di laut umumnya berukuran lebih besar daripada yang tinggal di perairan tawar. Hal ini dapat dimaklumi karena perairan laut mengandung lebih banyak unsur kalsium (kapur) yang merupakan bahan baku dari dinding sel diatom. Desmid hanya mampu hidup di perairan tawar, terutama perairan yang bersih, sedikit asam (pH 5,5-6), dan tenang (bukan air mengalir). Danau dan rawa adalah habitat desmid. Keberadan habitat desmid kini rawan karena adanya konflik kepentingan dengan kebutuhan perumahan manusia. Sangat disayangkan bila pengelolaan wilayah perumahan terus mengorbankan danau dan rawa. Sangat disayangkan bila suatu hari nanti kita tidak dapat lagi bertemu dengan makhluk-makhluk cantik ini.