Through the Open Door

A brief conversation woke me up into my being as the head of Graduate Study Program. After four years of service, I returned to my regular position: a lecturer. While moving out my things from the head office, our assistant said abruptly, “It’s not the same now without your presence.”  I thought he was overthinking. There would not be any differences with my replacement. But then he continued that he would no longer hear my tapping shoes and the smell of the coffee I brew every morning. I could not hold my smile. What he said is true.

That little talk made me think back to the time when I was in the office. On my very first day working as the head of study program, I realized the significant addition of my contact names in my cellular phone. Usually, I am selective in saving the names of my acquaintances. This is not because I am exclusive. It is simply because the memory capacity of my phone is limited. Furthermore, I never expected to send messages to every single student whose name was listed in my contact at least once during their period of study. Looking back at my time in office, I wondered. During those days, I might have become a different person to accomplish the various tasks given.

I learned many things when I was in charge. Working in structural positions means constraints in terms of time and choice. Many things must be resolved in a short time with few options. It took me a while to understand the pattern when problems arose. For example, the time when students pick up courses or during the peak of students’ exams. Over time, I also learned that I could not hold a call or prompt message. All must be answered. The greatest pressure I face is that I cannot change the rhythm. The beat, pace, and tempo of academic work were steady, following the one and only direction. The boredom of routine can stifle creativity and freedom, ultimately killing your passion for life.

I do not say that there is no advantage in becoming a person in charge in an office. I had chance to build a wide network, meet important people, and even take side jobs offered by new acquaintances. People would know you and serve you. In short, you will be overwhelmed by the attention and privilege given to you. However, what kind of life do I want to live? The question keeps repeating in my mind.

George Lucas said, “We are all living in cages with the door wide open.”

I think I will take the opportunity now to go through that open door.

2026

2026 akhirnya datang. Tak ada satu pun yang sanggup menghadang. Waktu, seperti juga ruang, adalah dimensi keniscayaan. Keduanya menjadikan kita ada, exist, walaupun mungkin tanpa makna. Kita sering mendengar di setiap awal pergantian tahun orang bertanya, “Apa resolusi tahun baru?” Kita bisa melihat pertanyaan itu dari dua sisi. Di satu sisi pertanyaan itu berarti bahwa masa lalu kita penuh dengan masalah dan kita tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah itu. Di sisi lain kita dapat memandangnya sebagai refleksi diri, walaupun menurut saya refleksi diri tidak perlu menunggu tahun baru. Tidak perlu momen istimewa untuk mengevaluasi apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan kemudian. Kita bisa melakukannya di setiap pergantian malam, bulan, atau matahari. Bahkan, bisa jadi, lebih banyak orang yang “terpaksa” merenungi perjalanan hidup mereka karena diguncang oleh suatu peristiwa: kematian, putus hubungan, lulus sekolah, mencapai impian, dan banyak lagi peristiwa yang penting dalam kehidupan seseorang.

Apakah kita telah memberi makna pada waktu? Setiap orang bisa sesukanya memberi makna tahun baru. Bagi sebagian orang, hingar bingar tahun baru berarti pergerakan ekonomi, ketika terjadi transaksi antara mereka yang menjual dan membeli kegembiraan. Bisa juga berarti waktu berkumpul bagi keluarga, rekan sejawat, atau teman-teman. Yang lain memaknai tahun baru dengan hal-hal religius atau, boleh jadi, malah menanggapi dengan apatis: tak ada yang berubah walaupun tahun berganti. Terkadang saya berpikir berapa banyak cost yang kita keluarkan untuk satu hal sederhana yang dibungkus dalam satu kata kompleks: perayaan. Namun, kenyataannya, begitulah manusia. Selalu perlu melakukan manifestasi tentang eksistensi dirinya.

Apa yang akan berubah secara signifikan dalam kehidupan saya di 2026? Setelah empat tahun menjalankan amanah sebagai ketua program studi pasca biologi, tiba saatnya saya kembali sebagai dosen tanpa embel-embel jabatan. Setelah empat tahun dicari-cari banyak orang, terutama mahasiswa, saya harus memaknai kembali kata “orang penting” di kepala. Mengapa para pejabat sering terjebak dengan perasaan (dan pemikiran) menjadi orang penting? Belajar dari pengalaman pribadi, hal itu karena orang-orang di sekitarnya memperlakukan mereka dengan berbagai keistimewaan. Betapa menakutkan. Di sisi lain, saya jadi memahami mengapa banyak orang berebut menjadi orang penting lebih dari menjadi orang kaya. Kita juga jadi memahami mengapa ada istilah power syndrome. Memang lebih mudah menjadi pejabat ketimbang turun dari jabatan.

Tentu saya tidak akan menyelesaikan amanah itu tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar saya. Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih pada keluarga, teman-teman, rekan-rekan sejawat, para mahasiswa dan pimpinan. Apa yang dapat saya lakukan tanpa kepercayaan dan kerjasama mereka? Bagai macan tanpa taring, wewenang yang saya miliki akan tumpul. Terkadang saya meragukan apakah keputusan-keputusan yang saya ambil sudah tepat. Pada saat-saat seperti itu dukungan sistem dan orang-orang di sekitar menjadi sangat berarti. Begitu banyak yang telah mereka berikan sehingga saya dapat menjalankan tugas ini tanpa kehilangan semangat dan dapat terus bersikap positif. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.

2026 telah berjalan. Apa yang akan saya lakukan di hari-hari ke depan? Banyak sekali. Tapi bila ditulis di sini itu akan terasa seperti menjawab jargon tahun baru, “Apa resolusi kamu?” Tentu kita tidak mau tergelincir dalam jargon dan omon-omon belaka, bukan?

TRANSMIGRAN NO MIGREN

Belum lengkap kisah Ekspedisi Patriot kalau belum bercerita tentang Pak Yanto, Pak Asroni, dan kawan-kawan trans. Anggaplah ini sebagai pelunasan (sebagian) janji saya kepada teman-teman di Desa Lantang Tallang, Masamba, Luwu Utara, bahwa tim kami akan menyuarakan apa yang menjadi harapan dan mimpi mereka. Sebenarnya inti dari tulisan ini sudah saya coba kirimkan ke dua media, tetapi keduanya menolak. Jadi, biarlah saya goreskan di kolom ini biar selalu menjadi pengingat semangat dan kerja keras teman-teman trans di sana.

Pak Yanto, Pak Asroni, Pak Rumidi, dan teman-teman datang dari Jawa Tengah ke Sulawesi Selatan untuk mencoba merubah nasib. Harapan untuk memiliki lahan dan rumah sendiri menjadi motivasi terbesar ketika mengikuti program transmigrasi. Tiba di Satuan Pemukiman (SP) Lantang Tallang, Masamba, pada tahun 2014, Pak Yanto dan kawan-kawan membayangkan akan melihat hamparan lahan terbuka yang nantinya siap ditanami padi. Tidak pernah selintas pun ada dalam pikiran mereka berhadapan dengan bukit dan hutan. Walaupun terkejut dengan kenyataan itu, akhirnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berjuang dengan segala keterbatasan untuk mewujudkan mimpi: mengubah nasib diri dan keluarga menjadi lebih baik.

Tahun demi tahun berlalu. Bukit yang menjadi lahan mereka kini ditumbuhi pohon sawit. Bukan tanaman yang direkomendasikan dari sudut pandang biologi dan lingkungan mengingat risiko budaya monokultur dan tanah longsor. Namun, sampai saat ini sawit adalah komoditas yang menopang perekonomian Pak Yanto dan kawan-kawan.

Saat saya pertama datang hanya sawit yang terlihat mengisi ekosistem Lantang Tallang, atau lebih luas lagi, Kabupaten Masamba. Namun, bila lebih jeli membedah keanekaragaman hayati di sini, kita akan berdecak melihat pohon-pohon lain tumbuh subur. Pisang, kelapa, nipah, rotan, kecombrang (pattikala) dan sepupunya sulikan (Hellwigia monopleura). Itu baru beberapa yang terlihat tumbuh di sepanjang jalan. Obrolan dengan kawan-kawan di lokasi membawa cerita tentang jengkol, lada, dan durian sebagai pundi-pundi uang. Saya tambah yakin bahwa kawasan ini memang subur dan menyimpan seribu satu potensi hayati. Sawit bukan satu-satunya jalan untuk membawa kemajuan daerah ini.

Sebagai pendatang, Pak Yanto dan kawan-kawan punya masa-masa sulit beradaptasi dan berinteraksi dengan alam dan penduduknya. Untungnya mereka pandai membawa diri sehingga tidak ada konflik yang berarti. Akulturasi mulai terjadi saat mereka mulai berbicara dengan logat setempat dan menikmati makanan popular Masamba, seperti kapurung dan pacco. Sebaliknya, Masyarakat setempat yang semula tidak mengenal jengkol kini mulai menjadikannya sebagai hidangan yang harus ada dalam acara-acara warga. Harmonisasi memang tidak mudah, tetapi dengan niat, kemauan, dan usaha, pasti akan terwujud.

Pembentukan Kelompok Tani disaksikan oleh Kepala dan Wakil Kepala Desa Lantang Tallang dan Pak Yanto sebgai Ketua RT

Tentu banyak yang dapat didukung oleh Kementerian Transmigrasi dan Pemerintah setempat bagi percepatan kemajuan kawasan transmigrasi di Masamba. Tidak sekedar memindahkan penduduk, kawasan transmigrasi yang sudah ada didorong untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui perbaikan infrastuktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan kebutuhan warga trans Lantang Tallang. Dalam rantai produksi sawit, mengangkut tandan-tandan sawit ke pabrik memerlukan alat transportasi dan kondisi jalan yang baik. Dari sisi peningkatan kapasitas sdm, pendampingan budidaya sawit dapat diberikan kepada warga. Selama ini warga berusaha sendiri memelihara sawit agar tumbuh dan berproduksi. Namun, secara kualitas produksi sawit belum memenuhi standar yang prima sehingga berpengaruh terhadap harga.

Kerja keras dan harapan tinggi yang dimiliki warga trans Lantang Tallang adalah aset sumber daya manusia yang berharga. Motivasi warga untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bila didukung dengan bijaksana oleh pemerintah pusat (dalam hal ini Kementerian Transmigrasi) dan daerah, akan menjadi motor penggerak pengembangan ekonomi dan kemajuan Lantang Tallang untuk menjadi desa mandiri. Pak Yanto dan kawan-kawan pun tidak harus merasakan migren mewujudkan mimpi menjadi transmigran yang sukses.

Kisah Delapan Pemuda

“Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan guncangkan dunia.” Kata Bung Karno di Kongres Indonesia Raya tahun 1931. Lewat ungkapan itu Bung Karno hendak menunjukkan besarnya kekuatan pemuda. Tim Ekspedisi Patriot di Masamba tidak ada sepuluh pemuda. Hanya delapan pemuda yang berdedikasi dengan tekat menyelesaikan tugas di pundak mereka. Mereka diminta untuk melakukan pemetaan dan memberi rekomendasi komoditas unggulan untuk lokus transmigrasi di Desa Lantang Tallang. Bukan tugas besar seperti memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atau menyerukan Sumpah Pemuda. Delapan pemuda itu hanya diberi tugas kecil, sekecil tugas detik jarum di putaran waktu jam besar. Tugas kecil namun berarti karena jam tidak akan menunjukkan waktu ketika detik jarum tidak bekerja dengan baik.

Ketika datang di Lantang Tallang, Masamba, para arjuna dan srikandi ini tidak tahu persis apa yang akan mereka hadapi. Masamba adalah satu dari sebelas kecamatan di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sebagai ibukota kabupaten, Masamba menjadi kota kecil yang menampung gedung-gedung pemerintahan, rumah sakit, bahkan bandara udara. Jalan-jalan beraspal dilalui bermacam kendaraan mulai dari motor, mobil, sampai truk-truk pengangkut sawit. Beberapa tahun lagi mungkin Masamba akan menjadi kota seperti Depok, bahkan boleh jadi lebih besar karena kekayaan alam yang melimpah yang datang dari bukit-bukit sawit, pohon merica, jengkol, durian, dan nilam. Namun, tantangan terberat yang dihadapi delapan pemuda itu bukan kekayaan kawasan ini. Warga trans, sumber daya manusia yang mengolah kekayaan alam itulah tantangan terbesar mereka.

Tidak ada hal yang lebih menciutkan hati bila kita datang ke tempat baru disambut dengan rasa curiga dan prasangka. Bahkan kalaupun itu tidak dialami, para pemuda ini dikira membawa bantuan dari pemerintah yang telah lama ditunggu warga trans Lantang Tallang. Suatu prasangka yang menjadi beban karena mereka tidak membawa bantuan apapun. Mereka hanya membawa semangat perubahan sebagaimana layaknya para pemuda yang menjadi agen perubahan. Lalu, apakah Amanda, Anggun, Fadhlan, Imad, Nisrina, Raka, Rahmat, dan Yuni, para pemuda yang telah diangkat sebagai patriot Masamba gentar dengan prasangka itu? Sama sekali tidak. Mereka justru ingin membuktikan bahwa mereka bisa merebut hati warga trans dan bersama membuka lembaran baru dalam hidup berkomunitas.

Sungguh Allah telah merahmati perjuangan mereka ketika di akhir tugas warga sepakat untuk membentuk kelompok tani. Apa nama yang diberikan? Tidak lain dan tidak bukan: Poktan Patriot. Nama yang semoga akan dikenang selalu oleh warga tentang delapan pemuda yang datang ke rumah mereka, menyapa dengan kemurnian hati dan ketulusan kehendak, dengan tujuan semata demi kemajuan warga trans di Lantang Tallang. Insyaa Allah Poktan Patriot sukses di masa depan.

Setelah Hujan Turun

Sore hari di Kampus UI, setelah turun hujan, menghadirkan banyak nuansa. Keceriaan, kesegaran, kerinduan, romansa, bahkan misteri. Udara yang dingin, kabut yang perlahan naik, tetes air yang turun dari dedaunan, tidak sekedar peristiwa alam, tetapi juga pengalaman batin. Terkadang, sambil menikmati angin dingin dalam perjalanan pulang, lahir sebuah puisi. Puisi yang dapat menghalau aura negatif, bila hati sedang resah.

Janji tak pernah dikhianati oleh riak danau kala bertemu angin, gugur daun kala bumi memanggil, harum petrikor kala dideras hujan, bait-bait kataku kala gelisah tak kunjung reda

Kampus UI yang luas bisa menjadi habitat tersendiri, lepas dari lingkungan di sekitarnya: perkotaan. Di dalam kampus boleh jadi hujan, tapi di luar tidak. Begitu juga sebaliknya. Petir yang menyertai datangnya hujan bisa terlihat sangat jelas di langit kampus. Memanjang dari langit ke bumi, dengan kilatan perak menyilaukan dan suara yang memekakkan. Hati menjadi gentar melihat kekuatan alam itu dan bibir berbisik, Allaahu Akbar. Betapa diri ini hanya insan lemah, tapi seringkali sombong dan takabur.

Dengarlah tetesan air hujan
Sebelum ia menjadi banjir bandang
Dan menumbangkan pohon yang telah engkau tanam

Dengarlah bisik angin sepoi
Sebelum ia menjadi badai
Dan menggugurkan bunga-bunga yang telah engkau rangkai

Dengarlah suara hatimu
Sebelum ia tertelan dan menggumpal
Menjadi seonggok batu dan membisu

Terkadang, setelah hujan dan petir itu berhenti, matahari muncul memesona. Sinarnya menghangatkan tubuh dan mengembalikan keceriaan dari rasa sendu. Khayalan menyatu bersama kabut yang naik dari Situ Salam, terbang menghilang entah kemana. Yang tinggal hanya rasa-rasa yang sulit dilukiskan tapi nyata.

Kutitip cintaku pada hujan sore ini
Yang deras mengalir di sela batuan
Biar terbawa ke ujung bumi
Yang tak bertepi
Tuk kembali memelukku

Kutitip rinduku pada hujan sore ini
Yang menari bersama angin
Biar tersimpan di tiap butir debu
Yang mengawang di udara
Abadi selamanya

10 November 2023

The Devil and Miss Prym and I

Masamba is a town in Luwu Utara Regency. It’s famous for sawit (palm oil), cacao, and jengkol. When my colleague and I went there for a business trip, we took a flight first to Makassar, then continued with a sleeper bus to Masamba. The sleeper bus serves a seat compartment so we can sleep and enjoy the trip comfortably. Because the sleeper bus departs at night, we can rest and sleep during the trip and reach our destination the next morning. We were excited to have a fun trip to Masamba before it became a disaster.

Buying a sleeper bus ticket should be easy and safe as long as you know where to buy and who the agent is. We opened the bus website and connected to the agent. We chose the sleeper seat (they also offered the regular seat) and paid the price. The agent then gave us the photo of our ticket, with my name, the bus schedule, and the price. Everything was okay, although if I think now, we should be suspicious of that ticket. But we were glad to have the ticket and moved to the next agenda that afternoon. It was not until we went to the bus terminal at eight pm that we realized the ticket was fake.

The front officer dispelled our ticket (which was actually the photo of the ticket!) and said our contact was not their agent. We were shocked. When we tried to call the agent, there was no response. The fraudster erased our communication, and no one knew where he or she was. At the end, we had to buy tickets again. As the bus departed, my colleague could not hold back and blurted angrily, “Nasty man!” to the fake agent.

As I recall, I rarely collided with fraud. Of course, I felt pity when it happened. But, unexpectedly, the experience reminded me of the book I brought along this trip. It was Paulo Coelho The Devil and Miss Prym. The book is about the battle between the good and the bad sides of us. Are we truly good or being pushed to be a good one because we are afraid to do bad things? If you were poor and somebody offered you gold for doing something bad, could you accept the offering? A gold that can change the life of you and your family forever is something worth it! Do you think you can take the action?

In my life, I am bestowed with many opportunities and choices, free to live as I want. Even with such a fortunate life, the good does not always win in the battle of the angel and the devil in my heart. In this world, many people struggle with their lives. Many times, they face situations where all choices are bad. Life is just unfair, even if you do nothing. That’s sad.

Back to my story, I’d rather feel pity than anger with the fake agent. What kind of life does he through? Can he bear all the troubles that come so that he can be a good person? Is life really hard, so that he only has bad choices? May God give him a family, a friend, a stranger who leads him to win the battle of the angel and the devil in his heart. Ameen.

Toba

Tiga kali ke Toba, tak ada bosannya karena selalu ada pengalaman baru. Sepertinya tidak ada tempat penelitian yang saya datangi berulang seperti Danau Toba. Pertama di bulan Februari 2023. Kedua di bulan Mei di tahun yang sama. Kali ketiga September 2025. Setiap berangkat membayangkan bertemu hal-hal serupa, tetapi nyatanya tidak. Dan itu jadi sesuatu yang menyenangkan.

Toba sendiri telah berubah. Banyak pembangunan spot-spot pariwisata yang di tahun 2024 sudah terlihat. Geopark Efrata misalnya. Pada tahun 2024 jembatan tele tempat orang dapat melihat lanskap Toba secara utuh sudah berdiri. Namun, baru di tahun ini Jembatan Tele itu diresmikan. Agak terlambat sebenarnya karena konstruksi jembatannya sudah mulai berkarat. Patung Yesus di Sibeabea Hill telah rampung, berdiri tegak setinggi 61 m. Lebih tinggi dari patung Yesus di Brasil (43,5 m). Taman di sekitar patung semarak dengan bunga warna warni. Bougenvil, lili, tapak dara, juga rumput-rumput besar berwarna coklat putih. Warnanya sedikit mengurangi terik matahari yang garang bersinar di puncak bukit Sibeabea.

Di pantai Panguruan ada Waterfront Panguruan. Pertama kali saya ke sana, Jembatan Panguruan adalah ikon yang paling menarik perhatian wisatawan. Kini pelataran Waterfront Panguruan jadi pusat keramaian yang baru. Saya dengar setiap akhir pekan tempat ini ramai dikunjungi. Orang menikmati air mancur menari, lampu, kafe, dan tentu saja obrolan malam minggu.

Ada keunikan Toba bagi saya yang mungkin berbeda dari orang lain. Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purbakala menjadi rumah bagi keragaman diatom, utamanya Ordo Rhopalodiales. Anggota diatom dari ordo ini hanya tiga, Rhopalodia, Epithemia, dan Tetralunata. Salah satu tujuan perjalanan saya ke Toba memang ingin menelusuri jejak Rhopalodiales, utamanya Tetralunata. Catatan keberadaan Tetralunata di Danau Toba sudah berumur lebih dari 90 tahun ketika Hustedt membuat laporan dari diatom tersebut di tahun 1935 dan 1937. Sangat menarik bila kita dapat membuktikan bahwa Tetralunata masih bertahan di sini, di Danau Toba.

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika menemukan tidak hanya Tetralunata, tapi juga Rhopalodia dan Epithemia dalam kondisi hidup. Sel-sel mereka yang sehat berwarna coklat kekuningan dengan bulatan-bulatan lipid di sana sini. Penanda khas lain yang menjadi ciri Rhopalodiales adalah simbion cyanobacteria di dalam selnya. Dari ketiga genus Rhopalodiales, Tetralunata masih sangat sedikit diteliti oleh para ahli diatom dunia. Observasi Tetralunata di Danau Toba tahun 2023-2024 berhasil mengidentifikasi 9 spesies, lebih sedikit dari 14 spesies yang dilaporkan Hustedt (1937). Jadi, masih terbuka kesempatan lebar untuk menguak rahasia Tetralunata dan teman-temannya di Danau Toba yang indah dan unik ini. Betapa besar kekayaan alam kita sementara begitu sedikit yang kita ketahui. Allahu Akbar.

Pisang dan Walet Siwa

Mata saya bersirobok dengan papan kedai kopi di siwa. Promosi di papan itu agak lain. Menyediakan kopi, teh, dan pisang. Bagaimana pisang bisa jadi daya tarik sehingga pantas ditulis pada papan nama kedai itu. Kita orang musti datang ke Pantai Losari tempat lapak-lapak pisang epe digelar. Sejak dulu sampai sekarang pisang epe masih jadi destinasi kuliner Makassar. Dulu tak ada rasa kecuali mentega dan gula. Di jaman now ini ada toping coklat dan keju yang lebih tepat dibilang kuah ketimbang toping saking perasa itu diguyur di atas pisangnya. Tapi saya punya pengalaman pribadi yang mengingatkan pamor pisang di kota-kota di Sulawesi Selatan ini. Almarhumah ibu mertua saya yang asal Siwa selalu membawa pisang kepok Siwa kalau datang ke Jakarta. Pisangnya dibelah tiga bujur, sehingga tidak terlalu tipis atau tebal, pas buat digoreng setengah matang agar tahan sesampainya di Jakarta. Dan memang rasanya enak, beda dengan pisang goreng yang biasa saya beli. Tidak terlalu keras, tidak terlalu empuk, pokoknya pas antara kelembutan dan kepadatannya. Apalagi kalau jadi teman minum kopi. Bestie, kata anak muda jaman now. Sayang saya tidak sempat turun sejenak untuk menikmati kopi dan pisang Utton.idn

Ada lagi yang mencolok mata di Siwa. Banyak rumah punya lubang-lubang kecil di dindingnya. Sesekali tampak burung-burung kecil berterbangan di sekitar lubang-lubang itu. Usut punya usut, benarlah itu rupanya lubang-lubang yang disediakan untuk burung walet bersarang. Rupanya, di Siwa-Wajo ini usaha sarang burung walet sangat tinggi. Sepertinya penduduk di sini tidak berkeberatan berbagi tempat tinggal dengan burung walet. Saking penasaran, saya berselancar di google dengan kata kunci “walet siwa”. Selain berita banyak warga membuka usaha sarang burung walet, ada juga berita sengketa bangunan burung walet antar warga. Weleh weleh.

Rawa Pening

Saya telah lama membawa rindu ini. Bukan rindu yang membara yang menghanguskan, tapi rindu selembut awan yang terbawa angin dan menebal lalu terbawa angin lagi menjadi setipis kabut. Rindu yang hilang tenggelam dan saat muncul kembali menjadi lebih manis dari sebelumnya. Kerinduan ini tidak untuk dimengerti. Ia hanya bisa dinikmati dalam hening dan sangat pribadi.

Sama sekali tidak mengira bahwa perjalanan ini membawa saya ke Rawa Pening, Banyu Biru, Bukit Tidar, Gunung Ungaran, dan pada kerinduan yang selembut awan tadi. Sepenolehan saja pada biru air nun jauh di sana cukup untuk meluapkan kenangan yang tersimpan baik di sudut memori. Kenangan tentang cinta dan pengabdian seorang Mahesa Jenar ketika undur diri mencari keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Semua itu hanya kisah goresan tangan Sang Maestro S.H. Mintardja. Namun, bagi saya kisah itu seperti nyata. Saya dapat merasakan kepahitan hidup Mahesa Jenar, kerinduan Rara Wilis, ketulusan Panembahan Ismaya, kemarahan Umbaran, atau jenakanya Mas Karebet alias Jaka Tingkir. Semua tokoh di sana begitu hidup dan memberi rasa yang tak lekang waktu.

Teman-teman yang menyertai perjalanan saya tidak ada yang mengenal keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Sungguh mengecewakan!  Usaha saya untuk terhubung dengan realita pupus. Saya berpikir bahwa memang kisah keris pusaka itu fiktif belaka. Semua hanya romansa sejarah Kerajaan Demak, Sultan Trenggana, dan Dinasti Mataram. Tidak saya sangka, di kompleks Candi Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran, keraguan saya terjawab oleh Pak Ngatno. Pak Ngatno pegawai pemerintah dan saat ini ditugaskan menjadi kepala cagar budaya Gedong Songo. Ia menjawab pertanyaan saya tentang dirinya. Katanya, “Saya hanya seseorang yang diberi pengetahuan tentang cagar budaya, bukan keturunan abdi dalem keraton, bukan pengikut wali-wali.” Ketika ditanya tentang Nagasasra dan Sabuk Inten, dengan tegas dan penuh percaya diri dia bersaksi pernah melihat kedua pusaka itu. Dalam hikayat, tidak semua orang dapat melihat dua pusaka itu. Namun, ketika ditanya keberadaan keris-keris (asli) itu sekarang, beliau hanya tersenyum simpul. Seperti mengisyaratkan bahwa saya tak perlu tahu lebih jauh lagi. Cukuplah tahu bahwa kedua pusaka itu ada.

Hening dan sepi. Nyata tetapi fana. Rindu bertemu ujung. Bersimpuh di dalam syukurNya.

Are You What You Read?

They say, “You are what you eat”. This quote illustrates that your behavior is related to the food that enters your body. If you like to eat junk food, your body might lack proteins, vitamins, and other substances necessary for a healthy body, making you weak and slowing down your activities. How about “You are what you read”? Is this also true? For me, reading a book can influence my brain and emotions. Reading books, whether they make me happy or sad, lifts my spirit, imagination, and understanding. Bringing those “fuels” to reality could make me face the good and the bad times. Book is one of my few best friends.

I must confess that some of my readings left a greater impression on me. The books of Agatha Christie and Jane Austen are my childhood reads. To this day, their work remains fond of me, not only as a reading but also as a collection. Christie’s are crime books, while Austen’s are romance. The two genres seem to be the opposite, but I don’t see it that way. There is a similarity in the character of these two English writers reflected in their works. The characters created by Agatha and Jane are adventurous, independent, have integrity, dare to act, and, of course, are smart.

There was a sustained sensation when I read the story of Poirot and Miss Marple. We are dragged around the world by Poirot, encountering various races and cultures, while affirming that human character, wherever he is, is the same: there is good and evil. On the other hand, Miss Marple takes us to an English village, into a quiet and simple countryside, before finally being startled by a crime.

The main characters of Jane Austen have always been women: Elizabeth Bennet, Emma Woodhouse, Elinor Dashwood, and Anne Elliot, to mention some of them. All characters have their own romantic stories. Their love stories are like a Ram Punjabi soap opera, full of twists before turning to meet their true partner. However, the idea brought by Jane is that family tree (bibit), social status (bebet), and identity (bobot) are not always parameters of the happiness of a loving couple. Jane criticized those perceptions cultivated in her society. So, Jane Austen was the British Kartini of her time.

Back to the title. Am I the incarnation of my readings? Well, let me think if I am the very confident Elizabeth, the humble yet sensible Elinor, the perfectionist and focused Poirot, the surprisingly calm Miss Marple, or I am all of them. What do you think?

Pembelahan yang Sempurna

Pembelahan sel alga Netrium dimulai dengan pembentukan celah pada bagian tengah sel. Saat inti sel (N) telah membelah, celah di bagian tengah sel semakin menyempit dan akhirnya terbentuk dua sel anak (Dokumentasi: https://doi.org/10.1016/S1978-3019(16)30378-3)

Semua organisme di muka bumi pasti ingin hidup panjang. Kalau mereka tidak mampu hidup selamanya (abadi), setidaknya hidup mereka diteruskan oleh keturunannya. Reproduksi merupakan salah satu cara spesies untuk mempertahankan populasinya dari kepunahan. Bagi alga bersel tunggal, memperbanyak diri lewat pembelahan sel adalah cara “kuno” yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Banyak spesies alga yang dapat melakukan perkawinan. Mereka mencari pasangan, kawin, dan memiliki keturunan. Namun, cara ini jauh lebih rumit dan “mahal”. Risiko tidak menemukan pasangan dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh keturunan menjadi faktor-faktor mengapa pembelahan sel menjadi pilihan pertama bagi alga bersel tunggal.

Pembelahan sel sepertinya sangat menguntungkan. Namun, bila diperhatikan, organisme dengan banyak sel (multiseluler) melakukan hal sebaliknya. Mereka lebih mengandalkan perkawinan, walaupun butuh “biaya” tinggi. Pembelahan sel menghasilkan anak/keturunan yang sama persis seperti induknya. Seratus persen identik, luar dalam. Hal ini menyebabkan mereka rentan terhadap perubahan lingkungan: mutasi yang merugikan, serangan penyakit, kompetisi dengan spesies yang lain, dan banyak lagi. Bayangkan kalau sang induk rentan terhadap virus X, sudah pasti keturunan mereka sama nasibnya.

Perkawinan, sebaliknya, memiliki peluang mendapatkan keturunan yang lebih baik dari pada induknya. Mengapa? Karena keturunan (anak) memiliki setengah materi genetik dari kedua induk. Ada peluang bahwa anak memiliki kombinasi sifat dari kedua induk. Salah satu induk boleh jadi rentan terhadap virus X, tapi induk satunya lebih kuat sehingga ada peluang anak mewarisi sifat yang tahan terhadap virus X.

Puisi “Mitosis” karya Dian Hendrayanti

Terlepas dari omong-omong tentang tujuan dari pembelahan sel, pembelahan itu sendiri harus terjadi dengan sempurna. Sel anak harus mendapatkan berbagai organel sel dari induknya karena organel sel itulah yang akan menjalankan berbagai fungsi sel. Oleh karena itu selain inti sel yg menyimpan materi genetik, ada kloroplas, mitokondria, ribosom, dan masih banyak lagi organel yang harus disintesis untuk kemudian dibagikan ke sel anak. Setelah dewasa, sel anak akan membelah lagi dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan induknya. Seperti bumi yang berputar, begitulah siklus sel mengawali kehidupan yang tak pernah berhenti sampai tiba di titik nadirnya.

The Blue-green on a Quinceañera Dress

Never imagine I found the bule green mentioned except in the term of algae. But as I found this photo and caption, I realized that the “blue green” is a matter of color and not just one of the photosynthetic pigments. It sounds silly, but it struck me how certain words, experiences, and feelings could blind you from a significant matter, common sense, just because you used them for a very long time. Studying blue-green algae for more than twenty years has built my mind so vividly that it has surprised me to know a designer uses the term for a dress! A Quinceañera dress is an elaborate-long gown made for a girl to celebrate her 15th birthday. It is a tradition in many Latin American cultures.

Blue Green Quinceanera Dresses Ball Gown Birthday Party Dress Lace Up Graduation Gown Vestidos 2023

This moment made me remember another moment when I was eager to join an online evening event held by the Linnaean Society of London. My prompt reaction was triggered by the title of “Cyanotype Workshop from the Linnaean Collections”.  I wondered what kind of botanical specimens could be related to Cyanobacteria, and then I knew they did not have a relation at all! It turned out that the event was about how to make a cyanotype printing/painting by two local artists: Caterina and Sharon. The course introduced us to using foraged botanical plants, pressed flowers, wet cyanotype, and chemicals that can change their color. Dying the piece using pigment powders or tea/coffee/green tea to make beautiful sepia images was one of the topics discussed in the event. It was interesting but beyond my expectations.

https://www.eventbrite.co.uk/e/into-the-light-cyanotype-workshop-from-the-linnaean-collections

Back to the dress. It was lovely—in terms of fabrics, design, and, of course, color! As for me, Cyanobacteria, the blue-green algae, are fantastic creatures. They have been living on earth since the beginning of life. They promoted the atmospheric oxygen, fertilized the soil, and formed oceanic sediment. What a BIG role tiny microorganisms accomplish. Hence, it would be a shame if I could not participate in conserving our beloved nature.

Penghuni Air Terjun

Setiap pergi ke air terjun, ada sesuatu yang menarik saya. Tebing batu berlumut yang ada di sekitar air terjun. Bermacam jenis lumut memenuhi tebing. Ada lumut hati yang sederhana bentuknya, hanya serupa lembaran daun pipih tak jelas batang dan akarnya. Ada juga lumut sejati yang sudah mirip tumbuhan umumnya, terlihat bagian akar, batang, dan daun. Di habitat air terjun tubuh lumut yang mungil jadi agak lebih besar. Percikan air terjun yang terus menerus membasahi tebing membuat tempat itu lembap sehingga lumut dapat tumbuh dengan tenang: bertambah besar dan banyak.

Yang menarik perhatian saya adalah apa yang ada di bawahnya, bergelimang dengan tanah, menempel di permukaan batu tebing, atau mengalir bersama air. Itulah alga, biota renik yang sering disangka tumbuhan. Tentu saja saya tidak melihatnya langsung dengan mata telanjang. Gumpalan lumut dan tanah itu perlu dibawa ke laboratorium, dibersihkan, diteteskan di atas kaca, dan diamati dengan mikroskop. Butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kecantikan makhluk berukuran mikro ini. Tapi, tentu saja semua itu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah mikroskop, beragam bentuk terlihat jelas. Ada yang hanya berupa sel tunggal, seperti diatom. Ada sel tunggal yang lebih senang hidup berkoloni, seperti Chroococcus. Yang lain berbentuk seperti benang atau pita. Ada yang memiliki spiral di dalam rangkaian selnya, yang sebenarnya adalah “organ” fotosintetiknya. Kita memberi nama alga ini Spirogyra. Ada juga Nostoc, yang bentuknya bergerombol, bergulung-gulung seperti mie kusut. Semua punya bentuk yang khas, unik, berbeda satu dengan yang lain. Bentuk yang sederhana, tapi punya peran besar. Mereka adalah para produsen yang menggerakkan ekosistem: menyediakan diri mereka sebagai makanan bagi para konsumen, mulai dari tingkat bawah sampai top predator. Tanpa mereka, ekosistem akan kolaps.

Berteman dengan alga di alam sangat menyenangkan. Bentuknya yang menarik selalu membuat hati saya senang. Bagaimana sejuta keragaman itu dapat memenuhi alam? Pertanyaan yang membuat saya mencari tahu (https://atthecorner.home.blog/2022/01/18/symbiosis-and-evolution/), menundukkan hati, dan kemudian memuji kebesaran pencipta mereka. Allahu Akbar.

Kemping Ceria

Geng Kemping Ceria beraksi lagi. Kali ini merambah Panorama Pinus Camping Ground di kawasan Gunung Salak. Jalan ke sana semula baik-baik saja sebelum satu kilo terakhir dari gerbang bumi perkemahan. Jalurnya hanya cukup satu mobil, tajam mendaki, kanan tebing kiri jurang. Ada pagar berlampu yang dibangun sepanjang beberapa meter di tebing itu. Fungsinya sebagai penerangan di malam hari. Pemandangan yang indah dengan rasa ngeri. Mungkin perasaan itu saya saja yang punya karena Pak Su tenang-tenang saja membawa mobil mendaki. Mungkin kalau ada mobil lain dari arah berlawanan dia tidak setenang itu. Yang jelas malam itu kami sampai dengan selamat di bumi perkemahan.

Kemping jaman now jauh berbeda dari masa muda saya dulu. Tenda kemping sekarang sangat nyaman, seperti rumah mungil. Terbuat dari bahan parasut, bagian bawah, sisi, dan atas tenda menyatu, tidak menyisakan lubang tempat cacing, kutu, atau serangga masuk ke dalam. Atap tenda dibuat dua lapis agar embun dari luar hanya merembes di lapisan pertama, tidak sampai ke lapisan dalam. Struktur dua lapis ini memungkinkan dibuat “jendela” di satu sisi tenda. Di siang hari, lapis pertama bisa dibuka sehingga udara bisa mengalir masuk lewat jendela yang ada di lapis kedua. Bagian depan tenda dibuat “teras” dengan memasang awning yang ditegakkan oleh tiang. Agar ada sensasi home sweet home di teras digelar karpet dari rumput sintetis. Luar biasa!

Rumah sudah dipindah. Dapur juga tidak ketinggalan. Berbagai peralatan masak dan bahan makanan dibawa. Kompor gas, panci, wajan, ceret, piring, sendok, bahan protein dan sayur siap memenuhi kebutuhan perut. Tidak ada makanan versi darurat di komunitas kemping ceria, walaupun mie dan kopi instan tetap disediakan. Tapi, kegiatan memasak tetap digelar. Inilah saat ibu-ibu beraksi. Nasi dimasak, sayur ditumis, ikan digoreng. Lalu semua digelar di rumput yang telah diberi alas dan peserta kemping duduk lesehan. Acara kemping yang utama dimulai: bergosip dan makan-makan.

Jangan membayangkan kemping ala survival di komunitas ini. Dengan berbagai persiapan yang menjamin tempat tidur dan makan, kenyamanan diperoleh. Tinggal satu yang mau tidak mau harus diterima dengan ikhlas. Kamar mandi dan toilet. Jarang pengelola bumi perkemahan menyediakan kamar mandi yang nyaman. Entah kamar mandinya sempit, pintu rusak, toilet tidak bersih, sarang laba-laba bergelantungan, dan berbagai bentuk “seadanya” yang semuanya harus ditelan oleh para tamu. Pengelola hanya menjamin ketersediaan air bersih dan melimpah. Jadi, urusan toilet adalah satu-satunya survival bagi komunitas ini.

Mereka yang biasa pergi berpetualang ke alam bebas mungkin geleng-geleng kepala melihat susah payahnya geng kemping ceria “menyatu dengan alam”. Pendaki gunung, the ranger, the survivor, mungkin tersenyum simpul melihat susah payahnya kami sedikit keluar dari zona nyaman. Tapi, semua bisa saling menghormati dan berbagi pengalaman. Tidak sedikit para petualang yang sesekali bergabung dan menyemarakkan suasana malam hari dengan cerita-cerita yang seru dan terkadang horor. Satu yang sulit ditoleransi oleh geng kemping ceria, apalagi para ranger, adalah para tamu yang datang dengan peralatan musik membahana. Kami kemping untuk menikmati suara alam, bukan nyanyian manusia.