Mendung bergayut mengiringi kepergian Beliau ...
sembari menahan tangisnya. Takut jika tetesannya
menghanyutkan wewangian surga yang merebak di udara
Walau angin berkali-kali mengajaknya pergi
mendung masih enggan beranjak. Ia masih berpikir untuk mengucapkan kata-kata penghormatan ... tapi takut ludahnya mengotori hamparan sajadah Beliau yang selembut sutra surga
Hujan berbisik pada angin, biarkan mendung memiliki hari ini.
Toh, sebentar lagi malam datang menutup hari lalu esok semua akan kembali. Kecuali Beliau yang tengah bercengkrama dengan Kekasihnya nun di langit
Published by atthecorner
cannot explain more
than yours
View all posts by atthecorner
Puisi yang indah.👍
LikeLiked by 1 person