Duo Alfred

Pernah dengar Alfred Wallace? Garis Wallace? Alfred Wagener? Continental Shift atau pergerakan benua? Kalau belum pernah dengar, mungkin sekarang waktunya mengulik siapa dan apa semua itu. Sebagai orang Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam begitu besar rasanya pantas bila kita bisa sedikit bercerita tentang Duo Alfred: Alfred Wallace dan Alfred Wagener.

Garis Wallace adalah garis khayal yang membentang dari kepulauan Filipina di Utara sampai ke Selat Lombok – yang memisahkan Pulau Bali dan Lombok – di sebelah Selatan. Garis ini membagi flora dan fauna Indonesia ke dalam dua wilayah: Barat dan Timur. Di wilayah Barat ada kera-kera besar, badak, kerbau, banteng, gajah, dan tapir yang sama sekali tidak ada di Timur. Sebaliknya, di wilayah Timur ada hewan-hewan berkantung, berang-berang, platypus, kalkun, dan kakaktua yang tidak ditemukan di Barat. Orang yang mengamati perbedaan ini adalah Alfred Wallace, seorang naturalis asal Inggris yang betah tinggal di dalam hutan di Maluku, Ternate, Sulawesi, Borneo, dan Sumatra. Kecintaan Wallace terhadap alam Indonesia terbukti dari suratnya kepada istrinya, yang mengatakan bahwa ia bahagia dan kerasan di kepulauan Hindia Belanda (waktu itu tahun 1860-an). Memang pantas bila nama Wallace itu diabadikan sesuai dengan apa yang diamatinya.

Wallace melontarkan gagasan bahwa perbedaan flora fauna antara Barat dan Timur Indonesia adalah akibat pemisahan daratan barat dan timur jutaan tahun yang lalu. Ide bahwa jutaan tahun yang lalu Sumatra, Jawa, Borneo, Bali, dan Lombok pernah bersatu lalu berpisah cukup “menakutkan” Wallace. Demikian juga ide pergerakan geologi: pemekaran daratan, pengangkatan bumi, atau naiknya sedimen bawah laut akibat letusan gunung berapi.  Semua ide itu membuat Wallace berkeringat dingin dan hampir-hampir tidak sanggup meneruskan angan-angannya. Apalagi, di tahun 1860-an itu tidak ada bukti yang cutup untuk memastikan teori-teori Wallace tentang pergerakan geologi.

Wallace survived 12 years in the tropics collecting specimens (Image: Evstafieff/Down House, Downe, Kent, UK/English Heritage Photo Library/Bridgeman).
Wallace Collection beetle specimens. Drawer containing beetles collected and mounted by the British naturalist Alfred Russel Wallace (1823-1913). Collection of Natural History Museum, London. (https://fineartamerica.com/profiles/science-photo-library).

Bukti-buktinya baru datang hampir seratus tahun kemudian, dilontarkan oleh Alfred Wagener, seorang penjelah Kutub Utara berkebangsaan Jerman, berwajah tampan dengan mata biru kelabu tajam. Sungguh suatu kebetulan bahwa kedua orang itu memiliki nama depan yang sama: Alfred. Pada tahun 1915, Wagener menulis buku The Origin of Continents and Oceans (Asal Usul Benua-Benua dan Samudra-Samudra) dan menyisipkan istilah “pergeseran benua” di dalamnya (pada tahun 1926 istilah ini diubah menjadi continental drift atau “benua yang terapung”).

Salah satu hal yang menyebabkan Wagener berpikir tentang penyatuan dan pemisahan benua adalah bentuk garis pantai Afrika dan America Selatan yang seperti kepingan puzzle, bila disambung akan klop! (Wagener menulis gagasan puzzle ini kepada tunangannya). Wagener berusaha melengkapi idenya dengan berbagai bukti (termasuk hasil temuan Wallace di Hindia Belanda). Lalu, terbentuklah gambar itu: gambar benua purba Pangea yang kemudian berpisah menjadi Laurasia dan Gondwanaland.

Sayangnya hipotesis ini ditentang oleh banyak ilmuwan hanya karena otoritas akademik. Wagener, seorang meteorologist, sok-sok an bicara tentang geologi! Begitu kira-kira penolakan yang ia terima. Pada masa itu, ilmuwan geologi percaya bahwa bumi adalah suatu “penampakan” yang solid, rigid, tidak berubah. Lagipula, bagaimana mungkin benua bergerak? Apa yang dapat menggerakkan daratan yang besar ini? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan bukan untuk didiskusikan melainkan sebagai cemohan untuk Wagener.

Wagener sendiri tidak peduli. Ia tidak ngotot memaksa orang mempercayai teorinya. Seperti biasa, ia meneruskan penjelajahannya di kutub. Pada suatu hari di bulan November 1930, ia tidak kembali dari perjalananya ke salah satu ujung Greenland. Beberapa bulan kemudian, di bulan Mei 1931, tubuhnya ditemukan telentang di hamparan salju. Matanya terbuka menatap langit biru kutub yang dicintainya dan mulutnya hampir menyunggingkan senyum seakan puas dengan akhir hidupnya. Teorinya tentang benua yang bergerak akhirnya diterima dengan ditemukannya bukti-bukti baru oleh para peneliti-peneliti muda yang berpikiran terbuka. Salah satu bukti yang tidak terbantahkan ada di Indonesia, tepatnya di Pontianak. Posisi lintang nol yang membagi bumi menjadi Utara Selatan ditandai oleh Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Apakah kalian tahu bahwa posisi Tugu Khatulistiwa di Pontianak sekarang tidak lagi di titik nol derajat lintang khatulistiwa?

Leave a Comment