Setiap pergi ke air terjun, ada sesuatu yang menarik saya. Tebing batu berlumut yang ada di sekitar air terjun. Bermacam jenis lumut memenuhi tebing. Ada lumut hati yang sederhana bentuknya, hanya serupa lembaran daun pipih tak jelas batang dan akarnya. Ada juga lumut sejati yang sudah mirip tumbuhan umumnya, terlihat bagian akar, batang, dan daun. Di habitat air terjun tubuh lumut yang mungil jadi agak lebih besar. Percikan air terjun yang terus menerus membasahi tebing membuat tempat itu lembap sehingga lumut dapat tumbuh dengan tenang: bertambah besar dan banyak.




Yang menarik perhatian saya adalah apa yang ada di bawahnya, bergelimang dengan tanah, menempel di permukaan batu tebing, atau mengalir bersama air. Itulah alga, biota renik yang sering disangka tumbuhan. Tentu saja saya tidak melihatnya langsung dengan mata telanjang. Gumpalan lumut dan tanah itu perlu dibawa ke laboratorium, dibersihkan, diteteskan di atas kaca, dan diamati dengan mikroskop. Butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kecantikan makhluk berukuran mikro ini. Tapi, tentu saja semua itu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah mikroskop, beragam bentuk terlihat jelas. Ada yang hanya berupa sel tunggal, seperti diatom. Ada sel tunggal yang lebih senang hidup berkoloni, seperti Chroococcus. Yang lain berbentuk seperti benang atau pita. Ada yang memiliki spiral di dalam rangkaian selnya, yang sebenarnya adalah “organ” fotosintetiknya. Kita memberi nama alga ini Spirogyra. Ada juga Nostoc, yang bentuknya bergerombol, bergulung-gulung seperti mie kusut. Semua punya bentuk yang khas, unik, berbeda satu dengan yang lain. Bentuk yang sederhana, tapi punya peran besar. Mereka adalah para produsen yang menggerakkan ekosistem: menyediakan diri mereka sebagai makanan bagi para konsumen, mulai dari tingkat bawah sampai top predator. Tanpa mereka, ekosistem akan kolaps.




Berteman dengan alga di alam sangat menyenangkan. Bentuknya yang menarik selalu membuat hati saya senang. Bagaimana sejuta keragaman itu dapat memenuhi alam? Pertanyaan yang membuat saya mencari tahu (https://atthecorner.home.blog/2022/01/18/symbiosis-and-evolution/), menundukkan hati, dan kemudian memuji kebesaran pencipta mereka. Allahu Akbar.
