Hari itu tanggal 24 Maret 1882. Ahli mikrobiologi Jerman, Dr. Robert Koch, untuk pertama kali bertemu dengan Myco. Dr. Koch sudah lama mengamati berbagai macam bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia. Ia menyadari bahwa untuk mengenal bakteri artinya harus memelihara mereka di laboratorium. Itulah sebabnya Dr. Koch mengembangkan berbagai medium yang mampu menumbuhkan bakteri di luar sel manusia. Sampai sekarang, metode yang dikembangkan oleh Dr. Koch (dikenal dengan Postulat Koch) untuk membuktikan suatu bakteri menyebabkan penyakit tertentu tetap menjadi pegangan bagi para ahli di dunia kesehatan. Pada Jumat 24 Maret itu, Dr. Koch menyadari ia harus berhadapan dengan kuman baru, Mycobacterium tuberculosis. Sekarang dikenal dengan kuman penyebab penyakit tuberkulosis (TBC).
Rabu, 7 Februari 2021. Saya melarikan seorang kerabat ke IGD. Kondisinya batuk, sesak nafas, nyeri di dada. Saturasi oksigen menunjukkan angka 89, jauh dari ambang batas aman 95. Pada masa pandemi covid 19 sekarang, semua tanda-tanda serangan virus itu dimiliki oleh kerabat saya. Hasil observasi rontgen toraks kemudian menunjukkan paru-paru berwarna putih, tanda bahwa ada cairan di sana. Semakin kuat dugaan infeksi virus SARS COV-2 ini. Namun, pemeriksaan lanjut membuktikan bahwa yang bersarang di paru-paru dia bukan si virus, melainkan bakteri yang ditemukan Dr. Koch di tahun 1882 itu. Halo, Myco!

Target serangan Myco mirip dengan SARS COV-2. Keduanya menyerang sistem pernafasan, tepatnya paru-paru. Oleh karena itu gejala yang disebabkan oleh kedua kuman itu sama: batuk, sesak nafas, dan nyeri di dada. Bahkan, bila sudah parah, batuk orang yang terinfeksi Myco diiringi dengan keluarnya darah. Menandakan ada luka di bagian paru. Para penderita maupun penyintas TBC memiliki kemungkinan kerusakan paru. Jauh sebelum munculnya covid 19, penyakit TBC sudah lama menghantui dunia kesehatan. Mengapa? Karena bakteri M. tuberculosis termasuk bakteri yang pintar bersembunyi. Selain itu, seperti umumnya bakteri dan virus, mereka mampu bermutasi menjadi lebih kuat dan resisten terhadap obat. Kondisi pandemi sekarang membuat pasien TBC dikesampingkan, padahal resiko kehilangan nyawa akibat penyakit ini tinggi. Laju kematian penderita TBC global adalah 1 orang per 18 detik. Sebanyak 1,4 juta orang meninggal di tahun 2019. Indonesia diketahui sebagai negara ketiga di dunia yang memiliki kasus TBC tinggi, setelah India dan Cina.

Saya sendiri pernah bertemu dengan Myco. Namun, dia tidak tinggal di paru-paru. Dia lebih memilih bersarang di kelenjar bagian leher dan menyebabkan benjolan. Gejala yang ditimbulkan bukan batuk dan sesak nafas. Saya merasakan ada yang salah dengan pencernaan saya, mual dan tidak nafsu makan. Badan tidak nyaman dan cepat merasa lelah. Rasa mual juga menyebabkan keinginan untuk muntah. Ketika keadaan semakin parah, yang keluar dari muntahan adalah dahak/lendir kental berwarna hijau. Dokter yang menangani langsung tahu bahwa saya terserang Myco. Lebih dari setahun saya harus mengkonsumsi obat. Untunglah obatnya cuma satu macam. Menurut dokter, pasien kambuhan menghadapi strain Myco yang lebih kuat dan harus menelan bermacam-macam obat yang efeknya bisa menggerus fisik dan mental pasien.
Taktik “Disiplin” Melawan Myco
Penyakit tuberkulosis bisa disembuhkan asalkan disiplin minum obat. Untuk menghindari resistensi bakteri, kesinambungan obat sangat penting bahkan sampai ke jam minum obat. Jangan sampai hari ini minum obat pagi, besok siang, dua hari kemudian malam hari. Apalagi minum obatnya bolong-bolong, sehari minum besok tidak, minggu ini minum minggu besok tidak. Apalagiiii bosan minum obat. Bila seperti ini dipastikan penyakit tidak akan sembuh bahkan membuat Myco bertambah kuat. Jadi, bakteri harus terus menerus dibombardir sehingga tidak ada kesempatan untuk tumbuh.
Saya lihat obat tuberkulosis masih sama dengan yang saya konsumsi dulu. Warna tabletnya pun masih sama, merah marun. Istilah yang digunakan adalah Obat Anti Tuberkulosis (OAT)-Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Tablet OAT-KDT terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan dan status kasus pasien. Paduan OAT disediakan dalam bentuk paket OAT-KDT. misal 2HRZE artinya obat tersebut mengandung Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol. Paket 2HRZES berarti ada tambahan Streptomisin, biasanya resep ini untuk pasien lama yang pengobatannya terputus. Alhamdulillah, tablet OAT sekarang digratiskan karena masuk dalam program kesehatan pemerintah. Waktu saya dulu tidak. Harganya termasuk mahal dan karena pengobatan lama lumayan harus keluar uang.
Semoga target Indonesia bebas TBC 2030 tercapai!

