
Saya telah lama membawa rindu ini. Bukan rindu yang membara yang menghanguskan, tapi rindu selembut awan yang terbawa angin dan menebal lalu terbawa angin lagi menjadi setipis kabut. Rindu yang hilang tenggelam dan saat muncul kembali menjadi lebih manis dari sebelumnya. Kerinduan ini tidak untuk dimengerti. Ia hanya bisa dinikmati dalam hening dan sangat pribadi.
Sama sekali tidak mengira bahwa perjalanan ini membawa saya ke Rawa Pening, Banyu Biru, Bukit Tidar, Gunung Ungaran, dan pada kerinduan yang selembut awan tadi. Sepenolehan saja pada biru air nun jauh di sana cukup untuk meluapkan kenangan yang tersimpan baik di sudut memori. Kenangan tentang cinta dan pengabdian seorang Mahesa Jenar ketika undur diri mencari keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Semua itu hanya kisah goresan tangan Sang Maestro S.H. Mintardja. Namun, bagi saya kisah itu seperti nyata. Saya dapat merasakan kepahitan hidup Mahesa Jenar, kerinduan Rara Wilis, ketulusan Panembahan Ismaya, kemarahan Umbaran, atau jenakanya Mas Karebet alias Jaka Tingkir. Semua tokoh di sana begitu hidup dan memberi rasa yang tak lekang waktu.



Teman-teman yang menyertai perjalanan saya tidak ada yang mengenal keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Sungguh mengecewakan! Usaha saya untuk terhubung dengan realita pupus. Saya berpikir bahwa memang kisah keris pusaka itu fiktif belaka. Semua hanya romansa sejarah Kerajaan Demak, Sultan Trenggana, dan Dinasti Mataram. Tidak saya sangka, di kompleks Candi Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran, keraguan saya terjawab oleh Pak Ngatno. Pak Ngatno pegawai pemerintah dan saat ini ditugaskan menjadi kepala cagar budaya Gedong Songo. Ia menjawab pertanyaan saya tentang dirinya. Katanya, “Saya hanya seseorang yang diberi pengetahuan tentang cagar budaya, bukan keturunan abdi dalem keraton, bukan pengikut wali-wali.” Ketika ditanya tentang Nagasasra dan Sabuk Inten, dengan tegas dan penuh percaya diri dia bersaksi pernah melihat kedua pusaka itu. Dalam hikayat, tidak semua orang dapat melihat dua pusaka itu. Namun, ketika ditanya keberadaan keris-keris (asli) itu sekarang, beliau hanya tersenyum simpul. Seperti mengisyaratkan bahwa saya tak perlu tahu lebih jauh lagi. Cukuplah tahu bahwa kedua pusaka itu ada.
Hening dan sepi. Nyata tetapi fana. Rindu bertemu ujung. Bersimpuh di dalam syukurNya.

