Tepat pukul tujuh, seharusnya Ryu sudah nongol. Untuk ketiga kalinya, Qon melirik jam di tangan. Ryu tidak pernah telat dengan jadwal jalan paginya. Sudah sebulan Qon dan Ryu jalan pagi bareng. Ritualnya dimulai dengan lari tiga putaran di Rotunda lalu berjalan ke arah Perpusatakaan Pusat, menyusuri jalan di samping Fakultas Hukum menuju lingkar UI, berbelok ke kiri menyusuri Fakultas Psikologi-Fisip, sampai akhirnya tiba di Fakultas Teknik dan beristirahat di sana. Qon dan Ryu menikmati jalan pagi mereka, terutama saat tiba libur semester seperti sekarang. Kampus tidak terlalu ramai dengan kendaraan sehingga udara terasa lebih menyegarkan.
“Qon!”
Qon mendengar namanya dipanggil. Dilihatnya Ryu muncul dari arah Dekanat. Qon membalas lambaian tangan Ryu. Ia meninggalkan tempatnya menunggu dan mendekati Ryu yang bergerak ke arah Rotunda.
“Sori ya, telat.” Ryu meminta maaf.
“Tenang aja. Baru nunggu lima menit, kok.” Qon santai membalas.
“Rute seperti biasa, kan?”
“Siap. Seperti biasa kita makan bubur dulu di Kukel baru balik ke Mipa.”
“Oke.”
Mereka berdua mulai berlari. Beberapa kali mereka mendahului orang-orang yang berjalan santai memutari Rotunda. Setelah tiga putaran, Qon dan Ryu melanjutkan jalan pagi mengikuti rute seperti biasa. Namun, sampai di Fakultas Teknik mereka kecewa karena tukang bubur langganan tutup. Lapak tukang bubur yang bersebelahan dengan pagar kuning kampus ini tidak pernah sepi. Pembelinya tidak hanya orang-orang yang tinggal di dekat situ. Qon sering melihat orang-orang yang lari atau jalan pagi melipir ke lapak ini. Tapi hari ini pelanggan yang datang kecewa karena Bapak Tukang Bubur tidak berjualan. Penjual nasi uduk di sebelah lapak bubur pun tidak tahu kabarnya. Akhirnya Qon dan Ryu pulang sambil menahan perut yang keroncongan.
Keesokan harinya, Qon dan Ryu kembali kecewa mengetahui lapak bubur langganan masih tutup. Karena penasaran, di hari ketiga mereka mampir lagi, tapi hasilnya sia-sia. Tukang bubur langganan masih tidak kelihatan batang hidungnya dan tidak ada yang tahu ke mana Bapak Tukang Bubur itu. Akhirnya mereka menyerah dan berpikir mungkin si Bapak pulang kampung karena kampus sedang libur semester.
Hampir seminggu mereka tidak mampir makan bubur sampai ketika mereka melihat keramaian di lapak penjual bubur. Asik, kayaknya sudah jualan lagi! Qoni bersorak dalam hati. Tanpa menunggu komando, Qon dan Ryu bergegas ke sana. Ternyata benar adanya. Bapak Tukang bubur sedang melayani pelanggan. Namun berbeda dari sebelumnya, di pagar ada karton bertuliskan Diaduk atau tidak diaduk, yang penting happy makan bubur.
“Kok lama nggak jualan, Pak?” Qon tidak dapat menahan rasa penasaran.
“Diminta jualan di Srengseng, Mbak.” jawab si Bapak.
“Diminta siapa, Pak?” Ryu tidak ketinggalan kepo.
Setengah bersungut Bapak Tukang Bubur bercerita. Rupanya ada seorang caleg mau menyediakan bubur gratis di daerah pemilihannya. Lapak buburnya dipasangi umbul-umbul dan poster bergambar caleg serta paslon presidennya. Tidak lupa tulisan BUBUR GRATIS! ditambahkan di sana. Saking lengkap promosinya ditambahkan: Makan bubur tidak usah diaduk, biar kelihatan cantik dan mewah! Hari pertama dan kedua memang ada yang datang makan. Namun, lebih banyak yang nggak sreg dengan cara makan buburnya. Bapak Tukang Bubur banyak terima keluhan. Emang nggak boleh diaduk, Pak? Kenapa nggak boleh? Makan bubur aja kok diatur-atur. Mau makan bubur kok pake mikir diaduk apa enggak. Gratis sih, tapi kok nggak demokratis. Ujung-ujungnya, sepilah lapak bubur gratis dan setelah seminggu si caleg menyerah. Kontrak bubur gratis pun bubar.
“Jadi sekarang saya pasang tulisan di pagar. Mau makan bubur diaduk boleh. Nggak diaduk juga boleh. Yang penting bubur saya laku.”
Oalahhhhh … kesian si Bapak kena gombalan Caleg!! Ya memang kalau tidak demokratis, tidak asik!
Depok, 7 Februari 2024.
