Kisah Delapan Pemuda

“Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan guncangkan dunia.” Kata Bung Karno di Kongres Indonesia Raya tahun 1931. Lewat ungkapan itu Bung Karno hendak menunjukkan besarnya kekuatan pemuda. Tim Ekspedisi Patriot di Masamba tidak ada sepuluh pemuda. Hanya delapan pemuda yang berdedikasi dengan tekat menyelesaikan tugas di pundak mereka. Mereka diminta untuk melakukan pemetaan dan memberi rekomendasi komoditas unggulan untuk lokus transmigrasi di Desa Lantang Tallang. Bukan tugas besar seperti memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atau menyerukan Sumpah Pemuda. Delapan pemuda itu hanya diberi tugas kecil, sekecil tugas detik jarum di putaran waktu jam besar. Tugas kecil namun berarti karena jam tidak akan menunjukkan waktu ketika detik jarum tidak bekerja dengan baik.

Ketika datang di Lantang Tallang, Masamba, para arjuna dan srikandi ini tidak tahu persis apa yang akan mereka hadapi. Masamba adalah satu dari sebelas kecamatan di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sebagai ibukota kabupaten, Masamba menjadi kota kecil yang menampung gedung-gedung pemerintahan, rumah sakit, bahkan bandara udara. Jalan-jalan beraspal dilalui bermacam kendaraan mulai dari motor, mobil, sampai truk-truk pengangkut sawit. Beberapa tahun lagi mungkin Masamba akan menjadi kota seperti Depok, bahkan boleh jadi lebih besar karena kekayaan alam yang melimpah yang datang dari bukit-bukit sawit, pohon merica, jengkol, durian, dan nilam. Namun, tantangan terberat yang dihadapi delapan pemuda itu bukan kekayaan kawasan ini. Warga trans, sumber daya manusia yang mengolah kekayaan alam itulah tantangan terbesar mereka.

Tidak ada hal yang lebih menciutkan hati bila kita datang ke tempat baru disambut dengan rasa curiga dan prasangka. Bahkan kalaupun itu tidak dialami, para pemuda ini dikira membawa bantuan dari pemerintah yang telah lama ditunggu warga trans Lantang Tallang. Suatu prasangka yang menjadi beban karena mereka tidak membawa bantuan apapun. Mereka hanya membawa semangat perubahan sebagaimana layaknya para pemuda yang menjadi agen perubahan. Lalu, apakah Amanda, Anggun, Fadhlan, Imad, Nisrina, Raka, Rahmat, dan Yuni, para pemuda yang telah diangkat sebagai patriot Masamba gentar dengan prasangka itu? Sama sekali tidak. Mereka justru ingin membuktikan bahwa mereka bisa merebut hati warga trans dan bersama membuka lembaran baru dalam hidup berkomunitas.

Sungguh Allah telah merahmati perjuangan mereka ketika di akhir tugas warga sepakat untuk membentuk kelompok tani. Apa nama yang diberikan? Tidak lain dan tidak bukan: Poktan Patriot. Nama yang semoga akan dikenang selalu oleh warga tentang delapan pemuda yang datang ke rumah mereka, menyapa dengan kemurnian hati dan ketulusan kehendak, dengan tujuan semata demi kemajuan warga trans di Lantang Tallang. Insyaa Allah Poktan Patriot sukses di masa depan.

Pisang dan Walet Siwa

Mata saya bersirobok dengan papan kedai kopi di siwa. Promosi di papan itu agak lain. Menyediakan kopi, teh, dan pisang. Bagaimana pisang bisa jadi daya tarik sehingga pantas ditulis pada papan nama kedai itu. Kita orang musti datang ke Pantai Losari tempat lapak-lapak pisang epe digelar. Sejak dulu sampai sekarang pisang epe masih jadi destinasi kuliner Makassar. Dulu tak ada rasa kecuali mentega dan gula. Di jaman now ini ada toping coklat dan keju yang lebih tepat dibilang kuah ketimbang toping saking perasa itu diguyur di atas pisangnya. Tapi saya punya pengalaman pribadi yang mengingatkan pamor pisang di kota-kota di Sulawesi Selatan ini. Almarhumah ibu mertua saya yang asal Siwa selalu membawa pisang kepok Siwa kalau datang ke Jakarta. Pisangnya dibelah tiga bujur, sehingga tidak terlalu tipis atau tebal, pas buat digoreng setengah matang agar tahan sesampainya di Jakarta. Dan memang rasanya enak, beda dengan pisang goreng yang biasa saya beli. Tidak terlalu keras, tidak terlalu empuk, pokoknya pas antara kelembutan dan kepadatannya. Apalagi kalau jadi teman minum kopi. Bestie, kata anak muda jaman now. Sayang saya tidak sempat turun sejenak untuk menikmati kopi dan pisang Utton.idn

Ada lagi yang mencolok mata di Siwa. Banyak rumah punya lubang-lubang kecil di dindingnya. Sesekali tampak burung-burung kecil berterbangan di sekitar lubang-lubang itu. Usut punya usut, benarlah itu rupanya lubang-lubang yang disediakan untuk burung walet bersarang. Rupanya, di Siwa-Wajo ini usaha sarang burung walet sangat tinggi. Sepertinya penduduk di sini tidak berkeberatan berbagi tempat tinggal dengan burung walet. Saking penasaran, saya berselancar di google dengan kata kunci “walet siwa”. Selain berita banyak warga membuka usaha sarang burung walet, ada juga berita sengketa bangunan burung walet antar warga. Weleh weleh.