
Belum lengkap kisah Ekspedisi Patriot kalau belum bercerita tentang Pak Yanto, Pak Asroni, dan kawan-kawan trans. Anggaplah ini sebagai pelunasan (sebagian) janji saya kepada teman-teman di Desa Lantang Tallang, Masamba, Luwu Utara, bahwa tim kami akan menyuarakan apa yang menjadi harapan dan mimpi mereka. Sebenarnya inti dari tulisan ini sudah saya coba kirimkan ke dua media, tetapi keduanya menolak. Jadi, biarlah saya goreskan di kolom ini biar selalu menjadi pengingat semangat dan kerja keras teman-teman trans di sana.
Pak Yanto, Pak Asroni, Pak Rumidi, dan teman-teman datang dari Jawa Tengah ke Sulawesi Selatan untuk mencoba merubah nasib. Harapan untuk memiliki lahan dan rumah sendiri menjadi motivasi terbesar ketika mengikuti program transmigrasi. Tiba di Satuan Pemukiman (SP) Lantang Tallang, Masamba, pada tahun 2014, Pak Yanto dan kawan-kawan membayangkan akan melihat hamparan lahan terbuka yang nantinya siap ditanami padi. Tidak pernah selintas pun ada dalam pikiran mereka berhadapan dengan bukit dan hutan. Walaupun terkejut dengan kenyataan itu, akhirnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berjuang dengan segala keterbatasan untuk mewujudkan mimpi: mengubah nasib diri dan keluarga menjadi lebih baik.
Tahun demi tahun berlalu. Bukit yang menjadi lahan mereka kini ditumbuhi pohon sawit. Bukan tanaman yang direkomendasikan dari sudut pandang biologi dan lingkungan mengingat risiko budaya monokultur dan tanah longsor. Namun, sampai saat ini sawit adalah komoditas yang menopang perekonomian Pak Yanto dan kawan-kawan.



Saat saya pertama datang hanya sawit yang terlihat mengisi ekosistem Lantang Tallang, atau lebih luas lagi, Kabupaten Masamba. Namun, bila lebih jeli membedah keanekaragaman hayati di sini, kita akan berdecak melihat pohon-pohon lain tumbuh subur. Pisang, kelapa, nipah, rotan, kecombrang (pattikala) dan sepupunya sulikan (Hellwigia monopleura). Itu baru beberapa yang terlihat tumbuh di sepanjang jalan. Obrolan dengan kawan-kawan di lokasi membawa cerita tentang jengkol, lada, dan durian sebagai pundi-pundi uang. Saya tambah yakin bahwa kawasan ini memang subur dan menyimpan seribu satu potensi hayati. Sawit bukan satu-satunya jalan untuk membawa kemajuan daerah ini.
Sebagai pendatang, Pak Yanto dan kawan-kawan punya masa-masa sulit beradaptasi dan berinteraksi dengan alam dan penduduknya. Untungnya mereka pandai membawa diri sehingga tidak ada konflik yang berarti. Akulturasi mulai terjadi saat mereka mulai berbicara dengan logat setempat dan menikmati makanan popular Masamba, seperti kapurung dan pacco. Sebaliknya, Masyarakat setempat yang semula tidak mengenal jengkol kini mulai menjadikannya sebagai hidangan yang harus ada dalam acara-acara warga. Harmonisasi memang tidak mudah, tetapi dengan niat, kemauan, dan usaha, pasti akan terwujud.

Tentu banyak yang dapat didukung oleh Kementerian Transmigrasi dan Pemerintah setempat bagi percepatan kemajuan kawasan transmigrasi di Masamba. Tidak sekedar memindahkan penduduk, kawasan transmigrasi yang sudah ada didorong untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui perbaikan infrastuktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan kebutuhan warga trans Lantang Tallang. Dalam rantai produksi sawit, mengangkut tandan-tandan sawit ke pabrik memerlukan alat transportasi dan kondisi jalan yang baik. Dari sisi peningkatan kapasitas sdm, pendampingan budidaya sawit dapat diberikan kepada warga. Selama ini warga berusaha sendiri memelihara sawit agar tumbuh dan berproduksi. Namun, secara kualitas produksi sawit belum memenuhi standar yang prima sehingga berpengaruh terhadap harga.
Kerja keras dan harapan tinggi yang dimiliki warga trans Lantang Tallang adalah aset sumber daya manusia yang berharga. Motivasi warga untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bila didukung dengan bijaksana oleh pemerintah pusat (dalam hal ini Kementerian Transmigrasi) dan daerah, akan menjadi motor penggerak pengembangan ekonomi dan kemajuan Lantang Tallang untuk menjadi desa mandiri. Pak Yanto dan kawan-kawan pun tidak harus merasakan migren mewujudkan mimpi menjadi transmigran yang sukses.




