Tidak terasa setahun sudah anak bontot sekolah dari rumah. Dia tidak pernah mengeluh soal itu, walaupun di tiap kesempatan bertemu luring dengan teman-temannya tampak semangat dan keriangan di wajahnya. Setahun sudah anak bontot dibimbing oleh gurunya yang punya dedikasi luar biasa. Tiap guru pasti punya dedikasi dengan siswanya, tapi orang tua biasanya tahu guru mana yang pas dengan karakter anaknya. Yang membuat saya heran, bagi si bontot yang punya watak slonong boy, guru-guru “galak” justru pas buat dia. Guru yang disiplin, selalu ngingetin, punya sistem reward and punishment untuk siswa perwaliannya, keras di satu sisi lembek di sisi lain, malah membuat si bontot fokus dengan tujuan. Tanpa stres, tanpa tekanan. Karena itu sedih saya ketika menerima rapot kenaikan kelas dan harus berpisah dengan gurunya. Lalu terciptalah puisi di bawah ini.
Sapamu 'kan Membiru Sudah terbiasa aku mendengar denting pos wa-mu di tiap hari bersahut-sahut dengan cicit burung dan gemericik air cucian piring sehabis menyiapkan sarapan pagi Semoga kau dalam keadaan sehat, Bu Guru Sudah terbiasa aku menerima salam dan beritamu di tiap hari mengilik-kilik kesadaran untuk sebentar berpaling dari kesibukan diri dan menengok permata hati Terima kasih, Bu, telah mengawal permata kami Setiap hari setiap waktu Tak lelah engkau menyapa merdu Lewat pos-pos wa mu Sapa yang ‘kan selalu membiru Setiap kulihat permata hatiku Bersinar cemerlang diasah cinta dan ketulusanmu Tak ada yang dapat kuberi padamu, Bu Selain doa pada Ilahi Robbi, limpahkan kasih sayangMu bagi guru kami terkasih, Ibu Badriah Depok, 24 Juni 2021
