
Membaca puisi saya suka. Membuat puisi? Please deh. Pernah dengar orang bilang Think Out of the Box? Atau pernah disindir, “Keluar dong dari zona nyaman”? Kalau sering nonton acara Master Chef atau Got Talents (mau America, British, atau Indonesia) pasti sering dengar komentar para juri, “Kamu main aman.”
Biasanya, saya dengar kata-kata itu dalam situasi yang relevan, misalnya acara-acara di atas itu. Kata-kata itu bisa juga muncul dalam kuliah, maksudnya supaya mahasiswa bisa menelurkan karya-karya yang orisinil, brilliant, bukan cuma copas apalagi nyolong. Sekali waktu Profesor saya menanyakan kami, mahasiswanya di kelas filsafat, “Buat apa sih masuk program doktor? Cuma buat cari gelar biar dapat jabatan?” Pertanyaan yang menohok. Memang Profesor yang satu itu terkenal nyeleneh, penuh pemikiran yang mengejutkan, seperti Gus Dur. Teman-teman yang tidak tahan melipir keluar kelas. “Mending makan soto daripada dengerin kuliahnya!”
Untuk membuat puisi saya harus putar otak tujuh keliling. Dalam rangka mencari ide membuat puisi saya terdampar pada satu buku yang judulnya aneh, menurut saya. Syair Buah-Buahan, begitu judul bukunya. Salah satu puisinya seperti ini.
Kisah dikarang buah-buahan Dalam kebun berapa rupa warna Ajaib sekali Kuasa Tuhan Buah anggur menanggung kecinta(h)an Mengarang syairlah bua(h)-bua(han) Buat menghiburkan kau jua Menanggung rindu tiada kuasa Takut menurut nafsu dan hawa Jadi mengarang tiada keruan Mengarang syair bua(h)-bua(han) Dalam kebun berhati rawan Menanggung tiada tertahan
Ada juga buku lain yang di dalamnya ada puisi yang luar biasa ini (mau bilang aneh takut gak sopan). Ini puisi karya E.E. Cummings.
l(a le af fa ll s) one l iness
Puisi ini bisa dibaca loneliness (di luar tanda kurung) atau dibaca aleaffalls (di dalam tanda kurung). Luar biasa!
Waktu kecil saya berpikir kata-kata dalam puisi adalah kata-kata yang indah, penuh kiasan, sehingga malah membuat pembacanya tidak paham maksud sang penyair. Tetapi sebenarnya kata-kata dalam puisi itu sesuatu yang biasa saja, bahasa sehari-hari, bahkan obyek yang dijadikan “tokoh” puisi bisa sangat biasa, seperti sebuah sikat gigi.
Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur Di dalam tidurnya ia bermimpi Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka Ketika ia bangun pagi hari Sikat giginya tinggal sepotong Sepotong yang hilang itu agaknya Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali Dan ia berpendapat kejadian itu terlalu berlebih-lebihan Sajak Sikat Gigi - Yudhistira Adi Nugraha
Puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul ”Q” ini bentuknya absurd, tetapi maknanya dalam sekali. Sedangkan Tragedi Winka Sihka menurut saya sindiran (atau doa?) untuk para jomblo, hehehe.
Akhirnya saya malah asik membaca puisi-puisi yang bentuknya “tidak biasa”. Lalu, bagaimana puisi saya? Jauh panggang dari api.
Catatan:
Syair Buah-Buahan adalah sebuah syair simbolik yang ditulis oleh Muhammad Bakir Syafian Usman Fadli di Pecenongan Langgar Tinggi pada 22 November 1896. Naskah ditulis di atas kertas Eropa , tebal 129 halaman, Transkripsi Syair Buah-Buahan telah dimuat dalam buku Antologi Syair Simbolik dalam Sastra Indonesia Lama (Jumsari Jusuf dkk. 1978). Syair Buah-Buahan telah dianalisis oleh H. Overbeck dalam artikel “Malay animal and flower shaer” dan oleh G.L. Koster dalam buku Roaming through Seductive Gardens: Reading in Malay Narrative, Leiden KITLV. Buku Syair Buah-Buahan merupakan koleksi iPusnas dan ditransliterasi oleh Dodi Suhirno.


