Cerita Laut adalah Cerita Kita

Seperti yang saya duga, saya tidak akan sanggup membaca satu per satu kalimat pada Laut Bercerita. Cerita Biru Laut tentang kekejaman yang dia alami terlalu detil, jelas, membuat saya seperti merasakan sendiri deraan yang diberikan di sekujur tubuhnya. Saya juga tidak tega mendengar jeritan hatinya menahan rasa perih dan malu yang dicampakkan dengan paksa oleh para penyiksanya kala mereka melakukan perbuatan tak berperikemanusiaan. Dua kepedihan itu, jiwa dan raga, dikatakan Biru Laut dalam satu kalimat.

‘Tetapi mungkin yang paling tak bisa kusangga adalah perasaan kemanusiaan yang perlahan-lahan terkelupas selapis demi selapis karena mereka memberlakukan kami seperti nyamuk-nyamuk pengganggu.’

Saya mendengar dengan cepat Laut Bercerita. Dia dan teman-temannya menjadi organisator gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. Ada bermacam karakter yang berada di sekitar Laut, namun hanya satu fenomena yang, bagi saya, menyatukan mereka. Mereka kehilangan seseorang (guru, paman, ayah) yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka di masa remaja. Orang-orang yang pergi tanpa pernah kembali ini mengajarkan mereka tentang kemiskinan yang absdurd di tengah kemewahan para penguasa, juga perlawanan rakyat. Pengajaran lewat buku-buku semacam The Tale of Two Cities dan Oliver Twist-nya Charles Dickens, atau Tan Malaka, melekat kuat dalam pikiran seorang anak menjelang dewasa. Saya tahu benar perasaan yang menggelora itu karena itulah yang terjadi pada saya, sebagai pelajar SMP, ketika membaca dua buku pertama di atas. Karenanya, ketika mereka (Laut dan teman-temannya) dihadapkan pada realita (pemerintah) yang berlawanan dengan konsep-konsep keberpihakan pada rakyat yang tertindas, mereka bergejolak dan tak menerima.

Tidak terelakkan, kontroversi liberalisme dan komunisme pun hadir di sini. Menurut saya memang tidak mungkin memandang peristiwa 1998 lepas dari nuansa itu. Bagaimana pun, kemajuan perekonomian Bangsa Indonesia sampai tahun 1998 adalah bagian dari liberalisme. Karena itu, ketika semakin banyak rakyat di sana sini semakin tertekan, liberalisme (yang diwakili oleh para penguasa negara) dituding sebagai penyebabnya. Oleh karena itu, hal-hal yang berbau keberpihakan kepada rakyat, yang dalam hal ini disimbolkan dan dipropagandakan sebagai paham komunisme, menjadi antitesisnya. Seharusnya kita belajar dan berpikir apa maksud di belakang pembredelan buku-buku. Banyak buku-buku yang menyuarakan perlawanan rakyat terhadap penguasa dilarang dicetak dan diedarkan, bahkan dicap sebagai suara komunis. Kita tidak sadar homogenitas bacaan atau media yang dihidangkan di depan mata telah mencetak pikiran-pikiran yang takut terhadap heterogenitas.

Laut Bercerita memang ditulis berdasarkan kisah perlawanan mahasiswa (simbol dari rakyat) yang berujung pada penculikan dan penyiksaan oleh pasukan tentara. Walaupun tak pernah terungkap (belum) siapa dalang kejahatan itu, sudah jelas mereka bukan penjahat jalanan. Mereka bukan para mafia, seperti di film The Godfather. Mereka orang-orang bersenjata yang terorganisir dan bukan orang asing. Para pelaku kejahatan itu sama seperti kita, orang Indonesia. Ini membuat saya merasa malu, marah, terhina, dan nista. Bukan hanya sebagai orang Indonesia, tapi juga sebagai manusia. Ternyata apa yang dikatakan Laut mengenai hilangnya kemanusiaan benar adanya. Bahkan, sekarang pun, kita menghadapi orang-orang yang tak malu menyatakan diri lewat pikiran, perkataan, dan sikap bahwa mereka bukan manusia. Mereka tahu, tapi tidak mau tahu. Sementara kita malu dan terhina, mereka bangga.

Setelah habis mendengar Laut Bercerita, saya masih punya banyak pertanyaan. Menurut saya pertanyaan ini penting agar bisa merasionalkan runutan kejadian yang dialami oleh Laut dan teman-temannya. Pertanyaan ini tidak berarti mengecilkan arti perjuangan mereka dan siapa pun yang entah akan muncul di masa depan. Pertanyaan ini juga pernah dilontarkan oleh para pelaku kejahatan. “Siapa yang mendanai kegiatan perlawanan kalian?” Biru Laut berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, menggunakan transportasi darat, laut, dan udara. Menginap di satu rumah ke rumah yang lain. Tanpa ada sumber keuangan, tentu mereka tidak dapat bergerak lincah ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang jauh dari markas mereka di Jogyakarta. Hal ini tidak pernah dijelaskan, padahal menurut saya, lazimnya sebuah gerakan pasti ada orang-orang yang bersimpati dan memberikan dukungan baik moral maupun material.

Pertanyaan berikutnya lebih pribadi. Seperti halnya sebuah novel, Laut Bercerita juga punya bumbu romantisme. Ada kisah cinta antara para pelaku peristiwa. Percintaan yang digambarkan dalam novel ini menggunakan kacamata Barat yang menganut free sex. Saya tidak menutup mata bahwa kebebasan bercinta semakin meluas di masyarakat, menyebar di berbagai kalangan tak terbatas umur dan tingkat sosial. Meskipun demikian, bukan berarti kita membiarkan itu kecuali bila memang itu sesuai dengan paham yang kita anut. Saya mencoba melihat bahwa Laut Bercerita hanya ingin berfokus pada perjuangan mahasiswa tanpa embel-embel moralitas agama. Namun, mengingat novel ini akan dibaca pemuda pemudi, bukan tidak mungkin muncul kesimpulan bahwa para mahasiswa yang mencoba membela “rakyat yang tertindas” memiliki perilaku yang melanggar hukum agama dan itu sah-sah saja. Toh, Biru Laut dan adiknya melakukan itu.

Saya telah mendengar Laut Bercerita. Saya berpikir apakah peristiwa penculikan ini akan terulang atau sekarang pun sedang terjadi. Ketika saya menulis ini, rakyat Indonesia sedang menonton orang-orang yang dimabuk uang dan kekuasaan. Mereka saling sikut, saling hujat, saling fitnah, saling merasa dibela oleh “rakyat”. Orang-orang yang dulu menjadi pembela rakyat telah lelah dan ingin menikmati kenyamanan. Orang-orang pintar yang beradu argumentasi telah meninggalkan panggung diskusi dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Rakyat telah hilang, kembali menjadi kata yang tiada arti. Biru Laut, apakah kamu telah mati dan tidak akan lahir kembali?

Depok, 24 Februari 2024