Pelangi Dalam Aksara

Menulis sudah saya lakoni sejak jaman masih pakai seragam merah putih. Semula corat coret di buku tulis, lalu pindah pakai mesin tik yang dibelikan Bapak. Masa itu yang ditulis selalu kisah roman, Cinderala story, berkhayal ada yang bilang “I love you” (padahal ketika jadi kenyataan saya malah kabur, it’s true hehehe). Ceritanya lebih banyak yang tidak selesai karena saya selalu banyak ide di awal lalu macet di tengah, kehabisan khayalan. Setelah Cinderela hilang dari diri, tulisan saya lebih banyak seriusnya ketimbang bunga-bunga cinta. Begitulah, semakin lama saya semakin mengenal tipe tulisan saya dan nyaris putus asa tidak bisa keluar dari sana.

Bertemu dengan teman-teman di Komunitas IK sungguh suatu berkah buat saya, seakan saya ditantang untuk membuktikan apakah menulis hanya romantisme masa kecil saya atau memang suatu kebutuhan. Ada banyak tantangan yang sama sekali baru buat saya, terutama menulis sesuatu yang “bukan saya”. Salah satunya diminta nulis puisi. Ternyata dengan semangat dan kritik yang diberikan sedikit demi sedikit saya mulai percaya diri untuk menulis puisi. Tentu saja masih jauh dari sempurna, sampai sekarang. Puisi saya masih menunggu mood. Kalau sedang sedih, kecewa, atau galau biasanya lebih mudah keluar. Tapi tidak mengapa. Katanya menulis puisi itu seperti nulis cerita, bisa disambung di lain waktu. Tidak sekali jadi seperti para maestro puisi.

Kebersamaan dengan teman-teman IK berbuah manis dengan lahirnya buku antologi puisi Pelangi Dalam Aksara. Suatu karya yang malu-malu lahir tapi tidak saya sangka mendapat apresiasi dari teman-teman dekat. Bahkan gara-gara buku ini seorang teman mencemplungkan saya ke dalam kumpulan yang namanya Poetry Writing Society. Pelangi Dalam Aksara semoga bukan satu-satunya buah IK. Semoga!

Nelayan tua membuang sauh
Tangan gemetar menyapu peluh
Sebelum bermimpi terlalu jauh
Setor dulu Ketik 20

WADOWWW!!!