Raminten

https://raminten.com/en/raminten-jogja/

Raminten. Nama yang familiar, apalagi yang senang kulineran di Jogya. Raminten tidak hanya sebuah nama, tapi juga budaya dan kini telah jadi legenda. Tanggal 23 April 2025, Raminten, alias Hamzah Sulaiman, telah pergi dan tak akan kembali. Kepergiannya meninggalkan satu warisan yang boleh jadi akan hidup lestari atau tinggal bayang-bayang dalam ingatan yang perlahan menghilang. Waktulah yang akan menjawab.

Bulan Februari di tahun yang sama, saya dan seorang teman menikmati makan malam di House of Raminten, Malioboro. Semula kami mau mencoba cabangnya yang di Kaliurang. Tapi akhirnya batal karena kegiatan seminar yang kami ikuti cukup melelahkan, sementara venue lebih dekat ke Malioboro. Lagi-lagi, bau khas itu menyeruak ketika masuk ke Mirota (sekarang Hamzah Batik). Wewangian yang mengingatkan saya pada rumah Mbah di Boyolali dan kenangan masa kecil waktu berlibur di sana. Berkunjung ke House of Raminten jadi lebih dari sekedar makan malam.

Suasana remang-remang membuat saya agak grogi dan memilih tempat yang agak terang. Untungnya teman saya sepakat, jadi duduklah kami di meja makan dekat (banner) Raminten. Sebenarnya saya bukan orang yang punya gelombang mistis. Tapiiii bila waktu itu beliau sudah almarhum sepertinya saya akan duduk di tempat lain. Yang jelas waktu itu kami menikmati makan malam dengan nyaman. Tamu-tamu mulai berdatangan dan suasana jadi lebih hidup dengan obrolan mereka. Tidak hanya tamu lokal, turis mancanegara juga tampak.

Menu makan malam saya pecel dan wedang sereh. Bumbu pecelnya top markotop. Batin saya, “Ini dia pecel jawa!” Hahaha … Di sekitar Depok sulit mendapat bumbu pecel dengan generousity seperti ini. Tentu saja!! Biasanya, makan malam saya tidak banyak. Tapi, sepiring pecel dan lauk pauk komplit itu tandas. Wedang serehnya berhias potongan sereh besar, mengeluarkan wangi segar setiap kali saya menempelkan bibir di gelas dan meminum airnya. Alhamdulillah. Makan malam yang menuntaskan rasa lapar dan rindu pada Jogya.

Raminten telah pergi. Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah House of Raminten juga akan pergi? Seperti semua spesies di alam, apakah ia akan bertahan dalam bentuknya yang sekarang sampai puluhan tahun ke depan? Atau, apakah ia akan beradaptasi, memiliki karakter baru, dan terlahir kembali sebagai sesuatu yang berbeda, kekinian, sambil tetap menyimpan gen-gen warisan nenek moyangnya. Ah, apapun bentuknya, saya akan senang bertemu kembali dengan House of Raminten di masa depan.