Kemping Ceria

Geng Kemping Ceria beraksi lagi. Kali ini merambah Panorama Pinus Camping Ground di kawasan Gunung Salak. Jalan ke sana semula baik-baik saja sebelum satu kilo terakhir dari gerbang bumi perkemahan. Jalurnya hanya cukup satu mobil, tajam mendaki, kanan tebing kiri jurang. Ada pagar berlampu yang dibangun sepanjang beberapa meter di tebing itu. Fungsinya sebagai penerangan di malam hari. Pemandangan yang indah dengan rasa ngeri. Mungkin perasaan itu saya saja yang punya karena Pak Su tenang-tenang saja membawa mobil mendaki. Mungkin kalau ada mobil lain dari arah berlawanan dia tidak setenang itu. Yang jelas malam itu kami sampai dengan selamat di bumi perkemahan.

Kemping jaman now jauh berbeda dari masa muda saya dulu. Tenda kemping sekarang sangat nyaman, seperti rumah mungil. Terbuat dari bahan parasut, bagian bawah, sisi, dan atas tenda menyatu, tidak menyisakan lubang tempat cacing, kutu, atau serangga masuk ke dalam. Atap tenda dibuat dua lapis agar embun dari luar hanya merembes di lapisan pertama, tidak sampai ke lapisan dalam. Struktur dua lapis ini memungkinkan dibuat “jendela” di satu sisi tenda. Di siang hari, lapis pertama bisa dibuka sehingga udara bisa mengalir masuk lewat jendela yang ada di lapis kedua. Bagian depan tenda dibuat “teras” dengan memasang awning yang ditegakkan oleh tiang. Agar ada sensasi home sweet home di teras digelar karpet dari rumput sintetis. Luar biasa!

Rumah sudah dipindah. Dapur juga tidak ketinggalan. Berbagai peralatan masak dan bahan makanan dibawa. Kompor gas, panci, wajan, ceret, piring, sendok, bahan protein dan sayur siap memenuhi kebutuhan perut. Tidak ada makanan versi darurat di komunitas kemping ceria, walaupun mie dan kopi instan tetap disediakan. Tapi, kegiatan memasak tetap digelar. Inilah saat ibu-ibu beraksi. Nasi dimasak, sayur ditumis, ikan digoreng. Lalu semua digelar di rumput yang telah diberi alas dan peserta kemping duduk lesehan. Acara kemping yang utama dimulai: bergosip dan makan-makan.

Jangan membayangkan kemping ala survival di komunitas ini. Dengan berbagai persiapan yang menjamin tempat tidur dan makan, kenyamanan diperoleh. Tinggal satu yang mau tidak mau harus diterima dengan ikhlas. Kamar mandi dan toilet. Jarang pengelola bumi perkemahan menyediakan kamar mandi yang nyaman. Entah kamar mandinya sempit, pintu rusak, toilet tidak bersih, sarang laba-laba bergelantungan, dan berbagai bentuk “seadanya” yang semuanya harus ditelan oleh para tamu. Pengelola hanya menjamin ketersediaan air bersih dan melimpah. Jadi, urusan toilet adalah satu-satunya survival bagi komunitas ini.

Mereka yang biasa pergi berpetualang ke alam bebas mungkin geleng-geleng kepala melihat susah payahnya geng kemping ceria “menyatu dengan alam”. Pendaki gunung, the ranger, the survivor, mungkin tersenyum simpul melihat susah payahnya kami sedikit keluar dari zona nyaman. Tapi, semua bisa saling menghormati dan berbagi pengalaman. Tidak sedikit para petualang yang sesekali bergabung dan menyemarakkan suasana malam hari dengan cerita-cerita yang seru dan terkadang horor. Satu yang sulit ditoleransi oleh geng kemping ceria, apalagi para ranger, adalah para tamu yang datang dengan peralatan musik membahana. Kami kemping untuk menikmati suara alam, bukan nyanyian manusia.