Ini bukan promosi Kedai Kopi Kenangan, ya. Tapi kerinduan untuk masuk kedai kopi memang ada. Rasanya sudah lama sekali dan entah akan berapa lama lagi. Saya lihat orang-orang sudah mulai datang lagi ke kafe kopi, kumpul-kumpul, melepas kebosanan setelah lama terkurung di rumah [Catatan: tulisan ini dibuat di akhir masa covid]. Saya sendiri masih segan meriung bila tak ada jarak. Apalagi makan minum sambil bercakap-cakap di luar rumah bukan dengan keluarga. Untungnya rasa rindu bisa diajak kompromi. Buat sementara, supaya si rindu dendam nggak ngambek, saya kumpulkan kenangan-kenangan ngopi yang tercecer dan jadikan kolase foto kopi yang pernah saya nikmati di berbagai tempat.
Kopi di cangkir ini saya nikmati di Kafe Ladoux di Paris. Pagi itu jam masih menunjukkan pukul enam waktu setempat. Udara bulan September sudah mulai dingin menandai masuknya musim gugur di belahan bumi Utara. Pagi itu saya belum mandi karena baru saja datang dari Belanda, naik bis malam. Hari itu saya dan teman-teman bertekat keliling Paris sebelum jadwal bis malam yang membawa kami kembali ke Belanda tiba. Aih, memang kunjungan yang singkat sekali, tetapi kenangannya tidak habis-habis.

Perjalanan ke Paris waktu itu adalah intermezzo. Sebenarnya kami sedang pelatihan di Belanda selama 3 minggu. Pelatihan itu sendiri sangat mencerahkan karena kami mendapat pengetahuan dan praktik tentang biodiversitas dan manajemen konservasi. Kuliah berlangsung dengan santai tapi aktif dan yang paling asik buat saya adalah bisa sambil menikmati kopi panas yang dijual di vending machine di luar kelas. Sepertinya momen itu mau saya jadikan contoh di kelas-kelas yang saya ajar. Bagaimana menjadikan peserta kuliah nyaman supaya materi kuliah bisa masuk ke otak [Catatan: sayangnya sampai saat tulisan ini diedit niat itu belum terlaksana]. Salah satu kegiatan pelatihan adalah berkunjung ke kantor World Wild Fund (WWF). Organisasi ini termasuk yang aktif menggerakkan kelompok-kelompok masyarakat agar peduli lingkungan. Lagi-lagi, di kantor yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca itu, saya menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan visi, misi, dan berbagai pengalaman WWF di penjuru dunia.

Minum kopi sambil bekerja sudah menjadi kebiasaan saya. Oleh karena itu mengunjungi kafe kampus jadi hal biasa. Minum kopi bareng teman memang menyenangkan tapi adakalanya yang kita butuhkan cuma secangkir kopi untuk menyelesaikan kerjaan.


Saya membaca bahwa 3 cangkir kopi sehari masih batas normal untuk minum kopi, dengan catatan tambahan tentang gula, kekentalan, jenis kopi, waktu minum, dan lain-lain. Buat saya, 2 cangkir sehari sudah cukup. Namun, saya pikir masalahnya bukan dua atau tiga cangkir, karena berapa pun jumlah cangkirnya sepertinya saya sudah addicted pada kopi. Teman-teman peminum kopi pasti punya pengalaman yang sama dengan saya. Kalau belum minum kopi, badan terasa aneh, tidak fokus, dan kepala gleyengan. Badan akan menjadi segar, pikiran menjadi lebih jernih, dan semangat up sewaktu aroma kopi memasuki lubang hidung dan rasa pahitnya menyentuh lidah, diakhiri dengan after taste yang beragam sesuai jenis kopinya. Yah, itulah tanda-tanda kecanduan, teman!


Di rumah, ada saat-saat menjadikan waktu minum kopi menjadi sesuatu yang spesial. Menikmati bunga-bunga kemuning yang baru saja dipotong dari taman kecil di depan rumah atau mencoba membuat kopi dalgona yang lagi trend. Saya bersyukur masih bisa menikmati kopi dan menyimpan kenangan manisnya tanpa rasa pahit.
