Seperti Wabah, Semangat juga Menular

Pertemuan terakhir kuliah Biosistematika ditutup dengan penampilan video-video mahasiswa yang sudah tayang di YouTube mereka. Pertama kali tugas diumumkan, ada sedikit keraguan apakah mahasiswa dapat membuat video setengah ilmiah. Kenapa setengah ilmiah? Karena kontennya memang ilmiah, yaitu materi kuliah. Tapi, penyajiannya lebih mengutamakan estetika dan kreativitas, tidak fokus pada materi. Hasilnya adalah video-video yang sangat menginspirasi, menyegarkan, dan membuat saya meyakini bahwa mahasiswa kami memang punya gen pemenang, gen yang tidak mau menyerah begitu saja terhadap tantangan.

Sejujurnya, Biosistematika termasuk ilmu yang kompleks. Menurut saya ini karena banyak materi di dalamnya yang memerlukan “pengertian dan pemahaman”. Bayangkan bila seseorang memberi tahu kita bahwa kelelawar itu bukan burung, padahal kita tahu mereka sama-sama bisa terbang. Belum lagi, orang yang sama menambahkan bahwa sayap kelelawar itu sejatinya lebih mirip dengan struktur tangan kita, manusia, ketimbang sayap burung. Lalu, seperti masih ingin membuat kita ternganga, dia akan membisikkan bahwa burung adalah sepupu sang buaya. Sementara kita mengira buaya adalah sepupu kadal, ular, dan segala sesuatu yang merayap. Sungguh absurd! Namun, kalau kita mau membuka-buka buku Biosistematika, informasi di atas dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Tentu saja saya tidak akan cerita di sini. Biarlah yang rumit-rumit itu milik mahasiswa, yang untuk kali ini saya wakilkan pada R18OSOME.

Kuliah daring gegara wabah Covid-19 menyebabkan saya tidak dapat bertemu dengan R18OSOME. Kuliah daring sebenarnya tidak mengasyikkan. Saya tidak dapat melihat kening yang berkerut, mata yang berair karena menahan kantuk, anggukan pura-pura mengerti, tundukan yang bukan malu-malu kucing kalau dosen bertanya, “Ada pertanyaan?”, juga wajah-wajah yang ditekuk karena mendapat banyak tugas. Sebagai mantan mahasiswa, tentu saja saya tahu semua ekspresi itu. Sepertinya, semuanya ekspresi yang tidak bagus, ya? Well, tentu saja tidak demikian. Yang paling membuat kehilangan justru yang bagus-bagus dari ekspresi mereka: tawa ceria, mata yang berbinar-binar ketika akhirnya bisa ke kantin, olok-olok yang baik dan ngangenin, jabat tangan dan rangkulan, atau sekedar senyum dan salam.

Maka, semangat R18OSOME yang terpancar dari karya mereka menjadi oase bagi kami yang sudah jenuh dengan keheningan kelas daring dan, ironisnya, hiruk pikuk jaringan internet. Mendengar lagu-lagu pilihan mereka untuk mengiringi lirik yang mereka ciptakan membuat hati gembira. Bahkan, beberapa kali hati melengos ketika mendengar lagu-lagu jadul mengalun. Memori saya kembali pada masa-masa indah sekolah …….. melankolis sekali! Yang membuat saya salut adalah ketika ada kelompok yang mampu membuat lagu sendiri dan menampilkan dengan sangat apik. It’s beyond my expectation. Bahkan, seorang rekan dosen sampai meneteskan air mata haru menerima semangat yang luar biasa ini.

Pos ini saya dedikasikan buat R18OSOME, mahasiswa Angkatan 2018 di Departemen kami. Saya berterima kasih atas kerjasama dan kerja keras kalian. Tentunya kalian yang paling tahu apakah kerja keras itu sudah mencapai standar kalian, termasuk apakah kalian telah mengerti dan paham dengan materi yang diberikan. Yang saya tahu, kalian telah memberi amunisi baru buat saya untuk menghadapi kuliah daring di semester berikut. Semoga kalian juga dapat memetik buah dari kerja keras kalian.

Yang mau coba-coba dengar silahkan klik beberapa link berikut ya 😀

Ruang Lingkup Biosistematika – Parasit (Gita Gutawa)
Nomenklatur – Cinta (Vina Panduwinata)
Konsep Spesies – Moves Like Jagger (Maroon 5)
Karakter – Kopi Dangdut (Fahmi Shahab)