Toba

Tiga kali ke Toba, tak ada bosannya karena selalu ada pengalaman baru. Sepertinya tidak ada tempat penelitian yang saya datangi berulang seperti Danau Toba. Pertama di bulan Februari 2023. Kedua di bulan Mei di tahun yang sama. Kali ketiga September 2025. Setiap berangkat membayangkan bertemu hal-hal serupa, tetapi nyatanya tidak. Dan itu jadi sesuatu yang menyenangkan.

Toba sendiri telah berubah. Banyak pembangunan spot-spot pariwisata yang di tahun 2024 sudah terlihat. Geopark Efrata misalnya. Pada tahun 2024 jembatan tele tempat orang dapat melihat lanskap Toba secara utuh sudah berdiri. Namun, baru di tahun ini Jembatan Tele itu diresmikan. Agak terlambat sebenarnya karena konstruksi jembatannya sudah mulai berkarat. Patung Yesus di Sibeabea Hill telah rampung, berdiri tegak setinggi 61 m. Lebih tinggi dari patung Yesus di Brasil (43,5 m). Taman di sekitar patung semarak dengan bunga warna warni. Bougenvil, lili, tapak dara, juga rumput-rumput besar berwarna coklat putih. Warnanya sedikit mengurangi terik matahari yang garang bersinar di puncak bukit Sibeabea.

Di pantai Panguruan ada Waterfront Panguruan. Pertama kali saya ke sana, Jembatan Panguruan adalah ikon yang paling menarik perhatian wisatawan. Kini pelataran Waterfront Panguruan jadi pusat keramaian yang baru. Saya dengar setiap akhir pekan tempat ini ramai dikunjungi. Orang menikmati air mancur menari, lampu, kafe, dan tentu saja obrolan malam minggu.

Ada keunikan Toba bagi saya yang mungkin berbeda dari orang lain. Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purbakala menjadi rumah bagi keragaman diatom, utamanya Ordo Rhopalodiales. Anggota diatom dari ordo ini hanya tiga, Rhopalodia, Epithemia, dan Tetralunata. Salah satu tujuan perjalanan saya ke Toba memang ingin menelusuri jejak Rhopalodiales, utamanya Tetralunata. Catatan keberadaan Tetralunata di Danau Toba sudah berumur lebih dari 90 tahun ketika Hustedt membuat laporan dari diatom tersebut di tahun 1935 dan 1937. Sangat menarik bila kita dapat membuktikan bahwa Tetralunata masih bertahan di sini, di Danau Toba.

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika menemukan tidak hanya Tetralunata, tapi juga Rhopalodia dan Epithemia dalam kondisi hidup. Sel-sel mereka yang sehat berwarna coklat kekuningan dengan bulatan-bulatan lipid di sana sini. Penanda khas lain yang menjadi ciri Rhopalodiales adalah simbion cyanobacteria di dalam selnya. Dari ketiga genus Rhopalodiales, Tetralunata masih sangat sedikit diteliti oleh para ahli diatom dunia. Observasi Tetralunata di Danau Toba tahun 2023-2024 berhasil mengidentifikasi 9 spesies, lebih sedikit dari 14 spesies yang dilaporkan Hustedt (1937). Jadi, masih terbuka kesempatan lebar untuk menguak rahasia Tetralunata dan teman-temannya di Danau Toba yang indah dan unik ini. Betapa besar kekayaan alam kita sementara begitu sedikit yang kita ketahui. Allahu Akbar.

Frederik Leliaert

Baru saja memulai lagi tulisan di sini tiba-tiba saya bertemu blog Frederik Leliaert. Blognya sangat menarik! Membuat saya teringat salah satu hal yang pernah saya tulis tentang pekerjaan yang kita cintai. Alangkah senang bila kita dapat bekerja di bidang yang kita suka. Tidak semua orang bisa seperti itu. Ada saja yang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukai karena kesulitan hidup. Frederik Leliaert mengatakan dia menyukai biodiversitas dan evolusi dan pekerjaannya jelas menunjukkan apa yang dia sukai. Yang paling menarik buat saya adalah kesukaannya pada alga.

Blog Frederik sederhana, tapi tertata rapi. Tulisannya ilmiah, maklumlah dia peneliti di  Meise Botanic Garden, sekaligus anggota dari  Phycology Research Group di Universitas Ghent, Belgia. Semua hasil penelitiannya ditulis dalam pos-posnya secara ringkas, padat, dan komunikatif. Kata “komunikatif” penting diingat oleh peneliti. Pada masa lalu para peneliti tinggal di bumi, tapi bicara dengan bahasa planet Mars, sehingga banyak orang awam gagal paham. Di era globalisasi ini, komunikasi sains menjadi keahlian yang harus dimiliki peneliti, agar mereka dapat dimengerti oleh publik. Salah satu contoh komunikasi sains adalah menghindari penyebutan nama ilmiah. Saya tidak perlu berkata, “Ini Mangifera indica.” untuk memberi tahu bahwa buah yang saya pegang adalah mangga. Atau, saya cukup mengatakan, “Mari kita pelihara kelestarian alam.” alih-alih “Mari kita melakukan konservasi biodiversitas di bumi.”

Salah satu pos Frederik yang menarik saya adalah cerita kemunculan ganggang hijau berukuran besar sekitar 1000-700 juta tahun lalu. Pada saat itu suhu bumi turun drastis dan terjadi pembekuan air besar-besaran. Ganggang yang berukuran kecil mengalami banyak kematian, tetapi tidak semuanya punah. Ganggang yang semula hidup berenang-renang di laut mulai beradaptasi dengan gaya hidup menempel di lapisan es. Setelah perlahan-lahan suhu bumi kembali meningkat, populasi yang telah terbiasa hidup menempel di lapisan air tetap hidup seperti itu. Ukuran tubuh kemudian bertambah besar karena lebih banyak menyerap unsur hara dari dasar perairan laut. Adaptasi memang penting bagi spesies agar tidak punah.

Chlorella (uniseluler)