Beberapa hari lalu anak bontot minta dibelikan kanvas. Rupanya ada tugas melukis dari sekolah. Beberapa lamanya kanvas itu tergeletak begitu saja di kamarnya, bungkusnya pun masih menyelubungi. Lalu secara tidak sengaja saya melihat dia sedang melukis di kamarnya. Kanvas yang semula putih sekarang mendapat warna baru: hitam. Cuma satu warna itu saja, hitam yang menampakkan gambaran tanah dan beberapa pohon gundul. Ok, batin saya, mencoba menelan pertanyaan dan komen yang ada di ujung lidah.
Satu dua hari kanvas putih dengan coretan hitam itu bergeming. Akhirnya saya tidak tahan untuk mengusulkan warna lain. “Bagian putihnya dikasih warna lagi, misalnya biru langit.” Anak bontot cuma bergumam, entah setuju entah tidak, yang jelas tidak ada tambahan apa-apa lagi di hari berikutnya. Saya menyalak lagi, “Kok belum diselesaikan lukisannya?” Barulah dia mengeluarkan apa yang mau dilukisnya. “Aku mau bikin kebakaran, Bu.” What??!! Dari berbagai tema cerah yang ada di kepala saya, tema yang dipilih dia begitu gelap. Lalu, jadilah lukisan itu. Langit berwarna merah oranye di atas tanah dan pohon-pohon hitam kerontang.

Waktu saya ceritakan drama ini ke kakaknya, sang kakak setali tiga uang dengan adiknya. “Bikin yang gampang aja Bu, gak usah susah.” Sebagai penutup – yang sepertinya jadi penegasan – dia menunjukkan gambar lama adiknya di laptop yang dibuat dengan Stylus Paint Tab. Saya melihat lukisan bukit dan pohon-pohon kering dengan langit merah membara.
