The Blue-green on a Quinceañera Dress

Never imagine I found the bule green mentioned except in the term of algae. But as I found this photo and caption, I realized that the “blue green” is a matter of color and not just one of the photosynthetic pigments. It sounds silly, but it struck me how certain words, experiences, and feelings could blind you from a significant matter, common sense, just because you used them for a very long time. Studying blue-green algae for more than twenty years has built my mind so vividly that it has surprised me to know a designer uses the term for a dress! A Quinceañera dress is an elaborate-long gown made for a girl to celebrate her 15th birthday. It is a tradition in many Latin American cultures.

Blue Green Quinceanera Dresses Ball Gown Birthday Party Dress Lace Up Graduation Gown Vestidos 2023

This moment made me remember another moment when I was eager to join an online evening event held by the Linnaean Society of London. My prompt reaction was triggered by the title of “Cyanotype Workshop from the Linnaean Collections”.  I wondered what kind of botanical specimens could be related to Cyanobacteria, and then I knew they did not have a relation at all! It turned out that the event was about how to make a cyanotype printing/painting by two local artists: Caterina and Sharon. The course introduced us to using foraged botanical plants, pressed flowers, wet cyanotype, and chemicals that can change their color. Dying the piece using pigment powders or tea/coffee/green tea to make beautiful sepia images was one of the topics discussed in the event. It was interesting but beyond my expectations.

https://www.eventbrite.co.uk/e/into-the-light-cyanotype-workshop-from-the-linnaean-collections

Back to the dress. It was lovely—in terms of fabrics, design, and, of course, color! As for me, Cyanobacteria, the blue-green algae, are fantastic creatures. They have been living on earth since the beginning of life. They promoted the atmospheric oxygen, fertilized the soil, and formed oceanic sediment. What a BIG role tiny microorganisms accomplish. Hence, it would be a shame if I could not participate in conserving our beloved nature.

Penghuni Air Terjun

Setiap pergi ke air terjun, ada sesuatu yang menarik saya. Tebing batu berlumut yang ada di sekitar air terjun. Bermacam jenis lumut memenuhi tebing. Ada lumut hati yang sederhana bentuknya, hanya serupa lembaran daun pipih tak jelas batang dan akarnya. Ada juga lumut sejati yang sudah mirip tumbuhan umumnya, terlihat bagian akar, batang, dan daun. Di habitat air terjun tubuh lumut yang mungil jadi agak lebih besar. Percikan air terjun yang terus menerus membasahi tebing membuat tempat itu lembap sehingga lumut dapat tumbuh dengan tenang: bertambah besar dan banyak.

Yang menarik perhatian saya adalah apa yang ada di bawahnya, bergelimang dengan tanah, menempel di permukaan batu tebing, atau mengalir bersama air. Itulah alga, biota renik yang sering disangka tumbuhan. Tentu saja saya tidak melihatnya langsung dengan mata telanjang. Gumpalan lumut dan tanah itu perlu dibawa ke laboratorium, dibersihkan, diteteskan di atas kaca, dan diamati dengan mikroskop. Butuh waktu dan kesabaran untuk melihat kecantikan makhluk berukuran mikro ini. Tapi, tentu saja semua itu membuahkan hasil yang manis.

Di bawah mikroskop, beragam bentuk terlihat jelas. Ada yang hanya berupa sel tunggal, seperti diatom. Ada sel tunggal yang lebih senang hidup berkoloni, seperti Chroococcus. Yang lain berbentuk seperti benang atau pita. Ada yang memiliki spiral di dalam rangkaian selnya, yang sebenarnya adalah “organ” fotosintetiknya. Kita memberi nama alga ini Spirogyra. Ada juga Nostoc, yang bentuknya bergerombol, bergulung-gulung seperti mie kusut. Semua punya bentuk yang khas, unik, berbeda satu dengan yang lain. Bentuk yang sederhana, tapi punya peran besar. Mereka adalah para produsen yang menggerakkan ekosistem: menyediakan diri mereka sebagai makanan bagi para konsumen, mulai dari tingkat bawah sampai top predator. Tanpa mereka, ekosistem akan kolaps.

Berteman dengan alga di alam sangat menyenangkan. Bentuknya yang menarik selalu membuat hati saya senang. Bagaimana sejuta keragaman itu dapat memenuhi alam? Pertanyaan yang membuat saya mencari tahu (https://atthecorner.home.blog/2022/01/18/symbiosis-and-evolution/), menundukkan hati, dan kemudian memuji kebesaran pencipta mereka. Allahu Akbar.

Frederik Leliaert

Baru saja memulai lagi tulisan di sini tiba-tiba saya bertemu blog Frederik Leliaert. Blognya sangat menarik! Membuat saya teringat salah satu hal yang pernah saya tulis tentang pekerjaan yang kita cintai. Alangkah senang bila kita dapat bekerja di bidang yang kita suka. Tidak semua orang bisa seperti itu. Ada saja yang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukai karena kesulitan hidup. Frederik Leliaert mengatakan dia menyukai biodiversitas dan evolusi dan pekerjaannya jelas menunjukkan apa yang dia sukai. Yang paling menarik buat saya adalah kesukaannya pada alga.

Blog Frederik sederhana, tapi tertata rapi. Tulisannya ilmiah, maklumlah dia peneliti di  Meise Botanic Garden, sekaligus anggota dari  Phycology Research Group di Universitas Ghent, Belgia. Semua hasil penelitiannya ditulis dalam pos-posnya secara ringkas, padat, dan komunikatif. Kata “komunikatif” penting diingat oleh peneliti. Pada masa lalu para peneliti tinggal di bumi, tapi bicara dengan bahasa planet Mars, sehingga banyak orang awam gagal paham. Di era globalisasi ini, komunikasi sains menjadi keahlian yang harus dimiliki peneliti, agar mereka dapat dimengerti oleh publik. Salah satu contoh komunikasi sains adalah menghindari penyebutan nama ilmiah. Saya tidak perlu berkata, “Ini Mangifera indica.” untuk memberi tahu bahwa buah yang saya pegang adalah mangga. Atau, saya cukup mengatakan, “Mari kita pelihara kelestarian alam.” alih-alih “Mari kita melakukan konservasi biodiversitas di bumi.”

Salah satu pos Frederik yang menarik saya adalah cerita kemunculan ganggang hijau berukuran besar sekitar 1000-700 juta tahun lalu. Pada saat itu suhu bumi turun drastis dan terjadi pembekuan air besar-besaran. Ganggang yang berukuran kecil mengalami banyak kematian, tetapi tidak semuanya punah. Ganggang yang semula hidup berenang-renang di laut mulai beradaptasi dengan gaya hidup menempel di lapisan es. Setelah perlahan-lahan suhu bumi kembali meningkat, populasi yang telah terbiasa hidup menempel di lapisan air tetap hidup seperti itu. Ukuran tubuh kemudian bertambah besar karena lebih banyak menyerap unsur hara dari dasar perairan laut. Adaptasi memang penting bagi spesies agar tidak punah.

Chlorella (uniseluler)

Tulisan Pertama 2024

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2024 di blog ini. Rupanya WordPress mengirim ucapan selamat dan review karena saya telah lima tahun bergabung dengannya. Saya jadi terkenang lagi hal-hal yang menyebabkan saya mengaktifkan blog ini dan bagaimana kemudian berkenalan dengan teman-teman di Komunitas Ikatan Kata. Setiap peristiwa ada masanya dan sebaliknya masa memiliki peristiwanya.

Di tahun 2023 saya mulai aktif lagi di FB. Aktif yang saya maksud tidak berhubungan dengan disiplin menulis, tapi lebih mencoba untuk berbagi momen-momen tertentu di keseharian saya, baik sebagai dosen maupun sebagai pribadi. Kali ini saya lebih terpacu untuk berbagi tentang pekerjaan saya sebagai peneliti alga, bidang yang sudah saya geluti selama lebih dari 20 tahun.

Dua tahun ini saya punya beberapa kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman-teman dari dalam dan luar negeri. Dalam kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai peneliti alga, hal ini sangat menggembirakan. Saya gembira bisa terhubung dengan teman-teman yang punya passion sama, saling terbuka dan memberi dukungan, serta berkompetitif dengan positif. Yang pasti, lewat kolaborasi itu hubungan silaturahmi menjadi terjaga.

Saya juga senang dengan antusiasme mahasiswa yang ingin belajar alga. Masing-masing berusaha mencapai impian. Ada yang seperti burung di udara-meluncur cepat. Ada yang seperti kelinci melompat ke sana ke mari sambil mencoba tetap di dalam pagar. Ada juga yang timbul tenggelam seperti lumba-lumba dalam air. Begitulah setiap kita berusaha. Insyaa Allah kelak akan bertemu juga dengan hari kemenangan, saat toga dipasang di atas kepala dan hati ditundukkan.

Sport Jantung Persiapan Keberangkatan ke Amerika

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, sehari menjelang keberangkatan ke Amerika perasaan justru lebih tenang. Persiapan mengikuti Workshop Alga di Mountain Research Station (MRS) Colorado dimulai waktu Prof. Patrick Kocielek mengumumkan kepastian saya sebagai peserta. Hal yang pertama disiapkan adalah pembuatan Dokumen DS-2019 agar kami dapat mengurus visa J1 di Kedubes Amerika. Visa J1 adalah kategori visa untuk student exchange and scholar. Mengurusnya lumayan rumit karena tidak hanya mengisi formulir DS-2019 saya juga harus membuat akun di portal MyISSS. Ini portal tempat pelaporan segala kegiatan pemegang visa J1, antara lain melapor kedatangan saat tiba di Amerika. Entah kenapa username dan password saya gagal dikenali oleh sistem portal sehingga saya harus menghubungi bagian IT universitas. Ini membuat adrenalin naik turun.

Pertama, saya harus membuat janji temu dengan petugas secara online (karena tidak mungkin bertemu langsung, kan?). Kedua, perbedaan waktu Depok, Indonesia, dengan Boulder, Colorado, hampir 12 jam. Artinya, di sini siang di sana malam. Setelah 2-3 kali gagal komunikasi, akhirnya saya bisa online meeting dengan petugas dan dibantu membereskan akun. Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata belum. Akun dan password memang dikenali, tapi alih-alih masuk ke beranda portal saya malah diminta lagi untuk mendaftarkan akun. Benar-benar membuat makan hati. Akhirnya, terpaksa harus lapor lagi sambil menunjukkan screenshot bukti gagal masuk. Kali ini yang membereskan masalah bukan IT universitas melainkan IT dr portal MyISSS. Akhirnya done!

Lanjut lagi ke pembuatan visa, kali ini masalah datang dari pendaftaran online visa. Pak Rasyid, agen jasa pembuatan visa, tidak mendaftarkan saya untuk visa J1, tetapi visa B1/B2 alias visa bisnis. Alasannya, saat mengisi formulir tidak ada kategori untuk student exchange selama 2 minggu seperti workshop yang akan saya ikuti. Periode student exchange minimal 3 bulan. Ditambah antrian wawancara yang panjang, kami didaftarkan ke wawancara darurat. Benar-benar darurat karena tinggal 10 hari sebelum hari H. Situasinya adalah karena formulir untuk aplikasi visa bisnis bukan DS-2019, tapi DS-160. Ditambah dengan bunyi surat undangan yang tidak sesuai, komplit sudah permasalahannya. Akhirnya saya menghubungi Stephanie dari International Office Colorado University. Dia menekankan bahwa surat undangan dari Fakultas harus disesuaikan dengan aplikasi visa bisnis. Alhamdulillah, respon dari Patrick cepat sehingga saya dibuatkan surat yang baru. Berbekal surat itu akhirnya visa saya lolos. Yeayy!!

Kejelasan hari keberangkatan diperoleh ketika tiket berhasil dipesan. Ini juga banyak kejutan. Dana tiket pesawat hanya setengah dari total harga. Artinya, saya harus cari sumber dana untuk menutupi. Agen travel CU membantu pemesanan tiket sehingga saya tidak harus membayar di awal. Semula rute yang ditawarkan adalah CGK-Narita-LA-Denver, tapi waktu sampai di Denver sudah lewat pukul enam padahal kami masih harus ke gunung. Kemudian diubah ke Sydney-LA-Denver yang waktunya kedatangan di Denver lebih masuk akal. Namun, karena pemesanan menunggu kepastian visa, harga tiket lewat Sydney naik drastis ke $3300 dari $1700. Akhirnya agen travel banting setir ke rute Narita-Dallas-Denver. Angan-angan mampir di Benua Australia jadi sirna. Hahaha.

Alhamdulillah, setelah semua huru-hara, akhirnya saya jadi berangkat tanggal 7 Juli 2023.