
2026 akhirnya datang. Tak ada satu pun yang sanggup menghadang. Waktu, seperti juga ruang, adalah dimensi keniscayaan. Keduanya menjadikan kita ada, exist, walaupun mungkin tanpa makna. Kita sering mendengar di setiap awal pergantian tahun orang bertanya, “Apa resolusi tahun baru?” Kita bisa melihat pertanyaan itu dari dua sisi. Di satu sisi pertanyaan itu berarti bahwa masa lalu kita penuh dengan masalah dan kita tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah itu. Di sisi lain kita dapat memandangnya sebagai refleksi diri, walaupun menurut saya refleksi diri tidak perlu menunggu tahun baru. Tidak perlu momen istimewa untuk mengevaluasi apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan kemudian. Kita bisa melakukannya di setiap pergantian malam, bulan, atau matahari. Bahkan, bisa jadi, lebih banyak orang yang “terpaksa” merenungi perjalanan hidup mereka karena diguncang oleh suatu peristiwa: kematian, putus hubungan, lulus sekolah, mencapai impian, dan banyak lagi peristiwa yang penting dalam kehidupan seseorang.
Apakah kita telah memberi makna pada waktu? Setiap orang bisa sesukanya memberi makna tahun baru. Bagi sebagian orang, hingar bingar tahun baru berarti pergerakan ekonomi, ketika terjadi transaksi antara mereka yang menjual dan membeli kegembiraan. Bisa juga berarti waktu berkumpul bagi keluarga, rekan sejawat, atau teman-teman. Yang lain memaknai tahun baru dengan hal-hal religius atau, boleh jadi, malah menanggapi dengan apatis: tak ada yang berubah walaupun tahun berganti. Terkadang saya berpikir berapa banyak cost yang kita keluarkan untuk satu hal sederhana yang dibungkus dalam satu kata kompleks: perayaan. Namun, kenyataannya, begitulah manusia. Selalu perlu melakukan manifestasi tentang eksistensi dirinya.
Apa yang akan berubah secara signifikan dalam kehidupan saya di 2026? Setelah empat tahun menjalankan amanah sebagai ketua program studi pasca biologi, tiba saatnya saya kembali sebagai dosen tanpa embel-embel jabatan. Setelah empat tahun dicari-cari banyak orang, terutama mahasiswa, saya harus memaknai kembali kata “orang penting” di kepala. Mengapa para pejabat sering terjebak dengan perasaan (dan pemikiran) menjadi orang penting? Belajar dari pengalaman pribadi, hal itu karena orang-orang di sekitarnya memperlakukan mereka dengan berbagai keistimewaan. Betapa menakutkan. Di sisi lain, saya jadi memahami mengapa banyak orang berebut menjadi orang penting lebih dari menjadi orang kaya. Kita juga jadi memahami mengapa ada istilah power syndrome. Memang lebih mudah menjadi pejabat ketimbang turun dari jabatan.

Tentu saya tidak akan menyelesaikan amanah itu tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar saya. Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih pada keluarga, teman-teman, rekan-rekan sejawat, para mahasiswa dan pimpinan. Apa yang dapat saya lakukan tanpa kepercayaan dan kerjasama mereka? Bagai macan tanpa taring, wewenang yang saya miliki akan tumpul. Terkadang saya meragukan apakah keputusan-keputusan yang saya ambil sudah tepat. Pada saat-saat seperti itu dukungan sistem dan orang-orang di sekitar menjadi sangat berarti. Begitu banyak yang telah mereka berikan sehingga saya dapat menjalankan tugas ini tanpa kehilangan semangat dan dapat terus bersikap positif. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.
2026 telah berjalan. Apa yang akan saya lakukan di hari-hari ke depan? Banyak sekali. Tapi bila ditulis di sini itu akan terasa seperti menjawab jargon tahun baru, “Apa resolusi kamu?” Tentu kita tidak mau tergelincir dalam jargon dan omon-omon belaka, bukan?
