KETIK#3 – Ajakan Gabung Komunitas

Belum pernah pernah bergabung dengan komunitas blogger tiba-tiba promosi komunitas bloger. Yang benar aja kira-kira begitu komentar yang akan saya dapat. Tapi coba pikir sisi positifnya. Bila saya yang baru saja bikin blog, lalu bergabung dengan komunitas bloger, tentu ada alasan kuat kenapa memutuskan untuk bergabung. Pasti ada sesuatu yang menarik pada komunitas blogger yang saya ikuti. Bukan tidak mungkin apa yang membuat saya tertarik akan jadi sesuatu yang menarik juga buat orang lain.

Sebelum bicara soal tarik menarik di atas, saya mau mengaku bahwa sebenarnya saya sudah punya blog yang sudah saya tinggalkan hampir satu tahun. Baru beberapa hari ini saya putuskan untuk mengaktifkan lagi blog saya yang kadaluarsa itu. Semua gara-gara Covid 19. Apa hubungannya membuat blog dengan covid? Pertama, di era pandemi ini kita bisa menyalahkan Covid 19 untuk semua perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kedua, bekerja di rumah ternyata memberi waktu banyak buat saya untuk membaca dan menulis. Ketiga, karena tidak bebas bepergian, takut naik kendaraan umum, saya tidak bisa bertemu dengan teman-teman. Mau tidak mau, akhirnya media sosial jadi kendaraan untuk menyapa teman-teman.

KOMUNITAS BLOGER IKATAN KATA

Pertama kali menemukan Ikatan Kata saya tidak tahu bahwa ini adalah suatu komunitas. Maklumlah, newbie (baca: gaptek) yang masih merangkak dari satu tulisan ke tulisan lain. Saya pikir Ikatan Kata adalah nama alias seseorang. Lalu saya melihat kode Ketik#3, Ketik#4, Ketik#5 dan seterusnya. Baru saya sadar bahwa tulisan-tulisan itu punya orang yang berlainan dan Ikatan Kata adalah suatu komunitas.

Jujur, saya minder kalau bergabung dengan komunitas penulis. Membayangkan ada di kerumunan para penulis, sementara saya tidak menulis apapun, bukan bayangan yang menyenangkan. Saya pernah dengar (bukan sekali, tapi beberapa kali!) pengarang yang bukunya laris bilang, “teruslah menulis…menulis apapun…biasakan menulis…” yang membuat saya malah tidak menulis. Tentu bukan salahnya pengarang itu, tapi bagi saya menulis bukan pekerjaan yang bisa saya jadwalkan rutin. Kadang ide tidak muncul (mau nulis apa yaaaa?) atau tulisan garing, kehabisan waktu untuk duduk menulis, yang jelas buat saya menulis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Lalu, kenapa saya nekat menghidupkan blog yang koma dan sekarang malah bergabung dengan Ikatan Kata (IK)? Well, saya rasa inilah kelebihan IK, bisa meyakinkan saya bahwa menulis itu bisa jadi semudah membalikkan telapak tangan. Saya tertarik dengan metode IK untuk memotivasi saya dan “memaksa” saya untuk menulis dengan menyajikan topik-topik menarik untuk ditulis di blog. Buat saya menulis itu sesuatu yang “organik”, tidak dibuat-buat, tidak bisa dipaksa, ada dorongan dalam diri yang harus dikeluarkan dalam bentuk tulisan. Tapi, ada benarnya bahwa saya harus menyediakan waktu, pikiran, dan energi untuk menulis, dengan kata lain suatu komitmen. Nah, ini yang saya dapatkan dari Ik. Believe me, this post was one example of how IK pushing me to do my writing. And I was glad that I accomplished the challenge 😀 

Siluet Prambanan

Datang waktu senja menjelang di puncak Prambanan punya sensasi terburu-buru. Jelas terburu-buru karena sebentar lagi situs ini ditutup untuk hari itu. Tapi karena terburu-buru hasilnya jadi puas karena ide-ide menyeruak dengan spontan. Selfie tak perlu banyak, tapi dapat angle yang tidak biasa. Tak terbantahkan siluet Candi Prambanan adalah primadonanya. Ini seperti bayangan yang hadir tanpa perlu banyak penjelasan. Apa yang kau jelaskan dari bayangan? Katakan saja Black-Bold-Beautiful, maka semua akan mengerti.

Epic Rama dan Sinta

Akhirnya kesempatan menonton pertunjukan Rama dan Sinta yang dikemas dalam Tari Kecak datang. Tempatnya tentu spesial: Pura Uluwatu, Bali. Inti dari kisah ini adalah penculikan Sinta oleh seorang raja lalim bernama Rahwana. Dibantu sang adik dan seekor kera putih sakti, Rama membebaskan istrinya dari cengkraman Raja Alengka yang menyeramkan itu. Itulah akhir sendratari kecak yang gegap gempita selama 2 jam lebih. Dihiasi langit sunset Uluwatu, tidak heran pertunjukan ini selalu full penonton, sampai terkesan dipaksakan. Ada pengunjung yang 2 hari berturut-turut kehabisan tiket dan baru bisa menonton di hari ketiga.

Epic Ramayana sebenarnya tidak happy ending. Meski dikisahkan berhasil membebaskan Sinta, cerita ini justru diakhiri dengan keraguan Rama akan kesucian istrinya. Sebagai bukti kesuciannya Sinta rela masuk ke dalam kobaran api. Tragisnya, walaupun terbukti Sinta tidak terbakar, Rama tetap mengusirnya dari istana sementara ia bertahta sebagai Raja Ayodha. Jadi, ini bukan cerita super hero yang pasti menang. Cerita ini benar-benar cerita panggung kehidupan dimana orang punya sisi baik dan buruknya.

Tiap kisah punya tokoh, tiap pembaca juga punya tokoh sendiri yang mungkin berbeda dengan pembuat cerita. Buat budayawan Sujiwo Tejo, Rahwana adalah aktor utama. Cinta Rahwana kepada Sinta lebih menarik untuk disorot (Dalam buku Cinta Suci Rahwana). Tokoh Masashi Kishimoto adalah Naruto, meski banyak yang jatuh cinta pada Sasuke yang lebih ganteng, jaim, dan tidak kalah jagonya. Kenapa pula Katniss “ditakdirkan” memilih Peeta, bukan Gale yang berkali-kali terbukti menomorsatukan Katniss. Bahkan JK Rowlings pun kabarnya menyesalkan “pemasangan” Ron-Hermione dalam kisah Harry Potter.

Well, how about you in your life? Are you the writer or the reader?

Breakfast at Hotel

What is the reason you spend nights at a hotel?
You may answer it: breakfast!!

It is an extraordinary day when you wake up in the morning and find you are not in your bedroom. You open your eyes, then close, then open, then close, while your brain thinks about breakfast. When finally you crawl up from a warm blanket, you take those thin slippers then walk down the hall. Down, down, down to the breakfast room.

Breakfast ceremony:

  1. a GREAT salad dish. Lettuces (happy if there are three varieties), carrots, paprika, cherry tomato, parmesan-cheddar-swiss-cheese, crouton, bacon, and if lucky the olive fruit.
  2. Baked potato and sausages
  3. Sunnyside up egg (half-cooked) no salt, no pepper

Breakfast at Hotel

What is the reason you spend nights at a hotel?
You may answer it: breakfast!!

It is an extraordinary day when you wake up in the morning and find you are not in your bedroom. You open your eyes, then close, then open, then close, while your brain thinks about breakfast. When finally you crawl up from the warm blanket, you take those thin slippers then walk down the hall. Down, down, down to the breakfast room.

Breakfast ceremony: a GREAT salad dish. Lettuces (happy if there are three varieties), carrots, paprika, cherry tomato, parmesan-cheddar-swiss-cheese, crouton, bacon, and if lucky the olive fruit. Baked potato and sausages. Sunnyside up egg (half-cooked) no salt, no pepper.

Ended up with a cup of hot coffee.

The morning shall be condemned.

Remember: this is not daily routine.

This is the day when you wake up in the morning….and you are not in your bedroom.