2026

2026 akhirnya datang. Tak ada satu pun yang sanggup menghadang. Waktu, seperti juga ruang, adalah dimensi keniscayaan. Keduanya menjadikan kita ada, exist, walaupun mungkin tanpa makna. Kita sering mendengar di setiap awal pergantian tahun orang bertanya, “Apa resolusi tahun baru?” Kita bisa melihat pertanyaan itu dari dua sisi. Di satu sisi pertanyaan itu berarti bahwa masa lalu kita penuh dengan masalah dan kita tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah itu. Di sisi lain kita dapat memandangnya sebagai refleksi diri, walaupun menurut saya refleksi diri tidak perlu menunggu tahun baru. Tidak perlu momen istimewa untuk mengevaluasi apa yang telah kita perbuat dan apa yang akan kita lakukan kemudian. Kita bisa melakukannya di setiap pergantian malam, bulan, atau matahari. Bahkan, bisa jadi, lebih banyak orang yang “terpaksa” merenungi perjalanan hidup mereka karena diguncang oleh suatu peristiwa: kematian, putus hubungan, lulus sekolah, mencapai impian, dan banyak lagi peristiwa yang penting dalam kehidupan seseorang.

Apakah kita telah memberi makna pada waktu? Setiap orang bisa sesukanya memberi makna tahun baru. Bagi sebagian orang, hingar bingar tahun baru berarti pergerakan ekonomi, ketika terjadi transaksi antara mereka yang menjual dan membeli kegembiraan. Bisa juga berarti waktu berkumpul bagi keluarga, rekan sejawat, atau teman-teman. Yang lain memaknai tahun baru dengan hal-hal religius atau, boleh jadi, malah menanggapi dengan apatis: tak ada yang berubah walaupun tahun berganti. Terkadang saya berpikir berapa banyak cost yang kita keluarkan untuk satu hal sederhana yang dibungkus dalam satu kata kompleks: perayaan. Namun, kenyataannya, begitulah manusia. Selalu perlu melakukan manifestasi tentang eksistensi dirinya.

Apa yang akan berubah secara signifikan dalam kehidupan saya di 2026? Setelah empat tahun menjalankan amanah sebagai ketua program studi pasca biologi, tiba saatnya saya kembali sebagai dosen tanpa embel-embel jabatan. Setelah empat tahun dicari-cari banyak orang, terutama mahasiswa, saya harus memaknai kembali kata “orang penting” di kepala. Mengapa para pejabat sering terjebak dengan perasaan (dan pemikiran) menjadi orang penting? Belajar dari pengalaman pribadi, hal itu karena orang-orang di sekitarnya memperlakukan mereka dengan berbagai keistimewaan. Betapa menakutkan. Di sisi lain, saya jadi memahami mengapa banyak orang berebut menjadi orang penting lebih dari menjadi orang kaya. Kita juga jadi memahami mengapa ada istilah power syndrome. Memang lebih mudah menjadi pejabat ketimbang turun dari jabatan.

Tentu saya tidak akan menyelesaikan amanah itu tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar saya. Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih pada keluarga, teman-teman, rekan-rekan sejawat, para mahasiswa dan pimpinan. Apa yang dapat saya lakukan tanpa kepercayaan dan kerjasama mereka? Bagai macan tanpa taring, wewenang yang saya miliki akan tumpul. Terkadang saya meragukan apakah keputusan-keputusan yang saya ambil sudah tepat. Pada saat-saat seperti itu dukungan sistem dan orang-orang di sekitar menjadi sangat berarti. Begitu banyak yang telah mereka berikan sehingga saya dapat menjalankan tugas ini tanpa kehilangan semangat dan dapat terus bersikap positif. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.

2026 telah berjalan. Apa yang akan saya lakukan di hari-hari ke depan? Banyak sekali. Tapi bila ditulis di sini itu akan terasa seperti menjawab jargon tahun baru, “Apa resolusi kamu?” Tentu kita tidak mau tergelincir dalam jargon dan omon-omon belaka, bukan?

TRANSMIGRAN NO MIGREN

Belum lengkap kisah Ekspedisi Patriot kalau belum bercerita tentang Pak Yanto, Pak Asroni, dan kawan-kawan trans. Anggaplah ini sebagai pelunasan (sebagian) janji saya kepada teman-teman di Desa Lantang Tallang, Masamba, Luwu Utara, bahwa tim kami akan menyuarakan apa yang menjadi harapan dan mimpi mereka. Sebenarnya inti dari tulisan ini sudah saya coba kirimkan ke dua media, tetapi keduanya menolak. Jadi, biarlah saya goreskan di kolom ini biar selalu menjadi pengingat semangat dan kerja keras teman-teman trans di sana.

Pak Yanto, Pak Asroni, Pak Rumidi, dan teman-teman datang dari Jawa Tengah ke Sulawesi Selatan untuk mencoba merubah nasib. Harapan untuk memiliki lahan dan rumah sendiri menjadi motivasi terbesar ketika mengikuti program transmigrasi. Tiba di Satuan Pemukiman (SP) Lantang Tallang, Masamba, pada tahun 2014, Pak Yanto dan kawan-kawan membayangkan akan melihat hamparan lahan terbuka yang nantinya siap ditanami padi. Tidak pernah selintas pun ada dalam pikiran mereka berhadapan dengan bukit dan hutan. Walaupun terkejut dengan kenyataan itu, akhirnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berjuang dengan segala keterbatasan untuk mewujudkan mimpi: mengubah nasib diri dan keluarga menjadi lebih baik.

Tahun demi tahun berlalu. Bukit yang menjadi lahan mereka kini ditumbuhi pohon sawit. Bukan tanaman yang direkomendasikan dari sudut pandang biologi dan lingkungan mengingat risiko budaya monokultur dan tanah longsor. Namun, sampai saat ini sawit adalah komoditas yang menopang perekonomian Pak Yanto dan kawan-kawan.

Saat saya pertama datang hanya sawit yang terlihat mengisi ekosistem Lantang Tallang, atau lebih luas lagi, Kabupaten Masamba. Namun, bila lebih jeli membedah keanekaragaman hayati di sini, kita akan berdecak melihat pohon-pohon lain tumbuh subur. Pisang, kelapa, nipah, rotan, kecombrang (pattikala) dan sepupunya sulikan (Hellwigia monopleura). Itu baru beberapa yang terlihat tumbuh di sepanjang jalan. Obrolan dengan kawan-kawan di lokasi membawa cerita tentang jengkol, lada, dan durian sebagai pundi-pundi uang. Saya tambah yakin bahwa kawasan ini memang subur dan menyimpan seribu satu potensi hayati. Sawit bukan satu-satunya jalan untuk membawa kemajuan daerah ini.

Sebagai pendatang, Pak Yanto dan kawan-kawan punya masa-masa sulit beradaptasi dan berinteraksi dengan alam dan penduduknya. Untungnya mereka pandai membawa diri sehingga tidak ada konflik yang berarti. Akulturasi mulai terjadi saat mereka mulai berbicara dengan logat setempat dan menikmati makanan popular Masamba, seperti kapurung dan pacco. Sebaliknya, Masyarakat setempat yang semula tidak mengenal jengkol kini mulai menjadikannya sebagai hidangan yang harus ada dalam acara-acara warga. Harmonisasi memang tidak mudah, tetapi dengan niat, kemauan, dan usaha, pasti akan terwujud.

Pembentukan Kelompok Tani disaksikan oleh Kepala dan Wakil Kepala Desa Lantang Tallang dan Pak Yanto sebgai Ketua RT

Tentu banyak yang dapat didukung oleh Kementerian Transmigrasi dan Pemerintah setempat bagi percepatan kemajuan kawasan transmigrasi di Masamba. Tidak sekedar memindahkan penduduk, kawasan transmigrasi yang sudah ada didorong untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui perbaikan infrastuktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan kebutuhan warga trans Lantang Tallang. Dalam rantai produksi sawit, mengangkut tandan-tandan sawit ke pabrik memerlukan alat transportasi dan kondisi jalan yang baik. Dari sisi peningkatan kapasitas sdm, pendampingan budidaya sawit dapat diberikan kepada warga. Selama ini warga berusaha sendiri memelihara sawit agar tumbuh dan berproduksi. Namun, secara kualitas produksi sawit belum memenuhi standar yang prima sehingga berpengaruh terhadap harga.

Kerja keras dan harapan tinggi yang dimiliki warga trans Lantang Tallang adalah aset sumber daya manusia yang berharga. Motivasi warga untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bila didukung dengan bijaksana oleh pemerintah pusat (dalam hal ini Kementerian Transmigrasi) dan daerah, akan menjadi motor penggerak pengembangan ekonomi dan kemajuan Lantang Tallang untuk menjadi desa mandiri. Pak Yanto dan kawan-kawan pun tidak harus merasakan migren mewujudkan mimpi menjadi transmigran yang sukses.

Kisah Delapan Pemuda

“Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan guncangkan dunia.” Kata Bung Karno di Kongres Indonesia Raya tahun 1931. Lewat ungkapan itu Bung Karno hendak menunjukkan besarnya kekuatan pemuda. Tim Ekspedisi Patriot di Masamba tidak ada sepuluh pemuda. Hanya delapan pemuda yang berdedikasi dengan tekat menyelesaikan tugas di pundak mereka. Mereka diminta untuk melakukan pemetaan dan memberi rekomendasi komoditas unggulan untuk lokus transmigrasi di Desa Lantang Tallang. Bukan tugas besar seperti memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atau menyerukan Sumpah Pemuda. Delapan pemuda itu hanya diberi tugas kecil, sekecil tugas detik jarum di putaran waktu jam besar. Tugas kecil namun berarti karena jam tidak akan menunjukkan waktu ketika detik jarum tidak bekerja dengan baik.

Ketika datang di Lantang Tallang, Masamba, para arjuna dan srikandi ini tidak tahu persis apa yang akan mereka hadapi. Masamba adalah satu dari sebelas kecamatan di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sebagai ibukota kabupaten, Masamba menjadi kota kecil yang menampung gedung-gedung pemerintahan, rumah sakit, bahkan bandara udara. Jalan-jalan beraspal dilalui bermacam kendaraan mulai dari motor, mobil, sampai truk-truk pengangkut sawit. Beberapa tahun lagi mungkin Masamba akan menjadi kota seperti Depok, bahkan boleh jadi lebih besar karena kekayaan alam yang melimpah yang datang dari bukit-bukit sawit, pohon merica, jengkol, durian, dan nilam. Namun, tantangan terberat yang dihadapi delapan pemuda itu bukan kekayaan kawasan ini. Warga trans, sumber daya manusia yang mengolah kekayaan alam itulah tantangan terbesar mereka.

Tidak ada hal yang lebih menciutkan hati bila kita datang ke tempat baru disambut dengan rasa curiga dan prasangka. Bahkan kalaupun itu tidak dialami, para pemuda ini dikira membawa bantuan dari pemerintah yang telah lama ditunggu warga trans Lantang Tallang. Suatu prasangka yang menjadi beban karena mereka tidak membawa bantuan apapun. Mereka hanya membawa semangat perubahan sebagaimana layaknya para pemuda yang menjadi agen perubahan. Lalu, apakah Amanda, Anggun, Fadhlan, Imad, Nisrina, Raka, Rahmat, dan Yuni, para pemuda yang telah diangkat sebagai patriot Masamba gentar dengan prasangka itu? Sama sekali tidak. Mereka justru ingin membuktikan bahwa mereka bisa merebut hati warga trans dan bersama membuka lembaran baru dalam hidup berkomunitas.

Sungguh Allah telah merahmati perjuangan mereka ketika di akhir tugas warga sepakat untuk membentuk kelompok tani. Apa nama yang diberikan? Tidak lain dan tidak bukan: Poktan Patriot. Nama yang semoga akan dikenang selalu oleh warga tentang delapan pemuda yang datang ke rumah mereka, menyapa dengan kemurnian hati dan ketulusan kehendak, dengan tujuan semata demi kemajuan warga trans di Lantang Tallang. Insyaa Allah Poktan Patriot sukses di masa depan.

Setelah Hujan Turun

Sore hari di Kampus UI, setelah turun hujan, menghadirkan banyak nuansa. Keceriaan, kesegaran, kerinduan, romansa, bahkan misteri. Udara yang dingin, kabut yang perlahan naik, tetes air yang turun dari dedaunan, tidak sekedar peristiwa alam, tetapi juga pengalaman batin. Terkadang, sambil menikmati angin dingin dalam perjalanan pulang, lahir sebuah puisi. Puisi yang dapat menghalau aura negatif, bila hati sedang resah.

Janji tak pernah dikhianati oleh riak danau kala bertemu angin, gugur daun kala bumi memanggil, harum petrikor kala dideras hujan, bait-bait kataku kala gelisah tak kunjung reda

Kampus UI yang luas bisa menjadi habitat tersendiri, lepas dari lingkungan di sekitarnya: perkotaan. Di dalam kampus boleh jadi hujan, tapi di luar tidak. Begitu juga sebaliknya. Petir yang menyertai datangnya hujan bisa terlihat sangat jelas di langit kampus. Memanjang dari langit ke bumi, dengan kilatan perak menyilaukan dan suara yang memekakkan. Hati menjadi gentar melihat kekuatan alam itu dan bibir berbisik, Allaahu Akbar. Betapa diri ini hanya insan lemah, tapi seringkali sombong dan takabur.

Dengarlah tetesan air hujan
Sebelum ia menjadi banjir bandang
Dan menumbangkan pohon yang telah engkau tanam

Dengarlah bisik angin sepoi
Sebelum ia menjadi badai
Dan menggugurkan bunga-bunga yang telah engkau rangkai

Dengarlah suara hatimu
Sebelum ia tertelan dan menggumpal
Menjadi seonggok batu dan membisu

Terkadang, setelah hujan dan petir itu berhenti, matahari muncul memesona. Sinarnya menghangatkan tubuh dan mengembalikan keceriaan dari rasa sendu. Khayalan menyatu bersama kabut yang naik dari Situ Salam, terbang menghilang entah kemana. Yang tinggal hanya rasa-rasa yang sulit dilukiskan tapi nyata.

Kutitip cintaku pada hujan sore ini
Yang deras mengalir di sela batuan
Biar terbawa ke ujung bumi
Yang tak bertepi
Tuk kembali memelukku

Kutitip rinduku pada hujan sore ini
Yang menari bersama angin
Biar tersimpan di tiap butir debu
Yang mengawang di udara
Abadi selamanya

10 November 2023

Pisang dan Walet Siwa

Mata saya bersirobok dengan papan kedai kopi di siwa. Promosi di papan itu agak lain. Menyediakan kopi, teh, dan pisang. Bagaimana pisang bisa jadi daya tarik sehingga pantas ditulis pada papan nama kedai itu. Kita orang musti datang ke Pantai Losari tempat lapak-lapak pisang epe digelar. Sejak dulu sampai sekarang pisang epe masih jadi destinasi kuliner Makassar. Dulu tak ada rasa kecuali mentega dan gula. Di jaman now ini ada toping coklat dan keju yang lebih tepat dibilang kuah ketimbang toping saking perasa itu diguyur di atas pisangnya. Tapi saya punya pengalaman pribadi yang mengingatkan pamor pisang di kota-kota di Sulawesi Selatan ini. Almarhumah ibu mertua saya yang asal Siwa selalu membawa pisang kepok Siwa kalau datang ke Jakarta. Pisangnya dibelah tiga bujur, sehingga tidak terlalu tipis atau tebal, pas buat digoreng setengah matang agar tahan sesampainya di Jakarta. Dan memang rasanya enak, beda dengan pisang goreng yang biasa saya beli. Tidak terlalu keras, tidak terlalu empuk, pokoknya pas antara kelembutan dan kepadatannya. Apalagi kalau jadi teman minum kopi. Bestie, kata anak muda jaman now. Sayang saya tidak sempat turun sejenak untuk menikmati kopi dan pisang Utton.idn

Ada lagi yang mencolok mata di Siwa. Banyak rumah punya lubang-lubang kecil di dindingnya. Sesekali tampak burung-burung kecil berterbangan di sekitar lubang-lubang itu. Usut punya usut, benarlah itu rupanya lubang-lubang yang disediakan untuk burung walet bersarang. Rupanya, di Siwa-Wajo ini usaha sarang burung walet sangat tinggi. Sepertinya penduduk di sini tidak berkeberatan berbagi tempat tinggal dengan burung walet. Saking penasaran, saya berselancar di google dengan kata kunci “walet siwa”. Selain berita banyak warga membuka usaha sarang burung walet, ada juga berita sengketa bangunan burung walet antar warga. Weleh weleh.

Rawa Pening

Saya telah lama membawa rindu ini. Bukan rindu yang membara yang menghanguskan, tapi rindu selembut awan yang terbawa angin dan menebal lalu terbawa angin lagi menjadi setipis kabut. Rindu yang hilang tenggelam dan saat muncul kembali menjadi lebih manis dari sebelumnya. Kerinduan ini tidak untuk dimengerti. Ia hanya bisa dinikmati dalam hening dan sangat pribadi.

Sama sekali tidak mengira bahwa perjalanan ini membawa saya ke Rawa Pening, Banyu Biru, Bukit Tidar, Gunung Ungaran, dan pada kerinduan yang selembut awan tadi. Sepenolehan saja pada biru air nun jauh di sana cukup untuk meluapkan kenangan yang tersimpan baik di sudut memori. Kenangan tentang cinta dan pengabdian seorang Mahesa Jenar ketika undur diri mencari keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Semua itu hanya kisah goresan tangan Sang Maestro S.H. Mintardja. Namun, bagi saya kisah itu seperti nyata. Saya dapat merasakan kepahitan hidup Mahesa Jenar, kerinduan Rara Wilis, ketulusan Panembahan Ismaya, kemarahan Umbaran, atau jenakanya Mas Karebet alias Jaka Tingkir. Semua tokoh di sana begitu hidup dan memberi rasa yang tak lekang waktu.

Teman-teman yang menyertai perjalanan saya tidak ada yang mengenal keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Sungguh mengecewakan!  Usaha saya untuk terhubung dengan realita pupus. Saya berpikir bahwa memang kisah keris pusaka itu fiktif belaka. Semua hanya romansa sejarah Kerajaan Demak, Sultan Trenggana, dan Dinasti Mataram. Tidak saya sangka, di kompleks Candi Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran, keraguan saya terjawab oleh Pak Ngatno. Pak Ngatno pegawai pemerintah dan saat ini ditugaskan menjadi kepala cagar budaya Gedong Songo. Ia menjawab pertanyaan saya tentang dirinya. Katanya, “Saya hanya seseorang yang diberi pengetahuan tentang cagar budaya, bukan keturunan abdi dalem keraton, bukan pengikut wali-wali.” Ketika ditanya tentang Nagasasra dan Sabuk Inten, dengan tegas dan penuh percaya diri dia bersaksi pernah melihat kedua pusaka itu. Dalam hikayat, tidak semua orang dapat melihat dua pusaka itu. Namun, ketika ditanya keberadaan keris-keris (asli) itu sekarang, beliau hanya tersenyum simpul. Seperti mengisyaratkan bahwa saya tak perlu tahu lebih jauh lagi. Cukuplah tahu bahwa kedua pusaka itu ada.

Hening dan sepi. Nyata tetapi fana. Rindu bertemu ujung. Bersimpuh di dalam syukurNya.

The Blue-green on a Quinceañera Dress

Never imagine I found the bule green mentioned except in the term of algae. But as I found this photo and caption, I realized that the “blue green” is a matter of color and not just one of the photosynthetic pigments. It sounds silly, but it struck me how certain words, experiences, and feelings could blind you from a significant matter, common sense, just because you used them for a very long time. Studying blue-green algae for more than twenty years has built my mind so vividly that it has surprised me to know a designer uses the term for a dress! A Quinceañera dress is an elaborate-long gown made for a girl to celebrate her 15th birthday. It is a tradition in many Latin American cultures.

Blue Green Quinceanera Dresses Ball Gown Birthday Party Dress Lace Up Graduation Gown Vestidos 2023

This moment made me remember another moment when I was eager to join an online evening event held by the Linnaean Society of London. My prompt reaction was triggered by the title of “Cyanotype Workshop from the Linnaean Collections”.  I wondered what kind of botanical specimens could be related to Cyanobacteria, and then I knew they did not have a relation at all! It turned out that the event was about how to make a cyanotype printing/painting by two local artists: Caterina and Sharon. The course introduced us to using foraged botanical plants, pressed flowers, wet cyanotype, and chemicals that can change their color. Dying the piece using pigment powders or tea/coffee/green tea to make beautiful sepia images was one of the topics discussed in the event. It was interesting but beyond my expectations.

https://www.eventbrite.co.uk/e/into-the-light-cyanotype-workshop-from-the-linnaean-collections

Back to the dress. It was lovely—in terms of fabrics, design, and, of course, color! As for me, Cyanobacteria, the blue-green algae, are fantastic creatures. They have been living on earth since the beginning of life. They promoted the atmospheric oxygen, fertilized the soil, and formed oceanic sediment. What a BIG role tiny microorganisms accomplish. Hence, it would be a shame if I could not participate in conserving our beloved nature.

Hujan Sore Ini

Kutitip marahku pada hujan sore ini
Yang turun rintik membasahi jalan
Biar luruh terserap tanah
Yang selalu berbaik sangka
Pada apa yang jatuh di atasnya

Kutitip cintaku pada hujan sore ini
Yang deras mengalir di sela batuan
Biar terbawa ke ujung bumi
Yang tak bertepi
Tuk kembali memelukku

Kutitip rinduku pada hujan sore ini
Yang menari bersama angin
Biar tersimpan di tiap butir debu
Yang mengawang di udara
Abadi selamanya

Biarkan hujan sore ini
Menghapus marahku
Menyebar cintaku
Memelihara rinduku
Melahirkan kembali tawaku yang dulu

Depok, 10 November 2023 

Tulisan Pertama 2024

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2024 di blog ini. Rupanya WordPress mengirim ucapan selamat dan review karena saya telah lima tahun bergabung dengannya. Saya jadi terkenang lagi hal-hal yang menyebabkan saya mengaktifkan blog ini dan bagaimana kemudian berkenalan dengan teman-teman di Komunitas Ikatan Kata. Setiap peristiwa ada masanya dan sebaliknya masa memiliki peristiwanya.

Di tahun 2023 saya mulai aktif lagi di FB. Aktif yang saya maksud tidak berhubungan dengan disiplin menulis, tapi lebih mencoba untuk berbagi momen-momen tertentu di keseharian saya, baik sebagai dosen maupun sebagai pribadi. Kali ini saya lebih terpacu untuk berbagi tentang pekerjaan saya sebagai peneliti alga, bidang yang sudah saya geluti selama lebih dari 20 tahun.

Dua tahun ini saya punya beberapa kesempatan untuk berkolaborasi dengan teman-teman dari dalam dan luar negeri. Dalam kaitannya dengan pekerjaan saya sebagai peneliti alga, hal ini sangat menggembirakan. Saya gembira bisa terhubung dengan teman-teman yang punya passion sama, saling terbuka dan memberi dukungan, serta berkompetitif dengan positif. Yang pasti, lewat kolaborasi itu hubungan silaturahmi menjadi terjaga.

Saya juga senang dengan antusiasme mahasiswa yang ingin belajar alga. Masing-masing berusaha mencapai impian. Ada yang seperti burung di udara-meluncur cepat. Ada yang seperti kelinci melompat ke sana ke mari sambil mencoba tetap di dalam pagar. Ada juga yang timbul tenggelam seperti lumba-lumba dalam air. Begitulah setiap kita berusaha. Insyaa Allah kelak akan bertemu juga dengan hari kemenangan, saat toga dipasang di atas kepala dan hati ditundukkan.

Sport Jantung Persiapan Keberangkatan ke Amerika

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, sehari menjelang keberangkatan ke Amerika perasaan justru lebih tenang. Persiapan mengikuti Workshop Alga di Mountain Research Station (MRS) Colorado dimulai waktu Prof. Patrick Kocielek mengumumkan kepastian saya sebagai peserta. Hal yang pertama disiapkan adalah pembuatan Dokumen DS-2019 agar kami dapat mengurus visa J1 di Kedubes Amerika. Visa J1 adalah kategori visa untuk student exchange and scholar. Mengurusnya lumayan rumit karena tidak hanya mengisi formulir DS-2019 saya juga harus membuat akun di portal MyISSS. Ini portal tempat pelaporan segala kegiatan pemegang visa J1, antara lain melapor kedatangan saat tiba di Amerika. Entah kenapa username dan password saya gagal dikenali oleh sistem portal sehingga saya harus menghubungi bagian IT universitas. Ini membuat adrenalin naik turun.

Pertama, saya harus membuat janji temu dengan petugas secara online (karena tidak mungkin bertemu langsung, kan?). Kedua, perbedaan waktu Depok, Indonesia, dengan Boulder, Colorado, hampir 12 jam. Artinya, di sini siang di sana malam. Setelah 2-3 kali gagal komunikasi, akhirnya saya bisa online meeting dengan petugas dan dibantu membereskan akun. Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata belum. Akun dan password memang dikenali, tapi alih-alih masuk ke beranda portal saya malah diminta lagi untuk mendaftarkan akun. Benar-benar membuat makan hati. Akhirnya, terpaksa harus lapor lagi sambil menunjukkan screenshot bukti gagal masuk. Kali ini yang membereskan masalah bukan IT universitas melainkan IT dr portal MyISSS. Akhirnya done!

Lanjut lagi ke pembuatan visa, kali ini masalah datang dari pendaftaran online visa. Pak Rasyid, agen jasa pembuatan visa, tidak mendaftarkan saya untuk visa J1, tetapi visa B1/B2 alias visa bisnis. Alasannya, saat mengisi formulir tidak ada kategori untuk student exchange selama 2 minggu seperti workshop yang akan saya ikuti. Periode student exchange minimal 3 bulan. Ditambah antrian wawancara yang panjang, kami didaftarkan ke wawancara darurat. Benar-benar darurat karena tinggal 10 hari sebelum hari H. Situasinya adalah karena formulir untuk aplikasi visa bisnis bukan DS-2019, tapi DS-160. Ditambah dengan bunyi surat undangan yang tidak sesuai, komplit sudah permasalahannya. Akhirnya saya menghubungi Stephanie dari International Office Colorado University. Dia menekankan bahwa surat undangan dari Fakultas harus disesuaikan dengan aplikasi visa bisnis. Alhamdulillah, respon dari Patrick cepat sehingga saya dibuatkan surat yang baru. Berbekal surat itu akhirnya visa saya lolos. Yeayy!!

Kejelasan hari keberangkatan diperoleh ketika tiket berhasil dipesan. Ini juga banyak kejutan. Dana tiket pesawat hanya setengah dari total harga. Artinya, saya harus cari sumber dana untuk menutupi. Agen travel CU membantu pemesanan tiket sehingga saya tidak harus membayar di awal. Semula rute yang ditawarkan adalah CGK-Narita-LA-Denver, tapi waktu sampai di Denver sudah lewat pukul enam padahal kami masih harus ke gunung. Kemudian diubah ke Sydney-LA-Denver yang waktunya kedatangan di Denver lebih masuk akal. Namun, karena pemesanan menunggu kepastian visa, harga tiket lewat Sydney naik drastis ke $3300 dari $1700. Akhirnya agen travel banting setir ke rute Narita-Dallas-Denver. Angan-angan mampir di Benua Australia jadi sirna. Hahaha.

Alhamdulillah, setelah semua huru-hara, akhirnya saya jadi berangkat tanggal 7 Juli 2023.

Bertemu Prajnaparamita di Museum Nasional

Kalau mendengar nama Museum Nasional disebut, saya masih berpikir, “Di mana, ya?” Tapi kalau Museum Gajah, nah … langsung saya tahu dan ingat letaknya di Jalan Merdeka Barat, dekat Tugu Monas. Padahal Museum Nasional dan Museum Gajah adalah museum yang sama. Ini karena Museum Gajah sudah melekat dalam pikiran dan hati saking seringnya waktu kecil dulu main ke sana.

Entah kapan terakhir saya ke Museum Nasional, yang jelas sudah lama sekali. Karena itu senang sekali bisa berkunjung lagi ke sana.  Museum Nasional sudah ramai dikunjungi siswa-siswa sekolah, turis lokal dan asing, baik yang datang sendiri maupun dalam rombongan. Semua tumpah ruah di sana. Alhamdulillah, senang melihat antusiasme pengunjung. Museum Nasional sudah jauh lebih modern dibanding masa dulu waktu saya ke sini. Tapi, sudut-sudut tertentu masih menyisakan kenangan manis, terutama arcanya yang tetap bergeming di tempat mereka.

Museum Nasional kini punya dua Gedung. Gedung A digunakan untuk pameran koleksi sekaligus ruang penyimpanan. Gedung B, yang lebih baru, selain untuk ruang pameran juga untuk kantor, ruang konferensi dan perpustakaan. Salah satu ruang pameran yang menarik bagi saya adalah Lantai 4 Gedung B, tempat pameran koleksi benda-benda purbakala yang terbuat dari emas dipamerkan. Ruang Koleksi Khazanah Emas di lantai 4 Gedung B ini sepertinya menjadi satu-satunya ruang yang tidak memperbolehkan pengunjung untuk memotret.

Tanpa saya duga, Arca Prajnaparamita yang terkenal dengan kecantikannya ditempatkan di sana. Arca ini memang sangat cantik, halus, hampir tak ada kerusakan. Menurut informasi dari Wikipedia, arti harfiah Prajnaparamita adalah “kesempurnaan dalam kebijaksanaan” dan merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transedental manusia.

Terus terang, saya cukup terkejut bahwa selama ini saya mengingat hal yang salah tentang arca Prajnaparamita, arca yang sejak kecil sudah saya dengar popularitasnya. Dulu saya mendengar bahwa Prajnaparamita adalah perwujudan Ken Dedes, istri Ken Arok, raja pertama Singhasari. Ternyata, Menurut penelitian Munandar (2003) arca Prajñaparamita menggambarkan Rajapatni Gayatri, putri bungsu Raja Krtanagara yang hidup pada masa akhir kerajaan Singhasari dan awal kejayaan kerajaan Majapahit. Siapapun dia, yang jelas kecantikan seorang wanita pada masa itu tidak kalah dengan masa kini.

Yang menarik, nama Prajnaparamita dijadikan sebagai nama jurnal ilmiah terbitan Museum Nasional (https://www.museumnasional.or.id/category/publilkasi/jurnal-museum). Pada edisi tahun 2016, ada salah satu artikel yang ditulis oleh Gaya Mentari berjudul Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Mentari (2016) bercerita tentang gaya seni dari arca tersebut dan makna-makna yang terkandung dari postur sang “tokoh”. Menurutnya, arca tersebut memiliki ciri karya seni arca yang berasal dari masa Dinasti Singhasari, yaitu bunga Teratai (yang keluar dari bonggolnya) dan postur tubuh yang “kaku”. Bisa dikatakan, karya seni arca Prajnaparamita tergolong seni Klasik Muda yang berkembang di Jawa Timur, berbeda dengan gaya sebelumnya yang berkembang di era Mataram Kuna, Jawa Tengah (Susetyo dkk. 2021).

Referensi:

Mentari, G. 2016. Prajnaparamita: Wujud Estetika Seni Arca. Jurnal Prajnaparamita 1: 145-151.

Susetyo, S., A. Murdihastomo, A. Indrajaja, D. Nugroho. 2021. Gaya seni arca masa Kadiri: Studi terhadap arca Candi Gurah dan Candi Tondowongso. KALPATARU 30(1): 1-24.

Siap Divaksin?

Tahu vaksin? Tahu. Berani divaksin? Tidak tahu. Dialog monolog dalam diri saya kira-kira seperti itu di tengah pemberitaan program vaksinasi. Apa yang membuat keberanian saya ragu untuk divaksin? Saya pikir sebagian dari keraguan itu adalah akibat adanya pro-kontra justru dari pihak-pihak yang kompeten di bidang kedokteran. Sebagian ahli bilang vaksin covid 19 aman, sebagian lain tidak, Yang bilang vaksin aman berkampanye agar masyarakat mau divaksin. Kampanye itu lalu di-counter oleh mereka yang tidak mau divaksin. Ditambah dengan drama covid 19, keberanian saya maju mundur. Tapi, saya pikir, semakin mendekati jadwal vaksinasi setidaknya saya harus mempersiapkan diri. Yang pertama, mencari pengetahuan sendiri tentang vaksin. Yang kedua, meyakinkan keberanian saya.

Inti dari vaksinasi adalah merangsang pembentukan antibodi sebagai salah satu sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit. Usut punya usut, ternyata kita punya banyak pertahanan tubuh, baik yang sudah disediakan Sang Pencipta (innate immune) maupun yang dibangun kemudian (adaptive immune). Pertahanan berupa barrier fisik dan kimia, seperti bulu-bulu hidung, kulit, dan asam lambung, juga pemberian Tuhan dan jadi gerbang paling depan untuk menghalau kuman-kuman penyakit sebelum pasukan kekebalan tubuh bekerja. Bagaimana dengan antibodi yang sering disebut-sebut ketika bicara tentang vaksin? Nah, antibodi adalah garda dalam dari pertahanan tubuh. Diproduksi oleh salah satu sel imun, antibodi bersifat spesifik. Artinya, satu antibodi untuk satu antigen (= benda asing, biasanya kuman). Jadi, yang diharapkan dari vaksinasi covid 19 adalah terbentuknya antibodi yang mampu mengenali dan membangkitkan perlawanan semua sel imun tubuh terhadap virus SARS-Cov2.

Lalu, vaksin itu benda seperti apa? Saya mencoba merangkum beberapa model vaksin berdasarkan bahan pembuatnya. Semoga pos ini bisa menambah sedikit pemahaman dan keberanian untuk divaksin.

 

1. Vaksin dikembangkan dari virus yang dilemahkan (inactivated virus)

Bayangkan seorang gladiator dikurung tanpa makan dan minum berhari-hari lalu disuruh tanding melawan singa. Tentunya si gladiator menjadi lemah, tidak dapat tampil perkasa, dan kemungkinan besar akan dimakan oleh singa. Begitulah analoginya ketika virus dilemahkan sebelum disuntikkan ke tubuh kita sebagai vaksin. Sewaktu masuk ke dalam tubuh, sel imun yang dikenal dengan nama T-cell segera mengenalinya sebagai benda asing dan mulai mengurungnya. T-cell juga mengaktifkan sel imun lain bernama B-cell yang bertugas memproduksi antibodi untuk menghancurkan virus, sekaligus belajar mengenali “pendatang beru” ini. Sayangnya, walaupun berhasil menumpas virus, sistem pertahanan yang terbentuk dengan cara ini tergolong lemah. Ini karena virus yang lemah dan tidak berdaya berbeda dengan virus aslinya, yang lebih powerfull. Jadi, bisa saja tubuh kita akan kaget bila kelak bertemu dengan the real virus. Namun, setidaknya perkenalan pertama tadi dapat membantu tubuh mengatur strategi ketika kelak bertemu dengan musuh yang sebenarnya.

 

2. Vaksin dikembangkan dari salah satu fragmen virus

Virus memiliki 3 macam protein pelindung: membran, kapsul, dan spike.

Protein spike merupakan bagian/fragmen virus yang sering dipakai sebagai vaksin. Protein spike dibuat di laboratorium, meniru bentuk aslinya. Metode pembuatan vaksin menggunakan fragmen virus paling diandalkan karena lebih mudah diproduksi. Tapi bukan tidak ada tantangannya. Protein spike menjadi jembatan bagi virus untuk masuk ke dalam sel tubuh dan menginjeksi materi genetiknya. Jadi, ini protein yang sangat diandalkan virus. Tingkat mutasi protein spike tinggi supaya virus dapat gonta ganti bentuk “jembatan”, menyesuaikan dengan struktur sel yang akan ditembusnya. Tambahan lagi, protein spike yang dibuat di laboratorium harus diperbesar mengikuti ukuran the whole virus. Kelemahan vaksin ini serupa dengan vaksin inactivated-virus: menghasilkan sistem antibodi yang lemah. Untuk memperkuat sistem pertahanan tubuh yang terbentuk, seringkali vaksin berbahan protein spike ini ditambahkan dengan komponen-komponen lain untuk memperkuat antibodi yang terbentuk.

 

3. Vaksin dikembangkan dari materi genetik virus

Gen yang bertanggung jawab terhadap ekspresi vektor virulensi virus disisipkan ke dalam virus yang tidak patogen (tidak menyebabkan penyakit). Kemudian virus tersebut diinjeksikan ke dalam tubuh sebagai vaksin [atas]. Sama seperti proses infeksi virus aslinya, materi genetik virus akan masuk ke dalam sel dan mulai memproduksi bagian-bagian virus [bawah kiri]. Namun, mekanisme produksinya sudah disabotase karena materi genetik virus aslinya tidak lengkap. Dengan demikian B-cell bereaksi membentuk antibodi sedangkan virus itu sendiri tidak bersifat virulen/ganas [bawah kanan]. Metode pengembangan vaksin model ini lebih sulit tapi sistem imunitas yang dihasilkan lebih tinggi dari dua metode yang telah disebut di atas.

 

4. Vaksin dikembangkan dari asam nukleat virus

Teknologi pembuatan vaksin model ini jauh lebih sulit dan masih dalam tahap penelitian. Secara teori, materi genetik dilekatkan pada suatu molekul atau langsung ditembakkan ke dalam sel tubuh. Materi genetik akan membentuk bagian-bagian virus dan akan merangsang pembentukan antibodi.

Happy 1st Birthday, Brownie

Sebenarnya enggak tahu persis kapan Brownie keluar dari perut emaknya, si Totol. Yang jelas waktu kami persilahkan Totol memboyong anak-anaknya ke dalam rumah, bulan sudah ada di posisi Maret. Sampai hari ini, hanya Brownie yang bertahan. Ketiga saudaranya terkena seleksi alam.

Awalnya tidak ada rencana Brownie akan jadi kucing rumahan. Tapi, setelah saudaranya tidak selamat dari serangan virus, akhirnya kami mengeluarkan green card. Brownie disediakan tempat di dalam rumah dan, tentu saja, dalam hati kami. Sebagai balasan, dia cuma memberikan kami satu saja: kebahagiaan.

Selamat menempuh setahun kebersamaan bersama kami, Bro. Semoga Allah memberi kamu kesehatan dan kegembiraan. Biarpun sekarang gigitanmu setajam harimau dan suaramu seperti auman macan, tingkahmu masih seperti kucing kecil yang menggemaskan.

Mendung dan Beliau

Mendung bergayut mengiringi kepergian Beliau ... 
sembari menahan tangisnya. Takut jika tetesannya
menghanyutkan wewangian surga yang merebak di udara

Walau angin berkali-kali mengajaknya pergi
mendung masih enggan beranjak. Ia masih berpikir untuk mengucapkan kata-kata penghormatan ... tapi takut ludahnya mengotori hamparan sajadah Beliau yang selembut sutra surga

Hujan berbisik pada angin, biarkan mendung memiliki hari ini.
Toh, sebentar lagi malam datang menutup hari lalu esok semua akan kembali. Kecuali Beliau yang tengah bercengkrama dengan Kekasihnya nun di langit

Kenangan Manis Kopi Tidak Pakai Pahit

Ini bukan promosi Kedai Kopi Kenangan, ya. Tapi kerinduan untuk masuk kedai kopi memang ada. Rasanya sudah lama sekali dan entah akan berapa lama lagi. Saya lihat orang-orang sudah mulai datang lagi ke kafe kopi, kumpul-kumpul, melepas kebosanan setelah lama terkurung di rumah [Catatan: tulisan ini dibuat di akhir masa covid]. Saya sendiri masih segan meriung bila tak ada jarak. Apalagi makan minum sambil bercakap-cakap di luar rumah bukan dengan keluarga. Untungnya rasa rindu bisa diajak kompromi. Buat sementara, supaya si rindu dendam nggak ngambek, saya kumpulkan kenangan-kenangan ngopi yang tercecer dan jadikan kolase foto kopi yang pernah saya nikmati di berbagai tempat.

Kopi di cangkir ini saya nikmati di Kafe Ladoux di Paris. Pagi itu jam masih menunjukkan pukul enam waktu setempat. Udara bulan September sudah mulai dingin menandai masuknya musim gugur di belahan bumi Utara. Pagi itu saya belum mandi karena baru saja datang dari Belanda, naik bis malam. Hari itu saya dan teman-teman bertekat keliling Paris sebelum jadwal bis malam yang membawa kami kembali ke Belanda tiba. Aih, memang kunjungan yang singkat sekali, tetapi kenangannya tidak habis-habis.

Perjalanan ke Paris waktu itu adalah intermezzo. Sebenarnya kami sedang pelatihan di Belanda selama 3 minggu. Pelatihan itu sendiri sangat mencerahkan karena kami mendapat pengetahuan dan praktik tentang biodiversitas dan manajemen konservasi. Kuliah berlangsung dengan santai tapi aktif dan yang paling asik buat saya adalah bisa sambil menikmati kopi panas yang dijual di vending machine di luar kelas. Sepertinya momen itu mau saya jadikan contoh di kelas-kelas yang saya ajar. Bagaimana menjadikan peserta kuliah nyaman supaya materi kuliah bisa masuk ke otak [Catatan: sayangnya sampai saat tulisan ini diedit niat itu belum terlaksana]. Salah satu kegiatan pelatihan adalah berkunjung ke kantor World Wild Fund (WWF). Organisasi ini termasuk yang aktif menggerakkan kelompok-kelompok masyarakat agar peduli lingkungan. Lagi-lagi, di kantor yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca itu, saya menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan visi, misi, dan berbagai pengalaman WWF di penjuru dunia.

Minum kopi sambil bekerja sudah menjadi kebiasaan saya. Oleh karena itu mengunjungi kafe kampus jadi hal biasa. Minum kopi bareng teman memang menyenangkan tapi adakalanya yang kita butuhkan cuma secangkir kopi untuk menyelesaikan kerjaan.

Kafe Javaroma, Perpusatakaan UI

Saya membaca bahwa 3 cangkir kopi sehari masih batas normal untuk minum kopi, dengan catatan tambahan tentang gula, kekentalan, jenis kopi, waktu minum, dan lain-lain. Buat saya, 2 cangkir sehari sudah cukup. Namun, saya pikir masalahnya bukan dua atau tiga cangkir, karena berapa pun jumlah cangkirnya sepertinya saya sudah addicted pada kopi. Teman-teman peminum kopi pasti punya pengalaman yang sama dengan saya. Kalau belum minum kopi, badan terasa aneh, tidak fokus, dan kepala gleyengan. Badan akan menjadi segar, pikiran menjadi lebih jernih, dan semangat up sewaktu aroma kopi memasuki lubang hidung dan rasa pahitnya menyentuh lidah, diakhiri dengan after taste yang beragam sesuai jenis kopinya. Yah, itulah tanda-tanda kecanduan, teman!

Di rumah, ada saat-saat menjadikan waktu minum kopi menjadi sesuatu yang spesial. Menikmati bunga-bunga kemuning yang baru saja dipotong dari taman kecil di depan rumah atau mencoba membuat kopi dalgona yang lagi trend. Saya bersyukur masih bisa menikmati kopi dan menyimpan kenangan manisnya tanpa rasa pahit.